<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938</id><updated>2012-02-13T19:18:16.108+07:00</updated><title type='text'>THE WORLD IS FLAT</title><subtitle type='html'>so everybody can share their molecules into chemistry</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>80</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3475434732827639346</id><published>2008-10-02T22:34:00.007+07:00</published><updated>2008-10-02T22:51:49.279+07:00</updated><title type='text'>Negara Punya Mau, Rakyat Punya Mampu (The Story Inside Motivation and Capability)</title><content type='html'>Oleh: Iyung Pahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pemimpin menginginkan rakyatnya sejahtera, aman dan sentosa. Namun dengan adanya kebijakan pimpinan yang kurang terukur dan adanya bencana (misal: tsunami, gempa bumi, banjir bandang, lumpur panas dan berbagai kecelakaan di darat, laut dan udara) dapat mengganggu semua yang dicita-citakan itu. Sebagai contoh, kenaikan harga BBM pada bulan Oktober 2005 dianggap sebagai pemicu meningkatnya jumlah penduduk miskin yang tadinya berjumlah 35,10 juta jiwa menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. Secara berseloroh seorang Profesor mengatakan kebalikannya, bahwa kenaikan harga BBM terbukti berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin .... karena yang miskin akhirnya mati!&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Selama negara Indonesia berdiri, berbagai program pengentasan kemiskinan sudah digulirkan, tetapi provinsi seperti NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara (Malut) dan Papua tidak ditemui banyak perubahan yang berarti. Berdasarkan analisis data tentang indikator kemiskinan yang didasarkan pada variabel ekonomi, pendidikan, ketengakerjaan, lingkungan dan kesehatan, kelima propinsi di atas masih dibawah rataan nasional untuk hal tertentu. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Untuk menciptkan kemandirian daerah yang diikuti dengan masyarakat yang sejahtera di era otonomi daerah dalam konteks globalisasi ekonomi dunia, pemerintah dapat melakukan berbagam macam metode pembangunan dan pendekatan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pembangunan infrastruktur untuk memacu pengembangan wilayah yang terisolir. Investasi infrastruktur seperti pembangunan jalan dan jembatan akan meningkatkan arus barang dan jasa ke daerah yang terisolir sehingga dapat segera menggairahkan kegiatan ekonomi setempat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengembangan jumlah dan mutu modal insani (human capital) melalui mekanisme pendidikan dan pelatihan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Regionalisasi pembangunan ekonomi dengan menerapkan konsep keunggulan komparatif untuk melakukan pembangunan berbasis kearifan lokal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Program pengentasan kemiskinan dengan memberikan akses terhadap pembiayaan dana murah seperti kredit usaha rakyat (KUR), dana revitalisasi perkebunan, pertanian dan peternakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemekaran daerah dengan menggunakan konsep anggaran bergulir untuk mengembangkan suatu wilayah, sehingga sesudah melewati periode waktu tertentu, seluruh daerah telah mendapat infrastruktur baru berdasarkan payung hukum pemekaran daerah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Tahapan yang diperlukan pemerintah dan dunia usaha untuk melakukan perbaikan maupun peningkatan kapasitas potensi untuk mengurangi kemiskinan secara nasional adalah hal yang telah berulang kali dilakukan oleh pemerintah tetapi belum berhasil sampai saat ini. Kegagalan sebagai akibat proses pengambilan keputusan yang salah terutama disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah mendeteksi masalah. Kegagalan selalu datang berulang karena akar permasalahannya tidak tersentuh sama sekali, atau adanya turbulensi yang menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan makro dan/atau mikro. Pengambilan keputusan pemerintah dan dunia usaha yang tidak efektif perlu diperbaiki dengan pendekatan strategik berbasis indikator ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, lingkungan dan kesehatan.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Strategi dibuat sesuai dengan kondisi pemerintah (organisasi) untuk mencapai tujuan indikator ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, lingkungan dan kesehatan, yaitu membuat hal apa yang dapat dilakukan dengan mengetahui kedudukan (internal dan eksternal), proyeksi potensi (internal), proyeksi permintaan (eksternal) dan persaingan (internal dan eksternal). Turbulensi lingkungan yang dihadapi organisasi kemudian dipilah-pilah dalam kerangka strategi sehingga menjadi informasi yang terstruktur dan mempertajam pisau analisis untuk membedah alternatif-alternatif yang tersedia menjadi suatu keputusan yang paling tepat. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Pendekatan strategik memberikan kesempatan untuk berpikir strategi, menyusun strategi, merealisasikan konsep strategi, dan implementasi operasional strategi. Berpikir strategi adalah merumuskan misi, visi dan strategi organisasi. Misi adalah apa yang ingin dicapai oleh suatu organisasi, visi adalah arah yang ditempuh untuk mencapai misi organisasi, dan strategi adalah penjabaran visi menjadi indikator-indikator yang merupakan batu-batu petunjuk jarak (&lt;em&gt;milestone&lt;/em&gt;) dalam arah pencapaian visi organisasi.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Resep untuk keberhasilan penyusunan dan implementasi strategi adalah penyelarasan dan fokus. Strategi yang dibuat dan dipahami dengan baik, melalui penyesuaian dan koherensi sumber daya organisasi yang terbatas, dapat menghasilkan kinerja nonlinear yang hebat.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Pendekatan strategik adalah suatu perumusan, implementasi dan pengendalian untuk menyelesaikan tujuan yang diinginkan sesuai ruang lingkup, jangka panjang, dinamika dan sumberdaya yang memberikan dampak kebehasilan atau kegagalan pemerintah. Kelebihan pendekatan strategik adalah memberikan kerangka siap pakai (&lt;em&gt;template&lt;/em&gt;) dalam memindai faktor lingkungan menjadi suatu kerangka yang terstruktur sehingga informasi yang didapat menjadi masukan yang sangat baik dalam mengambil keputusan yang tepat. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Strategi yang dibuat hanya akan efektif jika pemerintah mempunyai kemampuan untuk mengimplementasikannya. Banyak strategi yang gagal lebih karena implementasi yang buruk dari pada karena strategi itu menyimpang. Dalam kenyataan sebelumnya, pemerintah mungkin mengembangkan strategi yang tidak dapat diimplementasikan karena kurangnya kemampuan organisasi (&lt;em&gt;organizational capability&lt;/em&gt;) dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menerapkan strategi itu. Negara punya mau, rakyat punya mampu, kalau keduanya nggak bertemu, jangan salahkan kalau negeri ini masih &lt;em&gt;le' toy.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3475434732827639346?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3475434732827639346/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3475434732827639346&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3475434732827639346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3475434732827639346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/10/negara-punya-mau-rakyat-punya-mampu.html' title='Negara Punya Mau, Rakyat Punya Mampu (The Story Inside Motivation and Capability)'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5995963012442244071</id><published>2008-10-02T22:18:00.007+07:00</published><updated>2008-10-02T22:56:39.662+07:00</updated><title type='text'>Entropi Setelah Lebaran</title><content type='html'>Oleh: Iyung Pahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut laporan Bank Dunia, pada tahun 2005, Jakarta akan menjadi kota nomor 8 terbanyak penduduknya di dunia (17,3 juta jiwa) yang disebabkan oleh arus migrasi dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara lingkungan tidak siap menerima beban tambahan penduduk. Daerah sumber arus migrasi bagi kawasan Jabodetabek adalah sbb.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a name="OLE_LINK1"&gt;· Jawa Tengah = 457.017 jiwa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;· Jawa Barat = 403.062 jiwa&lt;br /&gt;· Sumatra = 199.455 jiwa&lt;br /&gt;· Jawa Timur = 123.441 jiwa&lt;br /&gt;· Banten = 61.747 jiwa&lt;br /&gt;· Yogyakarta = 41.687 jiwa&lt;br /&gt;· Sulawesi = 27.995 jiwa&lt;br /&gt;· Bali dan Nusa Tenggara = 18.579 jiwa&lt;br /&gt;· Kalimantan = 18.091 jiwa&lt;br /&gt;· Total = 1.351.074 jiwa (7,81%)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kawasan Jabodetabek menjadi tujuan utama dalam menarik penduduk migran karena kawasan ini merupakan pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pendidikan, pusat telekomunikasi, pusat keuangan (bank sentral), pusat industri, pusat perhubungan darat dan udara, serta pusat pelabuhan nasional. Delapan puluh persen uang di Indonesia beredar di Jakarta sehingga merupakan kota dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia (5,6% per tahun).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari analisis kondisi pendatang menurut latar belakang pendidikan dan lapangan kerja di Jabodetabek pada tahun 2006, terlihat bahwa Jakarta telah menjadi pusat jasa dan kawasan Bodetabek sarat dengan kegiatan industri yang membutuhkan tenaga kerja berketrampilan, di sisi lain sebagian besar pendatang di Jabodetabek berpendidikan rendah (tidak tamat SD/lulus SD) sehingga pilihan yang tersedia adalah sektor informal (pemulung, pekerja kasar dan pedagang kaki lima).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Motivasi para pendatang ke Jabodetabek disebabkan oleh faktor penarik dan faktor pendorong. Faktor penarik bagi para pendatang adalah adanya peluang pemenuhan kebutuhan tenaga kerja karena tumbuhnya kawasan bisnis dan jasa, kondisi infrastruktur yang lebih baik, serta transportasi dan layanan publik yang kian membaik di Jabodetabek ketimbang daerah asalnya para pendatang. Faktor pendorong penduduk migran meninggalkan daerah asalnya untuk merantau ke Jabodetabek adalah karena terbatasnya peluang kerja di daerah, sementara mereka tetap harus makan untuk bertahan hidup. Untuk tingkat pendidikan yang sama, pendapatan penduduk di perdesaan ternyata lebih kecil dari di perkotaan. Hal ini memicu timbulnya usaha perbaikan nasib dengan melakukan urbanisasi ke ibukota Kabupaten, Propinsi dan Negara akibat semakin menyempitnya lapangan pekerjaan di bidang pertanian, dan lebih tingginya pendapatan di kota. Walaupun mereka menyadari kondisi di Jabodetabek membutuhkan tenaga kerja yang memiliki ketrampilan tinggi, mereka tetap ke Jabodetabek karena peluang untuk bertahan hidup disana masih lebih besar dibandingkan dengan di daerah asalnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut kaidah termodinamika, energi akan mengalir dari sistem yang mempunyai derajat entropi lebih kecil ke sistem yang ber-entropi lebih besar sejalan dengan bertambah&amp;shy;nya waktu. Keragaman dapat dipostulatkan sebagai salah satu unsur energi. Arus migrasi penduduk dari daerah ke Jabodetabek merupakan contoh aliran energi dari daerah ber-entropi rendah (karena daerah relatif homogen) menuju Jabodetabek yang sangat heterogen (entropi tinggi) dan reaksi ini berlangsung spontan. Artinya bila keadaan tidak berubah (karena adanya gangguan sistem lain) aliran tersebut akan berjalan terus sampai mencapai suatu titik keseimbangan yang dinamis (homeostasis). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aliran energi (dalam hal ini arus migrasi penduduk) berlangsung spontan dari daerah menuju Jabodetabek. Untuk mencegah aliran tersebut dan/atau membalikkan proses spontan tersebut, sistem pengelolaan pemerintahan di daerah (baca: pemerintah daerah asal pendatang) harus didukung oleh input energi (baca: Rupiah) berupa penciptaan lapangan kerja di daerah asal pendatang yang dijabarkan secara teknis dalam paket pembangunan agribisnis unggulan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pembangunan lima tahun di daerah asal pendatang dan di Jabodetabek harus dilakukan secara simultan dan saling melengkapi. Kebijakan pembangunan perdesaan yang dilakukan pemerintah selama ini ternyata belum berhasil meningkatkan kesejahteraaan petani dan perkembangan desa. Salah satu faktor penyebab kemiskinan dan ketertinggalan pembangunan selama ini adalah terjadinya kecenderungan aliran bersih (&lt;em&gt;transfer netto&lt;/em&gt;) sumberdaya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan secara besar-besaran dengan disertai derasnya proses (&lt;em&gt;speed up processes&lt;/em&gt;) migrasi penduduk secara berlebihan dari wilayah perdesaan ke kawasan kota-kota besar (terutama ke Jabodetabek).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perpindahan ini memberikan dampak di berbagai kota utama berupa urbanisasi berlebihan (&lt;em&gt;over-urbanization&lt;/em&gt;), sementara desa kehilangan tenaga-tenaga produktif yang seharusnya merupakan bagian dari mata rantai roda kehidupan dan roda ekonomi perdesaan. Proses urbanisasi yang tidak terkendali ini juga mengakibatkan turunnya produktivitas pertanian secara makro dan terjadinya proses pemiskinan secara sistematik di perdesaan, karena pendekatan pembangunan yang selama ini banyak mengakibatkan urban bias. Orientasi pembangunan industri di Jabodetabek juga menyebabkan perkembangan kota yang tidak teratur (&lt;em&gt;urban sprawl&lt;/em&gt;) sehingga justru menimbulkan tekanan terhadap lingkungan seperti pembukaan lahan pemukiman yang tak terkendali, penggundulan hutan, pemukiman liar di ruang publik dan konversi lahan pertanian produktif menjadi kawasan industri. Sebaliknya, pembangunan pertanian di perdesaan berjalan sangat lamban karena kurangnya infrastruktur fisik, infrastruktur sosial, pendanaan komersial, dan modal insani (&lt;em&gt;human capital&lt;/em&gt;) yang mumpuni. Pembangunan perdesaan menjadi tidak berkelanjutan sehingga banyak proyek pemerintah yang akhirnya sekedar menjadi monumen, terhenti setelah tidak ada pembiayaan lagi dari pemerintah, dan akhirnya pelan-pelan hancur dimakan zaman. Hal ini terjadi karena perencanaan pembangunan pertanian dan perdesaan tidak dilakukan dengan matang karena output total dan produktivitas per kapita yang tidak dapat memberi manfaat langsung, dan sistem usaha tani yang dijalankan masih tradisional dan kurang produktif karena keterbatasan lahan. Rata-rata luas lahan 0,1-0,5 ha/petani di Jawa jelas tidak mampu mencapai skala ekonomi. Insentif ekonomi yang diharapkan justru menjadi dis-insentif dengan praktek pungli yang merajalela, dan peningkatan produktivitas di sektor produksi justru habis disedot para pencari rente ekonomi dalam bentuk marjin tataniaga yang sangat mengeksploitasi petani. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah di daerah asal tidak mungkin bisa mengembangkan industri seperti di Jabodetabek karena memerlukan investasi yang mahal sementara dana APBD tidak mencukupi, sehingga alternatif yang tersedia hanyalah melakukan pembangunan industri berbasis bahan baku produk pertanian (agroindustri) sesuai dengan keunggulan komparatif setempat. Keunggulan komparatif daerah harus dikembangkan sebesar-besarnya dengan menggunakan kendaraan agribisnis, karena hanya agribisnislah yang sanggup memberdayakan tenaga kerja dari sektor pertanian untuk masuk ke sektor (agro)industri dengan pelatihan ketrampilan yang seadanya. Membangun agribisnis di daerah asal pendatang berarti harus didukung oleh energi (baca: anggaran) yang lebih besar dari pada tingkatan energi pada periode sebelumnya. Sementara itu pemerintah pusat (Jabodetabek) harus melakukan pengetatan manajemen kependudukan berupa kebijakan daerah Jabodetabek yang semi tertutup bagi pendatang dengan persyaratan pendidikan dan ketrampilan serta adanya penjamin yang merupakan penduduk resmi Jabodetabek.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pembangunan kawasan Jabodetabek dan pengembangan kawasan baru di daerah sebaiknya dilakukan dengan pendekatan klaster ekonomi. Kawasan Jakarta diposisikan sebagai klaster jasa, kawasan bodetabek sebagai klaster industri, kawasan jawa (pantura) sebagai klaster tanaman pangan, sumatra dan kalimantan sebagai klaster tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet), Indonesia Timur sebagai klaster tanaman bioenergi (jarak pagar) dan tanaman pangan (terutama Papua).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk melaksanakan pengembangan kawasan baru, baik di Jabodetabek maupun di daerah asal penduduk migran, dibutuhkan pendekatan pengelolaan perubahan dalam organisasi pemerintah. Proses perubahan dalam organisasi pemerintah yang terencana akan memudahkan peninjauan dan identifikasi kontinu mengenai masalah-masalah yang perlu diperhatikan, sebagai bagian integral dari kebudayaan organisasi dari suatu penanganan manajerial.  Pelaksanaan dapat dilakukan dengan delapan langkah tindakan perubahan yang dilakukan secperubahan ara berurutan dengan hasil akhir berupa perubahan yang permanen dalam budaya pemerintah yang tercermin dalam kebiasaan orang-orang di dalam pemerintahan. Delapan langkah tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Memahami dan menerima alasan kenapa pemerintah harus berubah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membentuk sebuah tim untuk melakukan perubahan (pilot proyek klaster ekonomi di suatu wilayah).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membuat visi organisasi (pemerintah) yang baru (terkait dengan klaster ekonomi).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengkomunikasikan visi tersebut kepada seluruh organisasi (jajaran di suku dinas).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan kekuasaan kepada orang-orang untuk melaksanakan perubahan (pilot proyek).&lt;br /&gt;– Setelah butir 4 dilaksanakan dengan memuaskan.&lt;br /&gt;– Ada persetujuan dari kepala daerah.&lt;br /&gt;– Buat perubahan melalui rencana tindakan: Apa, Siapa, Kapan, Dimana, Bagaimana, Mengapa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buat laporan kemajuan perubahan dari pilot proyek (1-3 bulan) melalui master calendar dan &lt;em&gt;milestone chart&lt;/em&gt;. Ciptakan “kemenangan-kemenangan kecil.” &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konsolidasi dan lembagakan hasil tersebut melalui orang, proses, dan sistem. Setelah pilot proyek berhasil, terapkan perubahan tersebut pada keseluruhan organisasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membuat perubahan tersebut menjadi perubahan yang permanen melalui budaya organisasi sehingga menjadi kebiasaan bagi semua orang di dalam organisasi pemerintahan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5995963012442244071?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5995963012442244071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5995963012442244071&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5995963012442244071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5995963012442244071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/10/entropi-setelah-lebaran.html' title='Entropi Setelah Lebaran'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-1838391201608028586</id><published>2008-09-28T01:28:00.004+07:00</published><updated>2008-10-02T22:57:42.313+07:00</updated><title type='text'>Geliat Pasar Tradisional Melawan Fenomena Pasar Modern</title><content type='html'>Oleh:  Iyung Pahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraknya pembangunan pasar modern seperti hypermarket dan supermarket telah menyudutkan pasar tradisional di kawasan perkotaan, karena menggunakan konsep penjualan produk yang lebih lengkap dan dikelola lebih profesional. Kemunculan pasar modern di Indonesia berawal dari pusat perbelanjaan modern Sarinah di Jakarta pada tahun 1966 dan selanjutnya diikuti pasar-pasar modern lain (1973 dimulai dari Sarinah Jaya, Gelael dan Hero; 1996 munculnya hypermarket Alfa, Super, Goro dan Makro; 1997 dimulai peritel asing besar seperti Carrefour dan Continent; 1998 munculnya minimarket secara besar-besaran oleh Alfamart dan Indomaret; 2000-an liberalisasi perdagangan besar kepada pemodal asing), serta melibatkan pihak swasta lokal maupun asing. Pesatnya perkembangan pasar yang bermodal kuat dan dikuasai oleh satu manajemen tersebut dipicu oleh kebijakan pemerintah untuk memperkuat kebijakan penanaman modal asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari hal yang dikemukakan, menurut survei AC Nielsen pada tahun 2004 didapatkan data bahwa pertumbuhan pasar modern 31,4% dan pasar tradisional bahkan minus 8,1%. Hal ini menunjukkan adanya masalah yang dihadapi pasar tradisional sebagai wadah utama penjualan produk-produk kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh para pelaku ekonomi skala menengah kecil, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jumlah pedagangnya terus meningkat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesadarannya rendah terhadap kedisiplinan, kebersihan dan ketertiban.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemahamannya rendah terhadap perilaku konsumen.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Visi dan misi pengelola pasar tidak jelas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengelola pasar belum berfungsi dan bertugas secara efektif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Standard operating procedures (SOP)-nya tidak jelas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manajemen keuangannya tidak akuntabel dan tidak transparan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kurang perhatian terhadap pemeliharaan sarana fisik (becek, bau dan kotor).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pedagang kaki lima yang tidak tertib karena mendapatkan tempat yang tidak layak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya premanisme.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak ada pengawasan terhadap barang yang dijual, serta standarisasi ukuran dan timbangan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masalah fasilitas umum.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penataan los/kios/lapak yang tidak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Namun demikian, pemerintah tetap berupaya membangun pasar tradisional di seluruh daerah dan juga hasil survei AC Nielsen, 29% konsumen tetap mengunjungi pasar tradisional dengan alasan harga lebih murah, harga dapat ditawar, banyak pilihan makanan dan produk segar, lokasi dekat dengan rumah, menyediakan segala yang diperlukan dan lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari ilustrasi (fakta dan data) yang dikemukan, banyak hal yang sebenarnya membuat pasar tradisional mulai kehilangan tempat di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Perilaku konsumen semakin &lt;em&gt;demanding&lt;/em&gt; karena konsumen kian memahami haknya, sedangkan di sisi lain mereka hanya memiliki waktu dan kesempatan yang semakin terbatas untuk berbelanja. Perubahan perilaku konsumen yang cenderung demanding menyebabkan mereka beralih ke pasar modern. Pasar-pasar modern dikemas dalam tata ruang yang apik, terang, lapang, dan sejuk. Pengalaman berbelanja tidak lagi disuguhi dengan suasana yang kotor, panas, sumpek, dan becek. Konsumen kian senang menjadi raja yang dimanja. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pasar tradisional beroperasi dalam jam yang terbatas, umumnya hanya beroperasi pada pagi hari dan tidak buka sampai sore atau malam hari. Para wanita yang bekerja biasanya memanfaatkan waktu istirahat makan siang untuk sekaligus berbelanja kebutuhan keluarga di pasar modern yang dekat dengan lokasi kerjanya. Tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan semakin meningkat, kurang dapat ditangkap oleh pengelola pasar tradisional yang tidak begitu memerhatikan kebersihan pasar dan fasilitas pasar. Kehadiran pasar-pasar modern membuat belanja menjadi suatu wisata keluarga yang memberikan pengalaman tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan yang diperlukan oleh pasar tradisional untuk meningkatkan daya saing usahanya maupun bertahan (menghindar dari kematian) dalam kompetisi bisnis ritel menurut analisis masa depan terhadap organisasinya dalam memunculkan kegiatan ekonomi yang dapat menyerap kesempatan kerja dan pengembangan wilayah (praktik dan strategik) adalah kemampuan daya tanggap, kelincahan, kemampuan belajar, kompetensi modal insani (human capital) dan kreativitas operator pasar tradisional sebagai bagian dari keunggulan organisasi belum menghasilkan kapasitas, fleksibilitas dan keragaman yang luas. Sebagai akibatnya pasar tradisional selalu identik dengan tempat belanja yang kumuh, becek serta bau, dan karenanya hanya didatangi oleh kelompok masyarakat kelas bawah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pembangunan pasar tradisional pada tempat-tempat khusus yang nyaman seperti pasar tradisional kompleks perumahan BSD yang terintegrasi dengan melibatkan pengembang sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaannya (CSR), terbukti berhasil meningkatkan status pasar tradisional sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat luas yang dapat menyerap kesempatan kerja dan pengembangan wilayah. Pasar tradisional BSD terbukti dapat hidup dan berkembang pesat karena ramai dikunjungi seluruh lapisan masyarakat, yang tidak hanya dari BSD tetapi juga dari daerah sekitarnya seperti Bintaro dan Pondok Indah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kebijakan pemerintah (Keppres, Kepmen) yang berkaitan dengan pasar modern dan konsep manajemen kewirausahaan dalam memperbaiki pasar tradisional harus dilakukan dengan meningkatkan keunggulan pasar tradisional sehingga menghasilkan kapasitas, fleksibilitas dan keragaman yang luas sehingga membuat pasar tradisional menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat luas yang dapat menyerap kesempatan kerja dan pengembangan wilayah. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membiarkan pasar tradisional apa adanya dan meminta pemerintah menghambat pengembangan pasar modern tidak akan membantu pasar tradisional untuk bertahan hidup. Masyarakat selaku konsumen semakin menuntut kenyamanan, dan jika hal tersebut tidak dapat dipenuhi pasar tradisional, maka secara otomatis mereka akan beralih ke pasar modern. Lonceng kematian pasar tradisional telah berdentang, dan pengunjung setia yang terakhir akan meninggalkan pasar tradisional ketika pasar tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhannya lagi. Keberadaan pasar tradisional tidak dapat diatur atau dilindungi oleh peraturan pemerintah setingkat apapun. Pasar tradisional hanya dapat dipertahankan jika mereka disediakan tempat khusus yang nyaman dan disediakan oleh pemerintah. Atas alasan itu pula, pasar modern tidak dapat dipersalahkan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah kurang melakukan pemberdayaan pasar tradisional sebagai pusat kegiatan ekonomi yang masih dibutuhkan oleh masyarakat luas, dan agak lambat menerapkan teknologi yang efektif dan metode baru untuk mengubah pasar tradisional menjadi pasar yang bersih dan nyaman bagi pengunjung tanpa membebani pedagang dengan biaya renovasi kios yang cenderung mahal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Visi pemerintah dalam konteks logik, sistemik, lateral dan shared vision telah dicoba untuk dilaksanakan dengan revisi perda No. 6/1992 tentang pengelolaan pasar, dan perda No. 12/1999 tentang PD. Pasar Jaya, dimana operator memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun fasilitas tambahan di pasar. Berdasarkan kedua perda tersebut, PD. Pasar Jaya (sebagai perpanjangan tangan pemerintah) dapat membangun fasilitas tambahan seperti kantor dan apartemen di atas pasar tradisional setelah mendapat persetujuan Dewan Kota. Pembangunan fasilitas tambahan akan mensubsidi harga renovasi kios bagi pedagang, sehingga renovasi pasar dapat dilakukan tanpa pembebanan biaya tambahan bagi pedagang yang sangat elastis terhadap kenaikan harga kios. Penterjemahan visi pemerintah dalam content teknologi, produk dan jasa, strategi dan struktur, serta budaya organisasi dilakukan dalam rangka meningkatkan daya saing usaha dan mempertahankan eksistensi pasar tradisional dalam lingkungan bisnis ritel di masa depan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun informasi tentang gaya hidup modern dengan mudah diperoleh, masyarakat tampaknya masih memiliki budaya untuk tetap berkunjung dan berbelanja ke pasar tradisional. Terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara pasar tradisional dan pasar modern. Perbedaannya adalah masih adanya proses tawar-menawar harga di pasar tradisional, sedangkan di pasar modern harga kondisinya sudah “kaku” dengan label harga. Dalam proses tawar-menawar terjalin kedekatan personal dan emosional antara penjual dan pembeli yang tidak mungkin didapatkan ketika berbelanja di pasar modern. Romantisme masa lalu ini masih dan mendapat tempat dalam budaya tradisional yang mempertahankan eksistensi pasar tradisional. Hal ini sejalan dengan hasil survei AC Nielsen yang masih menempatkan 29% konsumen sebagai konsumen fanatik pasar tradisional dengan berbagai alasan. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" dan telah menjadi bagian dari nilai budaya tradisional antara lain adalah pasar Beringharjo di Yogyakarta, pasar Klewer di Solo, dan pasar Johar di Semarang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan menempatkan rumusan efektivitas diatas efisiensi, ketika lonceng kematian pasar tradisional telah berdentang dan pengunjung setia yang terakhir telah meninggalkan pasar tradisional yang tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya, sebesar apapun romantisme yang merepresentasikan nilai-nilai budaya tradisional, pasar tradisional akan tinggal kenangan dan menjadi ikon penghias musium peradaban masa lalu bangsa ini. Pasar tradisional yang tidak mampu berubah menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan (zaman), jelas bukan tipe organisasi masa depan yang dapat selalu menyesuaikan dirinya dengan perubahan lingkungan. Untuk mempertahankan eksistensi pasar tradisional, dibutuhkan intervensi seluruh pemangku kepentingan untuk merubah organisasi pasar tradisional saat ini menjadi organisasi masa depan yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang selalu berubah. Semoga.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-1838391201608028586?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/1838391201608028586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=1838391201608028586&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/1838391201608028586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/1838391201608028586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/09/geliat-pasar-tradisional-melawan.html' title='Geliat Pasar Tradisional Melawan Fenomena Pasar Modern'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-6505867584066768541</id><published>2008-09-28T01:16:00.003+07:00</published><updated>2008-10-02T22:57:12.793+07:00</updated><title type='text'>Ojek</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh: Iyung Pahan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ojek sudah menjadi fenomena transportasi di Indonesia, khususnya muncul sebagai akibat kekosongan sarana transportasi dari penghapusan becak di beberapa daerah tertentu maupun akibat keterbatasan angkutan umum dan telah dianggap sebagai suatu sarana berbasis komunitas pascakrisis moneter, serta sarana bagi sebagian warga kota untuk mencari nafkah. Oleh karena itu, sudah saatnya ojek diatur agar tidak menimbulkan masalah dan dapat dikendalikan melalui suatu payung hukum, terutama dalam pengkoordinasian yang terkait dengan perilaku berlalu lintas dan izin trayek, serta organisasi di kalangan pengojek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ojek secara keseluruhan yang marak diberbagai penjuru tanah air pada akhir-akhir ini tidak lepas dari penjualan sepeda motor selama 5 tahun terakhir (2001-2005) yang rataan pertumbuhannya mencapai 37,37% dengan rincian sbb.:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;2001 = 1.650.770 unit (68,55%).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;2002 = 2.317.991 unit (40,42%)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;2003 = 2.823.702 unit (21,82%)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;2004 = 3.900.518 unit (38,13%)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;2005 = 4.600.000 unit (17,93%)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rataan = (37,37%)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Kondisi lainnya dikarenakan faktor ketenagakerjaan yang terlalu kaku yang telah menimbulkan pengangguran penuh di atas 10 juta jiwa dan kemiskinan yang melilit sebagian besar penduduk akibat ekonomi yang tidak kunjung usai.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah secara umum dan khususnya pemerintah daerah beserta instansi terkait (misal, Dinas Perhubungan, Kepolisian Daerah, Real Estate dan Asosiasi) dalam mengatur keberadaan ojek agar menghindari atau mengurangi terjadinya konflik yang tidak diinginkan dalam rangka pengembangan sarana transportasi berbasis komunitas dan upaya kegiatan mencari nafkah (kegiatan usaha informal dan penyerapan tenaga kerja masyarakat).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika ada masalah tikus di lumbung padi, solusinya adalah mengendalikan tikus-tikus tersebut tanpa membakar lumbungnya. Demikian juga dengan masalah ojek, jika ada ekses negatifnya, maka ekses negatif tersebut harus diselesaikan tanpa melarang praktik perojekan di daerah tersebut. Nilai ekonomi bisnis ojek sangat besar ditinjau dari penyerapannya terhadap peningkatan penjualan sepeda motor nasional, selain nilai sosialnya sebagai bisnis informal yang menjadi kantong penyerap pengangguran penuh sehingga mampu menjadi bantal kerusuhan sosial akibat menciutnya kesempatan kerja di sektor formal. Melarang praktik perojekan karena adanya beberapa ekses negatif akan menimbulkan kerugian besar baik secara makro maupun mikro.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bisnis perojekan adalah bisnis yang tumbuh secara swadaya karena bertemunya faktor permintaan dan penawaran secara bebas. Permintaan yang tercipta karena kosongnya suatu ceruk pasar akibat keterbatasan angkutan umum dan penghapusan becak bertemu dengan penawaran yang tercipta karena tumbuhnya sektor informal akibat menciutnya kesempatan kerja di sektor formal pascakrisis moneter 1998. Bisnis perojekan adalah bisnis yang muncul secara swadaya masyarakat karena bertemunya berbagai kepentingan pada sisi penawaran dan permintaan. Karena dampaknya yang sangat besar terhadap pertumbuhan bisnis otomotif nasional (sepeda motor) selama 5 tahun terakhir dan besarnya fungsi jaring pengaman sosial yang melekat pada praktik perojekan, maka bisnis ini harus dilestarikan dengan perbaikan disana-sini untuk meminimumkan konflik yang terjadi di lapangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Harapan yang diinginkan adalah bisnis perojekan menjadi bisnis berbasis komunitas yang aman bagi pelaku bisnis maupun konsumennya. Akibat tidak berimbangnya faktor permintaan (jumlah konsumen ojek yang terbatas) dengan faktor penawaran (jumlah penarik ojek yang banyak), maka penarik ojek memiliki kecenderungan untuk saling berebut konsumen dan setengah memaksakan tarif yang mahal. Dalam kondisi tertentu, terjadi persaingan antara angkutan umum dengan ojek. Beberapa organisasi atau paguyuban penarik ojek menjalankan pendekatan premanisme dengan membentuk teritorial tertentu sebagai daerah operasi yang terlarang bagi angkutan umum, utamanya di daerah kompleks perumahan. Situasi ini menciptakan konflik antara penarik ojek dengan sopir angkutan umum, yang berdampak pada ketidaknyamanan dan biaya tinggi bagi konsumen. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk mengatasi hal-hal ini diperlukan teknik-teknik penanganan konflik untuk menghasilkan resolusi konflik sehingga bisnis perojekan dapat dijalankan dengan dampak negatif yang sesedikit mungkin. Penyelesaian atau resolusi konflik perojekan dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan atau teknik. Strategi yang paling sederhana adalah fokus pada pendekatan yang berbeda baik berupa kerjasama atau kompetisi, tetapi secara umum dapat dikelompokkan paling tidak dalam 3 tipologi yang berbeda seperti penekanan dan dominansi, kompromi, dan pemecahan masalah secara integratif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Strategi penekanan dan dominansi adalah menekan konflik dan memaksanya “lenyap” ke bawah permukaan dengan menciptakan situasi yang menang dan yang kalah. Penekanan dan dominansi dapat dilakukan dengan: (1) Menghindari (avoiding) pengambilan posisi tertentu atau berpura-pura menganggap tidak ada konflik, (2) Meredakan (smoothing) konflik secara diplomatis dengan meminimumkan ketidaksesuain paham serta membujuk salah satu pihak untuk mengalah, (3) Memaksakan (forcing) dengan menggunakan kekuasaan struktural dan menolak seluruh argumentasi yang diajukan, (4) Melakukan penyelesaian melalui suara terbanyak (&lt;em&gt;majority rule&lt;/em&gt;). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kompromi dilakukan untuk meyakinkan pihak yang bersengketa guna mengorbankan sasaran-sasaran tertentu demi meraih sasaran-sasaran lain. Kompromi adalah metode resolusi konflik yang lemah karena selalu berusaha mengakomodir kepentingan seluruh pihak, sehingga sering kali akar perselisihan kepentingannya tidak disinggung sama sekali. Kompromi dapat terwujud dengan melakukan: (1) Pemisahan (&lt;em&gt;separation&lt;/em&gt;) dimana pihak yang berkonflik dipisahkan satu sama lain sampai mencapai suatu solusi, (2) Arbitrase (&lt;em&gt;arbitration&lt;/em&gt;) dimana pihak yang bekonflik menyerahkan solusi kepada penilaian pihak ketiga, (3) Penyelesaian alamiah karena faktor kebetulan (&lt;em&gt;settling by chance&lt;/em&gt;) atau kejadian acak (&lt;em&gt;random event&lt;/em&gt;), (4) Penyelesaian menurut peraturan-peraturan yang berlaku (&lt;em&gt;resort to rules&lt;/em&gt;), dimana para pihak yang berkonflik tidak mencapai titik temu akhirnya setuju mengikuti peraturan-peraturan yang ada (&lt;em&gt;go by the book&lt;/em&gt;), dan (5) Tindakan menyogok (&lt;em&gt;bribing&lt;/em&gt;), dimana salah satu pihak yang bekonflik menerima imbalan tertentu untuk mengakhiri koflik yang belangsung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penyelesaian konflik secara integratif merubah konflik antarkelompok menjadi situasi pemecahan masalah bersama dengan bantuan teknik pemecahan masalah (&lt;em&gt;problem solving&lt;/em&gt;). Pemecahan masalah secara integratif dilakukan dengan merubah konflik menjadi sebuah situasi pemecahan masalah dengan teknik konsensus, konfrontasi dan penggunaan tujuan-tujuan superordinat. Dengan teknik konsensus, pihak yang berkonflik dipertemukan guna mencapai solusi terbaik sehingga tidak ada satu pihakpun yang dikorbankan. Pada metode konfrontasi, asosiasi penarik ojek dan asosiasi pengemudi angkutan umum menyatakan pandangan masing-masing secara langsung dan terbuka kepada masing-masing pihak guna mencapai solusi rasional yang memaksimumkan pencapaian target masing-masing dan saling menguntungkan. Penetapan tujuan-tujuan superordinat merupakan metode penyelesaian konflik dengan mengalihkan perhatian para pihak yang bertikai dari konflik yang ada ke tujuan-tujuan superordinat. Sejenak mereka akan melupakan konflik yang ada dan terbius dengan tujuan-tujuan superordinat. Meskipun penyelesaian konflik secara integratif merupakan cara yang terbaik bagi organisasi, dalam praktiknya sering sulit tercapai secara memuaskan karena kurang adanya kemauan yang sunguh-sungguh dan jujur untuk memecahkan persoalan yang menimbulkan konflik. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari keseluruhan teknik penyelesaian konflik yang ada, hanya strategi konfrontasi yang dapat dianggap sebagai pendekatan resolusi konflik karena memberikan kesempatan untuk berbeda pendapat dan kemudian menghilangkannya melalui pemecahan masalah yang kreatif. Keberhasilan metode konfrontasi antara lain disebabkan oleh: (1) Para pihak yang berkonflik setuju untuk memecahkan masalah sebagai sasaran utamanya, (2) Mereka membuat komitmen kepada diri sendiri untuk selalu mengambil posisi yang luwes ketimbang posisi yang kaku, (3) Para pihak mampu menjelaskan kekuatan dan kelemahan posisi masing-masing, (4) Kemampuan memahami kebutuhan orang lain (dan dirinya sendiri) untuk menyelamatkan muka masing-masing, (5) Sikap apa adanya dan tidak menyembunyikan informasi-informasi penting, (6) Kemampuan mengendalikan emosi diri dan mencegah penggunaan kata “ya-tapi,” (7) Kemauan untuk memahami sudut pandang, kebutuhan dan sasaran pihak lain, (9) Kepiawaian mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan informasi, menggali pemahaman dan dukungan lebih lanjut, (10) Kemampuan meyakinkan pada pihak yang memiliki kepentingan berbeda untuk mencapai hasil yang diinginkan, dan (11) Kemampuan menghargai pihak lain ketika konflik telah selesai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keberhasilan dalam bernegosiasi menciptakan komunikasi terbuka, kemampuan mengenali kebutuhan dan kecemasan masing-masing pihak serta merespon kebutuhan tersebut secara timbal balik. Kondisi ini membawa pada jalan kompromi yang akhirnya bermuara menjadi konfrontasi yang menyelesaikan konflik secara integratif.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-6505867584066768541?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/6505867584066768541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=6505867584066768541&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/6505867584066768541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/6505867584066768541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/09/ojek.html' title='Ojek'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5291251524395924232</id><published>2008-09-28T00:27:00.008+07:00</published><updated>2008-10-02T23:02:22.059+07:00</updated><title type='text'>Pencarian Kebenaran:  Sebuah Tinjauan Teoritis</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IEyOM1Mo_j4/SOTwc4_l6zI/AAAAAAAAAGo/00eNK9V7h0I/s1600-h/IMAGE007.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252587444546956082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_IEyOM1Mo_j4/SOTwc4_l6zI/AAAAAAAAAGo/00eNK9V7h0I/s400/IMAGE007.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: Iyung Pahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran (&lt;em&gt;truth&lt;/em&gt;) adalah kesesuaian dengan fakta atau kenyataan. Kebenaran adalah suatu pernyataan yang sudah terbukti atau dipertimbangkan sebagai kenyataan agung yang memiliki makna tertinggi dan nilai eksistensi (The Free Web Dictionary, 2008). Kebenaran adalah suatu sifat dari kepercayaan, dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu antara suatu kepercayaan dengan suatu fakta atau lebih di luar kepercayaan. Bila hubungan itu tidak ada, maka kepercayaan itu adalah salah (Russell, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wahyudi (2004), kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasan etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akalbudi, karena yang-ada mengungkapkan diri kepada akalbudi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akalbudi yang menyatakannya (Wahyudi, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori kebenaran metafisis/ontologis, kebenaran adalah kualitas individual atas obyek. Kebenaran merupakan kualitas primer yang mendasari realitas dan bersifat objektif, serta didapat dari sesuatu itu sendiri. Menurut Deutsch (1979), kita memperolehnya melalui intensionalitas, dan tidak mendapatkannya dari relasi antara sesuatu dengan sesuatu (misal: kesesuaian antara pernyataan dengan fakta). Kebenaran metafisis menjadi dasar kebenaran epistemologis, dan pernyataan tersebut benar kalau memang yang dinyatakan itu sungguh ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para ahli yang memaparkan ide tentang perspektif kebenaran termasuk bagaimana membuktikannya. Tulisan ini mencoba membahas masalah hakekat kebenaran dari perspektif kebenaran filsafat, kebenaran ilmiah, dan kebenaran non-ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kebenaran Filsafat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Julian Baggini terdapat dua aliran tentang kebenaran yang hampir merupakan paradoks dalam melihat kebenaran (Trian, 2005). Pertama, kebenaran realis yang menegaskan bahwa kebenaran itu ada, terlepas apakah kita mengetahuinya atau tidak. Kebenaran itu nyata dan berdiri sendiri dari kita. Yang kedua, kebenaran nonrealis (hanya karena berlawanan dari realis) yang berpandangan bahwa kebenaran tidak bergantung pada kita, sekedar menunggu untuk ditemukan. Sesuatu yang secara intelektual sangat sederhana, dimana kebenaran tidak pernah berada “di luar sana” &lt;em&gt;(“the truth is out there”),&lt;/em&gt; dan dengan cara tertentu ia menunggu diciptakan oleh bahasa, masyarakat, individu ataupun budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua aliran kebenaran tersebut yang menyusun postulat dasar dalam menilai sesuatu, antara yang seharusnya dan yang terjadi, antara idealisme dan kenyataan, antara &lt;em&gt;das solen&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;das sein.&lt;/em&gt; Seperti dua garis sejajar, eksistensi keduanya jarang (untuk tidak dikatakan tidak pernah) bertemu dalam satu titik sederhana. Ini artinya, kebenaran dalam pandangan gradasi eksistensi adalah sebuah realitas yang memberikan penampakan multiplisitas (bermacam-macam). Antara kebenaran dan ketidakbenaran dalam kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan begitu saja karena adanya gradasi. Semakin sedikit esensi yang dikandung, semakin tinggi pula tingkat gradasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan antara kebenaran dan ketidakbenaran tak akan pernah selesai dibahas manusia sekalipun kita mengenal gradasi eksistensi. Karena ketidakmampuan memisahkan kebenaran dan ketidakbenaran secara tegas, manusia yang hidup di dunia fana tak pernah mencapai pemahaman akan kebenaran sejati. Kebenaran yang dicari manusia merupakan suatu kebenaran yang adalah benar (&lt;em&gt;truth is true&lt;/em&gt;) dan bukan kebenaran yang tak pernah benar (&lt;em&gt;truth never true&lt;/em&gt;). Kebenaran bukanlah sesuatu yang mutlak (relatif) dan tidak ada kebenaran yang universal karena nalar manusia tidak memiliki kemampuan untuk menggapai kebenaran (Wilujeng dan Hadi, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran itu dapat bersifat relatif maupun mutlak. Kebenaran relatif merupakan pernyataan yang mengandung kebenaran berdasarkan suatu standar atau kebudayaan tertentu, tapi menjadi suatu hal yang salah di standar/budaya lainnya. Sementara kebenaran mutlak merupakan kebenaran yang berlaku sama di manapun mereka berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran filsafat diperoleh dengan cara merenungkan atau memikirkan sesuatu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, baik sesuatu itu ada atau mungkin ada. Kebenaran filsafat memiliki proses penemuan dan pengujian kebenaran yang unik dan dibagi dalam beberapa mashab. Dalam praktiknya, ada dualisme mashab yang mengakui beberapa kebenaran sekaligus, misalnya mengakui kebenaran realisme dan naturalisme (Wahono, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Realisme: Mempercayai sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri dan sesuatu yang pada hakekatnya tidak terpengaruh oleh seseorang.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Naturalisme: Sesuatu yang bersifat alami memiliki makna, yaitu bukti berlakunya hukum alam dan terjadi menurut kodratnya sendiri.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Positivisme: Menolak segala sesuatu yang di luar fakta, dan menerima sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Tolok ukurnya adalah nyata, bermanfaat, pasti, tepat dan memiliki keseimbangan logika.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Materialisme Dialektik: Orientasi berpikir adalah materi, karena materi merupakan satu-satunya hal yang nyata, yang terdalam dan berada diatas kekuatannya sendiri. Filosofi resmi dari ajaran komunisme.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Idealisme: Idealisme menjelaskan semua obyek dalam alam dan pengalaman sebagai pernyataan pikiran.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pragmatisme: Hidup manusia adalah perjuangan hidup terus menerus, yang sarat dengan konsekuensi praktis. Orientasi berpikir adalah sifat praktis, karena praktis berhubungan erat dengan makna dan kebenaran. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kebenaran Ilmiah&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran ilmiah bukanlah kebenaran yang mutlak, karena ia terus berkembang dengan semakin majunya kemampuan yang dimiliki manusia. Pada zaman Yunani Kuno, Aristoteles menyatakan bumi adalah pusat tata surya dan ide tersebut dianggap sebagai kebenaran ilmiah pada saat itu. Pada abad ke-16, ilmuwan Polandia bernama Nicolaus Copernicus menyatakan matahari adalah pusat tata surya, dan hal ini terbukti sampai saat ini merupakan kebenaran yang baru. Nilai kebenaran sains memang relatif, tergantung bukti-bukti dan argumentasi fisis yang jadi landasannya. Selama belum ada bukti yang menggugurkan suatu teori sains, maka teori itulah yang dianggap benar (Jamaluddin, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu gerbang kebenaran ilmiah tertinggi dikaji secara mendalam berdasarkan proses penelitian dan penalaran logika ilmiah melalui kajian epistemologi, ontologi, dan aksiologi (Suriasumatri, 1982). Epistemologi adalah suatu teori tentang pengetahuan yang berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi adalah pemanfaatan prosedur kerja untuk memperoleh pengetahuan yang benar dengan menggunakan metode ilmiah. Ontologi adalah apa yang ingin diketahui mencakup lingkup batas jati diri (being) dan keberadaan eksistensi penelaahan obyek (sasaran) keilmuan dan penafsiran tentang hakekat kenyataan yang khas serta perubahan dari objek keilmuan. Aksiologi adalah nilai tujuan pemanfaatan dan penggunaan pengetahuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebutuhan hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian kebenaran secara epistemologi menformulasikan kepercayaan sebelum adanya fakta dalam domain agama dan tahyul. Epistemologi di dalam agama Islam memiliki beberapa macam antara lain: (a) perenungan (&lt;em&gt;contemplation&lt;/em&gt;) tentang sunnatullah sebagaimana dianjurkan didalam al-Qur’an, (b) penginderaan (&lt;em&gt;sensation&lt;/em&gt;), (c) &lt;em&gt;tafaqquh&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;perception, concept&lt;/em&gt;), (d) penalaran (&lt;em&gt;reasoning&lt;/em&gt;). Epistemologi di dalam Islam tidak berpusat kepada manusia yang menganggap manusia sendiri sebagai makhluk mandiri dan menentukan segala-galanya, melainkan berpusat kepada Allah, sehingga berhasil atau tidaknya setiap usaha manusia, tergantung kepada iradat Allah. Epistemologi Islam mengambil titik tolak Islam sebagai subyek untuk membicarakan filsafat pengetahuan, maka di satu pihak epistemologi Islam berpusat pada Allah, dalam arti Allah sebagai sumber pengetahuan dan sumber segala kebenaran. Di lain pihak, epistemologi Islam juga berpusat pula pada manusia, dalam arti manusia sebagai pelaku pencari pengetahuan (kebenaran). Di sini manusia berfungsi subyek yang mencari kebenaran. Manusia sebagai khalifah Allah berikhtiar untuk memperoleh pengetahuan sekaligus memberi interpretasinya. Dalam Islam, manusia memiliki pengetahuan, dan mencari pengetahuan itu sendiri sebagai suatu kemuliaan (Niriah, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa perbedaan antara Filsafat Pengetahuan Islam (Epistemologi Islam) dengan epistemologi pada umumnya. Pada garis besarnya, perbedaan itu terletak pada masalah yang bersangkutan dengan sumber pengetahuan dalam Islam, yakni wahyu dan ilham. Sedangkan masalah kebenaran epistemologi pada umumnya menganggap kebenaran hanya berpusat pada manusia sebagai makhluk mandiri yang menentukan kebenaran. Epistemologi Islam membicarakan pandangan para pemikir Islam tentang pengetahuan, dimana manusia tidak lain hanya sebagai khalifah Allah di muka bumi,yaitu sebagai makhluk pencari kebenaran. Manusia tergantung kepada Allah sebagai pemberi kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan yang timbul setelah adanya fakta merupakan dasar dari sains dan filsafat ilmu postivisme logis yang dikemukakan oleh August Comte (1798-1857). Menurut Comte, bahan pengalaman inderawi harus dipertimbangkan oleh akal. Akal kemudian mengatur dan mensistimatisasi pengalaman secara logis sehingga terbentuklah pengetahuan. Metode positivisme logis berpangkal dari gejala faktual yang positif dan menafikan berbagai persoalan di luar fakta seperti metafisika dan agama. Apa yang diketahui secara positif adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dalam bidang filsafat ilmu pengetahuan, positivisme terbatas pada gejala-gejala empiris saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa perkembangan awal positivisme logis (&lt;em&gt;positivist logics&lt;/em&gt;), para tokoh yang dikenal sebagai “Lingkaran Wina” (Moritz Schlick dan Rudolf Carnap) mengemukakan bahwa teori-teori baru dalam ilmu pengetahuan alam (&lt;em&gt;natural sciences&lt;/em&gt;) ditetapkan melalui ‘verifikasi’ (misalnya pernyataan “tembaga menghasilkan daya listrik” adalah terbukti benar dan tidak terbantahkan lagi). Teori verifikasi ini amat berpengaruh di dalam dunia ilmu pengetahuan, termasuk di Indonesia. Tetapi sejak 1935 Karl Popper melalui bukunya &lt;em&gt;The Logic of Scientific Discovery (Logik der Forschung)&lt;/em&gt; mengemukakan bahwa aturan-aturan untuk menetapkan hipotesis baru dan teori baru tidak ditentukan oleh konfirmasi positif, koroborasi dalam percobaan dan pengalaman ataupun oleh verifikasi. Banyak pernyataan (misalnya “semua tembaga di dalam alam semesta ini menghasilkan daya listrik”) tidak bisa diverifikasi karena tidak mungkin dilakukan. Bukan verifikasi yang menentukan melainkan ‘falsifikasi’ dan prinsip yang mengikutinya kemudian disebut prinsip ‘falsifiabilitas.’ Penemuan angsa-angsa berwarna hitam di Australia langsung memperlihatkan kebersalahan proposisi yang tadinya dianggap berlaku universal yaitu “semua angsa berwarna putih.” Dari pengamatan induktif yang menemukan bahwa ada angsa hitam, dapat dideduksikan secara umum juga bahwa “Ada angsa-angsa yang tidak putih.” Penemuan angsa hitam membuktikan kesalahan proposisi “semua angsa berwarna putih.” Tetapi daripada memfrustrasikan diri, hal ini justru dapat dilihat positif. Teori ilmiah yang baik adalah teori ilmiah yang dapat dibuktikan salah, sedangkan teori ilmiah yang tidak baik adalah teori ilmiah yang tidak dapat dibuktikan salah. Maka Popper sangat mengecam klaim-klaim beberapa teori besar yang memberi kesan tidak memberi tempat pada kemungkinan dirinya dapat salah, seperti teori negara dan masyarakat yang bersumber dari Plato, psiko-analisis dari Freud dan teori sosial dari Marx.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Popper tidak mendapat sambutan yang sama seperti sambutan terhadap verifikasi. Namun sementara itu muncullah pertanyaan-pertanyaan apakah perkembangan ilmu atau lebih baik, sains, ditentukan oleh logika, entah logika yang mengarah pada verifikasi maupun logika yang mengarah pada falsifikasi? Atau adakah faktor-faktor lainnya yang ikut menentukan, bahkan lebih menentukan daripada logika dari ilmu itu sendiri? Di dalam dunia ilmu-ilmu sosial dan humaniora sudah lama disadari bahwa faktor-faktor sejarah, komunitas ilmiah, dan orangnya (subyek yang meneliti) merupakan faktor-faktor yang amat menentukan. Tidak ada epistemologi pengetahuan yang dapat dilakukan tanpa menggabungkan teori pengetahuan, sejarah pengetahuan dan sosiologi pengetahuan. Ilmu pengetahuan alam (“the natural sciences”) yang di Indonesia biasanya disebut “sains,” tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh penelitian terhadap ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Hipotesis baru dan teori baru tidak muncul oleh karena prinsip verifiabilitas maupun falsifiabilitas, melainkan oleh karena sebuah paradigma yang lama digantikan oleh sebuah paradigma yang baru. Jadi terjadi sebuah perubahan paradigma. Pemahaman tentang perubahan paradigma di dalam sains ini dikemukakan oleh Thomas Kuhn dari Amerika Serikat sejak tahun 1950-an. Menjelang tahun 60-an ia menerima permintaan dari International &lt;em&gt;Encyclopedia of Unified Science&lt;/em&gt; untuk menulis rubrik mengenai sejarah ilmu, dan pada tahun 1962 rubrik itu diterbitkan sebagai sebuah buku yang secara khusus membicarakan paradigma ilmu dan ilmu normal. Buku ini segera menggoncangkan dunia ilmu pengetahuan alam, dan barangkali karena sifatnya yang kontroversial, maka pengikutnyapun tidak banyak. Dapat dikatakan bahwa komunitas sains umumnya tetap mengacu pada teori verifikasi, sebagian mengacu pada falsifikasi, namun sebagian besar mengabaikan saja teori perubahan paradigma dari Kuhn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kuhn, filsafat ilmu sebaiknya berguru pada sejarah ilmu yang baru. Katanya, Popper yang sudah disebut di atas, membalikkan kenyataan dengan terlebih dulu menguraikan terjadinya ilmu empiris melalui jalan hipotesis yang disusul upaya falsifikasi. Padahal perubahan-perubahan mendalam selama sejarah ilmu justru tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah satu teori atau sistem, melainkan terjadi melalui revolusi-revolusi ilmiah. Kemajuan ilmiah adalah bersifat revolusioner, dan tidak seperti anggapan sebelumnya, yaitu bersifat kumulatif (baca: evolusioner). Mengapa tidak disadari bahwa kemajuan itu bersifat revolusioner? Oleh karena hanya terasa revolusioner bagi mereka yang terkena dampaknya, atau lebih baik, mereka yang paradigmanya terkena dampak dari perubahan revolusioner ini. “Paradigma” menjadi konsep sentral dalam pemikiran Kuhn. Ilmu yang sudah matang dikuasai oleh sebuah paradigma tunggal. Tetapi salah satu masalah dalam tesis Kuhn adalah pemahaman mengenai pengertian paradigma itu sendiri, yang ternyata tidak begitu jelas. Di satu pihak, Kuhn mengatakan bahwa “paradigma” yang ia maksudkan tidak sama dengan “model” atau “pola” melainkan lebih daripada itu. Tetapi kemudian dalam penerapan teori Kuhn ke bidang-bidang di luar sains, istilah “model,” “pola” dan “tipe” kerap dicampurkan saja dengan “paradigma.” Di dalam postscript, Kuhn mengakui bahwa ia menggunakan istilah “paradigma” dalam dua arti, (1) sebagai keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik, dsb yang dimiliki bersama oleh anggota komunitas ilmiah tertentu, dan (2) sejenis unsur dalam konstelasi itu, pemecahan teka-teki yang kongkrit, yang jika digunakan sebagai model atau contoh, dapat menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan teka-teki sains normal yang masih tersisa. Menurut Kuhn, kedua makna ini bisa dipakai, namun yang lebih mendalam secara filsafati adalah yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma tunggal ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa ilmu normal (&lt;em&gt;normal science&lt;/em&gt;). Yang dimaksudkan dengan ilmu normal adalah penelitian yang dengan teguh berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah pada masa yang lalu, pencapaian yang oleh masyarakat ilmiah tertentu diakui pada suatu kurun waktu tertentu sebagai dasar atau pondasi bagi praktik selanjutnya. Para ilmuwan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigma ini secara rinci dan mendalam, karena tidak sibuk dengan hal-hal mendasar. Karena paradigma diterima, maka dengan sendirinya para ilmuwan tidak bersikap kritis terhadap paradigma tersebut, karena paradigma itulah yang membimbing aktivitas ilmiahnya. Namun selama menjalankan penelitiannya, para ilmuwan bisa menemukan pelbagai kejanggalan berupa ketidaksesuaian teori dengan fenomena. Kejanggalan atau “anomali” ini justru merupakan sebuah petunjuk yang penting mengenai perkembangan ilmu. Jika anomali semakin menumpuk dan kualitasnya semakin meninggi, maka timbullah krisis. Dalam krisis ini orang mulai mempertanyakan paradigma. Pada waktu itu ilmuwan tidak lagi melakukan ilmu normal. Ia diperhadapkan pada pemilihan apakah akan kembali kepada cara-cara ilmiah yang lama, atau berpindah pada sebuah paradigma baru yang memecahkan masalahnya dan dengan demikian merupakan tandingan terhadap paradigma lama. Jika ia memilih yang terakhir, maka terjadilah sebuah revolusi ilmiah, oleh karena di antara paradigma baru dan paradigma lama tidak ada benang merah logika atau rasionalitas, dalam arti keduanya tidak bisa disesuaikan. Paradigma lama ditinggalkan bukan karena atau kurang ilmiah dibandingkan yang baru, tetapi karena dianggap tidak sesuai lagi untuk memecahkan masalah. Istilah yang dipakai oleh Kuhn untuk menyebut ketidakrasionalan ini adalah &lt;em&gt;“incommensurable”&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;“incommensurability.”&lt;/em&gt; Tetapi Kuhn menambahkan bahwa kebanyakan ilmuwan memilih untuk bertahan dalam ilmu normal dan mengikuti paradigma yang lama, oleh karena mengikuti paradigma yang baru membawa dampak yang berat bagi studi dan kegiatan mereka. Perubahan yang bersifat paradigmatik selalu bersifat revolusioner, dan efeknya sama seperti sebuah perubahan perspektip atau orientasi. Berbicara mengenai perspektip dan orientasi tidak dapat tidak menyebabkan orang berpikir mengenai “apa kata dunia” &lt;em&gt;(“worldview”).&lt;/em&gt; Perubahan yang bersifat paradigmatik bisa mencakup perubahan worldview. Kuhn tidak menyangkal bahwa pemahamannya mengenai perubahan paradigma sains dipengaruhi oleh perkembangan di bidang psikologi &lt;em&gt;Gestalt. “What were ducks in the scientist’s world before the revolution are rabbits afterwards.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di dalam banyak catatan-catatan pakar sains dijumpai pergumulan hebat dalam menghadapi anomali dan kenyataan paradigma baru. Einstein yang dapat disebut pembangun paradigma baru merasa &lt;em&gt;“as if the ground had been pulled out from under one, with no firm foundation to be seen anywhere, upon which one could have been built.”&lt;/em&gt; Setelah menyadari dampak dari mereka yang kemudian memperkembangkan teori kuantum terhadap teologi, terutama mengenai Yang Ilahi, maka Einstein tidak ragu-ragu untuk memberi pernyataan teologis termasyhur yang bertentangan sendiri dengan posisi baru yang bersifat nondeterministik, di mana seharusnya dia berdiri: &lt;em&gt;“The Old Man&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(maksudnya Tuhan)&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;does not play dice with the universe.”&lt;/em&gt; Apabila Kuhn mengatakan bahwa kebanyakan ilmuwan bertahan dalam paradigma lama, maka bukanlah maksudnya untuk menilai negatip sikap tersebut. Kegiatan-kegiatan tradisional dari sebuah ilmu normal justru merupakan inti kegiatan ilmiah. Perlawanan seumur hidup terhadap paradigma baru dari mereka yang sudah terikat dengan paradigma lama bukanlah merupakan pelanggaran standar-standar ilmiah, melainkan justru indeks dari hakikat riset ilmiah itu sendiri. Perubahan paradigma mendatangi/menyatakan diri kepada ilmuwan dan bukannya bahwa ilmuwan itu secara sengaja berusaha menciptakan perubahan paradigma. Meskipun menurut Kuhn, apa yang dikemukakan oleh Max Planck &lt;em&gt;“A new scientific truth does not triumph by convincing its opponents and making them see the light, but rather because its opponents eventually die, and a new generation grows up that is familiar with it,”&lt;/em&gt; ada benarnya, ia lebih suka membayangkan bahwa perpindahan kesetiaan dari sebuah paradigma lama ke paradigma baru terjadi kurang lebih sebagai pengalaman pertobatan. Bertobat berarti berubah perspektif dan orientasi, tetapi tidak berarti yang sebelumnya itu salah atau tidak benar. Hal itu menandakan bahwa ada kesejajaran di antara interaksi di dalam bidang sains dengan bidang agama. Sikap ilmuwan dan agamawan seringkali sama saja. Bukan hanya pada yang terakhir saja kita melihat perdebatan-perdebatan yang tidak kunjung habis, tetapi juga di bidang sains. Di kedua dunia, perdebatan baru selesai (atau tidak selesai?) apabila terjadi perpindahan paradigma. Susahnya dalam pengertian populer, istilah “revolusi” dan “pertobatan” mengandung makna etis: yang dulu salah atau jelek, makanya pindah ke yang baru, yang benar dan baik. Asal kita maklum saja bahwa Kuhn menggunakan kedua istilah tersebut tidak dalam pengertian populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah jalannya perkembangan ilmu. Di dalam bukunya Kuhn memberikan contoh-contoh dari sains bagaimana revolusi di bidang sains terjadi. Revolusi-revolusi ini semuanya terjadi sesudah pertengahan abad 19, oleh karena sebelumnya tidak ada komunitas kaum ilmuwan. Sebelum itu ada berbagai paradigma yang berseliweran. Baru sesudah komunitas ilmuwan terbentuk, orang terbiasa bekerja dalam ilmu normal di bawah payung paradigma tunggal. Sebagai awam di bidang falasah sains tentu sulit sekali bagi saya untuk mengikuti uraiannya, tetapi yang dapat saya tangkap adalah bahwa perkembangan ini tidak hanya terjadi dalam hal besar-besar saja, seperti perubahan pemahaman mengenai pusat alam semesta dari worldview Ptolemaian ke worldview Kopernikan-Galileian, atau dari worldview Newtonian ke worldview Einsteinian, tetapi juga dalam sejarah perkembangan fenomena listrik, oksigen dan lain-lain, yang merupakan “revolusi-revolusi kecil.” Yang masih tersisa adalah persoalan apakah tidak terdapat kemungkinan bahwa di dalam sains bisa terdapat dua paradigma, bahkan di dalam satu orang ilmuwan bisa terdapat dua paradigma? Di dalam prakata, Kuhn mengakui bahwa uraiannya mengenai pra-paradigma dan pasca-paradigma di dalam perkembangan ilmu dibuat terlalu ketat. Bisa terjadi kemungkinan (meskipun jarang), bahwa dua paradigma yang saling berkompetisi dapat hidup berdampingan secara damai. Hal ini tentunya berdampak pada pengertian Kuhn mengenai “revolusi.” Maka kadang-kadang dia berbicara mengenai “paradigm change” (“perubahan paradigma”), tetapi kadang-kadang juga mengenai “paradigm shift” (“pergeseran paradigma”). Terlepas dari ketidakkonsistenan ini Kuhn telah berjasa besar mendekatkan sains dengan ilmu-ilmu lainnya, sebagai ilmu yang sama-sama terikat pada ruang dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kebenaran ilmiah dapat ditemukan dan diuji dengan pendekatan kebenaran pragmatis, koresponden, koheren dan performatif yang membentuk sistem tertentu (Putrawan, 2008). Kebenaran ilmiah umumnya hanya dapat diperoleh dengan melakukan penelitian. Sekitar 99% diperoleh dengan keringat (kerja) dan hanya sekitar 1% yang diperoleh berdasarkan intuisi atau kebetulan. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Teori Pragmatis Tentang Kebenaran (&lt;em&gt;the pragmatic theory of truth)&lt;/em&gt; dikembangkan oleh filsuf pragmatis dari Amerika Serikat seperti Charles S. Pierce dan William James. Bagi kaum pragmatis kebenaran adalah sama artinya dengan kegunaan. Ide, konsep, pengetahuan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang (berdasarkan ide itu) melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide itu benar atau tidak. Contoh, ide bahwa kemacetan jalan-jalan besar di Jakarta disebabkan oleh terlalu banyaknya kendaraan pribadi yang ditumpangi oleh satu orang. Maka penyelesaiannya adalah “mewajibkan mobil pribadi ditumpangi oleh tiga orang atau lebih.” Ide tadi benar apabila ide tersebut berguna dan berhasil memecahkan persoalan kemacetan. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kebenaran yang ditekankan oleh kaum pragmatis adalah kebenaran yang menyangkut “pengetahuan bagaimana” (&lt;em&gt;know how&lt;/em&gt;). Suatu ide yang benar adalah ide yang memungkinkan saya berhasil memperbaiki atau menciptakan sesuatu. Kaum pragmatis sebenarnya tidak menolak teori kebenaran dari kaum rasionalis maupun teori kebenaran kaum empiris. Hanya saja, bagi kaum pragmatis suatu kebenaran apriori hanya benar kalau kebenaran itu berguna dalam penerapannya yang memungkinkan manusia bertindak secara efektif. Kebenaran bagi kaum pragmatis juga berarti suatu sifat yang baik. Maksudnya, suatu ide atau teori tidak pernah benar kalau tidak baik untuk sesuatu. Dengan kebenaran, manusia dibantu untuk melakukan sesuatu supaya berhasil. Singkatnya, kita tidak hanya membutuhkan “pengetahuan bahwa” (&lt;em&gt;know what&lt;/em&gt;) dan “pengetahuan mengapa” (&lt;em&gt;know why&lt;/em&gt;) tetapi juga “pengetahuan bagaimana” (&lt;em&gt;know how&lt;/em&gt;). &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Teori Kebenaran Sebagai Persesuaian (&lt;em&gt;the Correspondence Theory of Truth&lt;/em&gt;) pertama kali dimunculkan oleh Aristoteles berupa kesesuaian antara apa yang diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Kebenaran terletak pada kesesuaian antara subyek dan obyek yaitu apa yang diketahui subyek dan realitas apa adanya. Oleh karenanya kebenaran korespondensi disebut pula kebenaran empiris, karena kebenaran suatu pernyataan, proposisi atau teori ditentukan oleh apakah pernyataan, proposisi atau teori itu didukung oleh fakta atau tidak. Contohnya Program Studi Manajemen dan Bisnis IPB ada di Gunung Gede. Jadi Sekolah Pascasarjana IPB ada di Gunung Gede karena dalam kenyataannya pernyataan ini didukung sesuai dengan kenyataan. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pengetahuan terbukti benar dan menjadi benar oleh kenyataan yang sesuai dengan apa yang diungkapkan pernyataan itu. Intinya realitas adalah hal yang pokok dari kegiatan ilmiah. Ada tiga hal pokok yang perlu digarisbawahi dalam teori korespondensi. Pertama, teori ini sangat menekankan aliran empirisme yang mengutamakan pengalaman dan pengamatan inderawi sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Kedua, teori ini juga cenderung menegaskan dualitas antara subyek dan obyek, antara sipengenal dan yang dikenal. Bagi teori ini yang paling berperan bagi kebenaran pengetahuan manusia adalah obyek. Subyek atau akal budi manusia hanya mengolah lebih jauh apa yang diberikan oleh obyek. Ketiga, konsekuensi dari hal di atas teori ini sangat menekankan bukti (eviden) bagi kebenaran suatu pengetahuan. Tetapi bukti ini bukan diberikan secara apriori oleh akal budi, bukan pula hasil imajinasi, tetapi apa yang diberikan dan disodorkan oleh obyek yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Jadi pengamatan atau penangkapan fenomena yang ada menjadi penentu dalam teori ini. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Teori Kebenaran Sebagai Keteguhan (&lt;em&gt;the Coherence Theory of Truth&lt;/em&gt;) Kebenaran Koheren dianut oleh kaum rasionalitas seperti Leibniz, Spinoza, Descartes, Heggel, dan lainnya. Kebenaran ditemukan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada. Suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar kalau sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya, yaitu kalau proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan proposisi sebelumnya yang dianggap benar. Matematika dan ilmu-ilmu pasti sangat menekankan teori koherensi ini. Contohnya, pengetahuan “lilin akan mencair kalau dimasukkan ke dalam air yang sedang mendidih.” &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Bagi kaum empiris (kebenaran persesuaian), untuk mengetahui kebenaran pengetahuan ini perlu diadakan percobaan dengan memasukkan lilin ke dalam air yang sedang mendidih untuk mengetahui apakah pernyataan itu sesuai dengan kenyataan atau tidak. Tetapi bagi kaum rasionalitas, untuk mengetahui kebenaran pernyataan ini cukup memeriksa apakah pernyataan ini sejalan dengan pernyataan lainnya, atau apakah pernyataan ini meneguhkan pernyataan lainnya. Ternyata, pernyataan ini benar karena lilin termasuk bahan parafin dan parafin selalu mencair pada suhu 60 C. Karena air mendidih pada suhu 100 C, lilin dengan sendirinya mencair kalau dimasukkan ke dalam air yang sedang mendidih. Pernyataan ini benar karena meneguhkan pernyataan lain bahwa lilin adalah bahan parafin yang selalu mencair pada suhu 60 C dan sejalan dengan pengetahuan lain bahwa air mendidih pada suhu 100 C. Dengan kata lain, “lilin akan mencair kalau dimasukkan ke dalam air yang sedang mendidih,” hanya merupakan konsekuensi logis dari pernyataan-pernyataan lain tersebut. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Teori Kebenaran Performative (&lt;em&gt;the Performative Theory of Truth&lt;/em&gt;) dianut oleh filsuf Frank Ramsey, John Austin dan Peter Strawson. Para filsuf ini hendak menentang teori klasik bahwa “benar” dan “salah” adalah ungkapan yang hanya menyatakan sesuatu (deskriptif). Proposisi yang benar berarti proposisi itu menyatakan sesuatu yang dianggap benar, demikian sebaliknya. Namun, justru inilah yang ingin ditolak oleh filsuf-filsuf ini. Menurut teori ini suatu pernyataan dianggap benar kalau pernyataan itu menciptakan realitas. Pernyataan yang benar bukanlah pernyataan yang mengungkapkan realitas tapi justru dengan pernyataan itu terciptanya suatu realitas sebagaimana yang diungkapkan dalam pernyataan itu. Contohnya, “Dengan ini saya mengangkat anda menjadi dosen pengasuh matakuliah Falsafah Sains.” Dengan pernyataan ini tercipta suatu realitas baru, realitas anda sebagai dosen Falsafah Sains. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Dengan demikian, sifat dasar kebenaran ilmiah selalu mempunyai paling kurang tiga sifat dasar, yaitu : struktur yang rasional-logis, isi empiris, dan dapat diterapkan (pragmatis). Kebenaran ilmiah yang rasional-logis adalah bahwa kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan yang logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, semua orang yang rasional, yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik, dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh karenanya kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran yang universal. Satu hal yang perlu dicatat bahwa perlu dibedakan sifat rasional dengan sifat masuk akal &lt;em&gt;(reasonable).&lt;/em&gt; Sifat rasional terutama berlaku bagi kebenaran ilmiah. Sifat “masuk akal” ini terutama berlaku bagi kebenaran tertentu yang berada di luar lingkup pengetahuan. Contohnya tindakan marah menangis, dan semacamnya dapat sangat masuk akal walaupun mungkin tidak rasional. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sifat empiris dari kebenaran ilmiah mengatakan bahwa bagaimanapun juga kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada. Bahkan, dapat dikatakan bahwa sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah berkaitan dengan kenyataan empiris dalam dunia ini. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sifat pragmatis terutama hendak menggabungkan kedua sifat kebenaran lainnya, artinya kalau suatu pernyataan benar secara logis dan empiris maka pernyataan tersebut juga harus berguna dalam kehidupan manusia, yaitu membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidup manusia. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kebenaran ilmiah tidak bisa dibuat dalam suatu standar yang berlaku bagi semua jenis ilmu secara paksa, karena banyaknya jenis ilmu dalam suatu pengetahuan. Walaupun ilmu bervariasi disebabkan karena beragamnya obyek dan metode, namun ilmu secara umum bertujuan mencapai kebenaran obyektif yang dihasilkan melalui konsensus. Kebenaran ilmiah tetap memiliki sifat probabel, tentatif, evolutif, bahkan relatif, dan tidak pernah mencapai kesempurnaan, karena ilmu diupayakan oleh manusia dan lingkungan komunitas sosialnya yang kemampuan akal budinya masih terus tumbuh dan berkembang (Wahyudi, 2004). &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KEBENARAN NON-ILMIAH &lt;/p&gt;&lt;/strong&gt;Berbeda dengan kebenaran ilmiah yang diperoleh berdasarkan penalaran logika ilmiah, ada juga kebenaran karena faktor-faktor non-ilmiah (Wahono, 2008). Beberapa diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kebenaran Karena Kebetulan: Kebenaran yang didapat dari kebetulan dan tidak ditemukan secara ilmiah. Tidak dapat diandalkan karena kadang kita sering tertipu dengan kebetulan yang tidak bisa dibuktikan. Namun satu atau dua kebetulan bisa juga menjadi perantara kebenaran ilmiah, misalnya penemuan kristal urease oleh Dr. J.S. Summers. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kebenaran Karena Akal Sehat (Common Sense): Akal sehat adalah serangkaian konsep yang dipercayai dapat memecahkan masalah secara praktis. Kepercayaan bahwa hukuman fisik merupakan alat utama untuk pendidikan adalah termasuk kebenaran akal sehat ini. Penelitian psikologi kemudian membuktikan hal itu tidak benar. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kebenaran Agama dan Wahyu: Kebenaran mutlak dan asasi dari Allah dan Rasulnya. Beberapa hal masih bisa dinalar dengan panca indra manusia, tapi sebagian hal lain tidak. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kebenaran Intuitif: Kebenaran yang didapat dari proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berpikir. Kebenaran intuitif sukar dipercaya dan tidak bisa dibuktikan, hanya sering dimiliki oleh orang yang berpengalaman lama dan mendarah daging di suatu bidang. Contohnya adalah kasus patung Kouros dan museum Getty. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kebenaran Karena Trial dan Error: Kebenaran yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan, baik metode, teknik, materi dan paramater-parameter sampai akhirnya menemukan sesuatu. Memerlukan waktu lama dan biaya tinggi. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kebenaran Spekulasi: Kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang. Dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat dan biaya lebih rendah daripada trial-error. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kebenaran Karena Kewibawaan: Kebenaran yang diterima karena pengaruh kewibawaan seseorang. Seorang tersebut bisa ilmuwan, pakar atau ahli yang memiliki kompetensi dan otoritas dalam suatu bidang ilmu. Kadang kebenaran yang keluar darinya diterima begitu saja tanpa perlu diuji. Kebenaran ini bisa benar tapi juga bisa salah karena tanpa prosedur ilmiah. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Demikianlah tulisan saya dalam mencari kebenaran yang merupakan gabungan dari tema pertama (kebenaran) dan tema kedua (kebenaran ilmiah). Hasil eksplorasi ini memberikan kedalam philosofis dalam menafsirkan fenomena kehidupan dan pencarian jati diri pribadi sebagai sebuah tinjauan teoritis. Wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Deutsch E. 1979, On truth: An ontological theory. The University Press of Hawai, Honolulu. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Jamaluddin T. 2007. Netralitas sains. &lt;a href="http://agorsiloku.wordpress.com/2007/%2002/%2011/"&gt;http://agorsiloku.wordpress.com/2007/%2002/%2011/&lt;/a&gt;perbedaan-cara-pandang-saintis-dan-pakar-filsafat-ilmu/(diakses tanggal 16.09.2008). &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kuhn T. 1970. The Structure of scientific revolutions, revised ed. The University of Chicago Press. Chicago-London. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Niriah A. 2008. Epistemologi ekonomi islam. &lt;a href="http://agustianto.niriah.com/"&gt;http://agustianto.niriah.com/&lt;/a&gt; 2008/03/11 epistemologi-ekonomi-islam/ (diakses tanggal 16.09.2008). &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Putrawan, B.K. 2008. Hakikat kebenaran. &lt;a href="http://bkputrawan.blogspot.com/"&gt;http://bkputrawan.blogspot.com/&lt;/a&gt; 2008/02/hakikat-kebenaran.html &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Russell B. 2006. Fakta, kepercayaan, kebenaran dan pengetahuan, p.70-86. Dalam Suriasumantri J.S. Ilmu dalam perspektif, sebuah kumpulan karangan tentang hakekat ilmu. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Singgih, E.G. Kuhn dan Küng: Perubahan Paradigma Ilmu dan Dampaknya Terhadap Teologi Kristen. &lt;a href="http://www.geocities.com/perwati2003"&gt;www.geocities.com/perwati2003&lt;/a&gt; (diakses tanggal 16.09.2008).&lt;br /&gt;Suriasumantri J.S. 1982. Filsafat ilmu : Sebuah pengantar populer. Sinar Harapan. Jakarta &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;The Free Dictionary. 2008. &lt;a href="http://www.thefreedictionary.com/Truth"&gt;http://www.thefreedictionary.com/Truth&lt;/a&gt; (diakses tanggal 16.09.2008). &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Trian H.A. 2005. Berbicara (lagi) tentang kebenaran. &lt;a href="http://3an.blogspot.com/"&gt;http://3an.blogspot.com/&lt;/a&gt; /2005/06/berbicara-lagi-tentang-kebenaran.html (diakses tanggal 16.09. 2008). &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Wahono R.S. 2008. Hakekat kebenaran. &lt;a href="http://romisatriawahono.net/2007/02/"&gt;http://romisatriawahono.net/2007/02/&lt;/a&gt; 20/hakekat-kebenaran/ (diakses tanggal 16.09.2008). &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Wahyudi I. 2004. Refleksi tentang kebenaran ilmu. Jurnal Filsafat, 38(3):254-261. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Wilujeng S.H., Hadi P.H. 2006. Makna kebenaran dalam epistemologi Friedrich WilhelmNietsche (The meaning of truth in Friedrich Nietsche’s epistemology). HUMANIKA Berkala Penelitian Pascasarjana Ilmu-Ilmu Humaniora UGM, 19(3):371-381.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5291251524395924232?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5291251524395924232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5291251524395924232&amp;isPopup=true' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5291251524395924232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5291251524395924232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/09/pencarian-kebenaran-sebuah-tinjauan.html' title='Pencarian Kebenaran:  Sebuah Tinjauan Teoritis'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IEyOM1Mo_j4/SOTwc4_l6zI/AAAAAAAAAGo/00eNK9V7h0I/s72-c/IMAGE007.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5129586440022828389</id><published>2008-05-21T01:16:00.001+07:00</published><updated>2008-05-21T01:16:47.438+07:00</updated><title type='text'>Obrolan Bandar</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.mail-archive.com/obrolan-bandar@yahoogroups.com/msg66018.html"&gt;http://www.mail-archive.com/obrolan-bandar@yahoogroups.com/msg66018.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;obrolan-bandar  &lt;br /&gt;[obrolan-bandar] Laba bersih TBLA naik 60 kali lipat&lt;br /&gt;Eka Suwandana&lt;br /&gt;Sun, 04 May 2008 19:06:28 -0700&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekali lagi elo pada GOBLOK dan bawel! ha ha ha ha..............................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eka Suwandana &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt; wrote:           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah capek komentarin. Andai TBLA dan INDF di NYSE, udah gap up!&lt;br /&gt;Bukan masalah rendeman, harga dan panen naik. Betul lahan kelas III tapi&lt;br /&gt;tahun ini lompatan panen cycle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo mau invest di sawit bukan baca buku TEKNIKAL bukan juga baca buku BUFFETOLOGY, baca buku "Panduan Lengkap Kelapa Sawit" by IYUNG PAHAN.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kalo baca buku teknikal elo2 bandar dibodo2in aja ama BAKRIE!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5129586440022828389?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5129586440022828389/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5129586440022828389&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5129586440022828389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5129586440022828389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/05/obrolan-bandar_21.html' title='Obrolan Bandar'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-2748883577789352043</id><published>2008-05-21T00:55:00.001+07:00</published><updated>2008-05-21T00:59:42.819+07:00</updated><title type='text'>Berselancar Dalam Lautan Kehidupan</title><content type='html'>Mencari keseimbangan adalah opsi dasar dari suatu pendekatan ekonomi atas nama penawaran dan permintaan. Berselancar dalam lautan kehidupan adalah opsi lain yang tidak sekedar meletakkan seorang pribadi sebagai obyek, tetapi menciptakan takdirnya sendiri melalui mekanisme subyektivitas. Jika meluncur adalah memanfaatkan dorongan lingkungan untuk mencari jalan yang nyaman dan seimbang, maka berselancar adalah fungsi dari suatu proses peluncuran. Banyak filsafat dan kejadian yang becerita dan bertualang di antara seputar issue keseimbangan, mulai dari konsep yin dan yang (positif dan negatif) pada bangsa Tiongkok Kuno sampai pendekatan penyanyi dangdut Vetty Vera yang ingin ”sedang-sedang saja.” &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Keseimbangan menjadi dasar dari pondasi ilmu ekonomi, dimana keuntungan optimal tercipta pada situasi biaya marginal sama dengan pendapatan marginal. Situasi ini dapat didetekesi pada uji turunan pertama dan uji turunan kedua. Secara berseloroh, saya katakan bahwa fungsi kebalikan (inverse) dari logarithmic natural (ln) t adalah nilai dari turunan ln t (baca: turunan lon te) = 1/t (baca: seperte). Seperte siapa, seperte kau! Itupun sah-sah saja bagi seorang sastrawan untuk mengaktuliasasikan opininya secara matematis: 2 x d/cos a (baca: dua kali de per kos a) = en.ak. Bagi seorang sastrawan, pemerkosaan adalah peristiwa yang mengoyak nurani, tetapi bila dua kali diperkosa dan logika subyektivitas memunculkan pembiasaan mekanis sehingga muncul bilangan e pangkat n dikombinasikan dengan kejadian a (perkosaan) yang kesekian kali (pangkat k), maka ini adalah subyektivitas ala voucher isi ulang.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Konon Bapak Mendiknas Prof. Bambang Soedibyo adalah figur yang angker dan kurang suka berinteraksi dengan pendekatan humor. Padahal menurut suatu studi yang sempat saya baca sambil lalu di koran beberapa hari yang lalu (ini toh bukan disertasi, sehingga tidak perlu tinjauan pustaka yang rigid), semakin tinggi respon seseorang terhadap humor, semakin tinggi tingkat kinerjanya di dunia nyata (pantas saja UN menebarkan teror di kalangan pelajar, sampai-sampai anak saya ketakutan tidak lulus UN karena merasa kurang tebal menghitamkan lembar jawaban). Ceritanya adalah seorang wanita yang lapor ke polisi karena diperkosa oleh seorang lelaki. Pada waktu proses verbal dalam pembuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP), bapak polisi bertanya: ”Apakah betul kamu diperkosa?” Spontan si wanita menjawab: ”Ya, Pak!” Bapak polisi bertanya kembali sambil mengetik: ”Menurut pengakuan pihak laki-laki, anda berhubungan intim 2 kali. Apakah itu berarti anda diperkosa?” Sambil tersipu wanita itu berkata: ”Saya diperkosa pak, tapi kalau yang kedua itu kan isi ulang, pak.” Logika subyektivitas inipun tetap tidak bisa membuat Bapak Mendiknas tersenyum, sehingga sang pelaku yang berusaha mencairkan suasana tetap tidak bisa mencair. Kesimpulan 2 x d/cos a = en.ak ternyata valid secara kontekstual sesaat (untuk premis ini, saya siap diserang para pembela kesetaraan gender).&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kembali ke konsep berselancar dengan optimalisasi melalui suatu keseimbangan, sesuatu yang secara teori dan konsep benar-benar bagus, ternyata pada saat diimplementasikan menjadi tidak bagus. Bahasa ilmiahnya adalah flaw execution, sesuatu yang jelas-jelas harus dijauhi dan dibuang dari sebuah kisah sukses sebagaimana yang ditulis Prof. Nitin Nohria dalam salah satu artikel di Harvard Business Review tahun 2003. Eksekusi yang menyimpang, seperti konsep pemerintah memindahkan sebagian dana subsidi BBM kepada masyarakat miskin melalui BLT (bantuan langsung tunai), adalah sesuatu yang cantik di atas kertas, tetapi sangat buruk rupa di atas tanah (dunia nyata).&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Berselancar dengan lancar adalah kinerja yang sesuai antara strategi dan implementasi. Menterjemahkan strategi menjadi kinerja di lapangan telah dibahas oleh Norton dan Kaplan dengan pendekatan Balanced Scorecard dan Strategy Map. Lengah sedikit saja dalam menyesuaikan dua fungsi yang berlawanan, peristiwa berselancar akan menjadi peristiwa terjengkang atau terjerembab dan mendarat secara kasar dan menyakitkan dalam suatu panggung kehidupan. Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah pendekatan konseptual untuk mempelajari mekanisme berselancar dalam kaitannya dengan pembentukan suatu teori sebagaimana dikemukakan oleh R. Dubin (1978) dalam buku berjudul Theory Building (Rev. Ed), The Free Press, MacMillan, New York. Teori Dubin mengatakan bahwa efektivitas suatu strategi dipengaruhi oleh proses pembelajaran, model mental, pembuatan keputusan, dan kinerja. Dalam konteks cita-cita menjadi seorang Doktor, strategi generik yang diterapkan adalah mencari irisan antara waktu penyelesaian studi dengan indeks prestasi, sehingga menjadi visi pribadi: lulus sebelum waktu studi berakhir (dua tahun) dengan indeks prestasi sempurna (4,00). Dalam kenyataannya, berapa orangkah yang bisa mengimplementasikan visinya menjadi kinerja (kenyataan). Dubin mengatakan bahwa strategi yang baik sekalipun tetap membutuhkan proses pembelajaran untuk bisa dilaksanakan dengan baik. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Karena adanya hambatan dalam suatu proses transmisi, V = I.R (hukum Ohm), maka semakin rumit suatu strategi akan menyebabkan energi pembelajaran untuk memahaminya semakin banyak diperlukan, akibat keterbatasan manusia maka terjadi proses reduksi I. Orang yang telah berhasil mepelajari suatu strategi dengan pemahaman di atas rata-rata, ternyata tidak bebas nilai, sehingga model mentalnya baik secara sengaja atau tidak sengaja, mensortir informasi yang akan disaring ke dalam otaknya, dan hanya menyimpan apa yang dia inginkan (suka). Tidak ada orang yang dapat merubah kenyataan ini. Terjadi lagi proses reduksi II. Dengan segala prasangka dan nilai-nilai yang dianut sejak kecil, orang membuat keputusan. Karena keterbatasan data dan fakta, bisa saja suatu keputusan kehilangan elemen sentral dan menghasilkan bias ala BLT yang akan menjadi proses reduksi III. Kemalangan terus berlanjut (bahkan Universitas Negeri Malang diterjemahkan menjadi Unfortunate State University), dimana keputusan yang terlanjur bias dijalankan tanpa persiapan dan antisipasi masalah potensial yang baik, sehingga menimbulkan komplikasi yang berbuntut maksud tak sampai dan menjadi proses reduksi IV. Rektor IPB melalui running text Metro TV telah membuat statemen sebaiknya BLT diganti dengan proyek padat karya, yang tujuannya sama-sama bagi uang tetapi dilaksanakan atas dasar pekerjaan. Masalah jalan yang dibangun tiga bulan kemudian hancur, itu urusan lain. Dasar keyakinannya adalah: Apakah bangsa ini sudah sedemikan hancur sehingga tidak bisa berbuat apa-apa lagi yang bermanfaat bagi manusia dan alam sekitarnya. Rasa-rasanya tidak, kan?&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Sebagai pembanding, Australia memberikan BLT kepada rakyatnya yang termasuk kelas masyarakat miskin. Dengan uang ala kadarnya tersebut jelas BLT dimaksudkan untuk memberikan fasilitas penghangat di musim dingin supaya mereka jangan mati di jalanan. Tuhan maha adil, syukurlah dia ciptakan iklim yang favorabel di negara miskin seperti Indonesia. Tak terbayangkan berapa banyak orang miskin yang mati kalau Indonesia beriklim empat musim. Dan karena Tuhan Indonesia yang juga Tuhan Australia Maha Adil, DIA memberikan inspirasi kepada rakyat miskin Australia untuk menggunakan BLT ala kadarnya (standar cost of living Australia) menjadi uang pesiar ke Bali sebagai turis backpacker yang dihormati masyarakat setempat karena membawa devisa masuk. Si Miskin Australia ini bisa berjemur di pantai Kuta, memanfaatkan penginapan home stay yang murah meriah, dan mencari kehangatan gratis tanpa menyalakan mesin pemanas. Alhasil, si bule bisa pulang ke negaranya dengan kulit merah tropis yang seksi dan dianggap sebagai manusia sukses di kultur dua negara. Sukses di Australia karena dianggap mampu menikmati hidup mewah di negara eksotis dengan biaya minimum (kaidah minimalisasi), dan dihormati di Bali karena dianggap tuan pembawa devisa ke Indonesia (pelanggan adalah raja).&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Berselancar dalam lautan kehidupan adalah sebuah metafora untuk menunjukkan betapa luasnya rentang variasi dalam kehidupan. Berselancar adalah belajar menyikapi perubahan dan turut memanfaatkan perubahan untuk membawa kita meniti buih dan menciumi kebahagiaan. Situasi tak terbayangkan seperti bermain di Dunia Fantasi Ancol di hari kerja dimana anak-anak sekolah dan karyawan bekerja, serasa Ancol saya yang punya: adalah suatu realitas yang kuhadapi dengan remote working (bekerja dari rumah). Kantor hanyalah suatu hardware yang dibatasi ruang dan waktu dimana saya mempostulatkan diri harus berada disana. Segampang postulat itu dirubah asumsi dan proposisinya, maka kantor yang sebenarnya adalah didalam otak saya. Dimana saya bisa berpikir tenang dan produktif, disitulah kantor saya. Lokasinya bisa dimana saja, di workstation konvensional ala penjajahan atas nama kerja, di bawah pohon rindang di depan taman koleksi, di dalam kamar tidur beraroma mimpi, di dalam mobil, di kedai kopi starbuck, di tempat pelelangan ikan di pinggir sungai Paguyaman dan Teluk Tomini, dimana saja ..........&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kuncinya adalah berselancar, kuatkan iman di atas selembar papan, yang akan memberikan kegembiraan dan kehidupan kepadamu. Inilah renunganku pada suatu malam setelah aku berhasil mentranformasi matriks kehidupan menjadi sesuatu yang menyenangkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-2748883577789352043?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/2748883577789352043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=2748883577789352043&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2748883577789352043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2748883577789352043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/05/berselancar-dalam-lautan-kehidupan.html' title='Berselancar Dalam Lautan Kehidupan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3722645135318973140</id><published>2008-04-06T10:07:00.003+07:00</published><updated>2008-04-06T10:13:44.404+07:00</updated><title type='text'>Salah Urus Industri CPO Indonesia</title><content type='html'>Oleh: Iyung Pahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri CPO Indonesia sedang booming karena meningkatnya pendapatan yang dipicu oleh kenaikan harga CPO internasional. Harga CPO Februari 2008 telah menyentuh level psikologis USD 1,150/ton, yang membawa dampak pada semakin mahalnya harga produk turunan CPO seperti minyak goreng dan biodiesel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Mahalnya Harga Minyak Goreng di Negara Produsen CPO&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem agribisnis CPO tersusun dari subsistem pemasok (agroindustri hulu), subsistem perkebunan (pertanian), subsistem pengolahan (agroindustri hilir), dan subsistem pemasaran. Kekuatan rantai industri CPO ditentukan oleh agregat kekuatan mata rantai penyusunnya. Rantai yang paling lemah dan mengkhawatirkan adalah mata rantai pada subsistem pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kenaikan harga minyak goreng telah menambah beban rakyat. Pemerintah telah melakukan serangkaian tindakan reaktif seperti “menghimbau” produsen menjual minyak goreng dengan harga murah sampai penerapan instrumen fiskal berupa kenaikan pungutan ekspor CPO secara progresif. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Industri CPO adalah industri yang dipengaruhi mekanisme pasar bebas. Keseimbangan permintaan dan penawaran adalah dasar penciptaan harga. Permintaan yang meningkat dipicu oleh pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan domestik bruto, adanya masalah trans-fat yang menyebabkan sebagian industri makanan di AS beralih ke CPO, faktor konsumsi CPO Chindia (China dan India) yang terus tumbuh dengan pesat, dan perluasan pasar karena adanya tambahan permintaan biodiesel. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Struktur pasar CPO Indonesia didominasi oleh pasar internasional (75%) ketimbang diserap pasar domestik (25%). Harga domestik dipengaruhi oleh harga internasional. Konsep subsidi langsung kepada konsumen adalah konsep yang absurd dalam sistem ekonomi pasar bebas. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Upaya pemerintah mengatasi masalah fisikal dengan pendekatan fiskal belum mampu menurunkan harga minyak goreng ke level yang dianggap wajar. Kebijakan pungutan ekspor secara progresif menciptakan sentimen negatif ke pasar internasional. Pasar membaca sinyal tersebut sebagai faktor yang mengurangi volume pasokan dari Indonesia, sehingga harga internasional justru naik. Masalah fisikal CPO hanya dapat diatasi dengan mekanisme fisik model perberasan BULOG. Sejatinya, pemerintah mengembalikan sebagian pungutan ekspor untuk kemaslahatan industri CPO dalam bentuk subsidi.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Ancaman dari Pasar Uni Eropa &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Parlemen Eropa membuat proposal untuk promosi penggunaan energi dari sumber yang dapat terbaharui pada tanggal 23 Januari 2008. Dalam proposal tersebut (&lt;a href="http://www.erec.org/fileadmin/erec_docs/Documents/2008_res_directive_en.pdf"&gt;http://www.erec.org/fileadmin/erec_docs/Documents/2008_res_directive_en.pdf&lt;/a&gt;) di&amp;shy;wajibkan kriteria biofuel dan bioliquid yang ramah lingkungan (pasal 15), verifikasi terhadap ketaatan kriteria biofuel dan bioliquid yang ramah lingkungan (pasal 16), serta kalkulasi dampak gas rumah kaca dari produksi biofuel dan bioliquid (pasal 17). Jika proposal ini disetujui Parlemen Eropa, industri CPO Indonesia akan sulit membuktikan secara ilmiah bahwa biofuel yang dihasilkan adalah ramah lingkungan, sehingga terancam larangan masuk ke Uni Eropa. Ramah lingkungan berarti penghematan emisi gas rumah kaca yang didapat dari penggunaan biofuel lebih besar dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan selama proses produksi CPO sampai menjadi biofuel. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Meningkatnya kekuatan konsumen yang digalang oleh lembaga swadaya masyarakat internasional bidang sosial maupun lingkungan, membawa seluruh pemangku kepentingan industri CPO untuk duduk bersama dalam wadah Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) guna membicarakan prinsip dan kriteria industri CPO yang ramah lingkungan. Keanggotaan RSPO tumbuh dengan pesat, dan meliputi seluruh pemangku kepentingan industri CPO internasional dari hulu ke hilir, termasuk perkebunan rakyat. Inisiatif yang digagas RSPO dapat menjadi bumerang bagi perkembangan industri CPO Indonesia jika keinginan para pemangku kepentingan yang diwakili suara konsumen industri (prosesor) dan konsumen akhir (end user) berkembang lebih cepat dari kemampuan perkebunan kelapa sawit untuk memenuhinya. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Derasnya inisiatif “swasta” internasional dalam masalah sustainability belum seimbang dengan inisiatif pemerintah. Kondisi industri CPO Indonesia saat ini belum merupakan organisasi yang berpengetahuan, karena beragamnya kualitas modal insani yang menjadi pelaku dan penunjang keberadaan sistem agribisnis CPO dalam tiap subsistemnya, serta adanya fragmentasi dan disharmoni pada tataran proses antarsubsistem, perbedaan orientasi kepentingan pada tataran struktur organisasi, serta perbedaan orientasi rentang waktu pada tataran perilaku organisasi. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Peranan pemerintah dalam industri CPO terfragmentasi pada Departemen Pertanian (subsistem perkebunan), Departemen Perindustrian (subsistem pemasok dan subsistem pengolahan), serta Departemen Perdagangan (subsistem pemasaran). Ancaman dari parlemen Eropa sejatinya merupakan domain Departemen Perdagangan, tetapi jika para pemangku kepentingan ala RSPO menyetujui kriteria yang diusulkan, pemerintah akan menghadapi dilema. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Salah urus adalah cerminan penyimpangan dari kondisi ideal. Salah urus pada level teknis dapat diperbaiki dengan pendekatan teknis. Salah urus pada level strategi akan berdampak lebih intensif pada keseluruhan organisasi dan dapat diperbaiki dengan perencanaan strategik. Salah urus pada level kebijakan akan berdampak ekstensif dan intensif pada seluruh sistem agribisnis CPO, dan ketika lingkungan eksternal tidak lagi berpihak kepada industrinya (misalnya harga CPO turun ke titik nadir), maka seluruh sistem akan terancam eksistensinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3722645135318973140?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3722645135318973140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3722645135318973140&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3722645135318973140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3722645135318973140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/04/salah-urus-industri-cpo-indonesia.html' title='Salah Urus Industri CPO Indonesia'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-8912181178319867</id><published>2008-01-31T01:55:00.000+07:00</published><updated>2008-01-31T02:25:15.229+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan Pak Harto ...</title><content type='html'>Semenit saja waktu berlalu, ketika kegagalan multiorgan terjadi dan penurunan vitalitas tak dapat dielakkan lagi, seorang negarawan akhirnya harus pergi.  Tak ada pesta yang tak bubar, demikianlah tamsil dalam kehidupan, ketika Pak Harto dipanggil pulang oleh Sang Khalik.  Selamat jalan Pak Harto ...! &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Manusia tak ada yang sempurna, setiap kelebihan pasti selalu ada kurangnya, karena memang demikianlah hidup kita berayun bak pendulum.  Setelah lelah ke kiri dan ke kanan, akhirnya keseimbangan jalan tengah menyergap dalam kebisuan.  Fakta bahwa inflasi ratusan bahkan rubuan persen seperti di Zimbabwe dahulu pernah terjadi di tahun 1965.  Fakta jumlah penduduk miskin yang dulu sempat mencapai 50% kini melorot tinggal 10%, dan pendapatan per kapita USD 100 menjadi USD 1.400, adalah jejak langkah  yang ditinggalkan dan menjadi warisan Pak Harto untuk bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapakah semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin susah untuk memaafkan (jajak pendapat Kompas).  Ketika  masyarakat perkotaan menjadi lebih susah berlapang dada, maka fenomena M150 susu yang menampilkan kedutan dada getar menyeruak di balik riuh rendahnya infotainment televisi bangsa yang menambilkan dewa dewi konyol tetapi sensual seperti pasangan Dewi Persik dan Eko Patrio.  Untuk menonton seorang Dewi Persik atau banyolan seorang Tukul, orang bisa tertawa lepas dan kemudian lemas, mengapa begitu susah untuk memaafkan.  Terserah para tikus (politikus) menghujat bahwa negara ini bukan negara halal bihalal, apakah yang bisa dipermasalahkan dari seseorang yang telah pergi ke alam lain, dan kalau memang belum bisa memaafkan, dipersilahkan untuk menuntut ke alam kubur.  Hujatlah sesuka hati, marahlah sesuka nafsu, amuklah seperti sapi gila, tapi ingat, semuanya harus dilakukan tepat sasaran, yaitu di alam kubur.  Sana pergilah berdemo menghujat Pak Harto, tapi harus ke tempat kediaman beliau.  Jangan ngomong lantang di dunia, percuma!  Kagak ada yang dengar, mencari pembenaran, mempolitisasi stigma dan kebencian.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Seandainya aku memiliki kemampuan telekinesis ke alam gaib, ingin kuberikan kesempatan pertama kepada si penghujat untuk menjalani ketersambungan ala ghost whisper.  Betapa sengsaranya kehidupan seseorang sebelum diberikan vonis oleh sang Boss, untuk masuk ke blok surga atau neraka.  Bahkan saking kentalnya kearifan kandungan lokal, kitab suci suatu agama memberikan tafsir kontemporer tentang neraka bagi orang eskimo.  Katanya neraka itu dingin, karena kalau dibilang neraka itu panas karena ada api nerakanya, orang Eskimo yang hidup kedinginan di kutub utara sangat bercita-cita untuk tinggal di tempat yang lebih panas.  Jadilah kerelatifan tafsir bahwa neraka Eskimo adalah tempat yang paling dingin sedingin-dinginnya dingin.  Senandung Rinto Harahap dalam lagu dingin mengatakan dingin hati ini tambah dingin entah mengapa.  Kalau cinta aku sudah tak punya, air matakupun keringlah sudah, oh dingin.  Dingin membenci kepada siapa, bukan salah Pak Harto yang dicintai sebagian masyarakat menjadi pengesahan bagi sebagian yang lain untuk menghujat dan menyalahkan.  Bagiku hanyalah selamat jalan Pak Harto, Anda telah berbuat untuk negeri ini jauh lebih banyak dari orang-orang lain yang ngomong doang.  Berisitirahatlah dengan tenang, masih ada kami yang akan meneruskan kemajuan bangsa dan negara ini.   Selamat jalan Pak Harto, namamu akan dikenang.  Engkau patriot pahlawan bangsa, walaupun sebagian bangsamu tidak terima, engkau tak perlu embel-embel gelar kepahlawan karena bagiku sudah banyak kepahlawanan dalam praktik yang dijalankan ketimbang teori-teori semu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-8912181178319867?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/8912181178319867/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=8912181178319867&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/8912181178319867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/8912181178319867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/01/selamat-jalan-pak-harto.html' title='Selamat Jalan Pak Harto ...'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3056458466724609487</id><published>2008-01-31T01:50:00.001+07:00</published><updated>2008-01-31T01:53:16.579+07:00</updated><title type='text'>Selamat Tahun Baru 2008:  New Hope E24</title><content type='html'>&lt;p&gt;Assalamu'alaikum wr. wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 menit yang lalu (27 Desember 2007) Benazir Bhutto terbunuh oleh ledakan bom bersama dengan 20 orang korban lainnya.  Inilah resiko memperjuangkan suatu ideologi.  Ideologi kita adalah lulus, dan syukur bisa tepat waktu, walaupun kadang-kadang injury time memberikan kenangan tersendiri (kalau berhasil).  Semoga E-24 tidak ada yang gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya sedang menerapkan metode kerja 4 jam sebulan untuk mendapatkan 3 kali penghasilan reguler bulanan, sehingga insya Allah ada banyak waktu untuk menghadiri seminar, hanya saja tolong pemberitahuannya minimal seminggu sebelumnya, karena biasanya saya sedang sibuk memikirkan dan memilih jadwal liburan yang umumnya di luar Bogor.  Beberapa impian yang liar dan belum terwujud di masa lalu akan saya upayakan, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  menjadi pemain sinetron di Hongkong dan bermain opera Peking dengan Jacky Chan&lt;br /&gt;*  makan bistik jerapah di padang safari Afrika Selatan&lt;br /&gt;*  memancing ikan di Anchorage, belajar bahasa eskimo dan nginap di dalam igloo&lt;br /&gt;*  latihan sepakbola bersama Christian Ronaldo di Old Trafford&lt;br /&gt;*  memanjat pokok kelapa sawit di Johor Baru&lt;br /&gt;*  menulis buku fiksi bersama J.K. Rowling&lt;br /&gt;*  menanam Jatropha curcas di gurun Gobi&lt;br /&gt;*  etc. etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iyung Pahan&lt;br /&gt;a.k.a.&lt;br /&gt;Seniman Kelapa Sawit&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3056458466724609487?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3056458466724609487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3056458466724609487&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3056458466724609487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3056458466724609487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/01/selamat-tahun-baru-2008-new-hope-e24.html' title='Selamat Tahun Baru 2008:  New Hope E24'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5547445995089204759</id><published>2008-01-31T01:40:00.000+07:00</published><updated>2008-01-31T01:42:33.798+07:00</updated><title type='text'>Bekerja 4 Jam Sebulan setara dengan Penghasilan 3 Bulan bekerja penuh</title><content type='html'>Oleh: Iyung Pahan*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang di klub kerja 4 jam sebulan yang setara dengan penghasilan 3 bulan bekerja penuh.  Inilah klub OKB (orang kaya baru) dimana saya telah bergabung sejak 3 bulan yang lalu.  Mulanya saya ragu apakah saya bisa hidup dengan bekerja ala kadarnya 4 jam sebulan untuk mendapatkan kebebasan finansial dengan penghasilan setara dengan waktu saya bekerja reguler selama 3 bulan.  Ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti, dan saya mulai menikmati hidup dan berkantor di rumah selama 24 jam sehari, bebas kemacetan lalu lintas, bebas berbulan madu kembali dengan istri, bebas membaca apa saja, menonton berita, memonitor NAB reksadana, dan berwisata ke alam mimpi. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Waktu yang tersedia memberikan kesempatan untuk belajar lebih banyak, sejalan dengan program mengambil pendidikan S3.  Kunci keberhasilannya adalah hukum gaya tarik (the law of attraction), bahwa kesukesesan akan menarik kesuksesan lain sepanjang kontinum hidup kita.  Bila kita berpikir bahwa kita akan sukses, maka diri kita menjadi magnet yang menarik kesuksesan selanjutnya berlabuh di dalam diri kita.  Kekuatan ini demikian dahsyat, sehingga menjadi modal utama tokoh-tokoh sukses masa lalu.  &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Perjalanan karirku dimulai dari pekerja manajemen yang tergagap-gagap meniti karir di suatu perusahaan perkebunan 19 tahun yang lalu.  Atasan langsungku seorang ekspatriat yang merupakan produk neo-kolonialis feodalistis lagi gingivitis.  Semua karya dan asaku dalam perspektif atasanku adalah salah dan inkompeten, dan inilah kawah candradimuka yang menggemblengku menjadi seorang Robocop yang berotot kawat bertulang besi dengan otak Centrino Core-4-quad (2x core-2-duo).  Dua tahun penderitaan yang nyaris membuatkan berhenti kerja akhirnya berbuntut promosi manis ke lain departemen.  Kemudian perjalanan berlangsung cepat, dalam 4 tahun kerja kuraih jabatan Manajer, 2 tahun kemudian sebagai Manajer Senior, 3 tahun berikutnya menjadi General Manajer, 2 tahun berikutnya menjadi kepala departemen, yang akhirnya berujung macet dan terdampar di posisi satu langkah di belakang Direktur Pengelola selama 7 tahun.  Pada tahun ke-19 masa kerjaku, aku memutuskan bergabung dengan klub OKB untuk menjajal kerja sebagai free lance (artinya tanpa pegangan). &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Personal branding kulakukan sejak pertengah tahun 2004 sampai tahun 2006 dengan menerbitkan buku kiat keberhasilan bisnis sepanjang masa (KBSM) dan panduan lengkap kelapa sawit (PLKS) untuk mengesahkan kepakaranku dalam bidang pekerjaan.  Sejalan dengan laris-manisnya buku PLKS sebagai best seller di Indonesia, orang-orang mulai mencari diriku sebagai referensi dan konsultan.  Passive income dari royalty buku memang lumayan, tetapi pendapatan dari jasa konsultasi sungguh tidak terduga dan membuatku memutuskan untuk melakukan PHK terhadap perusahaan tempatku bekerja.  Hal itu menabalkan keyakinanku bahwa aku telah siap bergabung dengan klub OKB dan tidak memerlukan perusahaan lain untuk menjadi perantara yang menjadi calo ide-ideku.  Aku telah siap menjadikan diriku perusahaanku, dan membebaskan diriku dari penjajahan atas nama pekerjaan. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kini aku duduk di dalam perpustakaan pribadiku, mengetikkan kata-kata provokasi di dalam catatan harian ini sambil memikirkan persiapan untuk kerja 4 jam bulan depan.        Januari 2008, seorang calon klien kembali dari Texas dengan membawa fund untuk proyek masa depannya (yang juga merupakan sebagian masa depanku).  Aku cukup duduk manis memikirkan bagaimana mendayagunakan jejaring kerja yang ada untuk meningkatkan efektivitas kinerjaku, sekaligus peningkatan NAB galeri investasi reksadana dan isi rekeningku di bank. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dahulu aku tidak perlu berpikir setiap akhir bulan karena gajiku sudah masuk ke rekening bank secara otomatis.  Kini aku perlu berpikir untuk mengisikan uang ke rekening bank para karyawanku setiap akhir bulan.  Itulah fragmen 5 menit dalam 4 jam pekerjaanku setiap bulan, yang kulakukan dengan perasaan meluap-luap dan janji bahwa aku tidak akan memperkosa karyawanku dengan jam kerja yang tegang.  Bagiku lebih bermakna bila karyawan tidak perlu masuk kantor, asalkan pekerjaan selesai dengan kualitas yang baik.  Pertemuan dengan karyawan cukup 15 menit saja dalam sebulan, karena waktu kerjaku hanya 4 jam dalam sebulan.  Pelatihan untuk karyawan baru (sesuatu yang tak bisa kuelakkan), membutuhkan waktu lebih banyak, dan itu adalah hiburan dalam hidupku, sehingga kuanggap sebagai hobby yang kulakukan diluar dari 4 jam kerjaku.  Pelatihan ini setara dengan menonton infotainment di televisi, dan perbedaanya hanya pada perbedaan pengaruhnya.  Menonton infotainment memberikan relaksasi tetapi membuat otakku idiot, sedangkan memberikan pelatihan memberikan relaksasi yang membuat otakku semakin tajam.  Jadi kuputuskan, memberi pelatihan adalah bukan bagian dari 4 jam kerjaku dalam sebulan.  Itu hobby.  Titik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5547445995089204759?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5547445995089204759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5547445995089204759&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5547445995089204759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5547445995089204759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2008/01/bekerja-4-jam-sebulan-setara-dengan.html' title='Bekerja 4 Jam Sebulan setara dengan Penghasilan 3 Bulan bekerja penuh'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-2979413676006074659</id><published>2007-12-26T23:43:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T03:04:10.374+07:00</updated><title type='text'>Indonesia from Foreigner Perspective</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_IEyOM1Mo_j4/R3KH02ZmVNI/AAAAAAAAADw/9_qtrQ77bzI/s1600-h/Picture1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148326666063729874" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_IEyOM1Mo_j4/R3KH02ZmVNI/AAAAAAAAADw/9_qtrQ77bzI/s400/Picture1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;This material is downloaded from travel brochure to Indonesia: &lt;a name="#top"&gt;&lt;/a&gt;Sweet Steam,&lt;br /&gt;The last sugar cane trains on Java. You can pick the foreigner perspective about our country. One of the cited as follow: &lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Please be prepared that in a country like Indonesia not everything will work as planned and/or paid for. The Indonesian (better to say the Asian) way to repair things with the help of primitive tools is amazing and will help us to fix some of the technical problems which may occur.&lt;/span&gt; Nggak tahu mau nangis atau bangga, akhirnya saya posting saja di blog ini!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Indonesia is the last stronghold of Dutch and German narrow gauge steam locomotives. But, this living museum of steam is not the only reason which makes Indonesia worth a visit. There are lots of ancient stationary steam engines inside the mills, some of them which have been working for more than 120 years.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Indonesia has changed rapidly over the last decade. Quite a lot of the sugar mills - in former times well protected from the international market – had to give up or try to produce more cost efficient. This is the reason why some of the sugar mills were closed and others converted from railway to road transport or – at least – to diesel hauled trains instead of steam. Although the recent government introduced new taxes to protect the domestic sugar industry and save labour for the workers in the mills, many mills have changed their system to bring in the cane. Given that the farmers around the mills are free in their decision which kind of crop they decide to growth, the system of field lines to the sugar cane fields had to be abandoned. At many places it’s more profitable to plant other crops than cane. So it was necessary for the factories to switch to road transport anyway, to reach sugar cane fields far away from the mill. Because new lines to other fields will not be constructed anymore, the truck was and is the only solution for a mill to survive.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Despite all the losses over the recent years you can still experience the largest variety of steam locomotives in the world in daily use during the harvest season. A handful of mills still uses steam to bring cane trains into the mills while others offer interesting and, sometimes, very extensive shunting in the large yards. Indonesia is for sure still a destination for the dedicated steam locomotive lover. But how long will it last....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;On the tour we will experience Mallett locomotives as well as Luttermöllers or Klein-Lindner axle locos. A special highlight is the gear locomotive built by Orenstein &amp;amp; Koppel. If still serviceable, we will hire it for an afternoon of shunting operations. While this company seems to be omnipresent on the island, other producers, mostly non-existent any more, are still part of the greatest narrow gauge show in the world: Decauville, Schwartzkopff, Maffei, Orenstein&amp;amp;Koppel, Jung, Ducroo and Brauns, Hartmann and others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itinerary&lt;br /&gt;The itinerary can only be a rough tour plan. You can never be sure that there‘ll be no derailment on the main junction of the factory, a change of traction (diesel instead of steam) or something else unpredictable.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;06.07.2005: Departure Europe to Indonesia (Sunday)&lt;br /&gt;07.07.2005: In the late afternoon meeting in Jakarta, continue to Cirebon&lt;br /&gt;08.07.2005: In the morning we'll visit Tersana Baru. Shunting duties with steam and diesel, in the afternoon we'll continue to Sindanglaut, where all steam operation was ceased in 2003. We will try to steam up one of the two spare locomotives for a journey into the sugar cane fields and try to take over a part of the load of a diesel. Hotel in Tegal&lt;br /&gt;09.07.2005: In the morning we'll start the day in Jatibarang, where a nice roundhouse with a turn table predominates the loco shed. Unfortunately nearly all field works went over to diesels while steam is still in use in the beautiful and large yard. Several interesting locomotives are dumped. We'll make a visit to the ancient machinery in the sugar mill as well. There are stationary boilers which are some 100 years old. The stationary steam engine powering nearly the whole mill. In the afternoon we'll continue to Pangkah. They're using steam for shunting and diesel into the fields. We will hire a train into the fields. However, the journey maybe short due to the bad overall condition of the small bridges on the line. Hotel in Tegal&lt;br /&gt;10.07.2005: In the morning we'll visit the sugar mill Sumberharjo. Beside the diesels, several different types of steam locos are in use for shunting in the mill. Line work is nearly 100 % in the hand of diesels. Sometimes, the steam locos are used for field works too, but normally all loaded trains will be operated nocturnal. The afternoon is planned for the sugar mill Sragi. About half a dozen steam locomotives from various manufacturers are in use for shunting duties. There are also a dozen active diesels in Sragi. Hotel Nirwana Pekalongan&lt;br /&gt;11.07.2005: In the morning we'll visit Sragi again. The morning light offers best conditions for photography in the depot.In the afternoon we'll enjoy the rack railway of Ambarawa, where we hired a train with the small B25 02 rack loco. After dawn we'll continue to Solo to our hotel.&lt;br /&gt;12.07.2005: Today's plan is a visit to the sugar mill with the largest Luttermöller engine of Java: Tasik Madu. The impressive, 150 horse power engine has a six axle tender! In the evening we'll continue to Cepu. Mega Bintang Sweet Hotel in Cepu.&lt;br /&gt;13.07.2005: The Cepu forestry railway sees only less than a dozen trains a year. These rare occasions are normally done in the rainy season when the ground is to soft for the trucks to carry the teak wood out of the plantations. So we will hire a train with one of the serviceable locomotives. We organised a real train, i. e. an empty train into the forest, a loading process there and a loaded train back to the timber yard. The trip will take the whole day. Hotel Kartika Abadi in Madiun.&lt;br /&gt;14.07.2005: Around Madiun are several sugar mills. In the morning we'll visit Purwodadi. In the afternoon we will see the gear loco no. 10 of Rejosari, which will carry out some shunting in the yard. Hotel Kartika Abadi in Madiun.&lt;br /&gt;15.07.2005: Today we have a full program. The early morning is planned for Pagottan (Luttermöller locomotives). At about 7.30 we'll continue to Kanigoro, where only one steam loco is still in use. It shares the work in the yard with two diesels. The late afternoon and the early evening are reserved for Merican. This is Java's last mill with 0-4-2s in regular service. Marican is also known for the sparks the locomotives producing while fired with bagasse. So we'll extend our stay until about 18.30 hrs for some night shots. Hotel in Mojokerto.&lt;br /&gt;16.07.2005: On our way to the east we'll pass by Gempolkrep with its Luttermöller locos. They have an interesting shunting operation in a huge yard. Around noon we'll continue to Gunung (Mt.)Bromo, one of the active volcanoes of the island. Hotel Mount Bromo Permai, situated directly at the crater&lt;br /&gt;17.07.2005: If you're going to Java you should not miss the spectacular view of the mount Bromo at sunrise. To experience this we have to get up very early. We will climb to the platform above the volcano to have the best view. You can also hire a 4WD Jeep for some 15 Euro to avoid he walk some 500 metres upwards. At noon we'll continue to Olean. Here we'll have the best chances for getting a loaded trains from the fields in front of our lenses. If there is no traffic on the day of our arrival (doe to the lack of fuel, an overhaul of the mill, a derailment in the yard or something else unpredictable) we'll continue to Asembagus, another mill with a chance for steam operated trains during daylight. Although they have only two serviceable steam locos (beside several diesels, they used both for line service in 2004. So the chances are not too bad for free line action.&lt;br /&gt;18.07.2005: The full day is reserved for Olean and Asembagus with its interesting field work, which is the only mill with frequent free-line daylight steam. Hotel Situbondo&lt;br /&gt;19.07.2005: Another day where we will visit Olean and Asembagus, according to the best operation. If you like you can also visit the sugar mill in Situbondo (Panji, 600 mm) which uses some tiny diesels for field workings. In the evening we're going to Jember. Hotel Bandung Permai&lt;br /&gt;20.07.2005: For the morning we hired a steam hauled train in Semboro. As a special we'll see the last known fireless locos of Java, at least one of them in use in a part of the yard. In 2004 Semboro had two serviceable steam locos for spare, one Mallet and one Jung 0-6-0, built in 1961. As far as both of them are still serviceable, we'll hire them both, on for a morning train, the other for an afternoon journey. We won't use the tourist coaches, we'll haul real trains which we'll take over from the diesel locos. Semboro has still a large active network and uses tiny German diesels for pulling cane wagons out of the filed, while bulky, ugly Japanese diesels haul the trains on the partly double tracked main lines. On one of these lines we can use a steam loco. Hotel Bandung Permai, Jember&lt;br /&gt;21.07.2005: In the morning we'll leave to the airport of Surabaya. Here we'll give back our hired cars and fly to Jakarta. There we'll take our international flight back to Europe.&lt;br /&gt;22.07.2005: Arrival in Frankfurt/Main&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miscellaneous&lt;br /&gt;This particular tour follows other rules than our tours to China, India or Burma for example. Our route may differ from the above itinerary in order to get as many good pictures of steam trains as possible. On the way, side trips to historical or other places of interest are always possible. If agreed, the group may separate and meet together later. We will travel by up to four hired jeeps which will give us a maximum of flexibility for special requests of some group members. It is possible to have a local driver for those who won’t drive by themselves. This service will cost extra (140 Euro each).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;We will choose the hotels by their distance to the next steam mill, not according to the offered standard. We will have small but mostly clean hotels with air condition and a private bath room. Not all the hotels will have a bath, sometimes you’ll find a typical Indonesian “Mandi”. A Mandi is a small water reservoir in the bath room from which you can pour fresh water over your head. This will be more refreshing after a hot day than a medium warm, thin water ray out of a shower. European style toilets are not common in Indonesia. The chosen hotels will have a European style toilet, but in restaurants on the way or at railway stations for example you should expect Asian (or you may also say French) style lavatories.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;On many days we’ll get up very early (before 6.00 am!) and will leave without breakfast. The best time for photography is the early morning between six and nine and the late afternoon between three and sunset around 17.30 hrs. The time in between is, according to the high sun, not rewarding for photography, even the dedicated video film maker wouldn’t be happy with the results during the noon time. We’ll rather use the noon time for a delayed breakfast or lunch. You can also enjoy a bath in the sea when we’re are close to a beach. Because of the active volcanoes on the island the beaches offer black instead of white sand. The sea itself may be polluted near the cities.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Please be prepared that in a country like Indonesia not everything will work as planned and/or paid for. The Indonesian (better to say the Asian) way to repair things with the help of primitive tools is amazing and will help us to fix some of the technical problems which may occur. Whatsoever, you never can be sure that the most important switch of the yard isn’t blocked by a derailed train, the mill run out of fuel a day before our arrival, and so on. The whole traffic could be stopped by such a problem. In such a case we’ll try to head for another mill. Sometimes it might be impossible to get pictures and the only thing you can do is to relax and drink a cup of tea or a beer.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;For the mills with the best chances for line steam we planned some spare time. We’ll not go to sugar mills with dumped steam locos only. However, if time allows and we’re just passing by, we can make a stop at such mills as well.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;The climate is tropic with high humidity and temperatures between about 28 and 35 degrees centigrade. Our jeeps are fitted with an a/c but you’ll do better if you acclimatize and accept to sweat if you have to move quickly to get a photo.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;The tour is planned with the dedicated photographer and video filmmaker in mind. The itinerary is designed for those who think it more important to get the perfect shot in the morning sun than a substantial breakfast. Meals can be delayed or even cancelled. The meals are not included in the tour price. In addition, we did not plan lunch or dinner for every day. In some cases we’ll have to make do some cookies or bananas. Meals are cheap with the exception of beer and other alcoholic drinks. Please consider we are guests in a mainly Islamic country where alcoholic drinks (including beer) are not available everywhere. Chilled beer is another matter …&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Charter vehicles and trains represent the standard of our host countries, which may deviate form European expectations. While we will try to avoid long walks, some photo positions may require a bit of an extra effort. Travelling on trains and driving cars is at your own risk. The charter trains will look like real trains did some years ago. So we will not attach coaches to the trains. Please be prepared that the exhaust of the steam locos contains sparks who may harm your clothes or skin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Because we are using hired cars we need some more drivers. If you like to drive a car in Indonesia you should be over 25 years old and holder of an international driving licence. On the other hand you should be able to accept the Asian way of driving which is quite different from that what you have learned at the driving school. On the main trunk roads the traffic maybe horrible fast and dangerous while on minor roads you may be the only motorised car beside some ox carts (without any kind of illumination during the night, of course). However, most visitors will learn very quick how Asian traffic works and will have an additional fun to drive a car without the restriction you have to care about in central Europe. There is no insurance for the cars available. So we have to pay for dents ourselves, please consider this while driving. The one and only rule of the traffic seems to be do not touch other traffic participants.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Price&lt;br /&gt;Sweet Steam - The last sugar cane trains on Java&lt;br /&gt;8 to 14 participants&lt;br /&gt;2.640 Euro&lt;br /&gt;6. - 22.7.2005&lt;br /&gt;6 to 7 participants&lt;br /&gt;2.790 Euro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Single room supplement&lt;br /&gt;190 Euro&lt;br /&gt;Minimum number of participants: 6&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Maximum number of participants: 14&lt;br /&gt;Please let us know whether you would agree to travel with a small group as well.&lt;br /&gt;The price includes:&lt;br /&gt;Flight from Frankfurt/Main probably with Gulf Air in a booking class with a limited number of available seats (your early booking is hence appreciated!)&lt;br /&gt;All transfers in Indonesia by hired jeeps (with AC), self driving&lt;br /&gt;All hotels (all with AC except Mount Bromo Permai, where you may need a heating instead)&lt;br /&gt;Visitor’s permits and entrance fees to the sugar mills&lt;br /&gt;Special trains as described (Ambarawa, Semboro, Cepu, Pangka)&lt;br /&gt;European tour guide (flights without tour guide)&lt;br /&gt;European airport taxes&lt;br /&gt;Not included are:&lt;br /&gt;Visa (payable at the arrival in Jakarta, in 2004: 25 US-$)&lt;br /&gt;Meals and Beverages&lt;br /&gt;Personal expenses as telephone, mini bar in the hotel, laundry service etc.&lt;br /&gt;Tips for loco staff etc. (we expect between 30 and 50 Euro for this)&lt;br /&gt;Local driver (available for 140 Euro)&lt;br /&gt;Airport taxes in Indonesia (international 100.000 Rupiah = 9 Euro in 2004)&lt;br /&gt;Above prices are based on specific bookings with the respective airlines, which have to be confirmed well in advance. Your early booking is hence appreciated.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;© FarRail Tours - e-mail: &lt;a href="mailto:mail@farrail.com"&gt;Bernd Seiler&lt;/a&gt; - zurück zu&lt;a href="http://www.farrail.net/" target="_top"&gt; FarRail Tours&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Click here to return to &lt;a href="http://www.farrail.net/" target="_top"&gt;FarRail Tours&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-2979413676006074659?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/2979413676006074659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=2979413676006074659&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2979413676006074659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2979413676006074659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/12/indonesia-from-foreigner-perspective.html' title='Indonesia from Foreigner Perspective'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IEyOM1Mo_j4/R3KH02ZmVNI/AAAAAAAAADw/9_qtrQ77bzI/s72-c/Picture1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-604490274714558354</id><published>2007-12-26T23:31:00.000+07:00</published><updated>2007-12-26T23:35:11.229+07:00</updated><title type='text'>Peraturan Perusahaan</title><content type='html'>Kepada     :  Seluruh Karyawan  &lt;br /&gt;Dari           : Pimpinan&lt;br /&gt;Hal             : Efektifitas &amp;amp; Efisiensi&lt;br /&gt;CC              : Seluruh Kepala Departemen&lt;br /&gt;NO             : 001/00-00/P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Edaran Tata Cara Penggunaan Kamar Kecil.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Segera diberlakukan, tata cara penggunaan kamar kecil yang dibuat untuk menyelenggarakan metoda perhitungan waktu yang konsisten bagi karyawan dalam jam kerja, dengan demikian menjamin efektifitas pemanfaatan waktu dan perlakuan yang adil bagi semua karyawan. &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kelak, pintu-pintu kamar kecil akan dikendalikan komputer melalui alat pengenal suara, yang hanya dapat diaktifkan untuk membuka melalui perintah lisan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Dengan demikian, setiap karyawan harus segera memberikan dua contoh suara ke bagian personalia, satu dalam nada normal, satu lagi dalam keadaan merana/kebelet.  Peraturan berikut juga akan diberlakukan:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1.  Setiap awal bulan, setiap karyawan akan mendapat 22 kesempatan untuk menggunakan kamar kecil, yang dapat diakumulasikan pada bulan berikutnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;2.  Bila semua kesempatan yang diberikan telah habis terpakai, pintu kamar kecil tidak akan lagi dapat dibuka sampai akhir bulan berjalan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai tambahan, setiap jamban diperlengkapi dengan timer. Bila pemakaian jamban melampaui tiga menit, alarm akan berbunyi. Tiga puluh detik kemudian, tissue toilet akan tergulung masuk, jamban akan diguyur dan pintu akan terbuka secara otomatis. Bila setelah itu jamban tetap diduduki, maka anda akan dipotret dan foto anda akan muncul di papan petugas pemantau kamar kecil. Karyawan yang fotonya terrekam tiga kali, tidak akan lagi mendapat kesempatan menggunakan kamar kecil selama 3 bulan ke depan. Bila didapati ada foto yang tersenyum, ybs akan dibawa ke balai perawatan jiwa. Harap diketahui bahwa santunan asuransi tidak akan berlaku atas segala bentuk luka yang diakibatkan oleh usaha menghentikan tissue toilet yang ditarik masuk, atau mencoba mencegah terbukanya pintu. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Kami harap karyawan mau bekerja sama sepenuhnya. Apabila aturan ini menimbulkan masalah, kami sarankan anda menggunakan pispot dr rumah. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Tertanda,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Direktur Personalia&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PT. Derita Tiada Akhir Tbk.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-604490274714558354?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/604490274714558354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=604490274714558354&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/604490274714558354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/604490274714558354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/12/peraturan-perusahaan.html' title='Peraturan Perusahaan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3589717042896496663</id><published>2007-12-26T23:14:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T03:04:10.556+07:00</updated><title type='text'>Aku Ingin Membangun, Tetapi Tetap Sayang Lingkungan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IEyOM1Mo_j4/R3J-4GZmVMI/AAAAAAAAADo/OYrDqGE0rts/s1600-h/The_wonder_of_the_world_by_chamos.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148316826293654722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 209px; CURSOR: hand; HEIGHT: 139px" height="127" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_IEyOM1Mo_j4/R3J-4GZmVMI/AAAAAAAAADo/OYrDqGE0rts/s320/The_wonder_of_the_world_by_chamos.jpg" width="173" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sebuah Kontemplasi Oleh Iyung Pahan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aku, katakanlah itu hanya dalam persepsiku, tiba-tiba saja merasa berat dengan asesoris yang menempel dalam karakteristik kehidupan yang mengharuskan aku menyesuaikan diri dengan hakikat perubahan karakteristik itu sendiri. Aku seperti penderita aleksitimia, merasakannya dengan lengkap tetapi tidak mampu mengungkapkannya secara verbal. Alhasil, aku menulis dan melukis, sehingga abstraksi keadaan ini mudah-mudahan menjadi kado kecil perjalanan hidupku, mencoba memanjakan diri dengan apa yang dinamakan kenangan. Walapun kadang kala kenangan hidup di perkebunan itu bukanlah sesuatu yang kuinginkan. Ya ... iapun bisa saja menjadi anak haram dari sistem yang tidak diinginkan kehadirannya, ditolak keberadaannya, tetapi dia nyata, dan akupun harus merelakan hati ini &gt; unplugged (apa adanya): aku ingin membangun, tetapi tetap sayang lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung hari yang melelahkan, aku duduk di kesunyian sebuah gedung di mana bentang jalan Sudirman dan Thamrin di kota Jakarta kelihatan agak berkabut. Samar-samar dari domain sebuah radio internet di depanku terdengar reportase penyiar yang melaporkan hiruk-pikuk sirkus politik Pilkada Sulawesi Selatan karena silang sengkarut penghitungan suara berbuntut pemilu ulangan di empat kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku menerima surat elektronis dari beberapa pelanggan di manca negara. Mereka khawatir bahwa produk minyak kelapa sawit yang dijual kepadanya, dihasilkan dengan kaidah yang merusak keseimbangan alam dan merupakan salah satu penyebab kehancuran hutan tropis. Aku minum segelas air berkadar oksigen tinggi untuk menurunkan ketidakseimbangan metabolisme tubuh dan mendinginkan kepalaku: walaupun aku sadar oksigen diserap melalui paru-paru, bukan melalui usus kecil. Aku benci dengan kebancian mereka, karena sudah lama menggunakan minyak sawit dalam sejumlah besar produk yang mereka hasilkan, tetapi tidak berani mencantumkan kata “mengandung minyak sawit” dalam label produk dan fakta kandungan gizinya. Mereka menekanku untuk membuktikan kepada dunia bahwa industri minyak sawit di negara ini tetap sayang lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional telah meningkatkan tekanan kepada para pengguna minyak sawit pelanggan perusahaanku dengan kampanye yang sistematik. Mereka mendiskreditkan industri minyak sawit Indonesia sebagai industri yang ”merusak lingkungan,” dengan mengaitkannya pada kerusakan hutan, kebakaran hutan, banjir, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) penduduk lokal, pemiskinan penduduk lokal, pembuangan limbah dan penggunaan pestisida yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka persis seperti masyarakat yang mengecam eksistensi seorang Spider Man tetapi tetap membutuhkan kehadirannya untuk memberantas kejahatan. Minyak sawit adalah minyak nabati yang dikecam sebagai “anak haram” dari praktek pertanian dunia, tetapi mereka tetap mencarinya karena manfaat dan harganya yang relatif murah dibandingkan dengan minyak dan lemak nabati lainnya. Karena sifat industri hilir berbahan baku minyak nabati yang memiliki kemampuan sifat saling tukar-menukar (interchangeable) tinggi dalam penggunaan berbagai jenis bahan baku, status “anak haram” akhirnya digadaikan demi marjin komersial yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menciptakan “anak haram” dari suatu konteks peradaban, tentunya sarat dengan maksud-maksud tertentu. Industri minyak sawit adalah tulang punggung ekspor non migas Indonesia, yang nyata-nyata merupakan asset nasional yang harus dijaga. Status “anak haram” adalah label yang ditempelkan oleh kepincangan sistem label dunia yang diskriminatif. Mereka menuntut kita untuk menjaga keanekaragaman lingkungan hidup supaya menciptakan kemaslahatan bagi dunia, tetapi tidak mau menanggung sebagian biayanya. Kita memiliki harta yang berfungsi juga untuk menjaga mutu lingkungan global, dan apakah kita tidak boleh memanfaatkannya untuk kepentingan kita. Apakah konsep menjaga eksistensi hutan-hujan-tropis bagi masyarakat miskin yang kelaparan dan tidak memiliki alternatif lain selain memanfaatkan asset hutan yang dimilikinya, merupakan konsep yang kasat mata dan bisa diikuti dengan hati yang besar? Impian akan perdagangan karbon dari kesepakatan jalan Bali di penghujung tahun 2007 menyiratkan rona harapan di balik kabut ketidakpastian. Kemiskinan adalah akar dari kejahatan. Pembangunan kebun kelapa sawit adalah salah satu alternatif untuk mengentaskan kemiskinan, walaupun belum pernah dilakukan penelitian secara ilmiah untuk membutikannya. Beberapa teman LSM berupaya meyakinkan bahwa membiarkan hutan apa adanya dalam konteks perdagangan karbon akan memberikan manfaat yang lebih besar ketimbang membukanya menjadi kebun sawit. Pertanyaannya adalah bagaimana konsep perdagangan karbon yang adil, dan benarkah praktik membayar kompensasi untuk mengesahkan pencemaran lingkungan yang dilakukan industri di negara maju? Hasil penelitian yang dilakukan Bank Dunia di Afrika jelas-jelas menyimpulkan bahwa pembangunan kebun tanaman tahunan berhasil mengentaskan kemiskinan masyarakat di sana. Menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan harkat kemanusiaan dengan memberikan kebanggaan melalui kerja. Seperti Khalil Gibran yang subtil menabuhkan mantra tentang kerja: ... dan benarlah hidup ini hampa bila tiada dorongan, dan setiap dorongan adalah tiada berarti tanpa kerja. Dengan kerja hidup berejawantah ... Bagaimana nasib komunitas penduduk lokal bila ditaburi uang mudah dari perdagangan karbon, dimana karbon menjadi komoditas yang menelantarkan ethos kerja dan memarginalkan keseimbangan antara kerja dengan kemalasan menjadi kemalasan tanpa bekerja. Jika bekerja dibayar seribu, dan tidak bekerja dibayar lima ratus, maka secara tidak logis, masyarakat akan memlih kerja tak kerja dibayar seribu lima ratus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba, tuan-tuan konsumen dari negara-negara yang menyatakan dirinya negara maju dan beradab, melakukan boikot dan memproklamirkan dirinya tidak mau membeli produk minyak sawit dan turunannya karena alasan yang absurd, yaitu dihasilkan melalui pembukaan lahan dari hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah adil jika kita tidak menyukai salah seorang pemain sepakbola di liga Inggris, lalu kita memutuskan untuk memboikot seluruh team sepakbola yang ada di planet ini? Lalu kita menghimbau semua orang agar tidak menonton pertandingan sepakbola di seluruh dunia, karena salah satu pemain sepakbola di liga Inggris dianggap bermain kasar dan mengingkari peraturan yang berlaku. Apakah ini adil bagi persepakbolaan dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak dalam keniscayaan menghadapi paradoks pemikiran ini. Dan untuk melakukan pertukaran pemahaman dan konsep, tidak ada cara lain selain berbicara dengan kerangka dan bahasa yang sama. Untuk memahami dinamika suatu bangsa, kita harus memahami konteks budaya dan berbicara dengan bahasa bangsa tersebut. Lalu aku mengosongkan pikiran dalam hening dan mulai berpikir dengan paradigma LSM untuk memahami apa yang ada dalam perspektif industri kelapa sawit dengan melihat totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia di sekitar perkebunan yang mencirikan suatu masyarakat atau penduduk, yang ditansmisikan secara bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendapat pemahaman bahwa pada tingkatan yang lebih dalam dan kurang terlihat, budaya ini merujuk pada nilai-&amp;shy;nilai yang dianut bersama oleh orang dalam kelompok dan cenderung bertahan sepanjang waktu bahkan meskipun anggota kelompok sudah berubah. Pengertian&amp;shy;-pengertian ini mencakup tentang apa yang penting dalam kehidupan, dan sangat bervariasi dalam berbagai organisasi yang berbeda. Dalam kasus perusahaan perkebunan dan LSM, ternyata mereka mempunyai pemahaman yang sama yaitu mencari keuntungan (profit), mensejahterakan masyarakat (people) dan menjaga lingkungan (planet). Yang berbeda adalah urutan prioritasnya saja, dimana perkebunan mempunyai sudut pandang 3-P dengan urutan profit, people dan planet, sedangkan LSM adalah 3-P dengan urutan planet, people dan profit. Para aktivis LSM tidak terlalu berorientasi pada keuntungan materi tetapi sangat peduli pada kelestarian lingkungan dan kepentingan serta kesejahteraan masyarakat yang mereka anggap tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, aku mempunyai konsep dasar bahwa perkebunan harus mendapatkan keuntungan dahulu, sebelum dia bisa mensejahterakan lingkungan di sekitarnya. Seseorang harus kaya dan memiliki harta dahulu, sebelum dia bisa menyumbangkan hartanya kepada orang lain yang memerlukannya. Bisa saja orang miskin menyumbangkan hartanya kepada orang lain yang lebih miskin lagi, tetapi seberapa besarkah dampak yang bisa dihasilkan dari sumbangan ala kadarnya itu? Oleh karena itu, aku tetap berkeyakinan bahwa untuk mensejahterakan orang lain secara efektif, kita harus sejahtera dahulu. Selama kita belum sejahtera, kemampuan kita untuk membantu orang lain akan sangat terbatas dan cenderung tidak efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, upaya mencari keuntungan ini tetap akan dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan matang guna menghilangkan masalah potensial yang dapat merugikan masyarakat dan lingkungannnya. Oleh karena itu, keinginan untuk membangun perkebunan harus dilakukan dengan kaidah sayang lingkungan berdasarkan konsep 3-P: Profit (Keuntungan), People (Manusia), dan Planet (Lingkungan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus bisa menisbikan issue bahwa pembukaan kebun kelapa sawit merupakan sumber utama perusakan hutan, dengan melakukan bantahan dengan menggunakan kerangka penilaian yang sama. Salah satu konsep yang telah diterima secara internasional dalam menilai lingkungan (hutan) adalah konsep HCVF yang diformulasikan oleh FSC (Forest Stewardship Council).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan lahan perkebunan umumnya berasal dari pembukaan hutan, padang alang-alang, dan peremajaan. Berdasarkan laju pembukaan lahan saat ini, sumber utama pembukaan lahan adalah dari hutan. Hutan mempunyai nilai-nilai ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan yang penting. Membuka hutan tidak boleh dilakukan secara ”hantam kromo” tanpa kaidah dan norma, yang akibatnya dapat mengganggu keseimbangan perkebunan dengan manusia dan lingkungan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai penting hutan antara lain kekayaan keanekaragaman hayati, daerah tangkapan air, dan nilai budaya suku-suku yang dominan di daerah hutan. Hutan yang mengandung nilai penting ini dalam situasi yang kritis disebut hutan dengan nilai konservasi tinggi atau High Conservation Value Forest (HCVF).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kawasan yang mengandung nilai konservasi tinggi (HCV) ini harus dikelola secara khusus sehingga nilai tersebut dapat dipertahankan, dan kalau bisa ditingkatkan. Konversi lahan menjadi perkebunan harus menghindari pembukaan hutan yang mengandung HCV. Untuk itu dalam teknik pembukaan lahan dan interaksi kebun dengan lingkungan, perlu dipahami mekanisme penentuan suatu kawasan sebagai HCV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan lahan hutan untuk perkebunan tidak akan dilakukan pada kawasan hutan yang mengandung konsentrasi nilai-nilai keragaman hayati yang penting secara global, regional maupun nasional: seperti hutan lindung, adanya spesies genting dan terancam punah, adanya spesies endemik, tempat perlindungan satwa, serta adanya konsentrasi spesies sesaat sehubungan dengan siklus hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan membukan kawasan hutan berupa hamparan hutan luas yang penting secara nasional, regional, atau global, dimana populasi spesies yang ada, hidup dalam pola alamiah atau dalam distribusi alamiah yang berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan lahan hutan untuk perkebunan tidak akan dilakukan pada kawasan hutan yang berada di dalam atau mengandung ekosistem yang terancam, seperti hutan dataran rendah, hutan rawa gambut (peat swamp forest) dan hutan rawa air tawar (freshwater swamp forest), hutan mangrove, hutan di bagian atas dan bawah gunung (upper and lower montane forest), serta padang rumput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan menghindari pembukaan kawasan hutan yang memberikan jasa atau kegunaan mendasar secara alamiah dalam keadaan kritis seperti: sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, hutan untuk penyerapan air dan pencegahan erosi, hutan untuk penghambat meluasnya kebakaran, serta hutan yang mempunyai pengaruh kritis terhadap pertanian dan budidaya perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan lahan hutan untuk perkebunan tidak akan dilakukan pada kawasan hutan yang sangat diperlukan sebagai sumber kebutuhan dasar penduduk lokal seperti hutan yang merupakan sumber penghidupan atau pendapatan bagi penduduk setempat termasuk forest-dependent communities yang sangat penting dan tidak tergantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan membuka kawasan hutan berupa kawasan hutan yang sangat diperlukan oleh komunitas lokal untuk mempertahankan indentitas budaya mereka, yaitu kawasan hutan yang memberikan nilai atau benda tertentu, dimana bila nilai atau benda tersebut hilang maka komunitas tersebut akan mengalami perubahan budaya yang drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ikrar keinginanku untuk membuka lahan dan membangun perkebunan yang tetap sayang lingkungan, aku akan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengutamakan pemanfaatan lahan-lahan kritis dan terlantar, ketimbang membuka hamparan hutan primer.&lt;br /&gt;2. Menghindari pembukaan hutan rawa gambut dan rawa air tawar yang mempunyai water retention level yang tinggi.&lt;br /&gt;3. Tidak membuka hutan yang memiliki spesies terancam dan hampir punah seperti gajah, harimau, orang hutan dll.&lt;br /&gt;4. Tidak membuka hutan yang merupakan sumber nafkah penduduk lokal, seperti hutan yang mengandung tanaman rotan, pokok sialang, dll.&lt;br /&gt;5. Mempertahankan koridor hutan sepanjang pinggir sungai.&lt;br /&gt;6. Mempertahankan areal hutan keramat yang berhubungan dengan ritual atau budaya penduduk lokal.&lt;br /&gt;7. Melakukan pembukaan lahan tanpa proses bakar.&lt;br /&gt;8. Mempersiapkan dokumen AMDAL dan melaksanakannya dengan konsisten dalam operasional pembangunan kebun.&lt;br /&gt;9. Menanam kacangan penutup tanah (LCC) untuk memperbaiki struktur tanah dengan penambahan bahan organik dan mengurangi penggunaan herbisida.&lt;br /&gt;10. Pada areal yang bergelombang dan agak curam membuat teras bersambung untuk meningkatkan ketersedian air di lapangan dan mencegah erosi.&lt;br /&gt;11. Menggunakan teknik pengendalian hama terpadu dengan musuh alami untuk mengurangi penggunaan pestisida yang berlebihan.&lt;br /&gt;12. Melaksanakan daur ulang tandan buah kosong, limbah cair, dan teknik pengomposan untuk substitusi pupuk anorganik, guna mengurangi tekanan pada instalasi pengolahan limbah.&lt;br /&gt;13. Melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar kebun dengan melakukan pembinaan lembaga ekonomi dan kesempatan kerja bagi masyarakat.&lt;br /&gt;14. Memfasilitasi kegiatan sosial seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, dan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berlalu, dan banyak kearifan yang kita dapati dari alam seiring dengan berlalunya waktu. Mudah-mudahan konsep hasil renungan ini akan berhasil membangun perkebunan kelapa sawit yang berkesinambungan dan bisa menjadi sumber inspirasi bagi teman-teman lain untuk membangun negara ini dengan lebih baik lagi tanpa menekan kelestarian alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Manusia yang baik akan meninggalkan lingkungan yang baik untuk anak cucunya dan mereka akan mendoakan kebahagiaannya dunia dan akhirat. Manusia yang tidak baik akan meninggalkan lingkungan yang rusak, dan akan menerima caci maki dan sumpah serapah yang berkepanjangan. Kita meminjam planet ini dari anak cucu kita, jadi jangan kecewakan mereka dengan mati meninggalkan utang yang pedih dan sumpah serapah yang memilukan. Mari kita membangun, tetapi kita tetap sayang lingkungan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3589717042896496663?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3589717042896496663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3589717042896496663&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3589717042896496663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3589717042896496663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/12/aku-ingin-membangun-tetapi-tetap-sayang.html' title='Aku Ingin Membangun, Tetapi Tetap Sayang Lingkungan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IEyOM1Mo_j4/R3J-4GZmVMI/AAAAAAAAADo/OYrDqGE0rts/s72-c/The_wonder_of_the_world_by_chamos.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-9216263068077776678</id><published>2007-11-20T20:06:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T20:08:00.368+07:00</updated><title type='text'>Beautiful Story Yeaah!</title><content type='html'>Joe was a successful lawyer, but as he got older he was increasingly hampered by incredible headaches. When both his career and love life started to suffer, he sought medical help.&lt;br /&gt;After being referred from one specialist to another, he finally came across an old country doctor who could solve the problem.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;"The good news is I can cure your headaches. The bad news is that it will require castration. You have a very rare condition, which causes your testicles to press up against the base of your spine, and the pressure creates one hell of a headache. The only way to relieve the pressure is to remove both testicles."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Joe was shocked and depressed. He wondered if he had anything to live&lt;br /&gt;for? He finally decided he had no choice but to go under the knife.&lt;br /&gt;When he left the hospital, he was without a headache for the first time&lt;br /&gt;in 20 years, but he realized he was missing an important part of himself.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;As he walked down the street, he realized he felt like a different person. He could make a new beginning and live a new life. He saw a men's clothing store and thought, "That's what I need - a new suit." He entered the shop and told the salesman, "I'd like a new suit."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;The elderly tailor eyed him briefly and said, "Let's see - size 44 long." Joe laughed, "That's right. How did you know?" "Been in the business 60 years!" was the reply.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Joe tried on the suit. It fit perfectly. As Joe admired himself in the mirror, the salesman asked, "How about a new shirt?" Joe thought for a moment and then said, "Sure." The salesman eyed Joe and said, "Let's see - 34 sleeve and 16 neck." Joe was surprised, "That's right. How did you know?" "Been in the business 60 years!" he replied again.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Joe tried on the shirt, and it fit perfectly. As Joe adjusted the collar in the mirror, the salesman asked, "How about new shoes?" Joe was on a roll and said, "Sure." The salesman eyed Joe's feet and said, "Let's see - 10 D." Joe was astonished, "That's right. How did you know?" "Been in the business 60 years!"&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Joe tried on the shoes and they fit perfectly. Joe walked comfortably around the shop and the salesman asked, "How about some new underwear?"&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Joe thought for a second and said, "Sure." The salesman stepped back,&lt;br /&gt;eyed Joe's waist and said, "Let's see - size 36." Joe laughed, "Ah ha! I got you! I've worn size 34 since I was 18 years old."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;The salesman shook his head, "You can't wear a size 34. Size 34 underwear would press your testicles up against the base of your spine and give you one hell of a headache."    &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;From: debie barlian [debietgb@hotmail.com] Fri 4/26/2002 6:06 PM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-9216263068077776678?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/9216263068077776678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=9216263068077776678&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/9216263068077776678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/9216263068077776678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/beautiful-story-yeaah.html' title='Beautiful Story Yeaah!'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-636466113903514766</id><published>2007-11-20T20:00:00.001+07:00</published><updated>2007-11-20T20:00:39.921+07:00</updated><title type='text'>Kenangan Perjalanan</title><content type='html'>DULU (1981)&lt;br /&gt;BEGITU MUDAH UNTUK PERGI&lt;br /&gt;JALAN-JALAN&lt;br /&gt;DENGAN TAK MENANGGUNG BEBAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampit, Memoar Agustus 1981&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMUDIAN (1987)&lt;br /&gt;ENAM TAHUN BERLALU&lt;br /&gt;TAK SEMUDAH DULU LAGI&lt;br /&gt;UNTUK PERGI-PERGI&lt;br /&gt;DIKEKANG KEDEWASAAN DIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI PERJALANAN SEPERTI INILAH&lt;br /&gt;KUCARI KEDEWASAAN DIRI&lt;br /&gt;DAN KUTEMUI IA TERSANGKUT&lt;br /&gt;DI ANTARA SEMAK-SEMAK DAN TEBING TERJAL&lt;br /&gt;DI PINGGIR JURANG-JURANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, Memoar Agustus 1987&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH ITU (2002)&lt;br /&gt;LIMA BELAS TAHUN KEMUDIAN&lt;br /&gt;AKU TETAP BERJALAN MENCARI DAN MENCARI&lt;br /&gt;TITIK DIMANA AKU TAK BISA KEMBALI&lt;br /&gt;YANG LAKSANA MELONTARKAN KU KE DALAM WORM HOLE&lt;br /&gt;DALAM SPACE SHIP ADVENTURE KE PLANET TANGKIWOOD&lt;br /&gt;KETIKA KENISCAYAANKU MENJADI NISBI&lt;br /&gt;SEIRING DENGAN KENAIFANKU MENYIKAPI HIDUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, Memoar September 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIRNYA (2007)&lt;br /&gt;SETELAH LIMA TAHUN DALAM KEBIMBANGAN&lt;br /&gt;KUPUTUSKAN UNTUK MENJADI DIRI SENDIRI&lt;br /&gt;MELAKONI HIDUP SEADANYA&lt;br /&gt;MENJADI SEORANG EL-KAPITAN YANG HIDUP DI DUNIA DATAR&lt;br /&gt;BERMAIN DENGAN SEMBILAN KOEFISIEN PENDATARAN&lt;br /&gt;MERDEKA DARI PEKERJAAN&lt;br /&gt;TIDAK LAGI BEKERJA UNTUK UANG&lt;br /&gt;TETAPI MEMBUAT UANG BEKERJA UNTUK KU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, Memoar November 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-636466113903514766?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/636466113903514766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=636466113903514766&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/636466113903514766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/636466113903514766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/kenangan-perjalanan.html' title='Kenangan Perjalanan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-4005974092425360260</id><published>2007-11-20T19:49:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T19:50:36.422+07:00</updated><title type='text'>Gadis Hitam Berambut Putih</title><content type='html'>Seorang gadis hitam manis&lt;br /&gt;legam seperti pensil 6B&lt;br /&gt;namun matanya bening&lt;br /&gt;namun rambutnya putih&lt;br /&gt;namun hatinya lembut dan penyayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis putih menawan&lt;br /&gt;lembut seperti susu cap nona&lt;br /&gt;namun matanya tak sebening kaca&lt;br /&gt;namun hatinya tak seputih salju&lt;br /&gt;cuma bisa masak air dan telur&lt;br /&gt;atau indomie tanpa sayur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigadis putih itu kini telah pergi&lt;br /&gt;ke satu negeri di luar pikiranku&lt;br /&gt;bersama suaminya&lt;br /&gt;mencari ilmu untuk merubah kulit menjadi hitam&lt;br /&gt;seperti seorang gadis hitam manis&lt;br /&gt;dengan pensil 6B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis putih berambut hitam&lt;br /&gt;kini telah menjadi gadis hitam berambut putih&lt;br /&gt;setelah 40 tahun berpisah&lt;br /&gt;di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 27 September 1984&lt;br /&gt;Dipostulatkan untuk bertemu pada 27 September 2024&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengenang IRAN yang menulis memoar: &lt;br /&gt;... if you should go away, I'll write you many letters, if someone try to be my best friend, I'll say:  I like you better (1984).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-4005974092425360260?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/4005974092425360260/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=4005974092425360260&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4005974092425360260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4005974092425360260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/gadis-hitam-berambut-putih.html' title='Gadis Hitam Berambut Putih'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5762800908352991141</id><published>2007-11-20T19:44:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T19:45:11.564+07:00</updated><title type='text'>Surat Terakhir untuk Highlander</title><content type='html'>Untuk Bapak, sesepuh tanah tinggi&lt;br /&gt;Caretaker dari kebun setelah lelah jadi direksi.&lt;br /&gt;Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.&lt;br /&gt;Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga,&lt;br /&gt;maka sungguh ia telah beruntung.&lt;br /&gt;Kehidupan dunia ini tidak lain hanyakah kesenangan yang mempedayakan.&lt;br /&gt;Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah&lt;br /&gt;sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ibu, pelaksana kerja tak kenal lelah&lt;br /&gt;Timbunan energi yang akan meledak bila tak disalurkan&lt;br /&gt;Dan merasa sakit-sakitan bila tak bergerak badan.&lt;br /&gt;Masih banyak kerja yang harus dilakukan bukan hanya pada gerak badan&lt;br /&gt;dan urusan-urusan kecil mubazir&lt;br /&gt;Yang sebenarnya tak perlu dilakukan&lt;br /&gt;Seperti memotong ayam dengan pisau jagal sapi&lt;br /&gt;Sehingga ayamnya mati dengan leher putus&lt;br /&gt;Dan tak halal lagi untuk dimakan umat yang percaya akan hal itu.&lt;br /&gt;Duh ibu, tidak kah akan lara hati kita&lt;br /&gt;Melihat anak dan cucu kita memendam duka lara dukana&lt;br /&gt;Di hari raya yang fitrah untuk saling memaafkan lahir dan batin&lt;br /&gt;Harus terusir pulang karena amarah.&lt;br /&gt;Haruskah kita bercermin di air keruh itu lalu meludahi muka sendiri.&lt;br /&gt;Hai jiwa yang tenang …&lt;br /&gt;Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.&lt;br /&gt;Di senja usia yang kian menyeret langkah kita&lt;br /&gt;Mari tegakkan langkah di jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk anak lelaki yang seharusnya jadi panutan orang-orang&lt;br /&gt;Yang bekerja penuh semangat giat&lt;br /&gt;Kian terseret langkah kita di jalan sepi ini&lt;br /&gt;Janganlah kita lakukan perbuatan keji mengundang murka sang Pencipta&lt;br /&gt;Banyak nona-nona rupawan yang bisa tersenyum dengan ikhlas&lt;br /&gt;Tapi mereka tak selalu mau memberi kita senyum secara cuma-cuma&lt;br /&gt;Tuhan mencipta semua yang ada dengan seimbang&lt;br /&gt;Kalau pun ada kelainan, itulah batu ujian yang harus ditempuh dan dilewati&lt;br /&gt;Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:&lt;br /&gt;“Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?&lt;br /&gt;Mari kita coba melangkah lagi, menyusuri jalan yang tak sepi&lt;br /&gt;Banyak teman untuk berusaha mencari bahagia yang diridhai-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk manajer perkebunan, seorang lelaki yang berusaha memberikan kemakmuran pada tanah tinggi&lt;br /&gt;Kita memang bukan robot yang tak kenal lelah&lt;br /&gt;Kita manusia yang butuh makan minum, perhatian dan kasih sayang&lt;br /&gt;Tapi bukan, … bukan karena itu kita harus mundur&lt;br /&gt;Bila tidak kita dapatkan bahagia di hati kita&lt;br /&gt;Kita ini manusia yang sadar punya hati dan cinta,&lt;br /&gt;setelah kenyang diambing ombak kehidupan untuk mencarinya&lt;br /&gt;Akankah kita tinggalkan segala kenyataan yang ada hanya dengan berusaha untuk lupa?&lt;br /&gt;Setelah kita sadar bahwa kita telah lupa&lt;br /&gt;Dan tetap terkungkung di tanah tinggi ini&lt;br /&gt;Pergilah jauh bila memang ingin bebas seperti burung di angkasa&lt;br /&gt;Bila angin terlalu keras, berkepaklah lebih keras&lt;br /&gt;Bebas lepas atau karena kita lupa kita tak pernah belajar terbang dengan keras kita terhempas&lt;br /&gt;Di rumah kita ada kayu-kayu cinta yang telah kering&lt;br /&gt;Jangan biarkan itu tak terkendali membakar rumah tangga&lt;br /&gt;Atau kita membuangnya karena kita memakai kompor saja&lt;br /&gt;Yang suatu waktu bisa meledak dan membakar&lt;br /&gt;Dan meratakan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kerani administrasi,&lt;br /&gt;seorang anak perempuan yang rambutnya selalu tak dikepang&lt;br /&gt;Yang setiap malam menyulut dian asa dan setiap pagi&lt;br /&gt;Mengayun langkah bersimbah peluh&lt;br /&gt;Untuk menggantungkan tinggi-tinggi dian asa yang disulutnya saban malam&lt;br /&gt;Setiap sore&lt;br /&gt;Dengan pena rindu dilukisnya wajah lelaki setengah baya&lt;br /&gt;Di dadanya yang penuh cita ada terselip sebuah desah yang risau&lt;br /&gt;Dan mengapa begitu sukar bagi kita untuk menangkap bentuk resah semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kepala gudang, jejaka tanggung dirundung sepi&lt;br /&gt;Menyimak angka-angka detak hari berlalu dengan setengah hati&lt;br /&gt;Akankah berganti hari-hari sunyi itu bila kita tidak taburi dengan kesabaran&lt;br /&gt;Untuk menempuh pepohonan yang membiru di bukit, di balik emplasemen itu&lt;br /&gt;Senyum senandungmu menyeberang kabut&lt;br /&gt;Di sini, di luar jendela pagi&lt;br /&gt;Dan kau tak perlu teramat sedih karena terlalu sunyi&lt;br /&gt;Karena sunyi itu emasmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Tinggi,  Sukabumi  3 Oktober 1986&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5762800908352991141?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5762800908352991141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5762800908352991141&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5762800908352991141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5762800908352991141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/surat-terakhir-untuk-highlander.html' title='Surat Terakhir untuk Highlander'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5505969194565450769</id><published>2007-11-20T19:33:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T19:36:43.086+07:00</updated><title type='text'>Memoar Ulang Tahun ke-17</title><content type='html'>Telah berusia yang ke tujuh belas&lt;br /&gt;Anak kemarin sore&lt;br /&gt;Yang ingin menyambut pagi …&lt;br /&gt;Seperti memanggul pelangi di pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nobody is braver&lt;br /&gt;Nobody is bolder&lt;br /&gt;No one to make something equal it&lt;br /&gt;He come home as easy as&lt;br /&gt;Swinging the rainbow on his shoulder&lt;br /&gt;and the grass on the mountain top&lt;br /&gt;Stood again,&lt;br /&gt;to see him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Happy anniversary 17th&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampit, 4 Agustus 1982&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5505969194565450769?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5505969194565450769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5505969194565450769&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5505969194565450769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5505969194565450769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/ulang-tahun-ke-17.html' title='Memoar Ulang Tahun ke-17'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-4599788619460609118</id><published>2007-11-17T23:20:00.000+07:00</published><updated>2007-11-17T23:27:29.900+07:00</updated><title type='text'>Rahasia Sukses Kepemimpinan di Perusahaan Perkebunan</title><content type='html'>Oleh:  Iyung Pahan*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I.  Kepemimpinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Organisasi yang hebat hampir selalu memiliki pemimpin yang hebat.  Kepemimpinan telah dan mungkin akan selalu menjadi suatu faktor penting dalam kehidupan manusia.  Kebutuhan akan kepemimpinan yang efektif dan kesulitan dalam menyediakannya menyebabkan kepemimpinan yang efektif menjadi barang langka yang semakin dicari banyak organisasi.  Berdasarkan hasil penelitian Prof. Nohria et al. (2003), seorang CEO memberikan pengaruh 15% dari varian total keuntungan perusahaan atau total pendapatan pemegang saham. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan adalah tindakan-tindakan yang dilakukan untuk menggerakkan sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama dalam minat jangka panjang kelompok-kelompoknya.  Secara lebih spesifik, kepemimpinan adalah tanggung jawab untuk memberikan keputusan yang cepat dan mengikat berdasarkan fakta atau kondisi yang terkait dengan bisnis sehingga energi organisasi dapat disatukan dan manfaat keputusan tersebut meningkat. &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kepemimpinan berbeda dengan aktifitas manajer.  Kalau berbicara manajemen, kita akan berhadapan dengan issue kompleksitas.  Manajemen (pengelolaan) yang baik membawa keteraturan dan konsistensi dengan menggunakan perencanaan yang formal, merancang struktur organisasi yang kaku, dan memonitor hasil dibandingkan dengan rencana.  Kepemimpinan, adalah kebalikannya, yaitu berhadapan dengan masalah perubahan.  Pimpinan memberikan arahan dengan mengembangkan visi masa depan, kemudian membawa orang dengan mengkomunikasikan visi itu dan mengilhami mereka untuk mengatasi halangan-halangan.  Kami melihat bahwa kombinasi praktik kepemimpinan dan manajemen yang kuat sangat dibutuhkan untuk mencapai efektifitas organisasi yang optimum.  Sayangnya, kebanyakan perusahaan perkebunan lemah dalam kepimpinan, dan umumnya sangat berlebihan dalam manajemen.      Manajemen fokus pada benda-benda yang tidak bergerak, sedangkan kepemimpinan fokus pada peningkatan potensi manusia.  Kita tidak bisa mengelola orang untuk berperang.  Kita bisa mengelola benda-benda, tetapi untuk berperang kita harus memimpin orang.  Dalam konteks perusahaan perkebunan yang padat karya, faktor kepemimpinan dan manajemen harus berada dalam kombinasi yang seimbang dan saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II.  Rahasia Sukses Kepemimpinan di Perusahaan Perkebunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Perusahaan perkebunan adalah organisasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan industri secara keseluruhan, yaitu: &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Produk akhir merupakan komoditas (bahan setengah jadi) yang harganya ditentukan oleh mekanisme pasar (supply and demand) dimana produsen tidak memiliki kuasa untuk menentukan harga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sangat dipengaruhi oleh iklim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersifat padat karya dan kebanyakan merupakan tenaga kasar dengan tingkat pendidikan rendah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan areal luas untuk mencapai skala ekonomi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Efektifitas kepemimpinan bagi seorang pemimpin perusahaan perkebunan dicerminkan pada peningkatan hasil (CPO/ha) dengan unit biaya yang rendah sehingga menghasilkan pertumbuhan nilai pemegang saham yang konsisten.  Ketrampilan dan mutu pemimpin akan menentukan sebagian efektifitas kepemimpinannya.  Salah satu hal terpenting bagi seorang pemimpin adalah kemampuannya membangun hubungan dengan seluruh tingkatan human capital organisasi, dan mengilhami seluruh tim manajemen untuk melakukan hal yang sama.  Pemimpin yang menampilkan dirinya sebagai rekan yang sederajat dan bukan sebagai penguasa, akan meningkatkan sikap positif karyawan yang berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Winning formula kepemimpinan dalam konteks perusahaan perkebunan yang kompleks dapat dikelompokkan menjadi 3 aktifitas utama dan 10 prinsip dasar kepemimpinan (3A + 10P), yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aktifitas (3A)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menyusun Agenda, yaitu menciptakan suatu visi dan strategi dengan mempertimbangkan minat logis dari orang-orang yang terlibat dalam perusahaan.  Mungkin banyak agenda yang harus dibuat sesuai dengan prioritas jangka pendek, menengah dan jangka panjang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membangun Jaringan Kerja, yaitu membangun suatu jaringan pelaksanaan yang melibatkan atasan-atasan, teman sekerja, bawahan, dan orang luar untuk melaksanakan strategi.  Satu agenda mungkin saja memerlukan satu jaringan kerja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menciptakan dan menempatkan sekelompok human capital kunci yang bermotivasi tinggi dalam jaringan kerja, yaitu suatu kelompok yang melibatkan diri untuk membuat visi menjadi suatu kenyataan. Kekosongan human capital pada posisi yang ada di dalam jaringan kerja harus segera diisi sehingga tidak terjadi kekosongan kepemimpinan yang dapat menurunkan efektifitas jaringan kerja.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Prinsip Dasar Kepemimpinan (10P)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Punya komitmen total dan jujur secara moral dan material.  Jaga integritas secara mutlak dengan melakukan hal-hal yang benar dan berdiri di garis depan.  Anda bisa memimpin dengan menarik human capital ke depan,  bukan dengan menekan mereka dari belakang.  Keluar dan berdirilah di garis depan supaya anda bisa melihat dan dilihat.  Anda tidak hanya akan tahu apa yang terjadi, tetapi human capital yang mengikuti anda akan tahu bahwa anda punya komitmen.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menguasai teknis pekerjaan secara detail (contoh:  dokter), dan kerjakan tugas sebelum diminta.  Bawahan tidak peduli kalau anda hebat dalam politik kantoran, mereka ingin anda hebat pada saat menyelesaikan pekerjaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bekerja di atas peraturan.  Jika anda tidak mau mengikuti peraturan, tidak akan ada orang yang mau mengikuti anda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan kegiatan sehari-hari sesuai profesi, dan tidak terbawa arus yang diminta orang lain karena jabatannya yang sedang populer/lumayan pada saat itu (misalnya terkait dengan agama, suku, dll).  Jangan terbawa budaya SARA (suku, agama, ras dan antar golongan). Menjalankan syariat agama adalah kewajiban setiap orang, tetapi usahakan jangan menjadi tokoh/pejabat agama.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Komunikatif dengan bawahan serta mempunyai sifat dan bisa bicara sebagai guru (mengajari dan membimbing).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jaga kesehatan dan keseimbangan antara hidup dan pekerjaan.  Semua yang anda buat akan berakhir ketika kesehatan anda terganggu dan dipanggil Tuhan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bekerja spartan dengan bersedia bekerja di mana saja dan tidak dipengaruhi pertimbangan seperti lokasi anak sekolah, istri bekerja, rumah yang sudah dibangun dll.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banyak memberi pemikiran, pendapat, materi dan harapan.  Anda tidak bisa ”sampai ke suatu tempat” sampai anda tahu di mana ”tempat” itu berada, dan biarkan anak buah anda mengetahui tempat itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dukungan keluarga (istri dan anak) sangat membantu keberhasilan kerja.  Untuk staf laki-laki, istri harus bisa juga berperan sebagai pemimpin, dan mengatur keluarga/anak-anaknya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Urus dan perhatikan perencanaan karir anak buah. Jika anda mempedulikan mereka, mereka akan mempedulikan anda.  Jika anda tidak mempedulikan mereka, mereka juga tidak akan mempedulikan anda&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;III.  Referensi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pahan, I.  2004.  Kiat Keberhasilan Bisnis Sepanjang Masa.  Bagaimana human capital Berperan Dalam Meningkatkan Nilai Para Pemegang Saham.  PT Indeks, Kelompok Gramedia.  Jakarta.  320p+xxi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Kotter, J.P.  1990.  What Leaders Really Do.  Harvard Business Review,  May-June:103-111.&lt;br /&gt;_____.  1999.  What Effective General Managers Really Do.  Harvard Business Review, March-April: 1-12.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Nohria, N., W. Joyce, and B. Roberson.  2003.  What Really Works.  Harvard Business Review, July:43-52.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Weiss, R.P.  2002.  Crisis Leadership.  T+D, March:29-33.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-4599788619460609118?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/4599788619460609118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=4599788619460609118&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4599788619460609118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4599788619460609118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/rahasia-sukses-kepemimpinan-di.html' title='Rahasia Sukses Kepemimpinan di Perusahaan Perkebunan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-2982476189379796544</id><published>2007-11-17T22:38:00.000+07:00</published><updated>2007-11-17T22:39:21.839+07:00</updated><title type='text'>Rencana Tuhan Pasti Indah</title><content type='html'>Oleh: Anonymous di Internet*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam  sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan.   Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."  &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil: "Anakku, mari ke sini, dan duduklah di pangkuan ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ibu berkata: "Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah:  "Allah, apa yang Engkau lakukan?" Ia menjawab: "Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah, "Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah menjawab, "Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Suatu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-2982476189379796544?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/2982476189379796544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=2982476189379796544&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2982476189379796544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2982476189379796544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/rencana-tuhan-pasti-indah.html' title='Rencana Tuhan Pasti Indah'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3036736571714852864</id><published>2007-11-17T22:34:00.000+07:00</published><updated>2007-11-17T22:38:02.993+07:00</updated><title type='text'>Kehidupan:  Nafsu untuk Mengejarnya Akan Membuatnya Merana</title><content type='html'>Oleh: Iyung Pahan*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;&lt;em&gt;"Kehidupan adalah diibaratkan sebatang lilin yang terbakar. Setiap saat lilin itu terbakar, harus dimanfaatkan dengan sebaiknya, kerana apabila lilin itu padam, maka tamatlah kehidupan.  Api lilin juga perlu dijaga dengan baik, agar takkan mudah padam. Tidak harus terlalu marak, atau terlalu kecil hingga hampir padam. Api yang terlalu marak akan membakar diri. Api yang terlalu kecil, akan terpadam apabila dihembus angin, biar pun hanya selembut angin lalu.... "&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Roselina Sallehuddin&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://ppi.fsksm.utm.my/staf/roselina/data/penyeliaan.htm"&gt;http://ppi.fsksm.utm.my/staf/roselina/data/penyeliaan.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puan Rosselina mengajarkanku akan pentingnya keseimbangan untuk mencari harmoni dalam kehidupan.  Mengkonsumsi sesuatu terlalu banyak akan menyebabkan tingkat kepuasan yang semakin berkurang, demikian kata the &lt;em&gt;law of diminishing return.&lt;/em&gt;  Suatu substansi yang berlebihan akan menjadi racun, tetapi dalam jumlah yang tepat akan menjadi obat.  Racun yang berbisa akan beralihrupa menjadi obat dalam situasi yang berbeda, sehingga melahirkan konsep racun melawan racun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan hidup dan kehidupan.  Keseimbangan positif (yang) dan negatif (yin) dalam metafisika Tiongkok Kuno tetap relevan denga kondisi kini dan segala kekiniannya.  Tulisan berikut ini adalah halaman persembahan Tesis yang kutuliskan ketika menyelesaikan pendidikan S2 di Program Manajemen dan Bisnis, Sekolah Pascasarjana IPB pada bulan Pebruari 2007:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;A perfect self-existing analytic dagger: &lt;br /&gt;desire to sharpen it will make it dull&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Panah kecerdasan dapat menguasai dunia. &lt;br /&gt;Busur keahlian akan menghaluskan budi dan memberikan pencerahan wawasan. &lt;br /&gt;Dengan menggabungkan panah kecerdasan dan busur keahlian,&lt;br /&gt;Godaan duniawi yang merangsang ego akan dientaskan. &lt;br /&gt;Sehingga ogah dengan kepalsuan, ketidakpedulian, kekasaran, dan inkompetensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumpuh oleh analisis adalah si peragu yang selalu menanti keputusan sempurna.&lt;br /&gt;Tembak dulu – urusan lain belakangan, adalah si sembrono yang membuat kesimpulan tanpa dukungan fakta yang memadai.&lt;br /&gt;Pisau analisis yang sempurna adalah keseimbangan antara nafsu mengasahnya dan kekhawatiran membuatnya susut.&lt;br /&gt;Aliansi industri minyak kelapa sawit Indonesia dan Malaysia adalah transformasi aliansi transaksional menjadi aliansi strategis yang harus seimbang antara keinginan melakukannya dengan cita-cita keuntungan ekonomi bersama yang ingin digapai.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkannya diperlukan kadar kepercayaan dan tata kelola tertentu yang dikaji secara akademis dengan analisis persepsi stakeholders yang berimbang.&lt;br /&gt;Dalam aras penelitian selalu ada ruang untuk pembenaran-baru karena tidak ada kebenaran yang absolut.&lt;br /&gt;Tanyakan itu kepada Galileo Galilei, Isaac Newton dan Albert Enstein!&lt;br /&gt;Jangan pernah menyerah kepada apapun dan siapapun.&lt;br /&gt;Dalam  perumusan visi yang kita namakan visi kehidupan, tidak ada manusia yang selalu kalah. &lt;br /&gt;Kalaupun kita kalah, kita diberikan kesempatan untuk mencari kemenangan selanjutnya.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi ketakutan, diperlukan pengalaman rasa takut.&lt;br /&gt;Esensi dari kepengecutan adalah tidak mengakui adanya rasa takut. &lt;br /&gt;Rasa takut bisa muncul dalam berbagai wujud. &lt;br /&gt;Kita takut mati, takut tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup, takut tidak lulus ujian dan panik ketika situasi berubah. &lt;br /&gt;Kita harus menyadari ketakutan kita dan berdamai dengan rasa takut itu. &lt;br /&gt;Karena dengan mengakui keberadaannya, kita akan mampu mengatasinya.&lt;br /&gt;Dengan segala rasa takut dan kerendahan hati, kupersembahkan hasil penelitian ini kepada bangsa dan negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Iyung Pahan&lt;br /&gt;Lahir di Sampit – Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3036736571714852864?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3036736571714852864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3036736571714852864&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3036736571714852864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3036736571714852864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/kehidupan-nafsu-untuk-mengejarnya-akan.html' title='Kehidupan:  Nafsu untuk Mengejarnya Akan Membuatnya Merana'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-7728513937658075580</id><published>2007-11-17T22:31:00.000+07:00</published><updated>2007-11-17T22:33:44.666+07:00</updated><title type='text'>Semenit Saja</title><content type='html'>Oleh: Reina R. Natamihardja.*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan! &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar/teman tanpa harus berpikir panjang-panjang. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa. Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid.&lt;br /&gt;Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih kurasa kurang harta benda yang ada disekelilingku, hari ini kuputuskan untuk mendermakan uangku Rp 150.000,-/bulan untuk Yayasan Jantung Indonesia selama dua tahun. Dan baru kali inilah MasterCard membantuku untuk ikhlas beramal, dibalik segala hedonisme yang diusungnya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Seorang teman di Dekopin Pusat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-7728513937658075580?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/7728513937658075580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=7728513937658075580&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/7728513937658075580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/7728513937658075580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/semenit-saja.html' title='Semenit Saja'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-6395013792915189623</id><published>2007-11-17T22:28:00.000+07:00</published><updated>2007-11-17T22:31:23.665+07:00</updated><title type='text'>Perkawinan</title><content type='html'>Oleh: Sari L.P.*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu Hari Plato bertanya pada gurunya: Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gurunya menjawab: Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu ranting saja. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu sudah menemukan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Platopun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong tanpa membawa apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gurunya bertanya, Mengapa kamu tidak membawa satu rantingpun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plato menjawab, Aku hanya boleh membawa satu saja, dan pada saat berjalan tidak boleh mundur (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tidak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tidak kuambil ranting tersebut. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tidak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Gurunya kemudian menjawab: Jadi ya itulah Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya: Apa itu perkawinan, bagaimana aku bisa menemukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gurunyapun menjawab: Ada sebuah hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menolah), dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Platopun menjawab, sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajahi setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini dan kurasa tidak buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;Gurunyapun menjawab, Dan ya itulah perkawinan. Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak dapat ditemukan. Cinta adanya didalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan Tiada sesuatu apapun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah Cinta apa adanya. Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya. Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Dari email seorang teman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-6395013792915189623?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/6395013792915189623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=6395013792915189623&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/6395013792915189623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/6395013792915189623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/perkawinan.html' title='Perkawinan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3411449061715885958</id><published>2007-11-01T22:10:00.000+07:00</published><updated>2007-11-17T22:27:48.198+07:00</updated><title type='text'>Ada Apa Denganmu?</title><content type='html'>Ada apa denganmu?  Ada apa dengan prana?  Kalau hawa kehidupan telah terguncang, maka kehidupan itu pun pasti terguncang.  Demikianlah kalam yang terjadi dalam suatu pengantar jalan hening.  Karena tak ada keramaian di jalan hening, maka terciptalah nyanyi sunyi seorang diri. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Diri, hai... diri siapakah ini?  Ada apa denganmu?  Mengapa kamu demikian kelu ketika melihat seorang presiden yang bertemu dua kali dengan menterinya yang sakit dan dalam masa pemulihan, seakan belum cukup basa-basi politik itu untuk mengharu biru perasaanmu berkali-kali.  Laksana gempa Bengkulu yang melepaskan energi perusak berkali-kali, demikianlah keguncangan prana dalam gua garba.  Penerjemahan kondisi pelepasan energi yang terjadi karena cekaman lempeng-lempeng bumi yang saling bersitegang, tiba-tiba menemukan jalan untuk menjadi lurus kembali dengan keadaan semula, ternyata harus menimbulkan kerusakan-kerusakan yang cukup marah di muka bumi. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kemudian setelah hari demi hari berlalu dan menguap laksana uap air dalam siklus hidro-orologis, demikianlah uap air terperangkap di puncak gunung dan turun menjadi hujan yang membasahi bumi manusia.  Aku tidak terlalu sunyi tetapi menjadi sendu, dan akhirnya bukannya perpisahan yang kusesali, tetapi perjumpaan yang kusesali.  Tak perlu kalkulator untuk menentukan kadar kerelaan hati, cukup katakan ya atau tidak.  Jangan mengatakan ya kalau ingin mengatakan tidak.  Cukuplah tidak bila tidak.  Dan sekali ini adalah tidak untuk selamanya. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Hari ini Julia Perez (Jupe, jangan dibalik) berumur 35 tahun tetapi masih bergoyang pakai sutra bang.  Realita ini membuat aku terjengkang dari perspektif gaya ngebor atau patah-patah, dan akhirnya jadi patah beneran.  Sayangnya Jupe nggak sadar kalau lagi hamil muda, akibat digoyang dengan sutra akhirnya jatuh seperti flamboyan.  Senja itu, sang dara keguguran, berjatuhan, berserakan.  Sama seperi psikologisku dengan prana.  Cukup sampai disini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3411449061715885958?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3411449061715885958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3411449061715885958&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3411449061715885958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3411449061715885958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/11/ada-apa-denganmu.html' title='Ada Apa Denganmu?'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3303574419865012986</id><published>2007-07-05T01:05:00.000+07:00</published><updated>2007-07-05T01:26:39.275+07:00</updated><title type='text'>Pelatihan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Dikutip dari&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Iyung Pahan. 2004. Kiat Keberhasilan Bisnis Sepanjang Masa. Penerbit Indeks, Kelompok Gramedia. Jakarta.&lt;/strong&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Tujuan managemen adalah membantu organisasi mencapai targetnya. Prosedur yang terbaik adalah dengan menentukan sasaran yang harus dicapai, dan kemudian memikirkan kombinasi human capital, mesin, dan proses yang akan digunakan untuk mencapai sasaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Sebagai seorang manager, anda menyadari bahwa hal itu harus dilakukan dengan benar sejak pertama kali ketimbang anda harus membayar akibatnya di belakang hari. Pelatih yang baik akan bertindak seperti itu juga. Anda mungkin bisa mengatakan bahwa pelatih sekarang ini menggunakan penalaran yang sama dengan para manager. Pertama, pelatih memutuskan hasil-hasil yang ingin dicapai, dan kemudian mereka memutuskan bagaimana cara mencapainya. Perencanaan sebelum bertindak. Ini tidak hanya sekedar kerangka kerja yang penting, tetapi lebih dari itu. Banyak alat-alat hebat yang bisa memberikan kinerja lebih cepat dan lebih murah dari pada pelatihan. Jenis kekuatan kinerja ini bukanlah sesuatu yang bisa kita pelajari di sekolah. Ini benar-benar murni minat terbaik anda untuk mengetahui sesuatu tentang bagaimana mendapatkan dan menggunakannya. Jadi, untuk membuat penggunaan pelatihan dan alat-alat non pelatihan secara murah meriah, anda harus mengetahui :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Apa yang membuat kinerja yang diharapkan itu terjadi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana meyakinkan diri kita bahwa anda akan mendapatkan pelatihan dan/atau pelayanan lain yang dibutuhkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana memutuskan kapan harus melakukan pelatihan, dan kapan harus melakukan hal yang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana berurusan dengan pelatih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana mendapat nilai penuh – yaitu memastikan bahwa human capital anda tidak kehilangan ketrampilan yang telah diajarkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana anda melakukannya sendiri.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Banyak tenaga yang harus dicurahkan untuk melakukan investasi kecil yang ingin kita lakukan. Tetapi ini menjadi hal yang kritis ketika kita ingin mendapatkan kinerja terbaik yang masih mungkin diberikan human capital kita, dengan harga yang masih bisa dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Permainan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda tidak tahu nama permainannya, anda akan tersedot sampai tandas dan pulang dengan kantong kandas. Anda dapat terlena dan percaya bahwa anda mendapat pelayanan yang bermanfaat ketika fakta berbicara bahwa pelayanan itu hanya memberikan sedikit atau tidak memberikan manfaat apapun bagi anda. Dan nama dari permainan ini bukanlah pelatihan. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Tapi kalau bukan pelatihan, apa pula itu? Mungkin lebih baik saya jelaskan dengan cara yang lebih gamblang. Jika anda bekerja di pabrik, paling tidak anda memiliki seorang bagian perawatan yang bertanggung jawab menjaga mesin dan peralatan tetap bekerja dengan baik. Ketika salah satu mesin mati, orang perawatan segera dipanggil untuk memecahkan masalah dan membuat perbaikan yang diperlukan. Walaupun perawatan merupakan fungsi yang penting terhadap keberhasilan organisasi, perawatan itu sendiri bukanlah tujuan organisasi. Walaupun perawatan dibutuhkan untuk mendukung tujuan organisasi, perawatan adalah sesuatu yang kita lakukan karena kita memang harus melakukannya. Itulah inti permasalahannya, kita menggaji satu atau beberapa orang yang baik dalam memutuskan kapan dan apa jenis perawatan yang dibutuhkan.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Kebenaran yang sama juga berlaku untuk pelayanan-pelayanan yang lain. Kita memberikan pelayanan kesehatan untuk orang yang membutuhkannya. Tujuan perusahaan bukanlah menempelkan plester luka pada setiap orang karena kita mempunyai bagian pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan, seperti akunting dan bagian keamanan, adalah cara untuk mencapai tujuan, tetapi ia sendiri bukanlah tujuan itu.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Pelatihan juga merupakan upaya untuk mencapai tujuan, tetapi pelatihan itu sendiri bukanlah tujuan organisasi. Tujuan organisasi ini bukanlah untuk melatih human capital karena semata-mata kita mempunyai departemen pelatihan. Jika anda bisa merekrut orang yang mampu dan mau melakukan apa yang diharapkan dari mereka, anda tidak perlu para pelatih. Tetapi pelatihan tidak bekerja dengan cara demikian. Bahkan jika anda mempunyai staf yang sangat kompeten sekalipun, dunia anda berubah. Pekerjaan-pekerjaan berubah, tugas-tugas berubah, visi dan strategi organisasi juga mungkin berubah. Artinya, seseorang harus menolong organisasi untuk mengembangkan ketrampilan baru. Secara singkat bisa dikatakan : Jika organisasi anda mempunyai orang pada bagian hubungan investor, seseorang harus memastikan bahwa mereka memiliki ketrampilan yang dibutuhkan. Seseorang harus melatih mereka. Tentu saja dengan persyaratan si human capital tidak tahu bagaimana mengerjakan tugas-tugas yang harus dikerjakannya. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;Aturan Pelatihan #1 :&lt;/strong&gt; Pelatihan hanya dibutuhkan ketika ada dua kondisi yang terpenuhi:(1) Ada sesuatu yang harus dikerjakan oleh human capital tetapi mereka tidak tahu cara melakukannya, dan (2) Mereka ingin untuk dapat melakukannya&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;p&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;Aturan Pelatihan #2 :&lt;/strong&gt; Jika mereka sudah tahu cara mengerjakannya, maka pelatihan tidak akan membantu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;p&gt;&lt;/em&gt;Pelatihan bukanlah karena semata-mata perusahaan harus melakukannya, atau karena kelihatannya merupakan hal yang baik di mata karyawan, atau karena seseorang berpikir bahwa “pengembangan karyawan” selalu identik dengan pelatihan, atau karena mereka ingin menghargai orang dengan mengirimkannya mengikuti pelatihan di tempat yang eksotik, atau karena ide seseorang bahwa akreditisasi dihitung berdasarkan jumlah jam di kelas ketimbang pada ketrampilan. Pelatihan dibenarkan hanya ketika ada sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh human capital, dan mereka membutuhkan bantuan untuk meningkatkan kinerjanya. Pelatihan yang dilakukan untuk alasan-alasan diluar itu adalah suatu kecurangan atau kemewahan atau kedua-duanya.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Jika pelatihan hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan, apakah tujuan yang harus dicapai ? Jawabannya adalah kinerja. Untuk memberikan andil bagi keberhasilan organisasi, kita memerlukan human capital melakukan pekerjaannya dengan baik. Kalau mereka tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan baik, mereka tidak dapat membantu organisasi mencapai sasarannya. Bagian produksi tidak dapat membuat produk, bagian pemasaran tidak bisa menjual, dan produk-produk baru tidak bisa diluncurkan. Jika human capital tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, tidak perduli seberapa banyak yang mereka ketahui, maka kapal organisasi ini akan bocor dan tenggelam. Oleh karena itu, nama permainan ini adalah melicinkan jalan mencapai kemampuan menghasilkan kinerja, karena melalui kinerja human capital lah sasaran organisasi dapat dicapai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketrampilan Saja Tidak Cukup&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata kunci disini adalah mengerjakan. Tidak perduli apakah seseorang sangat pintar atau berketrampilan hebat, jika orang itu tidak melakukan apapun maka orang itu tidak mencapai kinerja. Dengan kata lain, pengetahuan mungkin tidak memberikan nilai sama sekali, karena tanpa ada yang mengerjakan berarti tak ada hasil dan jelas-jelas organisasinya gagal.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Pelatihan selalu mutlak diperlukan ketika human capital ingin mengetahui apa yang belum mereka ketahui. Walaupun demikian, kinerja membutuhkan lebih dari sekedar ketrampilan.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Aturan Pelatihan #3:&lt;/strong&gt; Ketrampilan saja tidak cukup untuk menjamin kinerja yang baik.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Fasilitasi kinerja adalah usaha bersama. Seorang ahli bedah sendirian tidak dapat mengoperasi dan menjamin kesehatan pasiennya, dan sebuah biola sendirian saja tidak bisa menciptakan suara orkestra, seorang pelatih sendirian saja tidak dapat menjamin kinerja pekerjaan human capital yang dilatihnya.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Menurut Mager (1999), kinerja pekerjaan yang berhasil membutuhkan 4 kondisi yang harus ada, yaitu: (1) Ketrampilan, (2) Kesempatan untuk membuat kinerja, (3) Kemampuan diri, dan (4) Lingkungan yang mendukung.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketrampilan.&lt;/strong&gt; Jika human capital tidak tahu bagaimana mengerjakannya, mereka tidak akan mampu mengerjakannya. Tidak ada insentif atau tekanan atau ancaman yang bisa membuat mereka mengerjakannya. Tidak ada ketrampilan berarti tidak ada kinerja.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Jika mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya, dan jika mereka berkeinginan untuk dapat mengerjakannya, maka akan diperlukan seseorang untuk mengajari mereka melakukannya. Tetapi ketrampilan tidak dibentuk dengan semata-mata mendengarkan seseorang menerangkan bagaimana cara mencapai kinerja. Ketrampilan dibentuk dan diperkuat melalui latihan, melalui pekerjaan nyata yang dikerjakan untuk menyelesaikan tugas-tugas kerja. Hal ini mencakup “pekerjaan mental” dan pekerjaan fisik. Jika peserta pelatihan tidak mengikuti petunjuk pemikiran mengikuti langkah-langkah prosedur, ada kecenderungan mereka mengabaikan dan hanya menggunakannya ketika menghadapi masalah yang timbul. Jika peserta pelatihan tidak mempraktekkan tugas-tugas yang harus dipelajari – seperti menulis laporan, membuat strategi atau melakukan presentasi – adalah tidak masuk akal untuk mengharapkan mereka dapat menghasilkan kinerja seperti yang diinginkan organisasi. Ketrampilan terutama dibentuk melalui praktek dan melalui penerimaan informasi yang segera (umpan balik) tentang mutu kinerja yang dilatih.&lt;br /&gt;Kesempatan untuk membuat kinerja. Tanpa ada kesempatan untuk membuat kinerja, berarti tidak akan ada kinerja. Kesempatan berarti mendapatkan hal-hal sbb.:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Izin (atau otoritas) untuk membuat kinerja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Informasi tentang harapan-harapan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alat kerja dan peralatan yang dibutuhkan untuk menghasilkan kinerja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebuah tempat untuk membuat kinerja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Waktu untuk membuat kinerja.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Jika anda diangkat menjadi pemain gitar tetapi tidak mempunyai gitar, anda tidak akan bisa memainkan gitar secara solo. Tidak ada gitar, tidak ada kinerja. Dengan menggunakan analogi yang sama, jika anda memiliki sebuah gitar tetapi tinggal di lingkungan dimana gitar dan alat musik dilarang untuk dimainkan, anda tidak akan bisa menghasilkan kinerja (karena menghadapi resiko ditangkap polisi yang anti musik). Jika anda tidak memiliki alat untuk melakukan pekerjaan, atau tempat untuk melakukannya, anda tidak akan bisa menghasilkan kinerja. Tidak ada kesempatan, tidak ada kinerja.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Tetapi lebih dari itu, karena kesempatan untuk menghasilkan kinerja saja tidak cukup. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;Aturan Pelatihan #4:&lt;/strong&gt; Anda tidak bisa menyimpan pelatihan!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;p&gt;&lt;/em&gt;Atau dalam bahasa pelatih, gunakan atau buang. Tidak seperti anggur yang baik, ketrampilan tidak dapat meningkat seiring berjalannya waktu. Ingat mata kuliah yang anda ambil sewaktu di Universitas. Apakah anda tetap ingat materinya seperti waktu anda menyelesaikan pelajaran saat itu? Tidak? Mengapa? Anda banyak melupakan informasi atau ketrampilan karena tidak anda gunakan – karena anda tidak mempraktekkannya.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Anda dapat berpikir bahwa pelatihan bisa dianalogikan dengan sebuah gentong bocor yang diisi dengan air. Kecuali anda tetap mengisi gentong tersebut, maka gentong itu akan kering. Kecuali mempelajari dan melatih ketrampilan anda, ketrampilan itu akan menghilang. Gunakan ketrampilan atau buang ketrampilan itu. Artinya human capital tidak hanya membutuhkan kesempatan untuk membuat kinerja dengan ketrampilan baru, tetapi juga alasan untuk melatih ketrampilannya – tidak hanya 6 bulan atau 1 tahun sejak mereka mempelajarinya, tetapi seumur hidupnya. Jika mereka hanya menggunakan ketrampilannya selama 6 bulan, merupakan suatu kemubajiran untuk kelak melatih mereka lagi. Semakin pendek jarak antara pembelajaran dengan penerapannya, semakin banyak ketrampilan yang dibutuhkan akan tersedia pada saat yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, pelatihan dibuat sebelum orang mempunyai kesempatan untuk menggunakan ketrampilan barunya.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Saya ingat ketika menguji kinerja seorang trainee Asisten Kebun. Kinerja trainee Asisten Kebun ini pada saat &lt;em&gt;on the job training&lt;/em&gt; sangat jelek dan bahkan bisa dikatakan tidak ada, padahal dia telah menyelesaikan pelatihan reguler Asisten Kebun di Pusat Pelatihan selama 4 bulan. Ketika Manager Pelatihan menemukan hasil ujian lapangannya, mereka melakukan percakapan sbb.:&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Manager: Bukankah anda mendapatkan nilai teori yang baik selama mengikuti pelatihan Asisten Kebun di Pusat Pelatihan?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Trainee: Ya, Pak. Ranking 2.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manager: Berapa lama anda melakukan on the job training di kebun ini?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Trainee: Sekitar dua bulan, Pak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manager: (sambil mengerutkan kening) Baik! Apa yang sudah kamu kerjakan selama waktu itu?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Trainee: Bekerja mengawasi pekerjaan timbun jalan, Pak.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Trainee yang malang ini bahkan tidak mendapat kesempatan untuk melakukan tugas Asisten Kebun selama 2 bulan sejak meninggalkan Pusat Pelatihan, sampai hanya 1 atau 2 hari sebelum team penguji datang. Apakah ada pertanyaan mengapa dia menderita? Jawabannya adalah karena dia tidak mempunyai kesempatan untuk menghasilkan kinerja. Gunakan ketrampilan atau buang saja ketrampilan anda.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kemampuan Diri.&lt;/strong&gt; Kemampuan diri merujuk pada penilaian yang dibuat orang tentang kemampuan untuk melaksanakan sejumlah tindakan – mengenai kemampuan mereka melakukan hal-hal yang khusus. Sebagai contoh, “Saya tahu saya seorang pegolf yang baik;” “Saya tahu ketrampilan bermain anggar saya adalah yang terbaik di kota ini.”&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Kemampuan diri tidak berbicara tentang ketrampilan aktual yang dimiliki seseorang ; Ini lebih merupakan penilaian yang dibuat untuk menunjukkan kekuatan ketrampilan tersebut. Orang dengan kemampuan diri yang rendah, tidak percaya bahwa mereka mampu melakukan sesuatu yang sebenarnya dapat mereka lakukan. “Saya tidak menerima tawaran pekerjaan itu karena saya pikir saya tidak cukup baik.”&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Jangan mencampuradukkan kemampuan diri dengan kepercayaan diri, itu adalah dua binatang yang berbeda. Kepercayaan diri lebih banyak digeneralisasikan sebagai jalan yang merujuk pada perasaan seseorang, dan umumnya merujuk pada hasil yang diharapkan dalam suatu tindakan. Misalnya: Saya tahu bahwa saya adalah seorang pegolf yang baik; handicap saya adalah 3 (kemampuan diri), tetapi saya tidak yakin kalau saya bisa memenangkan permainan ini (kepercayaan diri).&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Mengapa kemampuan diri begitu penting? Ketika human capital tidak menilai dirinya sendiri dalam melakukan sesuatu yang sebenarnya dapat mereka lakukan, pada kenyataannya mereka mungkin tidak mau mencoba melakukannya. Mereka menghindarinya, walaupun sebenarnya ketrampilan mereka sangat hebat. Jika orang memiliki ketrampilan yang dibutuhkan, tetapi tidak memiliki kemampuan diri, mereka tidak akan mampu menghasilkan kinerja dari ketrampilan yang mereka miliki. Tidak ada kemampuan diri, tidak ada kinerja.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Human capital dengan kemampuan diri yang kuat tidak hanya mau mencoba, mereka juga akan mati-matian menghadapi hadangan, kegagalan, atau kesulitan. Mereka tidak akan mudah menyerah menghadapi kesulitan. Dengan demikian, kemampuan diri yang kuat membuat human capital tahan terhadap lingkungan pekerjaan yang sering kali tidak mendukung. Untuk mendapatkan human capital yang mau “mencoba, dan mencoba lagi” pada saat menghadapi kesulitan atau kegagalan, pastikan anda (dan siapapun yang melatih orang lain) untuk menerapkan teknik penguatan kemampuan diri.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Sayangnya, pengembangan ketrampilan tidak secara otomatis meningkatkan kemampuan diri yang kuat. Anda mungkin bisa mengingat orang yang memiliki ketrampilan hebat tetapi tidak percaya bahwa dia memiliki ketrampilan itu. Anda mungkin melihat orang yang bersembunyi di belakang karena kekurangan kemampuan diri ketimbang kekurangan ketrampilan.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Memperkuat kemampuan diri membutuhkan pengetahuan atau ketrampilan tambahan dengan latihan “membangun kepercayaan” seperti panjat tebing atau arung jeram. Kemampuan diri diperkuat melalui pengaturan dengan hati-hati pada kondisi yang terkait dengan pembelajaran dan konsekuensi yang mengikutinya. Jika tidak ada latihan ketrampilan, tentu hanya ada sedikit keyakinan bahwa kita telah memiliki ketrampilan itu. Tetapi latihan saja tidak cukup. Latihan harus dirancang untuk memberikan konsekuensi positif, seperti serangkaian keberhasilan, atau komentar yang memuji kinerja daripada sekedar membiarkannya hilang begitu saja. Lingkungan yang diatur ini harus memberikan kesempatan untuk menilai tingkat kompetensi mereka. Pelatihan harus direkayasa sehingga trainee belajar memberikan kredit keberhasilannya terhadap kinerja, dari pada membiarkan dirinya percaya ini disebabkan oleh faktor lain atau kebetulan semata.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Ketika kita masih kecil dahulu, sering kali kita mendengar kata-kata seperti: “Apa kamu pikir kamu bisa melakukannya?” dan “Kamu bukan siapa-siapa selain si pemalas yang tidak melakukan apa-apa” dan “Inikah hal terbaik yang bisa kamu lakukan?” dan “Kenapa hanya dapat angka delapan?” Anak-anak diajarkan untuk tidak hanya mempercayai bahwa ketrampilan mereka tidak cukup tetapi juga diri mereka sendiri tidak berguna. Kehidupan kita bisa hancur karena perlakuan seperti ini. Dan ketika kita dikecilkan oleh atasan sewaktu mencoba mendemonstrasikan ketrampilan, kemampuan diri kita pelan-pelan akan menciut. Kepercayaan seseorang dalam kemampuan dirinya untuk menghasilkan kinerja akan hancur ketika menghadapi kegagalan, bahkan kegagalan yang kecil sekalipun. Tidak ada kemampuan diri, tidak ada kinerja.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lingkungan yang Mendukung&lt;/strong&gt;. Anggap saja setiap hari anda duduk menekuni dan berpedoman pada anggaran, boss anda masuk dan memukul kepala dan pundak anda dengan segulung surat kabar, serta menyemprot anda dengan kata-kata mutiara yang menyakitkan. Berapa lama anda akan terus bekerja dengan anggaran? Atau, anggap saja anda dipermalukan oleh rekan anda setiap anda memberi saran pada saat rapat. Berapa lama anda akan terus memberikan saran? Atau, anggap saja setiap tahun realisasi biaya anda yang di bawah anggaran, akan menyebabkan anggaran tahun depan anda dipangkas. Berapa lama anda akan menjaga biaya anda di bawah anggaran? Tidak ada lingkungan yang mendukung, tidak ada kinerja.Ada fakta bahwa orang belajar untuk menghilangkan hal-hal yang menyakitkan dirinya. Tidak perduli seberapa cepat atau seberapa penting tugas, jika orang merasa dihukum karena melakukan tugas perusahaan, mereka akan segera berhenti melakukan tugas itu. Misalnya, jika anda ingin orang menceritakan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu, anda harus memastikan bahwa mereka tidak diperlakukan seperti utusan yang ditembak karena membawa berita jelek. Jika anda menginginkan mereka melaporkan praktek-praktek yang berbahaya, anda harus memastikan bahwa mereka tidak diperlakukan sebagai “penderita kusta” atau kaum paria.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Lingkungan yang mendukung adalah salah satu hal yang meningkatkan kinerja yang diinginkan dan mengurangi kinerja yang tidak diinginkan. Ini adalah sebuah lingkungan dimana para human capital memberikan alasan (insentif) untuk menghasilkan kinerja dengan cara yang diinginkan, sebuah deskripsi yang jelas tentang hasil yang diinginkan dan standar yang harus dipenuhi. Ini adalah sebuah lingkungan dimana para human capital di dunia pekerja mendapat cahaya lebih terang ketika melakukan pekerjaanya dengan baik, dan menjadi sedikit suram ketika sebaliknya.Kinerja membutuhkan kehadiran ketrampilan, kesempatan untuk menghasilkan kinerja, kemampuan diri, dan lingkungan yang mendukung. Kehilangan salah satu unsur ini akan menyebabkan kinerja turun, atau bisa jadi tidak akan pernah muncul sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kebenaran yang Tak Dapat Disangkal&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;Aturan Pelatihan #5:&lt;/strong&gt; Pelatih dapat menjamin ketrampilan, tetapi mereka tidak bisa menjamin kinerja pekerjaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;p&gt;&lt;/em&gt;Tanggung jawab pelatih adalah mengajari human capital apa yang ingin mereka ketahui dan kerjakan, dan memperkuat kemampuan mereka dalam kepercayaan mereka untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan visi dan strategi organisasi.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Pelatih hanya bisa memberikan ketrampilan dan kemampuan diri. Hanya para manager yang bisa menyediakan kesempatan untuk membuat kinerja dan lingkungan yang mendukung. Semuanya ini, pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi. Suka atau tidak suka, anda sebagai manager adalah pemain kunci dalam permainan kinerja ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;Aturan Pelatihan #6:&lt;/strong&gt; Hanya para manager, bukan pelatih, yang dapat bertanggung-gugat (accountable) terhadap kinerja di pekerjaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;p&gt;&lt;/em&gt;Inilah alasan mengapa anda tidak dapat hanya sekedar mengatakan kepada pelatih untuk “melatih mereka” dan mengharapkan ketrampilan akan menjelma menjadi kinerja yang secara ajaib muncul di pekerjaan. Jika kinerja yang jelek disebabkan oleh tidak adanya ketrampilan dan kemampuan diri, maka ini adalah kesalahan para pelatih. Tetapi jika kinerja jelek ini disebabkan oleh tidak adanya kesempatan untuk menghasilkan kinerja, atau oleh lingkungan yang tidak merangsang dan mendukung kinerja yang baik, anda tidak bisa menimpakan kesalahan ini kepada para pelatih. Dalam kasus ini, anda sebagai manager lah yang harus disalahkan.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Pelatihan bukanlah satu-satunya cara untuk mendapatkan kinerja yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Peralatan-peralatan lain banyak tersedia, dan banyak di antaranya membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk dijalankan, dengan biaya yang lebih murah dari pada menggunakan metode pelatihan. Kebutuhan untuk menghasilkan kinerja tidak hanya membuat kita lebih bijak dalam memilih program pelatihan, tetapi juga memilih alat-alat lain untuk meningkatkan kinerja tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3303574419865012986?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3303574419865012986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3303574419865012986&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3303574419865012986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3303574419865012986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/pelatihan.html' title='Pelatihan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5492122624247113556</id><published>2007-07-05T00:38:00.000+07:00</published><updated>2007-07-05T00:57:08.592+07:00</updated><title type='text'>Iyung Pahan's Travelling Note #7:  Pentingnya Komunikasi</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;Segala sesuatu, yang sulit adalah memulainya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- Miyamoto Musashi (1645)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Siapa yang PEDULI akan menang, &lt;em&gt;Who care win&lt;/em&gt;. Itulah yang dikatakan oleh mantan atasanku Rudyan Kopot dalam suatu kesempatan sekian tahun yang lalu. Cuma saja, kemenangan itu mungkin tidak datang begitu saja … ujug-ujug menjelma jadi sosok cantik seperti Bella Saphira yang dituntut oleh salah satu Pub di Surabaya karena mencemarkan reputasi mereka … sebab si Bella tidak bisa manggung karena sedang berhalangan alias sakit. Malangnya, si Cantik didakwa ingkar janji dan wan prestasi karena tidak bisa menunjukkan surat keterangan sakit dari dokter yang bisa menerangkan ikhwal sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;Lalu, kenapa harus ke pengadilan? Bukankah semuanya bisa “diatur” dan dikomunikasikan sehingga Bella bisa manggung setelah itu? Ternyata banyak hal yang harus disadari bersama, bahwa kepedulian dan komunikasi yang baik itu memang sangat dibutuhkan oleh semua orang.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Saya percaya bahwa level manajemen dan penyelia merupakan mereka yang paling kritis dalam menciptakan kondisi positif yang memotivasi para staf. Kalau anda melihat manusia dan alam sekitarnya, pada hampir setiap organisasi apapun, pada jaman apapun, anda akan melihat banyak orang yang dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi, tetapi mereka tidak mempunyai ide bagaimana melakukan pekerjaannya. Sebagai contoh, kita mengetahui bahwa ada Manager di banyak organisasi yang menyelesaikan suatu pekerjaan (&lt;em&gt;who get things done&lt;/em&gt;) dengan merendahkan dan memanipulasi orang lain, umumnya secara kotor dan kasar. Mereka memperlakukan para bawahan-nya sebagai musuh. Mereka berbohong kepada para karyawan dan tidak berpikir bisa menarik keuntungan apapun dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;Ya, kadang-kadang mereka berhasil dalam pekerjaannya, tetapi mereka tidak menciptakan kondisi yang positif. Tidak ada hubungan batin yang diciptakan, dan sangat sedikit orang yang merasa enak dengan apa yang telah mereka kerjakan. Para Manager itu bisa menyuruh orang melakukan sesuatu, tetapi mereka tidak tahu bagaimana memimpinnya. Jika anda bisa memimpin, anda dapat membantu tim anda menyelesaikan hal-hal yang hebat, dengan pekerjaan dan stress yang lebih ringan, dengan lebih banyak kegembiraan dan kemungkinan untuk tumbuh dan belajar bersama. Bicaralah tentang kesempatan untuk sama-sama menang (&lt;em&gt;win-win opportunity&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p align="left"&gt;Beterimakasihlah, bahwa kita masih memiliki karyawan yang melakukan pekerjaannya dengan baik dan jujur ditengah-tengah situasi yang semakin banyak “godaan.” Orang-orang ini tetap diharapkan melakukan pekerjaannya, tetapi mereka juga mengharapkan diperlakukan dengan pantas. Sama seperti yang dikatakan Ibu kita dahulu, … kita bisa menangkap lebih banyak lalat dengan madu dari pada dengan cuka. Kita perlu menggunakan konsep yang sama untuk karyawan kita. Sekali lagi, siapa yang peduli, dialah yang akan menang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memahami Karyawan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Model yang paling sederhana untuk memahami karyawan adalah model interaksi manusia dan bisnis (&lt;em&gt;Human-Business Model&lt;/em&gt;), yaitu melihat pada sisi manusia dan sisi bisnis. Model ini mewakili setiap interaksi kita dengan siapa saja. Dalam setiap interaksi ada 2 sisi yang berperan: sisi bisnis, yaitu apa yang diinginkan orang dari kita, dan sisi manusia, yaitu semua hal yang kita rasakan selama interaksi tersebut. Pertanyaan favorit yang biasanya diajukan untuk membuktikan model ini adalah:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Apa yang anda rasakan ketika dokter yang merawat anda hanya melihat sisi bisnis saja? Bagaimana perasaan anda?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah anda pernah bekerja dengan seorang Manager yang hanya berinteraksi dengan anda pada sisi bisnis saja? Apakah anda memberikan hasil kerja yang terbaik untuk orang itu?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Adalah benar apa yang dikatakan oleh Charles Reade, … &lt;strong&gt;ketika cinta dan keahlian bekerja sama, maka akan lahir suatu maha karya&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;when love and skill work together, expect a masterpiece&lt;/em&gt;). Anda bisa melihat itu menjelma jadi suatu kenyataan di komunitas Ubud di Bali. Sebuah konsep &lt;em&gt;nature &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;nurture&lt;/em&gt; dalam karya seni dan pariwisata yang berkelanjutan, walaupun kadang sang seniman tidak tega menjual karyanya secara “murah”, sementara di sisi lainnya dia perlu penghasilan untuk menghidupi dirinya. Selembar lukisan &lt;em&gt;master piece&lt;/em&gt; ukuran 1.2 x 2.0 m di Ubud cuma dihargai US$ 250, sedangkan rata-rata upah per jam di Miami dihargai US$ 10. Jelaslah bahwa mereka melukis dengan dan karena cinta.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Sebagai seorang penyelia atau manager, perhatian kita mungkin banyak tersita pada bagian bawah dari model interaksi manusia dan bisnis. Coba kita renungkan, apakah kita memiliki hubungan dengan setiap bawahan kita pada sisi manusianya? Apakah kita tahu tentang situasi keluarganya? Apakah kita memiliki cukup kesabaran untuk mengetahui setiap bawahan kita (apa harapan-harapannya, dimana mereka makan siang, bagaimana mereka menghabis-kan waktu liburannya, dan lain sebagainya)? Apakah anda sudah menemukan cara untuk mengingat hal-hal pribadi tentang mereka untuk berbagi perhatian, dan menunjukkan bahwa kita peduli?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Definisi saya tentang manager yang baik adalah “mereka yang berhasil mengembangkan orang” (&lt;em&gt;A developer of people&lt;/em&gt;). Seorang manager yang membimbing seorang karyawan pada kedua sisi interaksinya (yaitu sisi bisnis dan sisi manusia), serta memberikan masukan-masukan yang membangun akan sangat membantu karyawan itu berkembang menjadi manusia dan karyawan yang semakin baik. Karyawan jarang meninggalkan manager dan penyelia yang memper-lakukan mereka dengan peduli dan respek. Orang tidak meninggalkan organisasi, mereka meninggalkan atasannya (&lt;em&gt;people do not quit organizations, they quit bosses&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komunikasi yang Kreatif&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menurut &lt;strong&gt;Runzheimer &lt;em&gt;International&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, sebuah perusahaan konsultansi di Amerika Serikat, rata-rata seorang manager disana menghabiskan 80% waktunya dengan berkomunikasi, yaitu: 10% untuk menulis, 15% untuk membaca, 25% untuk mendengar, dan 30% untuk berbicara.&lt;br /&gt;Survey tahun 2000 dalam laporan Pitney Bowes (Chicago Tribune, 22 Oktober), melaporkan rata-rata setiap pekerja di AS menangani 204 pesan per hari, seperti panggilan telepon, faks, voice mails, e-mail, surat, hingga Post-it® notes.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Menurut Nancy Stern, Presiden dan pemilik &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Communication Plus&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, komunikasi yang benar bukanlah hanya sekedar bertukar pembicaraan. Komunikasi adalah pemindahan makna dengan terciptanya pemahaman tanpa penghakiman. Ada tiga pertanyaan yang harus dijawab ketika kita ingin mengkomunikasikan hal-hal yang penting:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Apakah informasi disampaikan dengan jelas dan akurat? Dalam komunikasi bisnis, dimana banyak hal-hal yang sangat penting, maka wajar kalau banyak “informasi biasa” yang diabaikan, tertumpuk di meja, atau dibuang begitu saja ketika orang-orang yang menangani pekerjaan ini sampai pada tingkat kebosanan yang memprihatinkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana informasi itu menyentuh perasaan orang yang menerimanya ? Ini adalah sisi manusiawi dari komunikasi. Apa yang terlihat pada pesan itu, seperti nada bicara, gaya tulisan dan pilihan kata-kata yang dipergunakan, secara keseluruhan dapat menyebabkan proses komunikasi berhasil atau gagal. Jika kita ingin “menjual” sesuatu kepada seseorang, kita perlu menciptakan perhatian dan simpati, suatu hubungan saling percaya guna merangkul mereka ke arah kita. Sebagai contoh, lihatlah iklan kondom “meong” di televisi yang dapat mempengaruhi orang untuk membeli produk itu. Contoh lainnya adalah saat kita melakukan &lt;em&gt;exit interview.&lt;/em&gt; Rubahlah pertanyaan &lt;em&gt;“Kenapa kamu berhenti?”&lt;/em&gt; menjadi &lt;em&gt;“Kenapa kamu tidak bertahan disini?”&lt;/em&gt; Hanya sedikit perbedaan dalam kata-kata, tetapi dapat membuat fokus jawaban para karyawan menjadi sangat berbeda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah informasi itu mengejutkan penerimanya atau mendapat perhatian dari mereka? Ini adalah hal terpenting dalam komunikasi yang sangat kritis karena hal ini akan menjamin isi pesan diterima dengan baik. Sejujurnya, kita tidak bisa melakukan hal ini dalam setiap komunikasi. Tetapi, sekali kita berhasil melakukannya secara kreatif, orang akan terus mengingat isi pesan itu dalam waktu yang lama. Sebagai contoh, bukankah kita selalu teringat pada beberapa iklan televisi yang sampai sekarang tetap kita ingat karena berhasil “mencuri” perhatian kita. Iklan kondom “meong”, kacang atom “OK bang-get”, dan perilaku rekan saya yang ingin mencampur bensin dengan “Irex” karena bosan mobilnya terus-terusan ngadat, adalah contoh proses komunikasi yang bertahan dalam benak kita karena mendapat persepsi yang sangat kuat.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Tips untuk memperbaiki komunikasi dengan bawahan adalah dengan:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bicara dengan “bahasa pasaran” yang mereka pahami, jangan gunakan bahasa ilmiah a’la menara gading (ingat teori Maslow).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Usahakan jelas dan konsisten.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan tergantung pada jalur komunikasi yang ada; gunakan semua cara yang mungkin dari “bicara langsung dari hati ke hati”, e-mail sampai penggunaan sarana multimedia.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Bacaan Lebih Lanjut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glanz, Barbara A. 2002. Handle with CARE: Motivating and Retaining Employees. McGraw-Hill. New York. 316p.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richardson, Barrie dan Mary Ann Castronovo Fusco. 1999. Prinsip +10%. Bagaimana Manusia Biasa Berhasil Luar Biasa. Pustaka Delapratasa. Jakarta. 289p.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5492122624247113556?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5492122624247113556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5492122624247113556&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5492122624247113556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5492122624247113556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/iyung-pahans-travelling-note-7.html' title='Iyung Pahan&apos;s Travelling Note #7:  Pentingnya Komunikasi'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3454885908528427331</id><published>2007-07-02T14:52:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T15:01:23.829+07:00</updated><title type='text'>Iyung Pahan's Travelling Note #6:  Jakarta - Chicken or Egg</title><content type='html'>Hari ini aku lagi jutek.  Memang jiwaku lagi judes dan bete (&lt;em&gt;bad temperament&lt;/em&gt;).  Pandanganku mungkin cupat, tetapi itulah realitas diriku saat ini.  Teori e&lt;em&gt;xpectancy &lt;/em&gt;yang kubaca membawa pada pemahaman bahwa dengan usaha terbaik yang dilakukan pada saat ini, diyakini akan memberikan hasil terbaik di masa yang akan datang.  Kelakuan masa lalu merupakan alat prediksi terbaik untuk meramalkan sukses di masa yang akan datang.  Tetapi itu tidak untuk suasana konvensional hari ini.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Entah mengapa, tiba-tiba saja aku terpental dari orbital rutinku.  Sepertinya tiba-tiba saja sebuah tingkatan energi yang lebih tinggi membuat keseimbangan proton dan elektron dalam model molekul diriku tereksitasi, dan diriku menjelma menjadi radikal bebas.  Radikal bebas ini membuatku jutek dan tak tahu harus bereaksi seperti apa.  Apakah radikal bebas ini akan permanen atau bersifat sementara, tetaplah dia membuat diriku mengambil satu keputusan.  &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Akankah kubiarkan diriku seperti tak ada apa-apa, padahal emosi jiwa sudah tereksitasi pada level yang semakin negatif ?  Atau harus kubiarkan muatan negatif model molekul diriku menjadi radikal bebas yang akan mengacaukan keteraturan di dalam sistem dan membawaku pada suatu kondisi model molekul baru dengan nama baru, pemahaman baru dan fungsi baru.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kalau persistensi sistem ini menjadi suatu kenyataan sepanjang jalan yang harus kutempuh, mungkin aku harus berani mengambil sebuah keputusan untuk menghancurkan apa yang sudah ada menjadi suatu bentuk yang benar-benar baru dan membiarkan kesetimbangan alam menjalankan perannya dengan cantik.  Dalam kondisi ini, aku teringat pada sebuah skenario seni perang Sun Tzu yang merupakan sebuah dunia dimana tidak ada yang dapat dijamin, dengan tema kunci perubahan selalu akan menunjukkan wajah dalam rupa yang tidak terduga, maka kenalilah musuh dan lingkungan supaya kemenangan kita tidak hilang, dan kenalilah  kekuatan diri sendiri dan suasana hati supaya kemenangan kita lengkap.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Ketika seorang karyawan berhenti dari sebuah perusahaan, mereka umumnya berusaha meninggalkan managernya dari pada pekerjaan dan perusahaannya.  Inilah realitas baru bahwa manager dan perusahaan harus menghargai karyawannya jika mereka ingin menarik dan menjaga karyawan yang baik.  Mengelola &lt;em&gt;human capital&lt;/em&gt; adalah kompetensi bisnis yang kritikal dimana perusahaan-perusahaan kelas dunia harus melongok ke dalam &lt;em&gt;“managers of choice.”&lt;/em&gt; Nancy Ahlrichs mendeskripsikan lima kompetensi yang kritikal dari managemen &lt;em&gt;human capital&lt;/em&gt;:  &lt;strong&gt;pencarian bakat, membangun hubungan, membangun kepercayaan, membangun ketrampilan, dan membangun merek&lt;/strong&gt;. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Lalu ketika salah satu atau semua kompetensi itu sirna, si &lt;em&gt;human capital&lt;/em&gt; akan mencari jalannya sendiri untuk mencari jati dirinya.  Hal ini disebabkan karena &lt;em&gt;human capital&lt;/em&gt; itu sendiri bukanlah orang yang ada di dalam organisasi semata-mata.  Orang-orang mencoba mengatur hidupnya melalui mekanisme &lt;em&gt;human capital&lt;/em&gt; dan bebas untuk melakukan investasi yang disukainya pada berbagai aspek-aspek kehidupan seperti :  keluarga, kelompok minat dalam komunitas, menjalankan syariat agama, mencari kesehatan fisik, minat-minat lain, dan bekerja.  &lt;em&gt;Human capital&lt;/em&gt; sebuah organisasi adalah kumpulan atribut kolektif dari pengalaman hidup, pengetahuan, kreativitas, energi, dan antusiasme yang dipilih oleh orang-orang untuk diinvestasikan pada pekerjaannya.  Semuanya adalah pilihan bebas, dan konsekuensi pilihan bebas adalah termasuk untuk tidak memilih apapun alias golput. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Ketika kepercayaan telah hilang, ketika itu pula suatu babak baru dimulai.  Fenomena manusia sebagai makhluk sosial adalah dasar dari sistem kepercayaan.  Segala norma dan tatanan budaya yang berlaku didukung oleh sistem kepercayaan yang dianut oleh orang-orang yang ada di dalam sistem tersebut.  Ketika kepercayaan menguap, norma dan tatanan budayapun akan mengalami perubahan yang drastis.  Perilaku yang dulunya tidak pernah terbayangkan akan muncul, tiba-tiba saja telah merebak secara masif dimana-mana.  Siapa yang akan menyangka bahwa budaya bangsa Indonesia sebagai bangsa Timur yang ramah-tamah dan bersahabat dalam hitungan 1-2 tahun saja sudah menjadi beringas dan menebarkan aroma ketakutan di tempat-tempat sepi kala malam hari. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dalam konsekuensi pilihan bebas, timbulnya apatisme alias golput merupakan mekanisme untuk menghukum &lt;em&gt;status quo&lt;/em&gt; yang menyesakkan dada salah satu pihak yang teraniaya dalam interaksi tersebut.  Kemenangan bagi satu pihak sering kali lebih merupakah hukuman dari masyarakat terhadap rejim berkuasa yang lalai dalam merawat rakyat dan kawulanya dengan baik-baik.  Mereka membuat pilihan lain yang merupakan manifestasi &lt;strong&gt;asal-bukan-dia&lt;/strong&gt;, karena putus asa dan &lt;em&gt;putus kamus&lt;/em&gt; melihat realitas yang ada.  Dalam kasus seorang karyawan, bila mereka mempunyai cukup pilihan, maka jalan termudah yang dapat mereka lakukan adalah meninggalkan atasannya.  Mereka sebenarnya tidak ingin meninggalkan organisasi, tetapi mereka tidak tahan deraan atasan yang menurut mereka tidak patut dan tidak layak.  Lalu, merekapun berlalu bersama semilirnya angin. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Mana yang harus diperbaiki?  Sistem dulu atau mentalitas (budaya) orangnya?  Ayam atau telur?  Dan banyak orang yang terjebak dalam metafora ayam atau telur, serta membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk memulainya.  Dibutuhkan dua tangan untuk bertepuk tangan.  Kalau hanya satu tangan, itu namanya bertepuk sebelah tangan, alias kipas-kipas dan &lt;em&gt;wes ewes ewes bablas angine&lt;/em&gt;.  Bila dua tangan itu ditransformasikan sebagai kepercayaan yang harus ada, untuk membangun &lt;em&gt;human capital&lt;/em&gt; di dalam organisasi diperlukan kebersihan hati dan keteguhan iman.  Karyawan harus percaya bahwa masa depannya akan berkembang dan mencapai suatu penahapan baru seiring dengan berjalannya waktu, alias investasi waktunya di perusahaan akan menghasilkan pengembalian sebagaimana yang diharapkan.  Di sisi lainnya, perusahaan juga membuat rencana pengembangan untuk meningkatkan nilai para pemegang saham dengan perluasan operasional yang akhirnya memberikan kesempatan kerja yang lebih banyak dan lebih bermutu bagi karyawan-karyawan yang telah mengivestasikan waktunya diperusahaan tersebut.  Masalahnya, apakah masa depan dan pengembangan perusahaan yang cerah itu merupakan bagian dari diri karyawannya?  Kalau perusahaannya maju dan berkembang seperti bus Trans Jakarta yang melaju dengan kencang di jalan bebas hambatan (&lt;em&gt;busway&lt;/em&gt;), pertanyaannya adalah &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;apakah karyawan yang ada merasa menjadi bagian dari penumpang di dalam bus tersebut&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, ataukah merasa menjadi karyawan yang tertinggal di terminal. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Tidak ada jalan lain selain menjalani lingkaran yang ada tanpa berusaha mencari dimana awal dan akhirnya.  Setelah kita berjalan satu lingkaran dan kembali ke kondisi awal, itulah realitas lingkaran yang telah kita jalani, tanpa kita perlu menentukan dimana awal dan dimana akhirnya.  Tujuannya telah tercapai, tanpa perlu ribut-ribut mencari dimana awal untuk memulainya.  &lt;em&gt;Just do it!&lt;/em&gt;  Ayam atau telur bukan lagi permasalahannya.  Essensinya adalah keberanian untuk memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 November 2004.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3454885908528427331?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3454885908528427331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3454885908528427331&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3454885908528427331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3454885908528427331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/iyung-pahans-travelling-note-6-jakarta.html' title='Iyung Pahan&apos;s Travelling Note #6:  Jakarta - Chicken or Egg'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5360127069533734391</id><published>2007-07-02T14:29:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T14:44:09.604+07:00</updated><title type='text'>Sambutan Natal di Sebuah Perusahaan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Assalamu’alaikum wr. wb&lt;/em&gt;. dan&lt;br /&gt;Salam sejahtera bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Pertama-tama, kepada rekan-rekan kita yang merayakan natal dan tahun baru, saya mengucapkan selamat. Semoga fenomena perayaan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kebersamaan dan memberikan pencerahan yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas diri pribadi dan produktivitas kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Rakhmat Sang Maha Pencipta kita, keadaan untuk berada dalam kebaikan-&amp;shy;Nya, adalah seperti sinar matahari yang menerangi bumi. Tanpa diskriminasi memancarkan cahaya-Nya pada semua umat-Nya, tidak peduli apapun agama dan dasar keyakinannya. Siapa yang berdiri di bawah matahari akan menyirami dirinya dengan kehangatan dan memperoleh manfaat sepenuhnya dari sang matahari. Siapa yang bersembunyi di balik bayangan pepohonan, berarti menghindarkan dirinya dari matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Melalui kekuatan rakhmat Sang Maha Pencipta kita, alam semesta tercipta. Melalui kekuatan rakhmat-Nya, umat manusia mampu melakukan tugas sehari-&amp;shy;harinya dan mempertahankan kegunaan tubuh dan pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa kemiskinan adalah kekejaman yang paling besar. Tetapi di sisi lain, banyak hadiah tak bertuan yang menumpuk tak tersentuh. Semua hadiah itu adalah apa yang dimohon oleh manusia di dalam doanya, namun mereka meninggalkan permohonannya tepat sebelum hadiah itu diberikan oleh yang maha kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Tuhan tidak pernah menghalangi manusia memiliki hadiah berharga (kekayaan). Adalah kekurangan keyakinan diri kita sendiri akan tanggung jawab memiliki hadiah itu yang menghalangi kita untuk memilikinya. Sebagian orang berhenti mengharapkannya karena kehilangan harapan, merasa yakin mereka tidak akan pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan, seperti pungguk merindukan bulan. Bagi sebagian yang lain, barang yang mereka inginkan selalu berubah-ubah. Suatu saat mereka menginginkan cincin berlian yang baru, lain kali mobil baru. Ketika cuaca berubah dan bumi semakin panas, mereka mengimpikan bersantai di pantai Nusa Dua Bali. Keinginan mereka tak lebih dari impian sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Yakinlah, bila anda bersungguh-sungguh dalam usaha untuk meraih keinginan yang berharga, ia akan dapat anda raih, tetapi impian yang didiamkan saja tidak akan pernah terwujud. Hampir setiap orang berpikir ingin menjadi sukses dan kaya, tetapi dalam kenyataannya sebagian besar dari kita adalah tempat kita menghabiskan uang. Memperoleh kemakmuran bukanlah tentang apa yang kita lakukan untuk mendapatkannya; tetapi adalah apa yang siap kita lepaskan untuk mendapatkannya. Ini adalah prinsip yang sangat penting untuk diingat. Ini seperti prinsip untuk menciptakan atlet yang unggul. Hal pertama yang harus disadari oleh seorang atlet adalah menjawab pertanyaan: &lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Apakah aku siap untuk menjadi atlet yang hebat? &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Apakah aku bersedia menyiapkan waktu yang biasanya aku lewatkan bersama kawan-kawan? &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Apakah aku bersedia meninggalkan pesta-&amp;shy;pesta dan saat-saat menyenangkan yang dinikmati kawan-kawanku? &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Apakah aku bersedia meninggalkan makanan lezat penuh lemak dan menggantinya dengan program diet yang ketat? &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan daftar pertanyaan ini akan semakin panjang. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Dengan demikian untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan pekerjaan, apakah kita telah siap untuk berjuang untuk mendapatkan kesuksesan yang kita cita&amp;shy;-citakan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengukur kenyataan kita sesuai dengan pengalaman kita. Kalau pengalaman kita bertambah, kenyataan kita juga berubah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Ketika aku berada di kota kelahiranku di Kalimantan Tengah, aku teringat bahwa sekolah dasar dan sekolah lanjutanku sangat besar dan memiliki lapangan bermain yang sangat luas. Dalam kunjunganku beberapa tahun yang lalu, aku menengok kedua sekolahku itu kembali. Apa yang kuingat sebagai lapangan yang luas ternyata hanya halaman sekolah yang sempit. Sekolahku yang mengesankan mendadak menyusut. Dalam kenyataannya, sekolah dan lapangan bermainnya tidak pernah berubah sama sekali, tetapi akulah yang telah berubah. Pemahamanku telah berubah, karena aku telah melihat dunia yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Suasana kerja adalah seperti sekolah dan halamannya, dia tidak berubah, tetapi kadang-kadang kita merasakannya tidak menyenangkan seperti dahulu lagi. Untuk itu, jika perubahan dalam diri kita telah kita arahkan pada arah yang benar, niscaya suasana kerja akan menjadi enak bagi semua. Untuk itu saya merekomendasikan supaya kita:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jangan membeda-bedakan pertemanan dan hubungan dalam konteks SARA (Suku-Agama-Ras dan Antar golongan). Acara ini adalah suatu momentum yang baik untuk menerapkannya secara nyata.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Usahakan menjaga agar hubungan antar bawahan selalu baik. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Didalam berinteraksi/komunikasi dengan kolega supaya dijaga agar jangan timbul jarak psikologis. Misalnya kalau ada suatu ide yang menurut kita baik, di dalam penyampaiannya kepada atasan dan teman harus hati-hati. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pupuk dan jaga kekompakan antar karyawan dengan saling mengunjungi seperlunya. Sempatkan waktu (walaupun sempit sekali) untuk bersilaturahmi pada saat lebaran dan tahun baru. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Usahakan menjaga agar hubungan antar atasan tetap baik dengan jalan tidak menjadi “provokator” dan “duduk manis” di pekerjaan kita saja.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Izinkan saya menutup sambutan ini dengan menyitir sebuah syair yang ditulis oleh seorang sufi yang bernama Kabir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maksud bekerja adalah untuk belajar.&lt;br /&gt;Saat anda memahaminya, pekerjaan selesai.&lt;br /&gt;Apel berbunga adalah untuk menghasilkan buah.&lt;br /&gt;Saat ini terjadi, bunganya gugur beserakan.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Assalamu’alaikum wr. wb.&lt;/em&gt; dan selamat malam.&lt;br /&gt;© Iyung Pahan (14 Desember 2002).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5360127069533734391?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5360127069533734391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5360127069533734391&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5360127069533734391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5360127069533734391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/sambutan-natal-di-sebuah-perusahaan.html' title='Sambutan Natal di Sebuah Perusahaan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-8449600502157101672</id><published>2007-07-02T14:15:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T14:27:16.620+07:00</updated><title type='text'>Kegamangan Dr. Kuswata</title><content type='html'>Oleh: Ki Denggleng Pagelaran&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pengantar: Hari Jum'at yang lalu di locker surat dosen-dosen Jurusan kami dimasuki selembar artikel gelap dengan judul KEGAMANGAN DOKTOR KUSWATA. Gelap, karena tidak dituliskan siapa nama penulisnya. Saya mencoba bertanya-tanya kepada pegawai dan dosen lain yang (waktu itu) datang lebih awal, jawabannya nihil. Berhubung isinya sangat menyentuh, maka artikel itu saya ketik ulang. Setelah kemarin (Rabuan menjadi salah satu topik pembicaraan dan gurauan para dosen)...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Doktor Kuswata betul-betul mencintai tugasnya sebagai seorang dosen. Dia kerjakan seluruh tugas akademiknya dengan bersemangat. Memberi kuliah itu baginya benar-benar &lt;em&gt;"feeling - at - home."&lt;/em&gt; Begitulah kerjanya setiap hari, datang pagi sekali dan pulang paling akhir. Itulah dunianya, bukan dunia yang penuh intrik dan pamer gagasan besar (yang sering kosong). Doktor Kuswata yang lulusan luar negeri adalah seorang yang rajin, pintar, jujur, baik hati, suka membantu orang, sedikit bicara, dan sangat menghargai seniornya. Pokoknya sangat loyal pada institusinya. Tetapi dia itu tipikal rakyat jelata, yang lugu, bahkan sedikit naif. Ternyata itulah kesalahan terbesar yang pernah dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Saat ini dia sedang resah dan gamang terhadap nama besar yang disandangnya, seorang doktor lulusan luar negeri. Secara financial dia kumuh, bahkan dibanding seorang lulusan SMA yang bekerja di Dinas Pemakaman sekalipun. Walau sangat disegani muridnya, di hadapan anak dan isterinya dia tidak berwibawa, karena tidak sanggup memberi kehidupan yang baik. Mencari tambahan di luar? Itu suatu yang sulit dilakukannya, energinya habis oleh tugas remeh- temehnya mengurusi mahasiswa dan administrasi yang bikin bengek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Sebenarnya tidak ada yang salah pada dirinya, bahkan dia tergolong makhluk langka. Tapi semua yang dia kerjakan sepenuh hati untuk membangun dunia akademis di laboratoriumnya itu tidak dipedulikan oleh institusinya. Tidak juga oleh para seniornya, yang malah 'memanfaatkan-nya' (jadi &lt;em&gt;tumbal-red&lt;/em&gt;). Sebenarnya juga tidak ada yang bisa dipersalahkan atas nasibnya itu. Institusinya punya banyak doktor, maka tidak perlu memperhatikan seorang doktor yang rajin dan lugu. Bahkan untuk yang suka keluyuran pun tidak perlu digugat oleh institusi Doktor Kuswata. Institusi sepenuhnya bisa "memahami", dan tetap bisa 'survive' berkat jasa manusia-manusia rajin seperti Kuswata. Tidak ada istilah kehilangan dan tidak perlu juga menghargai yang rajin! Kita sudah terperangkap di dunia yang 'dingin dan sakit'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Institusi tidak ramah bagi manusia seperti Kuswata yang naif. Tidak terasa lagi guyupnya sesama sivitas akademika institusi. Yang terasa adalah dunia ketidakpedulian dan kompetisi mengejar materi. Itulah dunia yang dibenci Kuswata, yang tetap setia memilih dunianya yang kumuh. Dunia yang memberinya penghasilan tambahan 10-20 ribu rupiah per bulan sebagai honor membimbing seorang mahasiswa pascasarjana (S2/S3), atau 2,500 rupiah untuk seorang mahasiswa S1. Pantaskah dia dihargai seperti itu? Konon 'efisiensi' adalah jawabannya, sementara akuntabilitas dan transparansi baru menjadi suatu wacana. Kalau hanya 'efisiensi' yang dijadikan ukuran, pasti Kuswata-kuswata di sini harus kerjabakti, sekaligus mengambil alih pekerjaan rekan lainnya yang suka keluyuran. Betul-betul dunia yang tega dan sakit!&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kuswata adalah sebuat ilustrasi dari kebanyakan populasi pendidik (di luar para elite). Karena jasanya Kuswata-Kuswata yang peduli itulah suatu institusi ujung tombak bisa &lt;em&gt;survive&lt;/em&gt;. Kita yang berada di piramid paling bawah berkutat di dalamnya dengan mengais remah-remah, sisa komunitas elite piramid ubun-ubun. Tidak ada istilah &lt;em&gt;reward &lt;/em&gt;bagi komunitas bawah, yang ada eksoploitasi komunitas marginal. Mana yang salah? Manajemen lokal ataukah kebijakan Nasional? Tidak perlu dijawab, karena pasti hanya jawaban penuh retorika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kini angin baru yang belum tentu segar ujungnya bertiup. OTONOMI pendidikan (OPEN) namanya, yang mungkin memberikan harapan baru bagi manusia seperti Kuswata. Binatang apa pula OPEN itu? Masih serba samar-samar, dan mudah-mudahan bukan hanya sebuah retorika baru. Dengan OPEN itu, akankah para Kuswata lebih sejahtera? Yang jelas demi yang namanya Otonomi, sekarang tugas Kuswata semakin banyak, untuk menyelesaikan pesanan para elite. Konon bakal ada sedikit perubahan, tetapi baru mungkin bisa terjadi setelah kira-kira sepuluh tahun masa transsisi. Yaaaah... manusia Kuswata masih harus bersabar menanti masa yang belum tentu pula. Bersabar dalam kegamangannya. Tetapi percayalah orang sepertinya akan tetap loyal, setia, lugu, cuek, naif dan menikmati kekumuhannya. Kasihaaaan ........&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Demikianlah artikel gelap itu. Tentunya setelah sedikit saya hilangkan bagian-bagian yang sensitif, secara kelembagaan, sektoral maupun kolegial ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Denggleng Pagelaran&lt;br /&gt;adalah Doktor Lulusan Luar Negeri yang bermukim di Taman Pagelaran - Bogor.&lt;br /&gt;-----------------------------&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yang jelas Kuswata itu datang paling pagi (sebelum yang lain datang) dan pulang paling akhir (setelah yang lainnya pada pulang).... Satpam Fakultas mungkin tahu siapa Kuswata eh.. siapa penulis artikel itu.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-8449600502157101672?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/8449600502157101672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=8449600502157101672&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/8449600502157101672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/8449600502157101672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/kegamangan-dr-kuswata.html' title='Kegamangan Dr. Kuswata'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-2523379068892700407</id><published>2007-07-02T14:03:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T14:13:53.800+07:00</updated><title type='text'>Doa yang Selalu Dikabulkan</title><content type='html'>Oleh: Helvy Tiana Rosa *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, 3 Mei 1998, dari Jakarta, saya diundang mengisi seminar di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Saya duduk di bangku kedua dari depan sambil menunggu kedatangan pembicara lain, Mimin Aminah, yang belum saya kenal. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Jam sembilan tepat, panitia menghampiri saya dan memperkenalkan ia yang baru saja tiba. Saya segera berdiri menyambut senyumnya yang lebih dulu merekah. Ia seorang yang bertubuh besar, ramah, dalam balutan gamis biru dan jilbab putih yang cukup panjang. Kami berjabat tangan erat, dan saat itu tegas dalam pandangan saya dua kruk (tongkat penyangga yang dikenakan-nya) serta sepasang kaki lemah dan kecil yang ditutupi kaos kaki putih. Sesaat batin saya hening, lalu melafazkan kalimat takbir dan tasbih. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Saat acara seminar dimulai, saya mendapat giliran pertama. Saya bahagia karena para peserta tampak antusias. Begitu juga ketika giliran Mimin tiba. Semua memperhatikan dengan seksama apa yang disampaikannya. Kata-kata yang dikemukakannya indah dengan retorika yang menarik. Wawasannya luas, pengamatannya akurat. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Saya tengah memandang wajah dengan pipi merah jambu itu saat Mimin berkata dengan nada datar. "Saya diuji Allah dengan cacat kaki ini seumur hidup saya." &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Ia tersenyum. "Saya lahir dalam keadaan seperti ini. Mungkin banyak orang akan pesimis menghadapi keadaan yang demikian, tetapi sejak kecil saya telah memohon sesuatu pada Allah. Saya berdoa agar saat orang lain melihat saya, tak ada yang diingat dan disebutnya kecuali Allah," Ia terdiam sesaat dan kembali tersenyum. "Ya, agar mereka ingat Allah saat menatap saya. Itu saja." &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dulu tak ada orang yang menyangka bahwa ia akan bisa kuliah. "Saya kuliah di Fakultas Psikologi," katanya seraya menambahkan bahwa teman-teman pria dan wanita di Universitas Islam Bandung-tempat kuliahnya itu-senantiasa bergantian membantunya menaiki tangga bila kuliah diadakan di lantai dua atau tiga. Bahkan mereka hafal jam datang serta jam mata kuliah yang diikutinya. "Di antara mereka ada yang membawakan sebelah tongkat saya, ada yang memapah, ada juga yang menunggu di atas," kenangnya. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dan civitas academica yang lain? Menurut Mimin ia sering mendengar orang menyebut-nyebut nama Allah saat menatapnya. "Mereka berkata: Ya Allah, bisa juga ya dia kuliah," senyumnya mengembang lagi. "Saya bahagia karena mereka menyebut nama Allah. Bahkan ketika saya berhasil menamatkan kuliah, keluarga, kerabat atau teman kembali memuji Allah. Alhamdulillah, Allah memang Maha Besar. Begitu kata mereka." &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Muslimah bersahaja kelahiran tahun 1966 ini juga berkata bahwa ia tak pernah ber-mimpi akan ada lelaki yang mau mempersuntingnya. "Kita tahu, terkadang orang normal pun susah mendapatkan jodoh, apalagi seorang yang cacat seperti saya. Ya tawakal saja." &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Makanya semua geger, ketika tahun 1993 ada seorang lelaki yang saleh, mapan dan normal melamarnya. "Dan lagi-lagi saat walimah, saya dengar banyak orang menyebut-nyebut nama Allah dengan takjub. Allah itu maha kuasa, ya. Maha adil! Masya Allah, Alhamdulillah, dan sebagainya," ujarnya penuh syukur. Saya memandang Mimin dalam. Menyelami batinnya dengan mata mengembun. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;"Lalu saat saya hamil, hampir semua yang bertemu saya, bahkan orang yang tak mengenal saya, menatap takjub seraya lagi-lagi mengagungkan asma Allah. Ketika saya hamil besar, banyak orang menyarankan agar saya tidak ke bidan, melainkan ke dokter untuk operasi. Bagaimana pun saat seorang ibu melahirkan otot-otot panggul dan kaki sangat berperan. Namun saya pasrah. Saya merasa tak ada masalah dan yakin bila Allah berkehendak semua akan menjadi mudah. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dan Alhamdulillah, saya melahirkan lancar dibantu bidan," pipi Mimin memerah kembali. "Semua orang melihat saya dan mereka mengingat Allah. Allahu Akbar, Allah memang Maha Adil, kata mereka berulang-ulang." &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Hening. Ia terdiam agak lama. Mata saya basah, menyelami batin Mimin. Tiba-tiba saya merasa syukur saya teramat dangkal dibandingkan nikmatNya selama ini. Rasa malu menyergap seluruh keberadaan saya. Saya belum apa-apa. Yang selama ini telah saya lakukan bukanlah apa-apa. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Astaghfirullah. Tiba-tiba saya ingin segera turun dari tempat saya duduk sebagai pembicara sekarang, dan pertamakalinya selama hidup saya, saya menahan airmata di atas podium. Bisakah orang ingat pada Allah saat memandang saya, seperti saat mereka memandang Mimin?&lt;br /&gt;Saat seminar usai dan Mimin dibantu turun dari panggung, pandangan saya masih kabur. Juga saat seorang (dari dua) anaknya menghambur ke pelukannya. Wajah teduh Mimin tersenyum bahagia, sementara telapak tangan kanannya berusaha membelai kepala si anak. Tiba-tiba saya seperti melihat anak saya, yang selalu bisa saya gendong kapan saya suka. Ya, Allah betapa banyak kenikmatan yang Kau berikan padaku. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Ketika Mimin pamit seraya merangkul saya dengan erat dan berkata betapa dia mencintai saya karena Allah, seperti ada suara menggema di seluruh rongga jiwa saya. "Subhanallah, Maha besar Engkau ya Robbi, yang telah memberi pelajaran pada saya dari pertemuan dengan hambaMu ini. Kekalkanlah persaudaraan kami di Sabilillah. Selamanya. Amin." &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Mimin benar. Memandangnya, saya pun ingat padaNya. Dan cinta saya pada Sang Pencipta, yang menjadikan saya sebagaimana adanya, semakin mengkristal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Pelangi Nurani: Penerbit Asy Syaamil, 2002.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-2523379068892700407?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/2523379068892700407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=2523379068892700407&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2523379068892700407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2523379068892700407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/doa-yang-selalu-dikabulkan.html' title='Doa yang Selalu Dikabulkan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3053260028490533877</id><published>2007-07-02T12:50:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T13:41:55.235+07:00</updated><title type='text'>Iyung Pahan's Travelling Note #5:  Good Morning Medan</title><content type='html'>Ketika ritual puasa sampai pada hari yang ke-23, insiden sahur pukul 04.15 memberikanku pemahaman akan hakekat menyimpan dan menggunakan harta. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Sebotol kecap jamur yang mengingatkanku akan cairan &lt;em&gt;blancher &lt;/em&gt;di pabrik pengemasan jamur &lt;em&gt;Agaricus bisporus&lt;/em&gt; di Banjaran, menumbuhkan kenangan indah akan masa-masa lalu. Lalu aku membelinya di &lt;em&gt;hyper market&lt;/em&gt; Makro. Kucoba rasanya, dan tak seindah kenangannya. Maka aku hanya memajangnya di atas pelataran areal makan. Dan pagi ini, atas kuasa yang maha berkehendak, mereka yang biasanya menyiapkan makan sahur tiba-tiba saja terlelap dan sampai menjelang imsak belum tersadar. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Istriku yang ditakdirkan untuk mengingatkanku akan fenomena ini, ketika menjalankan tugas memasak cepat saji, secara tiba-tiba menyenggol botol kecap itu dan jatuh berkeping-keping menimpa lantai. Membiaskan jalur-jalur hitam dan semburat warna-warni kelam di atas meja dan lantai putih. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Peringatan Yang Maha Memberi Peringatan: Menyimpan harta bukan untuk digunakan, adalah tidak produktif dan bisa menyebabkan gangguan emosional, serangan kekikiran dan kekerdilan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 9 Desember 2001 pagi hari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3053260028490533877?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3053260028490533877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3053260028490533877&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3053260028490533877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3053260028490533877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/iyung-pahans-travelling-note-5-medan.html' title='Iyung Pahan&apos;s Travelling Note #5:  Good Morning Medan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5981945737684372201</id><published>2007-07-02T12:46:00.001+07:00</published><updated>2007-07-02T13:41:28.097+07:00</updated><title type='text'>Iyung Pahan's Travelling Note #4:  Midnight at Medan</title><content type='html'>Aku merasakan sekelilingku sudah senyap, walaupun aktivitas bulan Ramadhan telah meningkatkan energi keimanan di sekeliling jagad. Walau Afghanistan dicungkup aura merah angkara murka, ramadhan putih tetap membiaskan kabut merah putih bagi sebagian insan dan derajat ketaqwaaannya. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Ketika aku mulai menulis kata-kata ini, gemulai usapan jari-jariku diatas keyboard seakan terimajinasi oleh energi yang meluap disekujur tubuh. Kesadaran yang membuka relung-relung hati telah mencurahkan energi keimanan pada suatu kesadaran yang lebih tinggi. Seperti wawasan yang menyatakan bahwa energi kita merupakan suatu bentuk yang bisa ditransformasi ke dimensi lain. Bahwa energi yang ada dalam kefanaan kita adalah suatu getaran yang mempunyai osilasi dengan frekuensi tertentu dan mampu ditansmisikan kepada orang lain. Seperti suatu pengaruh baik ataupun pengaruh buruk yang bisa mempengaruhi orang lain dengan seketika. Mungkin kita pernah merasakan bahwa pada suatu ketika, ketika itu kita bertemu dengan seseorang yang mempunyai getaran osilasi energi positif yang focus dan diarahkannya secara transversal kepada sekelilingnya, seketika itu juga orang-orang merasakan ketentraman dan keteduhan jiwa. Kita merasa enak dan hidup menjadi tentram. Dengan energinya dia mampu mempersuasi dan mempersepsi sekelilingnya, bahwa semuanya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Dan kita menjadi terpesona oleh kharisma yang dibangkitkan oleh auranya. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kita perlu membuka diri untuk menerima limpahan energi, memperluas kepekaan diri untuk menyerap energi yang ada di sekitar kita. Ketika aku pergi ke Prapat, di pinggir danau Toba, kurasakan aliran energi yang melimpah masuk ke dalam raga. Hanya saja, pada saat itu aku belum menemukan jalan untuk membuka gua garba selebar-lebarnya sehingga sebagian file yang kuterima menjadi hilang: &lt;em&gt;a part of file is missing&lt;/em&gt;. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Puncak gunung, samudra luas, danau yang tenang, air bening yang mengalir, semuanya merupakan kumpulan energi yang terakumulasi. Mereka seperti magnet raksasa yang mempengaruhi medan magnet mikro di dalam jiwa kita. Kita merasakan ketenangan ketika kita menghirup udara pegunungan, di pinggir danau yang luas seakan tak bertepian. Energi makro ini telah mempengaruhi energi mikro kita, dia seperti magnet besar yang bisa menjadi ghost dan menyeimbangkan kembali medan magnet kita seperti keadaan alam yang masih murni dan sibernetik. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dalam perjalanan hidup ini, kita harus mencari cara untuk memperluas medan energi kita. Dengan perluasan ini, kita menjadi lebih reseptif dalam melihat aspek-aspek kehidupan. Dan ketika kehidupan berubah menjadi keras, menakutkan, dan menjemukan, jiwa yang telah menemukan jalan untuk memperluas medan energinya akan menyiasati kenyataan hidup sebagai sesuatu proses alami yang tak perlu ditakuti lagi. Hidup ini hanyalah suatu perjalanan. Seperti sebuah proyek, perjalanan itu ada awalnya dan ada akhirnya. Kenapa kita harus takut menghadapi akhir dari sebuah perjalanan jika tujuan perjalanan itu sudah tercapai. Jadi, siapa takut? Stay cool saja seperti iklan shampoo anti ketombe di televisi, yang kenyataannya ternyata tidak menghilangkan ketombe secara radikal. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Jiwa yang sudah mendapat metode perluasan diri untuk memanen energi alam sekitar, adalah seperti mobil yang berjalan di malam hari di daerah pegunungan yang berkelok-kelok dan berliku-liku naik turun jalan yang bergelombang. Dia sudah memiliki lampu panjang yang bisa melihat lebih jauh ke depan dari pada lampu kabut yang menyorot permukaan jalan 5 meter di depan. Wawasannya sudah semakin berkembang, dan energinya sudah mulai meningkat ke taraf yang lebih waskita. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kemampuan untuk perluasan jiwa ini akan sampai pada suatu taraf, secara waskita orang mampu membangun energi di sekitarnya, dan berpindah dari satu phase ke phase lain. Ini seperti energi yang ditembakkan oleh suatu stasiun pemancar televisi ke sebuah satelit, kemudian satelit itu merelay energi itu ke suatu cakupan geografi tertentu di daerah lain, dan melalui suatu antena parabola diterima dan dipancarkan ke dalam pesawat televisi seperti kita menyaksikan CNN. Dengan metode ini pula, seorang teman saya yang bercerita bahwa seorang mahasiswa di Aceh yang mencela seorang sufi karena tidak sembahyang Jum’at, walaupun si sufi mengatakan bahwa di sudah Jum’atan di Mekah, si sufi di cap sebagai pembohong. Karena ketidakpercayaannya inilah, sufi itu menantang si mahasiswa untuk membuktikan kemampuan translokasi energinya. Sang sufi berkata bahwa dia tidak bohong, dan dia minta supaya anak muda itu segera pergi ke masjid kampus dan bertemu dia di sana. Dengan segera si mahasiswa melarikan sepeda motornya ke masjid kampus, dan dia menemukan sang Sufi sedang duduk-duduk santai di kaki lima masjid, seakan-akan sedang berkata: eeh koq lama banget baru sampe. Dan si mahasiswa itu mungkin Cuma bisa mengguman: OK, bang – get seperti iklan kacang Garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 9 Desember 2001 dini hari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5981945737684372201?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5981945737684372201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5981945737684372201&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5981945737684372201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5981945737684372201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/iyung-pahans-travelling-note-4-medan.html' title='Iyung Pahan&apos;s Travelling Note #4:  Midnight at Medan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-8464124181399918933</id><published>2007-07-02T12:44:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T12:46:56.128+07:00</updated><title type='text'>Iyung Pahan's Travelling Note #3:  Lake Toba</title><content type='html'>Aku bermimpi pagi ini.  Mimpi di hari Sabtu ketika aku hendak pulang dari Prapat menuju Medan. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Aku terlempar dari kehidupan normalku, dan sangat membekas walau aku telah sadar di pagi hari.  Sesuatu yang belum pernah kualami sedramatis ini.  Aku keluar dari pekerjaanku.  Entah mengapa itu terjadi begitu saja, dan aku menganggur. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Tiba-tiba ku meluncur ke dalam sumur, suatu lorong yang membawaku ke pesisir sebuah dunia yang lain.  Alamnya masih ramah, binatang-binatang yang tak pernah diburu sehingga mereka begitu jinak terhadap manusia.  Musik tradisional Sunda kuno yang menyejukkan.  Sekolah dengan mutu terbaik pada kurikulum moralitas, tanpa kekerasan tanpa pemaksaan pada kehendak-bebas si anak. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Seorang penyanyi terkenal Indonesia masa kini menyanyikan sebuah lagu tentang ketenangan hidup di pesisir pantai, kemudian tiba-tiba saja dia menyanyi secara live di hadapanku.  Kami menjadi berteman dan menyatu dalam diskusi dan pemahaman keabadian estuarin yang perlu dijaga. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dan tiba-tiba aku terbangun dan tersentuh suatu realita.  Aku masih duduk di dunia yang sama.  Aku bukanlah Harry Potter yang sedang menuntut ilmu di Hogwart, sebuah institusi masyarakat penyihir ciptaan Rowling yang telah menyihir dunia. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Aku tetaplah seorang pekerja yang harus menghidupi diriku dengan bekerja walaupun itu dalam mimpiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel Niagara Prapat #504, 17 Maret 2001.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-8464124181399918933?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/8464124181399918933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=8464124181399918933&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/8464124181399918933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/8464124181399918933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/iyung-pahans-travelling-note-3-lake.html' title='Iyung Pahan&apos;s Travelling Note #3:  Lake Toba'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3388228877874336566</id><published>2007-07-02T12:43:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T13:40:18.557+07:00</updated><title type='text'>Iyung Pahan's Travelling Note #2, Singapore River</title><content type='html'>Banyak kejutan yang mewarnai hari&lt;br /&gt;Membuatnya berwarna-warni&lt;br /&gt;Dan menjebluskanku ke dalam biru yang sendu&lt;br /&gt;Ketika senandung rindu menyuarakan kelu&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Out of the blue&lt;/em&gt;, jangan pernah berpaling dariku&lt;br /&gt;Ketika suara mistis itu menghujam kalbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid Moulana Muhammad Ali di &lt;em&gt;basement&lt;/em&gt; UOB Plaza Satu&lt;br /&gt;Berada di bawah permukaan air &lt;em&gt;Singapore River&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetap kering dan sejuk&lt;br /&gt;Ketika kuinjakkan kaki untuk shalat lohor&lt;br /&gt;Melaporkan diri kepada ilahi&lt;br /&gt;Tanpa tahu apa yang akan besok terjadi&lt;br /&gt;Kumulai menuai hari-hari&lt;br /&gt;Kumulai berhenti disini&lt;br /&gt;Aku akan pulang ke Rendezvous&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapore, OUB Plaza Satu&lt;br /&gt;15 Oktober 2001 (Senin)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3388228877874336566?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3388228877874336566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3388228877874336566&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3388228877874336566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3388228877874336566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/iyung-pahans-travelling-note-2.html' title='Iyung Pahan&apos;s Travelling Note #2, Singapore River'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-8660089005112109183</id><published>2007-07-02T12:25:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T13:40:53.537+07:00</updated><title type='text'>Iyung Pahan's Travelling Note #1:  Rendezvous</title><content type='html'>Di &lt;em&gt;Straits Café by the Park&lt;/em&gt; Bras Basah &lt;em&gt;road&lt;/em&gt; kulihat kecoa yang kesepian&lt;br /&gt;Tiada lagi nyamuk-nyamuk yang berani muncul di atmosfer kota (singa) ini&lt;br /&gt;Mesjid Bencolen yang dulunya terkunci di pagi hari&lt;br /&gt;Kini sudah rata dengan tanah,&lt;br /&gt;Di sana akan dibangun sebuah &lt;em&gt;Islamic Centre&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kedai kopi &lt;em&gt;Mary Eating House&lt;/em&gt; masih hidup dari pagi sampai malam&lt;br /&gt;Menjual &lt;em&gt;bee hoon&lt;/em&gt; dan kopi hangat&lt;br /&gt;Dalam kesendirian ku di hotel &lt;em&gt;Rendezvous&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kutuliskan ini karena hidupku yang tidak seimbang dalam perspektif:&lt;br /&gt;keuangan (&lt;em&gt;financial&lt;/em&gt;),&lt;br /&gt;sanak keluarga (&lt;em&gt;customer&lt;/em&gt;), dan&lt;br /&gt;anak istri (&lt;em&gt;internal processes&lt;/em&gt;), serta&lt;br /&gt;pertumbuhan dan pembelajaran diri (&lt;em&gt;learning and growth&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Kucari &lt;em&gt;strategic thrust&lt;/em&gt;, factor-sukses kunci dan indikator prestasi kuncinya,&lt;br /&gt;Untuk apa aku ini hidup?&lt;br /&gt;Apa visi dan misiku di dunia ini?&lt;br /&gt;Dan bagaimana aku harus menyikapi kefanaan yang semakin merasuk kehidupan ini?&lt;br /&gt;Kucoba mencari dan menuliskannya dalam buku:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The New Life’s Starter Kit: Essential Tools for Doing the Life Right!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Singapore, Hotel Rendezvous&lt;br /&gt;14 Oktober 2001 (Minggu)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-8660089005112109183?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/8660089005112109183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=8660089005112109183&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/8660089005112109183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/8660089005112109183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/07/iyung-pahans-travelling-note-1.html' title='Iyung Pahan&apos;s Travelling Note #1:  Rendezvous'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-4587819193788227783</id><published>2007-06-29T12:59:00.000+07:00</published><updated>2007-06-29T13:03:29.964+07:00</updated><title type='text'>Passive Income</title><content type='html'>Pertengahan tahun 2006 adalah titik balik paruh kedua kehidupanku.  Perpindahan kuadran Kiyosaki hidupku telah dimulai dari transisi kuadran E (&lt;em&gt;employee&lt;/em&gt;) yang bekerja untuk orang lain (perusahaan perkebunan) memasuki kuadran I (investment) dimana uang bekerja untukku melalui &lt;em&gt;passive income&lt;/em&gt; dari &lt;em&gt;royalty&lt;/em&gt; buku.  Memang nilai uangnya belum seberapa, dan kata Prof. Gumbira-Sa’id, kita nggak pernah bisa kaya dari menulis buku.  Memang perkataan beliau benar untuk konteks buku yang seret penjualan, tetapi untuk konteks buku laris seperti Harry Potter, jelas kebalikannyalah yang terjadi.  J.K. Rowling telah menjadi selebritis dan salah satu orang terkaya di Inggris hanya karena mengarang buku dan mendapat &lt;em&gt;royalty&lt;/em&gt; dari film yang diadaptasi dari bukunya.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Aku belum pantas menyandingkan diriku dengan J.K. Rowling, tetapi boleh kan aku membuat visi setinggi langit untuk menggantungkan keinginan pribadiku.  Dan ternyata dari hasil investasi di kuadran I (&lt;em&gt;investment&lt;/em&gt;), akhirnya berbuah ke kuadran B (&lt;em&gt;business&lt;/em&gt;) berupa aktivitas bisnis melalui pembuatan sistem, sehingga orang bekerja untuk diriku; dan juga merambah ke kuadran SE (&lt;em&gt;self employee&lt;/em&gt;) sebagai pekerja mandiri.  Hasil investasi dari menulis buku hanyalah royalty 10% dari nilai jual buku dikalikan dengan eksemplar buku pada saat &lt;em&gt;print run. &lt;/em&gt; Menginjak cetakan kedua, berarti sudah 10.000 buku yang beredar dan siap menghasilkan &lt;em&gt;royalty&lt;/em&gt;.  Menurut informasi penerbitnya, buku tulisanku menjadi salah satu best seller di Gramedia Mal Taman Anggrek.  Toko buku dan pembaca senang dengan buku itu, dan harapanku itu bisa sampai cetakan ke sekian.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Setiap keberhasilan akan menghasilkan efek keberhasilan berantai, dan malangnya kesialan juga begitu.  Keberhasilan kuadran I ternyata memicu kuadran lain dengan indeks leverage 10 kali ke kuadran SE.  Dan kuyakini kuadran SE akan akan memberikan indeks &lt;em&gt;leverage &lt;/em&gt;10 kali ke kuadran B.  Mutasi antar kuadran ini sungguh memberikan kemantapan hati untuk menjadi manusia bebas di paruh kedua kehidupan, sehingga tidak diperbudak oleh sistem dan menjual kebebasan diri demi gaji.  Dan memang urutan pengembangannya adalah Kuadran E -&gt; kuadran I (1) -&gt; Kuadran SE -&gt; Kuadran B -&gt; Kuadran I (2) dst. &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Bekerjalah dengan baik sebagai pekerja ilmu pengetahuan, sedot sebanyak mungkin &lt;em&gt;income&lt;/em&gt; dan pengatahuan (kalau tidak bisa keduanya, ambilah pengetahuannya).  Investasikan &lt;em&gt;income &lt;/em&gt;dalam tabungan.  Investasikan pengetahuan tacit yang didapat dengan mekanisme eksternalisasi menjadi pengetahuan eksplisit.  Gunakan sebagian tabungan untuk menguji pengetahuan eksplisit pada tataran yang lebih tinggi (kuliah lagi S2, S3), sehingga akhirnya menjadi pengetahuan eksplisit yang terkodifikasi pada suatu kondisi spesifik.  Jual hasil kodifikasi pengetahuan tadi sehingga menghasilkan &lt;em&gt;passive income&lt;/em&gt; berupa &lt;em&gt;royalty&lt;/em&gt;.  &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Investasikan kembali &lt;em&gt;royalty &lt;/em&gt;yang diterima dalam bisnis baru yang akan menciptakan kuadran B.  Reputasi yang tercipta akan menciptakan kesempatan-kesempatan baru, sehingga bisa menciptakan kuadran SE yang dilakoni secara paralel dengan kuadran E.  Karena kualitas pengetahuan yang prima, maka kuadran SE akan mengungkit income 10x kuadran I pertama {I (1)}.  Hasil dari kuadran E digunakan untuk membiayai kehidupan rutin, hasil kuadran I (1x) dan SE (10x) digunakan untuk menciptakan kuadran B yang akan mengungkit nilai investasi 10x SE dan I sehingga menjadi 110x I (1).  Hasil 110x I (1) ini diinvestasikan ke I (2), sehingga akan menghasilkan passive income 1100x I (1).   Pada kondisi inilah tercipta kebebasan finansial.  Uang bekerja untuk kita, sementara aku ingin menyepi di pantai Karibia, melancong ke taman safari di Afrika dan minum kopi hangat sambil menatap puncak gunung es di Alaska.  Seperti senandung Vina Panduwinta:  Dunia yang kudamba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-4587819193788227783?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/4587819193788227783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=4587819193788227783&amp;isPopup=true' title='20 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4587819193788227783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4587819193788227783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/passive-income.html' title='Passive Income'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-2473457449586806602</id><published>2007-06-25T18:12:00.000+07:00</published><updated>2007-06-25T19:01:37.378+07:00</updated><title type='text'>Memoar Kehidupan Kebun 17 Tahun yang Lalu</title><content type='html'>Normark, 20 Mei 1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Yth. &lt;em&gt;Technical Advisor [TA] Agronomy&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Padang Halaban &lt;em&gt;Estate,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Labuhan Batu, Sumatra Utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan waktu kadang sangat kencang, kadang sangat lambat. Kita ini adalah kerelatifan, maka dalam kerelatifan itu kita coba bandingkan sesuatu yang relatif dengan yang relatif. Dari pijakan ini kita coba menempuh hidup dan kehidupan. Ada makna yang bisa diraih. Kehidupan ini kadang kejam bak tentara Nazi, tetapi juga bisa lembut dan mewah seperti elusan kelas eksekutif di &lt;em&gt;club&lt;/em&gt; internasional &lt;em&gt;a’la &lt;/em&gt;Mercantile, Hilton atau &lt;em&gt;dinner&lt;/em&gt; di &lt;em&gt;Four Season.&lt;/em&gt; Kehidupan (di) kebun berarti merelakan diri menghadapi tiga rupa, tiga tantangan: &lt;strong&gt;kesepian, kebodohan dan kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kesepian adalah suatu kepastian, hak segala bangsa, ujud insani, hampir dapat dikatakan fitrah, sebuah rasa untuk menyeimbangkan manusia dari keramaian. Sepi yang relatif, bukanlah manifestasi lingkungan yang sunyi saja, tetapi cermin keberadaan jiwa yang kurang dapat menyelaraskan diri dengan lingkungan. Seperti jiwa seorang eksekutif puncak di rimba belantara properti &lt;em&gt;wall street&lt;/em&gt;nya Indonesia, dari puncak sebuah gedung pintar di mana jalan Sudirman dan Thamrin terlihat berkabut, dalam pesona irama salsa dan usapan penyejuk ruangan yang serasa alami, kesepian akan datang. Kepura-puraan, wajah tanpa dosa dan hati yang luka tiba-tiba saja membuat jiwa menjadi tidak tenang. Stress dan insomania adalah penyakit yang kerap menghuni raga orang-orang penting yang ekstra sibuk. Dari sebuah &lt;em&gt;music player&lt;/em&gt; terdengar sayup-sayup &lt;em&gt;Live Version&lt;/em&gt; [Bento] celoteh Iwan ‘Swami’ Fals soal gaya hidup “Bos Eksekutif” yang berinisial Bento.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang, terutama dari latar sosial budaya &lt;em&gt;urban sensation&lt;/em&gt;, yang terlanjur besar dan terbiasa dengan nikmatnya suasana crowded &lt;em&gt;a’la&lt;/em&gt; bis kota jam tujuh pagi, hiburan Studio 21 [termasuk dengar pengamen bis kota], bertukar pikiran dalam seminar, &lt;em&gt;commodity auction&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;symposia&lt;/em&gt;; akan menderita kesepian bila tiba-tiba saja berada dalam masyarakat yang tidak bisa memuaskan keinginan lahir dan keinginan batinnya. Keterasingan kan datang menjelang, orang bila&lt;em&gt; cultural shock&lt;/em&gt;, tetapi saya rasa lebih tepat &lt;em&gt;mind-brain&lt;/em&gt; &lt;em&gt;s[h]ock&lt;/em&gt; [pintar … kan! Kaos kakinya nomor berapa … ya?] Kita boleh merasakan, seseorang dengan latar pendidikan sarjana, yang cenderung ingin menggali tuntas semua hal, tiba-tiba saja mentok dengan sikap masyarakat yang terbiasa dan terlanjur berorientasi pada &lt;em&gt;practical use&lt;/em&gt; saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepian di kebun sangat erat hubungannya dengan kebodohan. Kondisi kebun yang terisolir, kadang dan hampir pasti, menyulitkan akses terhadap informasi. Hakekat hidup jaman sekarang, keterlambatan dalam mengadopsi informasi [baca: pengetahuan] berarti mengurangi kapabilitas pemahaman suatu hal [teknologi] bila dibandingkan masyarakat yang tidak menghadapi lingkungan serupa [baca: kota]. Bagi praktisi murni tanpa tendensi ambisi menjadi yang terbaik [baca: pimpinan masa depan], hal ini bukan masalah. Bagi saya ini merupakan masya Allah yang besar, betapa tidak? Keterlanjuran memposisikan keunggulan kompetitif diri sebagai yang lebih tahu sedikit banyak hal-hal dari pada masyarakat sekitarnya akan kehilangan dominansi, perlahan dan pasti karena faktor lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola pikiran [juga pola betindak], selalu dan selalu dibebani hal-hal yang praktis, yang rutin. Ketajaman pisau analisis dibatasi ruang lingkup yang disebut tembok ‘Berlin’ etika: Itu kapling orang lain, itu bukan urusan kamu, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Akhirnya kita pasrah, inilah yang terlanjur dihadapi di kebun. Dua tahun menggumuli kebun, sedikit banyak menimbulkan &lt;em&gt;concern &lt;/em&gt;akan masalah kebun, untuk&lt;em&gt; improvement&lt;/em&gt; alias kemajuan, tetapi bila kita buat saran atau rekomendasi – mereka bilang: &lt;em&gt;you are not qualified guys!&lt;/em&gt; Apa artinya pengalaman kerja kebun Bung? Semuanya siklikal, pengalaman 30 tahun adalah pengalaman 1 tahun yang diulang 30 kali, saya yakin, dan bila kamu cukup pintar, setengah tahun cukup untuk mengerti semuanya, dan selanjutnya yang membedakan kamu dengan mereka hanyalah usia dan kemampuan dalam aksi tipu-tipu, termasuk menipu pekerja untuk lebih efisien, menghadapi orang minta sumbangan, utusan Kodim, Camat dan Lurah, ganti rugi tanah, penduduk yang kalap dan tetek bengek lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah saya harus &lt;em&gt;quit &lt;/em&gt;alias berhenti kerja, atau pasrah saja? Hakekat peningkatan kemampuan teknis [dalam rangka mengisi diri] sudah dilaksanakan dengan motivasi kuat untuk sukses sebagai calon pemimpin suatu masa pada suatu tempat, tetapi tidak imbang dengan pengembangan kemampuan manajerial – alias mentok. Energi yang terakumulasi dalam rangka mengisi diri, akhirnya bisa meledak karena &lt;em&gt;outlet &lt;/em&gt;lebih kecil dari &lt;em&gt;inlet.&lt;/em&gt; Semuanya rugi, terlepas apakah perusahaan menganggap karyawan sebagai asset ataukan masih sebagai hutang melulu saja [menurut persamaan akuntansi, &lt;strong&gt;Asset = Modal + Hutang&lt;/strong&gt;].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kita merasa lebih pintar tentang “sesuatu” dari pada orang yang digaji [baca: dianggap] oleh perusahaan “lebih tahu.” Lalu apakah kita harus paksa perusahaan: “ente pakai gue dong, gue kan sudah lebih tahu.” Atau bahasa halusnya: “kapan saya dipromosikan pada level yang lebih tinggi?” Itu kan juga kurang etis, tentu saja bila perusahaan juga tahu diri [sebelum karyawan menganggap tidak ada lagi prospek dalam karir]. Impian akan adanya &lt;em&gt;employee stock ownership program&lt;/em&gt; [ESOP] bagi kesejahteraan karyawanpun menjadi buram dan lenyap ketika saya bangun dari tidur-tidur ayam. Janganlah bermimpi seperti serikat karyawan &lt;em&gt;United Airlines&lt;/em&gt; yang mampu membeli perusahaannya sejumlah US$ 4.36 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebodohan struktural itu menghinggapi orang dengan kadar yang berbeda. Semakin tinggi kesadarannya akan indahnya belantika dan belantara hakekat ilmu di peradaban manusia [modern], semakin tinggi derajat stressnya menghadapi teror pembodohan di kebun. Secara jelas [fungsi waktu], seorang berpendidikan, katakanlah lulus dengan yudisium dipujikan dari sebuah universitas yang merupakan &lt;em&gt;center of excellence&lt;/em&gt; akan menjadi lebih bodoh, seiring [berbanding lurus] dengan lamanya tinggal di kebun, bila dibandingkan dengan sarjana yang tinggal di kota di mana arus informasi sangat lancar, dan dia punya akses ke arah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa &lt;em&gt;social cost&lt;/em&gt; yang harus dibayar oleh seorang sarjana yang ditempatkan di kebun? Jawabannya: tidak ada! Ternyata, hampir rata, penghasilannya di bawah kawan-kawanya yang di kota. Bukankah dia sudah mengorbankan kesempatannya untuk menjadi lebih pintar demi hal-hal praktis bagi kepentingan perusahaan? Inikah sistem imbal jasa perusahaan besar [konglomerat]? Penghargaan masih didasarkan pada ketrampilan &lt;em&gt;lobbying&lt;/em&gt;, kemampuan untuk bermental ABS alias Asal Bapak Senang, atau adanya akses pribadi terhadap atasan melalui kesamaan &lt;em&gt;hobby &lt;/em&gt;[yang umumnya dijadikan modus operandi]. Pokoknya kalau Boss &lt;em&gt;hobby &lt;/em&gt;tennis, dan bila bermain &lt;em&gt;double&lt;/em&gt; harus menang terhadap pasangan lain, tetapi bila main &lt;em&gt;single,&lt;/em&gt; cukuplah skor 6 untuk Boss, dan angka kita harus lebih kecil dari itu [baca: &lt;strong&gt;&lt;&lt;/strong&gt;]. Kebodohan atau proses pembodohan secara perlahan tapi pasti itu akan terakumulasi menjadi kemiskinan intelektual yang tercermin dengan semakin sukarnya mencerna angka-angka pada indeks Dow Jones atau Nikkei yang ada pada &lt;em&gt;Asian Wall Street Journal&lt;/em&gt;, bahkan membaca ulasan sederhana pada &lt;em&gt;The Economist &lt;/em&gt;atau majalah Eksekutif pun kadang-kadang terasa berat di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini harus diatasi. Kesepian akan saya bakar dengan hasrat dan kesibukan menulis. Ya, menulis sebuah pengalaman hidup, menulis tentang teknologi, mengembangkan ide-ide yang tidak mau diterima perusahaan itu menjadi sesuatu yang diinginkan oleh perusahaan mana saja pada tahun-tahun mendatang. Demikian cara menggugah kebodohan, untuk belajar, untuk mencapai informasi, sekaligus memerangi kemiskian intelektual.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;[&lt;strong&gt;CATATAN:&lt;/strong&gt; IYUNG PAHAN MENERBITKAN 2 BUKU, YAITU KIAT KEBERHASILAN BISNIS SEPANJANG MASA (2004) BERSAMA PENERBIT INDEKS DARI KELOMPOK GRAMEDIA, DAN PANDUAN LENGKAP KELAPA SAWIT (2006) BERSAMA PENERBIT PENEBAR SWADAYA].&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita coba, kita berusaha. Semua sudah ditakdirkan, dan dengan bekal kemampuan teknis, manajerial, kepemimpinan dan &lt;em&gt;business sense&lt;/em&gt; yang diberikan Tuhan, juga dengan &lt;em&gt;common sense,&lt;/em&gt; kita jelang tahun-tahun mendatang, awal kebangkitan profesional muda, sesuai dengan roh dua kosong lima alias Kebangkitan Nasional 20 Mei yang telah berumur 82 tahun. Kita jelang milenium kedua Naisbitt dan Aburdene sebagai abad pencapaian tujuan kita: Profesional muda, &lt;em&gt;middle class&lt;/em&gt; yang bukan &lt;em&gt;Yuppies&lt;/em&gt; apalagi &lt;em&gt;Snobist.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dahulu, wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Iyung Pahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;CATATAN: DALAM BEBERAPA TAHUN MENDATANG, MEMOAR YANG DITULIS 17 TAHUN YANG LALU INI MENJADI SUMBER INSPIRASI LAHIR DAN BESARNYA KONGLOMERASI KELOMPOK DHC YANG BERPUSAT DI BOGOR&lt;/span&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-2473457449586806602?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/2473457449586806602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=2473457449586806602&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2473457449586806602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2473457449586806602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/memoar-kehidupan-kebun-17-tahun-yang.html' title='Memoar Kehidupan Kebun 17 Tahun yang Lalu'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3336940277818212099</id><published>2007-06-25T11:41:00.000+07:00</published><updated>2007-06-25T11:44:48.984+07:00</updated><title type='text'>Instansi Kehidupan</title><content type='html'>Dentingan piano melantunkan &lt;em&gt;Heart of Summer&lt;/em&gt; pada musim kemarau basah di bulan Juni 2007, ketika aku menulis memoar ini.  &lt;em&gt;La Nina&lt;/em&gt; telah menyampiri kehidupan, dan entah mengapa anak perempuan selalu diasosiasikan dengan hujan dan basah.  Seperti seloka yang selalu terwujud dalam rima 4 bait yang tediri dari 2 bait sampiran dan 2 bait isi, kearifan sastra melayu itu akhirnya diterima dalam konteks budaya Jawa yang &lt;em&gt;mlayu&lt;/em&gt; abiis alias berlalu entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Sebuah memoar adalah refleksi kejadian masa lalu, dan sayangnya logika waktu sering kali terbolak-balik, sehingga pengalaman masa lalu kerap di manipulasi dengan konteks kekinian (&lt;em&gt;recent&lt;/em&gt;).  Jadilah resensi kehidupan diri sendiri tidak jujur terhadap asas orisinalitas.  Penulisan sejarah akhirnya menjadi legitimasi bagi si menang:  pahlawan bagi yang menang, dan si kalah adalah penjahat laknat.  Lihatlah Sukarno ketika Orde Baru masih berkuasa, dan renungkanlah caci maki kepada Suharto ketika dia digulingkan pada tahun 1998.  Sejarah menjadi usaha legitimasi versi penguasa, dan konteks sejarah itulah yang terulang seperti seorang komentator sepak bola di televisi yang berkomentar dengan ringan:  “Sejarah kembali terulang.”  &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Bagaimana kita harus menyiasati hidup, biasanya kita tak ingin membicarakannya.  Kehidupan yang mudah adalah yang mengalir apa adanya, cenderung datar dengan tempo lamban, sehingga minim gesekan  dan harmonis dengan lingkungan sekitar.  Ketika sebuah atau beberapa buah keinginan tumbuh di hati, sesuatu itu menyebabkan perubahan orientasi sehingga perspektif terhadap lingkungan menjadi berubah.  Bagi yang ingin hidup mengalir apa adanya, mengejar target yang bergerak adalah suatu keniskalaan.  Bagi yang hidup dengan ideologi perjuangan, mengejar target yang bergerak adalah suatu keniscayaan, keharusan, dan jika tak dapat terpuaskan, maka hidup menjadi seakan tak bermakna. &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Ketika kekuatan konteks berhasil dibangun dalam suatu keadaan, maka seperti sebuah rencana pernikahan yang telah dipersiapkan dengan matang, dimana sang calon pengantin telah menjalankan ritual-ritual untuk membersihkan diri dan jiwanya menuju momentum puncak penyatuan jiwa secara simbolis dalam ikatan pernikahan.  Sekonyong-konyong dan tiba-tiba diterima kabar bahwa sang pengantin wanita meninggal dunia karena kecelakaan pesawat terbang.  Katastrofa dan perubahan drastis telah mengubah akumulasi momen kebahagian yang terbentuk sepanjang proses menjelang pernikahan menjadi kehampaan yang menghancur-leburkan makna suatu konteks.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Menjadi seorang calon Doktor (&lt;em&gt;promovendus&lt;/em&gt;) mungkin tak lebih dari seekor &lt;em&gt;wedus&lt;/em&gt; dalam konteks kontemporer kehidupan masa kini dengan kekiniannya.  Gelar kebangsawanan ataupun gelar akademis adalah legitimasi kelas masyarakat, dimana orang mencoba bermigrasi demi mendapatkan status yang lebih tinggi sehingga kelak dapat ditransformasi menjadi materi yang lebih berkualitas dan berkuantitas.  Menjadi seorang Doktor berarti boleh berbeda pendapat, tetapi pasti tak mau berbeda pendapatan.  Inilah legitimasi kelas.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Pergolakan suasana batin hari ini sebenarnya tak perlu terjadi kalau kapasitas keluasan dan kedalaman hati, serta waktu cukup tersedia untuk melarutkan semua permasalahan. Semua masalah dunia akan terurai dengan sendirinya (mengalami swa-penguraian) bila diberi waktu yang cukup.  Permasalahannya adalah kita tidak memiliki cukup waktu untuk membiarkan masalah itu mengalami swa-penguraian, karena hati kita telah membuat keinginan-keinginan yang ingin didapatkan secara seketika dan instan.  Ketika budaya instan merasuki seluruh dimensi kehidupan, maka kita menjadi instansi (ingin selalu cepat), yang justru paradoks dengan intansi pemerintah yang menempatkan birokrasi sebagai pusat perlambatan atas nama kehati-hatian atau sekedar melepas rodi (menghabiskan jam kerja).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3336940277818212099?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3336940277818212099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3336940277818212099&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3336940277818212099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3336940277818212099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/instansi-kehidupan.html' title='Instansi Kehidupan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-1394045800237321873</id><published>2007-06-22T16:18:00.000+07:00</published><updated>2007-06-22T16:19:32.389+07:00</updated><title type='text'>Efek Merah Biru</title><content type='html'>Efek sampingan adalah pengaruh liar substansi suatu ramuan&lt;br /&gt;Efek sampingan Viagra adalah ke depan&lt;br /&gt;Efek jera hukuman cocok untuk setan lautan pelahap anggaran&lt;br /&gt;Efek suara akan buat kaget jantungan&lt;br /&gt;Efektivitas memang tepat ke sasaran&lt;br /&gt;(OBAT KUAT UNTUK EREKSI BANGSAKU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merahnya darah tanda keberanian&lt;br /&gt;Merahnya muka tanda dipermalukan&lt;br /&gt;Setengah tiang merah putih tanda negara dalam keprihatinan&lt;br /&gt;Merahnya si moncong putih karena penindasan&lt;br /&gt;Merahnya merah Pramudya dilarang jaman orde baru  bukan?&lt;br /&gt;(MALU AKU JADI ORANG INDONESIA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birunya laut lambang kedalaman&lt;br /&gt;Birunya langit lambang keluasan&lt;br /&gt;Birunya darah lambang kebangsawanan&lt;br /&gt;Birunya film lambang perselingkuhan&lt;br /&gt;Birunya perasaan lambang kesenduan&lt;br /&gt;Birunya muka bekas tanda gamparan&lt;br /&gt;(CARUT MARUT KETERANIAYAAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;Karena penuh luka akibat carut marut keteraniayaan, aku malu menjadi orang Indonesia, dan perlu obat kuat untuk membangkitkan (ereksi) bangsaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran:&lt;br /&gt;Kalau nggak bisa ereksi lagi, perlu dana non budgeter untuk operasi alat vital bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-1394045800237321873?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/1394045800237321873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=1394045800237321873&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/1394045800237321873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/1394045800237321873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/efek-merah-biru.html' title='Efek Merah Biru'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-4608560527090954272</id><published>2007-06-22T09:46:00.000+07:00</published><updated>2007-06-22T09:55:16.198+07:00</updated><title type='text'>Anna Quindlen's Villanova University Commencement Address</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Internet's Anonymous Source  I got form "Chris Lusher" &lt;a href="mailto:cmlush@hotmail.com"&gt;cmlush@hotmail.com&lt;/a&gt; Aug 9, 2000 (11:09 GMT)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's a great honor for me to be the third member of my family to receive an honorary doctorate from this great-uncle Jim, who was a gifted physician, and my Uncle Jack, who is a remarkable businessman.  Both of them could have told you something important about their professions, about medicine or commerce. I have no specialized field of interest or expertise, which puts me at a disadvantage, talking to you today.  I'm a novelist.  My work is human nature.  Real life is all I know.  &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;Don't ever confuse the two, your life and your work.&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;The second is only part of the first.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  Don't ever forget the words my father sent me on a postcard last year:  &lt;em&gt;"If you win the rat race, you're still a rat."&lt;/em&gt; Or what John Lennon wrote before he was gunned down in the driveway of the Dakota: &lt;em&gt;"Life is what happens while you are busy making other plans."&lt;/em&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;You walk out of here this afternoon with only one thing that no one else has. There will be hundreds of people out there with your same degree;  there will be thousands of people doing what you want to do for a living.  But you will be the only person alive who has sole custody of your life.  Your particular life.  Your entire life.  Not just your life at a desk, or your life on a bus, or in a car, or at the computer.  Not just the life of your mind, but the life of your heart.  Not just your bank account, but your soul.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;People don't talk about the soul very much anymore.  It's so much easier to write a resume than to craft a spirit.  But a resume is a cold comfort on a winter night, or when you're sad, or broke, or lonely, or when you've gotten back the test results and they're not so good.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Here is my resume.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;I am a good mother to three children.  I have tried never to let my profession stand in the way of being a good parent.  I no longer consider myself the center of the universe. I show up. I listen. I try to laugh.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;I am a good friend to my husband. I have tried to make marriage vows mean what they say.  I show up.  I listen.  I try to laugh.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;I am a good friend to my friends, and they to me.  Without them, there would be nothing to say to you today, because I would be a cardboard cutout.  But I call them on the phone, and I meet them for lunch.  I show up.  I listen.  I try to laugh. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;I would be rotten, or at best mediocre at my job, if those other things were not true.  You cannot be really first rate at your work if your work is all you are.  So here's what I wanted to tell you today:&lt;strong&gt; get a life.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;   &lt;br /&gt;A real life, not a manic pursuit of the next promotion, the bigger paycheck, the larger house.  Do you think you'd care so very much about those things if you blew an aneurysm one afternoon, or found a lump in your breast?&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Get a life in which you notice the smell of salt water pushing itself on a breeze over Seaside Heights, a life in which you stop and watch how a red-tailed hawk circles over the water gap, or the way a baby scowls with concentration when she tries to pick up a Cheerio with her thumb and first finger.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Get a life in which you are not alone.  Find people you love, and who love you.  And remember that love is not leisure; it is work.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Each time you look at your diploma, remember that you are still a student, still learning how to best treasure your connection to others.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Pick up the phone.  Send an e-mail. Write a letter.  Kiss your Mom.  Hug your Dad.  Get a life in which you are generous.  Look around at the azaleas in the suburban neighborhood where you grew up; look at a full moon hanging silver in a black, black sky on a cold night.  And realize that life is the best thing ever, and that you have no business taking it for granted.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Care so deeply about its goodness that you want to spread it around. Take money you would have spent on beers and give it to charity.  Work in a soup kitchen. Be a big brother or sister.  All of you want to do well. But if you do not do good, too, then doing well will never be enough.&lt;br /&gt;It is so easy to waste our lives: our days, our hours, our minutes.  It is so easy to take for granted the color of the azaleas, the sheen of the limestone on Fifth Avenue, the color of our kids' eyes, the way the melody in a symphony rises and falls and disappears and rises again.  It is so easy to exist instead of live.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;I learned to live many years ago.  Something really, really bad happened to me, something that changed my life in ways that, if I had my druthers, it would never have been changed at all.  And what I learned from it is what, today, seems to be the hardest lesson of all.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;I learned to love the journey, not the destination.  I learned that it is not a dress rehearsal, and that today is the only guarantee you get.  I learned to look at all the good in the world and to try to give some of it back because I believed in it completely and utterly.  And I tried to do that, in part, by telling others what I had learned.  By telling them this:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Consider the lilies of the field.  Look at the fuzz on a baby's ear. Read in the backyard with the sun on your face.  Learn to be happy.  And think of life as a terminal illness because if you do you will live it with joy and passion as it ought to be lived.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Well, you can learn all those things, out there, if you get a real life, a full life, a professional life, yes, but another life, too, a life of love and laughs and a connection to other human beings.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Just keep you eyes and ears open. Here you could learn in the classroom.  There the classroom is everywhere.  The exam comes at the very end.  No man ever said on his deathbed I wish I had spent more time at the office.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;I found one of my best teachers on the boardwalk at Coney Island maybe 15 years ago.  It was December, and I was doing a story about how the homeless survive in the winter months.  He and I sat on the edge of the wooden supports, dangling our feet over the side, and he told me about his schedule, panhandling the boulevard when the summer crowds were gone, sleeping in a church when the temperature went below freezing, hiding from the police amidst the Tilt-a-Whirl and the Cyclone and some of the other seasonal rides. But he told me that most of the time he stayed on the boardwalk, facing the water, just the way we were sitting now, even when it got cold and he had to wear his newspapers after he read them.  And I asked him why.  Why didn't he go to one of the shelters?  Why didn't he check himself into the hospital for detox?&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;And he just stared out at the ocean and said, &lt;em&gt;"Look at the view, young lady.  Look at the view."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;And every day, in some little way, I try to do what he said.  I try to look at the view.  And that's the last thing I have to tell you today, words of wisdom from a man with not a dime in his pocket, no place to go, nowhere to be.  Look at the view.  You'll never be disappointed.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-4608560527090954272?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/4608560527090954272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=4608560527090954272&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4608560527090954272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4608560527090954272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/anna-quindlens-villanova-university.html' title='Anna Quindlen&apos;s Villanova University Commencement Address'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-4108734144524305024</id><published>2007-06-22T09:34:00.000+07:00</published><updated>2007-06-22T09:40:00.921+07:00</updated><title type='text'>A Reason,  A Season or  A Lifetime</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;From: Arcelie Balanon [SMTP: &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:arcelie@hotmail.com"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;arcelie@hotmail.com&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;], Sent: 19 May 2000 23:48&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;People come into your life for a reason, a season, or a lifetime. When you figure out which it is, you know exactly what to do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;When someone is in your life for a REASON, it is usually to meet a need you have expressed outwardly or inwardly. They have come to assist you through a difficulty, to provide you with guidance and support, to aid you physically, emotionally, or spiritually. They may seem like a godsend, and they are.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;They are there for the reason you need them to be. Then, without any wrongdoing on your part or at an inconvenient time, this person will say or do something to bring the relationship to an end. Sometimes they die. Sometimes they walk away. Sometimes they act up or out and force you to take a stand. What we must realize is that our need has been met, our desire fulfilled; their work is done. The prayer you sent up has been answered and it is now time to move on.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;When people come into your life for a SEASON, it is because your turn has come to share, grow, or learn. They may bring you an experience of peace or make you laugh. They may teach you something you have never done. They usually give you an unbelievable amount of joy. Believe it! It is real!   &lt;strong&gt;But, only for a season.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;LIFETIME relationships teach you lifetime lessons; those things you must build upon in order to have a solid emotional foundation. Your job is to accept the lesson, love the person/people (any way); and put what you have learned to use in all other relationships and areas of your life. It is said that love is blind but friendship is clairvoyant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guys, thank you for being a part of my life.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Smile and stop here if you're not into this final part: This is to show people you love them and to see how many people love you!!!!!! Don't feel embarrassed cause only you will get the results.&lt;br /&gt;Send it to every friend that you have online, including the person who sent it to you.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;0 Replies = you may need to work on your "people skills”&lt;br /&gt;2 Replies = you are nice but probably need to be more outgoing.&lt;br /&gt;4 Replies = you have picked your friends well&lt;br /&gt;6 Replies = you are downright popular&lt;br /&gt;8 Replies or More = you are totally awesome [and probably why you're on MY list)!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-4108734144524305024?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/4108734144524305024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=4108734144524305024&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4108734144524305024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4108734144524305024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/reason-season-or-lifetime.html' title='A Reason,  A Season or  A Lifetime'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-7119071760221541871</id><published>2007-06-22T08:58:00.000+07:00</published><updated>2007-06-22T09:17:45.880+07:00</updated><title type='text'>Renungan Perjalanan</title><content type='html'>Kampus IPB Baranang Siang 1984&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara derap langkah mengawali tahun ini, kurasakan semburatnya bayang-bayang untuk meniti masa depan. Kadang manusia bingung mencari identitasnya, dan Barat telah belajar banyak untuk menekuni eksistensialisme. Kierkegaard seorang eksistensialist Denmark akhirnya sampai pada suatu kesadaran religi, bertitik tolak dari sesuatu yang antitheisme, untuk menemukan dirinya pada suatu hakekat ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dari segi eksistensi manusia, suasana Idhul Fitri telah mengantar pada suatu kebulatan manusia seutuhnya. Di sana disadari arti dan makna hidup, hidup sekarang dan hidup setelah mati. Falsafah jiwa, Pancaran Nur, seperti sebuah &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;lubang yang tak tembus &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;(1)&lt;/span&gt;, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu ada di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) &lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;(2)&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt; yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walau tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;(3)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Kita lebur dosa kita dengan Nur illahi ….&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Sejarah membuat manusia arif; puisi (membuat manusia) &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;berdaya khayal kuat&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;(4)&lt;/span&gt;; matematika (membuat manusia) dalam; logika dan retorika (membuat manusia) dapat berdebat. Maka jika pikiran orang mengembara, biarlah ia studi matematika; sebab dalam pembuktian-pembuktian, jika pikirannya melayang-layang tidak sekedar sedikit saja, maka ia harus mulai lagi. Jika pikirannya tidak mampu untuk membedakan atau menemukan perbedaan-perbedaan, biarlah ia mempelajari Orang Terpelajar sebab mereka adalah &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;cymini sectores&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;(5)&lt;/span&gt;. Jika ia tidak mampu untuk menangani perkara-perkara dan menggunakan satu hal untuk membuktikan dan menerangkan hal lain, biarlah ia mempelajari perkara-perkara para hakim. Dengan demikian tiap kekurangan dalam budi pikiran manusia mempunyai suatu resep yang khusus &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;(6)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;Kemudian aku teringat akan satu puisi yang pernah kubaca dan teringat selalu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bulan putih menyembul di antara kubus-kubus kota&lt;br /&gt;seorang santeri kecil berdiri di beranda Mushola&lt;br /&gt;: tundukkan hatiku bermahkota nafsu maya&lt;br /&gt;: sucikan nurani dari debu-debu perilaku&lt;br /&gt;pada saat itu pula&lt;br /&gt;Ramadhan Putih menguak pintu-pintu sukma terkunci&lt;br /&gt;memasang dian-dian di bahagian paling kelam&lt;br /&gt;Ia mengaungkan gema pesan putih&lt;br /&gt;tapi kehadiran-Nya menyusup nuranimu&lt;br /&gt;manakala suara tarawihmu menembus dinding Mushola&lt;br /&gt;sujudkan keangkuhan yang lama bermuka&lt;br /&gt;bersamaan suara panjang pelantun azan&lt;br /&gt;Ramadhan Putih menyatulah dalam hari-hari sederhana&lt;br /&gt;seorang santeri kecil tak bernama&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jakarta, Julai 1981 &lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;7)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diah Hadaning, sastrawati asal Indonesia yang berkelana ke Malaysia, menusuk kalbuku. Kuinginkan, aku santeri kecil itu, tapi rasanya belum tercpai juga maksud itu. Entahlah, mungkin bagiku Ramadhan Putih terasa kelabu. Detak-detak Al ’Ashr telah ternoda dengan keterlambatan-keterlambatan, sengaja atau pun tidak. Shalat fardlu yang terlambat, ceramah dan diskusi tarawih yang terlewat, dan banyak lagi. Demi Al ‘Ashr, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran &lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;(8).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Baru saja kulewati masa-masa berbulan gula, dengan berpulang ke rumah di kampung halaman. Mungkin kalau terlalu banyak, rasa gula itu pun pahit, maka aku pulang lagi ke Bogor lebih dini. Tak banyak cerita, mungkin tak sebanyak cerita tentang kota lain yang sudah bersejarah dan membuat manusianya arif. Kotaku itu, atau kusebutkan kampung saja (apa bedanya?) di tepi sungai Mentaya yang apalah artinya (?) Tapi aku bangga, itu saja. Seperti &lt;strong&gt;Guillaume Apollinaire&lt;/strong&gt; yang liris, menuliskan &lt;em&gt;le Voyageur&lt;/em&gt; kepada &lt;strong&gt;Fernand Fleuret&lt;/strong&gt; tentang pasang surut sungai Euripus, maka saya terkesan akan Mentaya walaupun tetap &lt;em&gt;le voyageur&lt;/em&gt; &lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;(9) &lt;/span&gt;di tanah Priangan ini. Bagaimanapun juga, &lt;em&gt;Je suis tu regardais un banc de nuages descendre, avec la paquebot orphelin vers les fievres futures&lt;/em&gt; &lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;(10),&lt;/span&gt; tetapi selalu waswas dan cemas dan juga duka, kesal dalam menuntut ilmu ini … tapi akhirnya hanyalah kenangan yang sudah berlalu: &lt;em&gt;te souvienstu&lt;/em&gt; … &lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;(11)&lt;/span&gt; Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Ada baiknya kututup kata-kataku ini dengan ceritaku, kotaku yang kampung itu, dan diriku yang dusun itu, tetaplah aku Iyung Pahan yang tidak kampungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1) &lt;em&gt;Misykat&lt;/em&gt; – lubang yang tak tembus: lubang di dinding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang yang lain. Lihat QS 24:35.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;2) Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit, ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik (sesuai dengan konsep &lt;em&gt;total heat unit&lt;/em&gt;). Ibid QS 24:35.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) QS 24:35.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Witty: full of fancy, imaginative&lt;/em&gt; = penuh khayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Cymini sectores&lt;/em&gt; (Latin) = &lt;em&gt;hair-splitters&lt;/em&gt; = orang yang membuat pembedaan-pembedaan yang halus-halus dan tak perlu = suka ‘njlimet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Francis Bacon. &lt;em&gt;Essays: Of Studies&lt;/em&gt;. Lihat Kemajuan Studi 2:26-30. &lt;em&gt;Histories make men wise; poets witty4); the mathematics subtile; natural philosophy deep; logic and rhetoric able to contend. So is a man’s wit be wandering, let him study mathematics; for in demonstrations, if his wit be not apt to distinguish or find differences, let him study schoolmen; for they are cymini sectores5). If he be not apt to beat over matters, and to call up one thing to prove and illustrate another, let him study the lawyer’s cases. So every defect of the mind may have a special receipt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Diah Hadaning. Ramadhan Putih. Dewan Sastera 803(12): Juni 1982. Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) QS 103:1-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Artinya: petualang. Lihat Guillaume Apollinaire. &lt;em&gt;Le Voyageur. Anthologie Bilingue de la poeise Moderne Francaise.&lt;/em&gt; Pustaka Jaya. Jakarta. Hal. 90-91. &lt;em&gt;(Choix et presentation de Wing Kardjo).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10) Terjemahan bebas: Aku memandang gumpalan awan yang turun bergegas, bersama kapal yatim piatu demam hari depan dituju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11) Terjemahan bebas: kau kenang semua itu …&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-7119071760221541871?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/7119071760221541871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=7119071760221541871&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/7119071760221541871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/7119071760221541871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/renungan-perjalanan.html' title='Renungan Perjalanan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-3713480635269117041</id><published>2007-06-22T08:51:00.000+07:00</published><updated>2007-06-22T08:55:09.785+07:00</updated><title type='text'>Toko Lampu</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh:  Syeh-Per Syatari *)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Pada suatu malam gelap, dua orang bertemu di sebuah jalan yang sunyi.&lt;br /&gt;             “Saya mencari sebuah toko dekat-dekat sini, namanya Toko Lampu,” kata yang pertama.&lt;br /&gt;            "Saya kebetulan orang sini, dan bisa menunjukkannya pada saudara,” kata orang kedua.&lt;br /&gt;            “Saya harus bisa menemukannya sendiri.  Saya sudah diberi petunjuk, dan saya sudah catat pula,” kata yang pertama.&lt;br /&gt;            “Jadi kenapa saudara mengatakan hal itu kepada saya?”&lt;br /&gt;            “Iseng saja.”&lt;br /&gt;            “Jadi saudara ingin ditemani, tidak  ditunjukkan arahnya?”&lt;br /&gt;            “Ya, itulah maksud saya.”&lt;br /&gt;            “Tetapi lebih mudah bagi saudara kalau ditunjukkan arahnya oleh penduduk sini, sudah sejauh ini:  apalagi mulai dari sini jalannya sulit.”&lt;br /&gt;            “Saya percaya pada apa yang sudah dikatakan kepada saya, yang telah membawaku sejauh ini.  Saya tidak yakin bisa mempercayai sesuatu atau seseorang lain lagi.”&lt;br /&gt;            “Jadi, meskipun saudara mempercayai pemberi keterangan yang pertama, saudara tidak diajar cara memilih orang yang bisa saudara percayai?”&lt;br /&gt;            “Begitulah.”&lt;br /&gt;            “Saudara punya tujuan lain?”&lt;br /&gt;            “Tidak, hanya mencari Toko Lampu itu.”&lt;br /&gt;            “Boleh saya bertanya:  kenapa saudara mencari toko lampu itu?”&lt;br /&gt;            “Sebab saya diberi tahu para ahli bahwa di tempat itulah saya bisa mendapatkan alat-alat yang memungkinkan orang membaca dalam gelap.”&lt;br /&gt;            “Saudara benar, tapi ada syarat, dan juga sedikit keterangan.  Saya ragu apakah mereka sudah memberitahukan hal itu kepada saudara.”&lt;br /&gt;            “Apa itu?”&lt;br /&gt;            “Syarat untuk bisa membaca dengan lampu adalah bahwa saudara harus sudah bisa membaca.”&lt;br /&gt;            “Saudara tidak bisa membuktikannya!”&lt;br /&gt;            “Tentu saja dalam malam gelap semacam ini saya tidak bisa membuktikannya.”&lt;br /&gt;            “Lalu, 'sedikit keterangan' itu apa?”&lt;br /&gt;            “Sedikit keterangan itu adalah bahwa Toko Lampu itu masih di sana, tetapi lampu-lampunya sudah dipindah ke tempat lain.”&lt;br /&gt;            “Saya tidak tahu 'lampu' itu apa, tetapi tampaknya Toko Lampu adalah tempat menyimpan alat tersebut.  Oleh karena itulah ia disebut Toko Lampu.”&lt;br /&gt;            “Tetapi 'Toko Lampu' bisa mempunyai dua makna yang berbeda.  Yang pertama, 'Tempat di mana lampu-lampu bisa didapatkan';  yang kedua,”Tempat di mana lampu-lampu pernah bisa didapatkan, tetapi kini tidak ada lagi.”&lt;br /&gt;            “Saudara bisa membuktikannya!”&lt;br /&gt;            “Saudara akan dianggap tolol oleh kebanyakan orang.”&lt;br /&gt;            “Tetapi ada banyak orang yang akan menganggap saudara tolol.  Mungkin saudara bukan si Tolol.  Saudara mungkin mempunyai maksud tersembunyi, menyuruh saya pergi ke tempat teman saudara yang berjualan lampu.  Atau mungkin saudara tidak menginginkan saya mempunyai lampu sama sekali.”&lt;br /&gt;            “Saya ini lebih buruk dari yang saudara bayangkan.  Saya tidak menjanjikan saudara 'Toko Lampu' dan membiarkan saudara menganggap bahwa masalah saudara akan terpecahkan di sana, tetapi saya pertama-tama ingin mengetahui apakah saudara ini bisa membaca.  Saya tentu bisa mengetahuinya seandainya saudara berada dekat sebuah toko semacam itu.  Atau apakah lampu bisa didapatkan bagi saudara dengan cara lain.”&lt;br /&gt;            Kedua orang itu saling memandang, dengan sedih, sejenak.  Lalu masing-masing melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; __________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)  Syeh-Per Syatari, penulis kisah ini, meninggal di India pada tahun 1632.  Makamnya di Meerut.  Ia dipercaya bisa melakukan hubungan telepati dengan guru-guru “masa lampau, kini dan masa depan”, dan memberi mereka kemudahan untuk menjelaskan pesan mereka lewat kepandaiannya menyusun kisah-kisah berdasarkan kehidupan sehari-hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-3713480635269117041?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/3713480635269117041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=3713480635269117041&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3713480635269117041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/3713480635269117041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/toko-lampu.html' title='Toko Lampu'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-7073629740521378121</id><published>2007-06-21T18:47:00.000+07:00</published><updated>2007-06-21T19:14:07.602+07:00</updated><title type='text'>Tragedi Nol Buku, Tragedi Kita Bersama</title><content type='html'>Oleh: Taufiq Ismail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA KATA MEREKA TENTANG BUKU?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku adalah pengusung peradaban&lt;br /&gt;Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam,&lt;br /&gt;sains lumpuh, pemikiran macet.&lt;br /&gt;Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia,&lt;br /&gt;"mercu suar" seperti kata seorang penyair,&lt;br /&gt;"yang dipancangkan di samudera waktu".&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Barbara Tuchman, 1989]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buku adalah jendela&lt;br /&gt;Sukma kita melihat dunia luar lewat jendela ini&lt;br /&gt;Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tak berjendela&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Henry Ward Beecher, 1870]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buku itu seperti taman&lt;br /&gt;Yang bisa dimasukkan ke dalam kantong&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Pepatah Tiongkok]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buku adalah benda luar biasa&lt;br /&gt;Buku itu seperti taman indah penuh dengan bunga aneka-warna,&lt;br /&gt;Seperti permadani terbang&lt;br /&gt;Yang sanggup melayangkan kita&lt;br /&gt;Ke negeri-negeri tak dikenal sebelumnya&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Frank Gruber, 1944]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buku menghirup udara dan menghembuskan minyak wangi&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Eugene Field, 1896]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buku harus menjadi kampak&lt;br /&gt;Untuk menghancurkan lautan beku di dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Franz Kafka, 1883-1924, cerpenis dan novelis Austria]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanpa buku Tuhan diam,&lt;br /&gt;Keadilan terbenam&lt;br /&gt;Sains alam macet,&lt;br /&gt;Sastra bisu,&lt;br /&gt;Dan seluruhnya dirundung kegelapan&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Thomas V. Bartholin, 1672]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buku adalah teman paling pendiam dan selalu siap di tempat.&lt;br /&gt;Penasehat yang paling mudah ditemui dan paling bijaksana,&lt;br /&gt;Serta guru yang luar biasa sabar&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Charles W. Eliot, 1896]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak membaca buku:&lt;br /&gt;Saya berbicara dengan pengarangnya&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Elbert Hubbard, 1927]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buku berfikir untuk saya&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Charles Lamb]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buku itu cermin&lt;br /&gt;Kalau keledai bercermin disitu,&lt;br /&gt;Tak akan muncul wajah ulama&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[G.C. Lichtenberg]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buku sebenarnya bukanlah yang kita baca,&lt;br /&gt;Tapi buku yang membaca kita&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[W.H. Auden, 1973]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Wanita piaraan saya&lt;br /&gt;Buku&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[S.J. Adair Fitzgerald]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada uang sedikit, saya beli buku,&lt;br /&gt;Kalau masih ada sisanya,&lt;br /&gt;Saya beli makanan dan pakaian&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Desiderius Erasmus]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Biarlah saya jadi orang miskin,&lt;br /&gt;Tinggal di gubuk tapi punya buku banyak&lt;br /&gt;Daripada jadi raja tapi tak suka membaca&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Thomas B. Macaulay, 1876]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang seperti saya&lt;br /&gt;Orang yang perlu buku, seperti mereka perlu udara&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Richard Marek, 1987]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bisa hidup tanpa buku&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Thomas Jefferson, 1815]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Duduk sendirian dibawah sinar lampu,&lt;br /&gt;Buku terkembang di depan,&lt;br /&gt;Bercakap-cakap secara akrab dengan manusia dari generasi yang tak tampak.&lt;br /&gt;Sungguh suatu kenikmatan yang tak bertara&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Yoshida Kenko, 1688]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan membaca itu satu-satunya kenikmatan yang murni&lt;br /&gt;Ketika kenikmatan lain pudar, kenikmatan membaca tetap bertahan&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Anthony Trollope]&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mana bisa tahu tentang waktu yang dihabiskan&lt;br /&gt;Dan susah payahnya belajar membaca (buku)&lt;br /&gt;Saya sudah 80 tahun berusaha,&lt;br /&gt;Belum juga mencapai tujuan&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Goethe]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan&lt;br /&gt;Bila tidak dikelilingi buku-bukunya&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Francois Mitterand, Presiden Perancis, 1982]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Seperti daging untuk jasmani, begitulah bacaan untuk jiwa&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Seneca]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku bagus&lt;br /&gt;Seperti bercakap-cakap dengan orang hebat&lt;br /&gt;Dari abad-abad terdahulu&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Rene Descartes, 1617]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Orang dapat memperoleh pendidikan kelas atas&lt;br /&gt;Dari rak buku sepanjang lima kaki&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Charles William Eliot, Rektor Universitas Harvard]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Universitas sejati hari ini&lt;br /&gt;Adalah sebuah kumpulan buku&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Thomas Carlyle]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya akan menyudahi pendahuluan ini dengan mengutip ucapan &lt;em&gt;Jorge Luis Borge&lt;/em&gt;, penyair, cerpenis dan esais Argentina (1899 - 1986), Direktur Perpustakaan Nasional Argentina (1955 - 1973) tentang perpustakaan yang mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu membayangkan Sorga itu&lt;br /&gt;Seperti semacam perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KENAPA ORANG INDONESIA (SEDIKIT, SANGAT SEDIKIT, LUAR BIASA SEDIKIT) MEMBACA BUKU?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kenapa di gerbong kereta api Jakarta-Surabaya pasasir Indonesia tidak membaca novel, tapi menguap dan tertidur miring? Kenapa di bus Pekanbaru - Bukittinggi penumpang tidak membaca kumpulan cerpen, tapi mengisap rokok? Kenapa di halaman kampus yang berpohon rindang mahasiswa tidak membaca buku teks kuliahnya tapi main gaple? Kenapa di kapal Makassar - Banda Naira penumpang tidak membaca buku kumpulan puisi, tapi main domino? Kenapa di ruang tunggu dokter spesialis penyakit jantung di Manado pengantar pasien tidak membaca buku drama tapi asyik main sms? Ada 4 - 5 teori kuno yang mencoba menjelaskan sebab defisiensi budaya yang sudah luar biasa parah ini, dan sudah berlangsung 55 tahun lamanya, tapi saya jemu dan tidak akan mengulanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etiologi dari epidemi ini, sebab utama penyakit kronis ini terletak sejak dari hulu sampai hilir aliran sungai lembaga pendidikan kita, yaitu TERLANTARNYA KEWAJIBAN MEMBACA BUKU SASTRA DI SEKOLAH-SEKOLAH KITA. Mari kita teropong masalah ini, dengan mempertajam fokus lensa pengamatan ke SMA. Agar diperoleh perbandingan yang menguntungkan, kita luaskan pandangan ke SMA 13 negara, sebagai berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Juli-Oktober 1997 saya melakukan serangkaian wawancara dengan tamatan SMA 13 negara. Saya bertanya tentang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) kewajiban membaca buku,&lt;br /&gt;2)tersedianya buku wajib di perpustakaan sekolah,&lt;br /&gt;3) bimbingan menulis dan&lt;br /&gt;4) pengajaran sastra di tempat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini tabel jumlah buku sastra yang wajib dibaca selama di SMA bersangkutan (3 atau 4 tahun), yang tercantum di kurikulum, disediakan di perpustakaan sekolah, dibaca tamat lalu siswa menulis mengenainya, dan diuji:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Sastra Wajib di SMA 13 Negara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NO /&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;ASAL SEKOLAH / BUKU / NAMA SMA / TAHUN WAJIB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1 SMA Thailand Selatan / 5 judul / Narathiwat /1986-1991&lt;br /&gt;2 SMA Malaysia / 6 judul / Kuala Kangsar / 1976-1980&lt;br /&gt;3 SMA Singapura / 6 judul / Stamford College / 1982-1983&lt;br /&gt;4 SMA Brunei Darussalam / 7 judul / SM Melayu I / 1966-1969&lt;br /&gt;5 SMA Rusia Sovyet / 12 judul / Uva / 1980-an&lt;br /&gt;6 SMA Kanada /13 judul / Canterbury / 1992-1994&lt;br /&gt;7 SMA Jepang /15 judul / Urawa / 1969-1972&lt;br /&gt;8 SMA Internasional Swiss / 15 judul / Jenewa / 1991-1994&lt;br /&gt;9 SMA Jerman Barat / 22 judul / Wanne-Eickel / 1966-1975&lt;br /&gt;10 SMA Perancis / 30 judul / Pontoise / 1967-1970&lt;br /&gt;11 SMA Belanda / 30 judul / Middleburg / 1970-1973&lt;br /&gt;12 SMA Amerika Serikat / 32 judul / Forest Hills / 1987-1989&lt;br /&gt;13 AMS Hindia Belanda-A / 25 judul / Yogyakarta / 1939-1942&lt;br /&gt;14. AMS Hindia Belanda-B / 15 judul / Malang / 1929-1932&lt;br /&gt;15. SMA Indonesia / 0 judul / Di Mana Saja / 1943-2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Catatan: Angka di atas hanya berlaku untuk SMA responden (bukan nasional), dan pada tahun-tahun dia bersekolah di situ (bukan permanen). Tapi sebagai pemotretan sesaat, angka perbandingan di atas cukup layak untuk direnungkan bersama. Apabila buku sastra 1) tak disebut di kurikulum, 2) dibaca Cuma ringkasannya, 3) siswa tak menulis mengenainya, 4) tidak ada di perpustakaan sekolah, dan 5} tidak diujikan, dianggap nol. Angka nol buku untuk SMA Indonesia sudah berlaku 62 tahun lamanya, dengan kekecualian luarbiasa sedikit pada beberapa SMA saja&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tamatan SMA Indonesia, mari kita ingat-ingat berapa buku sastra yang wajib baca selama 3 tahun di sekolah kita dulu (yang disediakan di perpustakaan, dibaca tamat, kita menulis mengenainya dan lalu diujikan?) Nol buku. Tapi kita tahu 3 puisi Chairil Anwar (" Aku", "Krawang-Bekasi", "Senja di Pelabuhan Kecil"), kenal jalan cerita novel Layar Terkembang, dan pernah dengar-dengar Rendra lahir di kota mana gerangan. Dengan kriteria di atas, kita seharusnya tamat 72 puisi dan 7 prosa Chairil (bukunya Derai-derai Cemara setebal 132 halaman), baca tamat Layar Terkembang (bukan tahu plotnya karena baca sinopsisnya), dan baca tamat kumpulan puisi Balada Orang Tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di SD kita diberi tahu tentang awalan, sisipan dan akhiran. Di SMP kita dilatih menggunakan awalan, sisipan dan akhiran. Di SMA kita diperiksa menggunakan awalan, sisipan dan akhiran. Sastra diajarkan dalam definisi -definisi, seperti ilmu fisika, dalam rumus-rumus, mirip ilmu kimia. Latihan mengarang mendekati Nol Karangan. Rejim Linguistik menguasai pelajaran bahasa dan sastra lebih dari setengah abad lamanya. Siswa tidak diberi kesempatan berenang di danau kesusastraan dengan nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa AMS wajib menulis karangan, 1 karangan seminggu. Karangan disetor, diperiksa guru, diberi angka. Panjang karangan satu halaman. Jumlahnya 36 karangan setahun, 108 karangan 3 tahun. Ketika mereka masuk universitas, tugas menulis makalah dan skripsi dilaksanakan dengan merdu dan lancar. Kewajiban menulis karangan di SMA kini antara 1 kali setahun (mirip shalat Idulfitri) sampai 5 kali setahun (pastilah di SMA favorit yang mahal itu). Dibanding dengan AMS, yah, sekitar 5,2 persen. Ratusan ribu siswa pasti pernah menulis karangan dengan judul "Cita-citaku" dan "Berlibur di Rumah Nenek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi Nol Buku ini hampir tidak masuk akal bila kita mendapatkan fakta bahwa siswa Algemene Middelbare School (SMA zaman Belanda dulu) Yogya wajib baca 25 buku sastra dalam waktu 3 tahun, tak jauh di bawah SMA Forest Hills (New York), di atas SMA Wanne-Eickel (Jerman Barat) hari ini. Superioritas AMS Hindia Belanda itu jadi luar biasa karena 25 buku itu dalam 4 bahasa, yaitu Belanda, Inggeris, Jerman dan Perancis (responden Rosihan Anwar, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi Nol Buku ini berlangsung pada awal 1950. Ketika seluruh aparat pemerintahan sudah sepenuhnya di tangan sendiri, demi mengejar ketertinggalan sebagai bekas negara jajahan, yang mesti membangun jalan raya, bangunan, rumah sakit, jembatan, pertanian, perkebunan, kesehatan, perekonomian, maka yang diunggulkan dan disanjung adalah jurusan eksakta (teknik, kedokteran, pertanian, farmasi), ekonomi dan hukum. Wajib baca 25 buku sastra digunting habis, karena dipandang tidak perlu. Ini kesalahan peradaban luar biasa besar. Ketika saya perlihatkan hasil observasi (dalam tabel) itu kepada Menteri Wardiman Djojonegoro (1997), beliau terkejut. "Sudah demikian burukkah keadaannya?" tanyanya. "Ya," jawab saya. Mari kita kilas batik ke tahun 1942-1945, dan kita dengar apa kata Asrul Sani (1999):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok sastrawan masa itu (pendudukan Jepang) gila membaca. Buku-buku orang Belanda, yang diinternir Jepang, banyak diloakkan di Pasar Senen, sehingga asal rajin ke sana, banyak bisa memperoleh karya sastra dunia, di samping buku-buku sastra Belanda. Rivai Apin, Idrus juga tukang baca. Idrus fanatik pada IIya Ehrenburg ... Di jalan Juanda dulu ada dua toko buku. Toko buku van Dorp, yang sekarang jadi kantor Astra, dan toko buku Kolff. Koleksinya luar biasa. Saya dan Chairil Anwar suka juga mencuri buku di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kewajiban baca 25 buku itu tidak bertujuan agar siswa jadi sastrawan. Tidak. Sastra cuma medium tempat lewat. Sastra mengasah dan menumbuhkan budaya baea buku secara umum. Seorang Anak Baru Gede di tahun 1919 masuk sekolah SMA dagang menengah Prins Hendrik School di Batavia. Wajib baca buku sastra menyebabkannya ketagihan membaca, tapi dia lebih suka ekonomi. Dia melangkah ke samping, lalu jadi ekonom dan ahli koperasi. Namanya Hatta. Seorang siswa yang sepantaran dia, di AMS Surabaya, juga adiksi buku. Kasur, kursi dan lantai kamarnya ditebari buku. Tapi dia lebih suka iImu politik, sosial dan nasionalisme. Dia melangkah ke samping dan jadi politikus. Namanya Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sastra menanamkan rasa ketagihan membaca buku, yang berlangsung sampai siswa jadi dewasa. Rosihan Anwar (kini 83) tetap membaca 2 buku seminggu. Buku apa saja. "Jiwa saya merasa haus kalau saya tak baca buku," kata beliau. Demikianlah rasa adiksi yang positif itu bertahan lebih dari setengah abad, bahkan seumur hidup. Tragedi Nol Buku ini, yang sudah berlangsung 55 tahun lamanya, dengan mudah dapat dijelaskan kini akibatnya. Tamatan SMA Nol Buku sejak 1950 (saya tak sempat menghitung dengan teliti tapi pastilah meliputi beberapa juta orang); mereka inilah yang kini jadi warga Indonesia terpelajar serta memegang posisi menentukan arah negara dan bangsa hari ini, dengan rentang umur antara 35 - 70 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEREKA INI, DENGAN SEDIKIT KEKECUALIAN, HAMPIR SEMUA BERBEKAL NOL BUKU KETIKA BERSEKOLAH, TIDAK MENDAPAT KESEMPATAN UNTUK DITANAMKAN RASA KETAGIHAN MEMBACA BUKU, KECINTAAN PADA BUKU, KEINGINAN BERTANYA KEPADA BUKU DALAM SEMUA ASPEK KEHIDUPAN DAN KEBIASAAN MENGUNJUNGI PERPUSTAKAAN SEBAGAI TEMPAT MERUJUK SUMBER ILMU PENGETAHUAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentulah etiologi penyakit budaya ini mesti disembuhkan. Kita perbaiki bersama pengajaran membaca dan menulis di sekolah-sekolah kita, sejak SD, sampai SMP dan SMA. Komponen luar biasa penting dalam ikhtiar perbaikan ini adalah perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih siswa SMA di Pekalongan, pada tahun 1955 dan 1956, saya pernah menjadi penjaga perpustakaan pelajar, yang diamanatkan Djawatan Pendidikan Masjarakat kepada organisasi Peladjar Islam Indonesia. Perpustakaan kami dibuka sekali sepekan, pada hari Minggu saja, di beranda rumah orangtua saya, Jalan Bandung 60. Jumlah buku sekitar 300 judul. Saya dan sahabat saya S.N. Ratmana menjadi administraturnya: mencatat lalu-lintas buku, menagih yang terlambat mengembalikan, menjaga kebersihan, mengatur keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota kami siswa SMP, SMA dan PGA. Sebagai pemegang kunci perpustakan, sebagai "bos" saya bebas membaca tanpa biaya. Demikianlah saya kenyang membaca semua novel Karl May tentang Winnetou, Pudjangga Baru, Angkatan 45, sampai juga buku tuntunan bertanam anggrek karangan Sutan Sanif dan buku cara mengecor beton bertulang Prof. Ir. Rooseno. Kecil-kecilan di kalangan siswa SMA Pekalongan dulu saya adalah seorang ”pustakawan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup saya menyampaikan harapan, marilah kita jadikan perpustakaan bukan saja rujukan utama ilmu pengetahuan, tapi tempat yang sejuk dan teduh bagi manusia Indonesia (sedikit di bawah sorga yang diimpikan Jorge Luis Borge), berumur 5 sampai 85 tahun, yang memberikan pencerahan pada akal dan sukma kita, menuju peradaban Indonesia yang mendapat naungan Tuhan Yang Maha Rahim dan Rahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KUPU-KUPU DI DALAM BUKU&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,&lt;br /&gt;di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,&lt;br /&gt;kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,&lt;br /&gt;dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,&lt;br /&gt;di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku&lt;br /&gt;dan cahaya lampunya terang benderang,&lt;br /&gt;kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua&lt;br /&gt;sibuk membaca dan menuliskan catatan,&lt;br /&gt;dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bertandang di sebuah toko,&lt;br /&gt;warna-warni produk yang dipajang terbentang,&lt;br /&gt;orang-orang memborong itu barang&lt;br /&gt;dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,&lt;br /&gt;dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika singgah di sebuah rumah,&lt;br /&gt;kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,&lt;br /&gt;dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya, kemudian katanya,&lt;br /&gt;"tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,&lt;br /&gt;yang tahu tentang kupu-kupu,"&lt;br /&gt;dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,&lt;br /&gt;di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,&lt;br /&gt;di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,&lt;br /&gt;di tempat penjualan buku laris dibeli,&lt;br /&gt;dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu&lt;br /&gt;tidak berselimut debu&lt;br /&gt;karena memang dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufiq Ismail, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;BIODATA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Taufiq Ismail lahir di Bukit Tinggi, 25 Juni 1935, dibesarkan di Pekalongan, Semarang dan Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pendiri majalah sastra Horison (1966), redaktur senior sampai kini. Alumnus IPB (Fakultas Kedokteran Hewan &amp; Peternakan), 1963. Penyair tamu di University of Iowa, Iowa City (1971-1972 dan 1991-1992). Kuliah di American University in Cairo, 1990, terhenti karena Perang Teluk. Penulis tamu di Dewan Bahasa &amp;amp; Pustaka, Kuala Lumpur, 1994. Menulis dan menghimpun antologi 15 judul buku, a.1. kumpulan puisi Tirani dan Benteng, dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergugah oleh merosotnya budaya baca buku dan menulis karangan, Taufiq Ismail bersama-sama sastrawan di majalah Horison menggerakkan enam butir kegiatan gerakan sastra, dengan sasaran dunia pendidikan, yang bertujuan meningkatkan: budaya membaca buku, kemampuan mengarang, dan apresiasi sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NO / KEGIATAN / SASARAN / PENDANAAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1 Sisipan Kakilangit / Siswa dan Guru / Majalah Sastra Horison&lt;br /&gt;2 Pelatihan MMAS / Guru / Depdiknas&lt;br /&gt;3 Kegiatan SBSB / Siswa dan Guru / The Ford Foundation&lt;br /&gt;4 Kegiatan SBMM / Mahasiswa / The Ford Foundation&lt;br /&gt;5 LMKS dan LMCP / Guru / Depdiknas&lt;br /&gt;6 SSSI / Siswa / The Ford Foundation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Sisipan Kakilangit ditujukan untuk siswa SMA dan sederajat, dilaksanakan sejak 1996.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) selama 7 hari untuk guru bahasa dan sastra SMA se-Indonesia, 1999-2004, diikuti 1.700guru di 11 kota. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) mendatangkatl sastrawan ke SMA dan Pondok Pesantren, membacakan karya dan berdiskusi dengan siswa serta guru. Dalam rentang masa 2000-2004 telah dikunjungi 205 sekolah di 133 kota, 26 provinsi, 97.180 siswa danguru, oleh 70 sastrawan. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Mahasiswa Fakultas Sastra dan Fakultas Bahasa &amp;amp; Seni menjadi sasaran kegiatan SBMM (Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca), 2000-2002 di 9 universitas, dengan mendatangkan 18 sastrawan yang berbicara tentang bukunya. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Guru distimulasi mengarang dengan Lomba Mengulas Karya Sastra dan Lomba Menulis Cerita Pendek, 2000-2004, diikuti oleh sekitar 300 guru setiap tahunnya.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Untuk menampung energi kegiatan sastra siswa dibentuk 12 Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) di 12 kota (2002), dan tahun 2005 akan dibentuk 10 lagi sanggar di kota-kota lain.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Sebagai penghargaan atas kegiatan yang digerakkannya ini, Taufiq Ismail dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dalam pendidikan sastra oleh Universitas Negeri Yogyakarta, 8 Februari 2003. * * *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-7073629740521378121?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/7073629740521378121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=7073629740521378121&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/7073629740521378121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/7073629740521378121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/tragedi-nol-buku-tragedi-kita-bersama.html' title='Tragedi Nol Buku, Tragedi Kita Bersama'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-2138818781988042748</id><published>2007-06-21T17:57:00.000+07:00</published><updated>2007-06-21T18:24:35.179+07:00</updated><title type='text'>Paruh Kedua Kehidupan</title><content type='html'>Menurut Drucker, pekerja berbasis ilmu pengetahuan (&lt;em&gt;knowledge worker&lt;/em&gt;) adalah pekerja yang tidak bekerja secara mekanis (seperti penyapu jalanan dan pemanen TBS kelapa sawit), menempatkan dirinya sendiri sebagai penanggung jawab utama dalam upaya mencari pengetahuan untuk meningkatkan kompetensi dirinya, memilih jenis pekerjaan dan menginvestasikan waktunya untuk menghasilkan &lt;em&gt;outcome &lt;/em&gt;yang ditargetkannya. Konsep ini adalah dasar dari peningkatan harkat manusia dari sekedar pekerja (&lt;em&gt;worker&lt;/em&gt;) menjadi sumberdaya manusia (&lt;em&gt;human resource&lt;/em&gt;) yang akhirnya layak dikatakan sebagai modal insani (&lt;em&gt;human capital&lt;/em&gt;). &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Ketiga terminologi tadi merupakan subyek pengkajian dalam revolusi manajemen personalia menjadi manajemen sumber daya manusia, dan kemudian menjadi manajemen strategis sumber daya manusia atau manajemen modal insani. Perubahan lingkungan bisnis yang semakin lama semakin cepat, mau tidak mau, senang tidak senang, akhirnya menempatkan perubahan sebagai unsur utama yang menentukan ketahanan organisasi dalam siklus hidup organisasi yang semakin tinggi temponya dan semakin sedikit waktu tersisa untuk menyikapinya dengan kata kunci: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;BERUBAH atau MATI!&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Sejalan dengan perubahan dunia yang menjadi semakin datar dengan terjadinya fenomena globalisasi yang datang seperti versi perangkat lunak yang semakin lama semakin kompleks, canggih dan tak terbayangkan, globalisasi telah mengambil purwa rupa dengan runtunan globalisasi versi 1.0, 2.0 dan 3.0. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;strong&gt;Globalisasi 1.0 (1492-1800):&lt;/strong&gt; Dunia susut dari besar menjadi sedang, prosesnya terkait pada negara dan otot. Seberapa gigih, seberapa kuat otot dan seberapa besar tenaga kuda, tenaga angin, dan tenaga uap yang dimiliki negara serta seberapa besar kreativitas pemanfaatannya akan mendorong globalisasi. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;strong&gt;Globalisasi 2.0 (1800-2000):&lt;/strong&gt; Dunia susut dari sedang menjadi kecil, prosesnya terkait pada perusahaan-perusahaan multinasional. Dimotori jatuhnya biaya transportasi karena mesin uap dan kereta api, dilanjutkan dengan jatuhnya biaya telekomunikasi karena telegraf, telepon, PC, satelit, serat optik dan www versi awal. Terjadi pergerakan barang dan informasi antar benua membentuk pasar global berupa perdagangan barang dan tenaga kerja antarpasar. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;strong&gt;Globalisasi 3.0 (2000-sekarang):&lt;/strong&gt; Dunia susut dari kecil menjadi sangat kecil sehingga mendatarkan dunia, prosesnya terkait pada pemberdayaan individu-individu, kelompok-kelompok dan segala keragamannya. Dimotori oleh 10 pendatar berupa kreativitas, konektivitas, kolaborasi, &lt;em&gt;up-loading, outsourcing, off-shoring, supply-chaining, insourcing, in-forming,&lt;/em&gt; dan steroid seperti digitalisasi, mobilitas, personalisasi, dan virtualisasi. Mereka menciptakan trio konvergensi yang akhirnya mendatarkan dunia melalui integrasi yang menciptakan lapangan baru, horisontalisasi yang menciptakan proses baru, dan koloborasi horisontal yang menciptakan kebiasaan baru. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Sebagai pekerja ilmu pengetahuan, yang menyadari bahwa dunia telah berubah, dan kompetensi yang dimiliki semakin lama semakin cepat usang dan tidak terpakai lagi, maka &lt;strong&gt;&lt;em&gt;pengalaman akhirnya berubah menjadi guru yang terburuk&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Ungkapan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;pengalaman adalah guru yang terbaik&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; hanya berlaku dalam dunia yang turbulensinya rendah, sehingga orang dapat belajar dari kesalahan untuk mencari makna dan memperbaiki kesalahan tersebut sehingga tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Dalam bahasa program, situasi ini adalah proses &lt;em&gt;debug.&lt;/em&gt; Malangnya, persaingan piranti lunak saat ini bukan pada tataran program dan &lt;em&gt;debug&lt;/em&gt; yang dilakukan untuk menambal &lt;em&gt;(patching)&lt;/em&gt; kerentanan program itu lagi. &lt;em&gt;Debug &lt;/em&gt;untuk menambal program sudah menjadi suatu keharusan, yang dalam bahasa manajemen telah menjadi komoditas, alias tidak memiliki nilai tambah yang signifikan lagi. Semua orang melakukan hal yang serupa, dan keunggulan anda dalam hal &lt;em&gt;debug&lt;/em&gt; bukanlah suatu kompetensi utama lagi. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dalam situasi turbulensi tinggi menurut Ansoff, pengalaman adalah guru yang terburuk, karena apa yang menjadi referensi pada hari ini, tidak berlaku lagi pada kondisi hari esok. Kesepuluh koefisien pendatar dunia telah membuat dunia yang selama ini bulat (seperti dipostulatkan Columbus), susut menjadi bidang datar (seperti yang diceritakan Friedman). Keberadaan pekerjaan-pekerjaan tradisional terancam punah karena perubahan. Pada prinsipnya, setiap pekerjaan yang bisa dipecah-pecah menjadi &lt;em&gt;task&lt;/em&gt; yang lebih kecil dan dapat didigitalisasi sehingga dapat dikirim dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat dan murah, adalah pekerjaan yang akan mengalir dari daerah yang upahnya mahal ke daerah yang upahnya murah. Pekerja ilmu pengetahuan yang memiliki akses kepada dunia maya, dengan cepat akan menyeimbangkan kompetensi tradisional yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan generik. Pekerjaan generik adalah pekerjaan seperti mengetik, menterjemah, mengajar, dan dalam kasus tertentu seperti menafsirkan citra digital hasil MRI seorang pasien di Bethesda AS yang dikirim ke dokter India yang tarifnya hanya 1/5 upah AS. Termasuk didalamnya juga pembuatan barang-barang berkualitas dengan harga murah seperti kalkulator, &lt;em&gt;MP4 player&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;hands free&lt;/em&gt; Bokia dari RRC. Harga &lt;em&gt;hands free&lt;/em&gt; Bokia berupa mikropon dan &lt;em&gt;ear phone speaker&lt;/em&gt; berikut kemasannya di Jakarta hanyalah Rp 1,500,-; sehingga harga pokok penjualannya dari RRC hanyalah 1/5-nya yaitu Rp 300,- per unit, bayangkan &lt;em&gt;man! &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/em&gt;Pekerjaan yang tak tergantikan adalah pekerjaan mekanis yang melelahkan seperti penyapu jalanan, pekerjaan mekanis yang membutuhkan sentuhan pribadi seperti perawat yang ramah dan peduli dengan pasien, pekerjaan mekanis yang membutuhkan sentuhan khusus seperti koki restoran yang memiliki resep rahasia, pekerja seni seperti Picasso, Rembrandt dan Affandi, serta pekerjaan penuh inovasi seperti yang dilakukan Thomas Alva Edison, dan pekerjaan tak terbayangkan yang unik di dunia datar seperti &lt;em&gt;search engine optimizer (SEO)&lt;/em&gt;. Seorang SEO adalah pekerja ilmu pengetahuan yang mengakali algoritma yang ada di dalam &lt;em&gt;search engine&lt;/em&gt; seperti Google, Yahoo, MSN dll., sehingga setiap situs &lt;em&gt;web &lt;/em&gt;yang dibuat berdasarkan algoritma khususnya, pasti akan muncul pada urutan pertama hasil pencarian search engine. Kalau seseorang mengetik kata kunci &lt;em&gt;&lt;strong&gt;”ahli kelapa sawit”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; pada Google, karena saya memiliki kompetensi SEO maka situs &lt;em&gt;web &lt;/em&gt;saya merupakan situs pertama yang ditampilkan, maka peluang orang meng-klik situs saya dan melakukan transaksi bisnis menjadi lebih besar. Profesi SEO yang membuat kemampuan itu ada dan bermanfaat adalah pekerjaan unik di dunia yang semakin datar. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Seorang pekerja ilmu pengetahuan akan mengalami kebosanan dalam pekerjaannya setelah 20 tahun bekerja. Pada kondisi ini, pekerjaan menjadi tak bermakna, dan kehidupan seakan daun-daun kering berguguran. Pada saat inilah dimulai paruh kedua kehidupan, dimana orang mencari makna lain dalam kehidupan profesionalnya. Boleh saja seseorang menjadi si gagal atau si sukses dalam karirnya, tetapi tidak mendapat ketenangan batin dan menemukannya dalam aktivitas lain di dunia paralel seperti menjadi tetua adat dalam komunitas &lt;em&gt;hacker,&lt;/em&gt; penyanyi paruh waktu di restoran eksklusif, aktivis lembaga swadaya masyarakat, pembina pramuka yang melarikan diri dari krisis paruh baya dengan membina anak-anak remaja tanpa dosa dll. dst. dsb. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Siapkan diri menghadapi paruh kedua kehidupan. Karena kita juga manusia, maka kita pasti akan merasakan esensi kebosanan dalam kehidupan. Sedia payung sebelum hujan apakah berarti harus selalu membawa payung sepanjang hari? Menghadapi situasi ini, janganlah beranalogi seperti bankir idiot yang meminjamkan payung di waktu panas, dan menariknya ketika hujan turun. Saya hanya ingin berbagi, bahwa mempersiapkan paruh kedua kehidupan berarti membuat kehidupan menjadi lebih komplit. Seperti kata Timbul Srimulat, kehidupannya &lt;em&gt;Komplit ... plit.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-2138818781988042748?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/2138818781988042748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=2138818781988042748&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2138818781988042748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2138818781988042748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/paruh-kedua-kehidupan.html' title='Paruh Kedua Kehidupan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-4776361143719912434</id><published>2007-06-18T11:05:00.000+07:00</published><updated>2007-06-18T11:09:49.245+07:00</updated><title type='text'>Summa Cum Laude</title><content type='html'>Ketika lagu &lt;em&gt;Gaudeamus &lt;/em&gt;dinyanyikan oleh paduan suara di Grawida IPB tanggal 13 Juni 2007, aku terpekur dalam keheningan kalbu dan terlempar dalam konfigurasi sepi. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Lulus dari kelas eksekutif program Manajemen dan Bisnis Sekolah Pascasarjana IPB dalam waktu 17 bulan dengan indeks prestasi kumulatif 4.00 mengantarkanku sebagai bagian dari legenda almamater ke-8 yang lulus &lt;em&gt;summa cum laude&lt;/em&gt; sejak program tersebut dibuka. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dibutuhkan kebesaran hati untuk diwisuda bukan sebagai lulusan terbaik, karena ada teman dari kelas reguler yang kuliah pagi-sore (&lt;em&gt;full time&lt;/em&gt;) yang lulus &lt;em&gt;summa cum laude&lt;/em&gt; dengan periode waktu kuliah yang lebih pendek 1 trimester.  Kebesaran seorang individu juga harus dinilai dari toleransinya menerima ketidakadilan suatu sistem,walaupun &lt;em&gt;reward &lt;/em&gt;yang dipersengketakan hanyalah persoalan remeh-temeh kebanggaan akan penyebutan nama sebagai lulusan terbaik dan maju ke depan rektor untuk menerima plakat. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Ketika wisuda digelar, yang kusesali adalah sergapan keterasingan yang datang menjelang ketika berbaris masuk ke aula.  Dari 29 orang teman yang bersama berselancar dalam liku-liku gelombang perkuliahan, hanya aku dan Tri yang diwisuda.  Dua puluh lima orang lainnya masih berkekutat dengan sanksi denda dan pengurangan nilai tesis.  Aku kehilangan momen-momen kebersamaan karena lulus terlalu cepat, seakan aku menyesap wisuda tak lebih seperti minum &lt;em&gt;high noon tea&lt;/em&gt; di &lt;em&gt;Coffe Bean and Tea Leaf&lt;/em&gt;.  Tanpa sensasi, seakan seks tanpa orgasme yang jauh lebih parah dari edi tansil (ejakulasi dini tanpa hasil).   &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Tinggallah kilas balik perjuangan mendapatkan nilai 4.00 yang jauh lebih mengisi relung hati. Sehingga benarlah kearifan hidup, terkadang proses lebih penting dari pada hasil akhir.  Aku menjadi makhluk yang akhirnya memuja proses sebagai bagian dari hasil akhir.  Nikmatilah prosesnya, karena belum tentu hasil akhir yang dicita-citakan itu ternyata lebih nikmat.  Seperti itulah kehidupan, ketika kita sampai pada saat-saat &lt;em&gt;final day&lt;/em&gt;, ternyata final itu tak seperti final yang kita harapkan (walaupun itu jelas-jelas final dengan kondisi yang kita deskripsikan di awal perjalanan hidup).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-4776361143719912434?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/4776361143719912434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=4776361143719912434&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4776361143719912434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4776361143719912434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/06/summa-cum-laude.html' title='Summa Cum Laude'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-4070780612552340410</id><published>2007-05-18T15:25:00.000+07:00</published><updated>2007-05-22T13:05:05.916+07:00</updated><title type='text'>Kekerasan Telah Menjadi Wabah di Sekolah</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 5pt 0in; TEXT-ALIGN: justify; mso-layout-grid-align: none"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;font-family:'Palatino Linotype';font-size:12;"  &gt;Belum surut pemberitaan kekerasan di IPDN Sumedang yang menewaskan praja Cliff Muntu, publik kembali digoncang praktik kekerasan di SD yang berbuntut meninggalnya seorang anak SD kelas 2 di Jakarta Timur karena dipukul oleh 4 orang rekannya, yang tiga diantaranya adalah anak perempuan. Kekerasan juga terjadi di SMA Pangudi Luhur Jakarta. Praktik kekerasan (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;bullying&lt;/i&gt;) telah merebak dari perguruan tinggi, sekolah menengah, sampai sekolah dasar dalam berbagai rupa yang secara homogen menasbihkan perilaku kekerasan dalam seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia telah mencapai &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;tipping point &lt;/i&gt;yang mengkhawatirkan.&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;Tidak perduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda, seakan-akan perilaku kekerasan telah menjadi menu wajib dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang dulunya dikenal sebagai bangsa yang ramah dan berbudi pekerti lembut. &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;Budi pekerti yang lembut mungkin telah menjadi budi pekerti &lt;em&gt;lelembut&lt;/em&gt;, yang telah mencampuraduk dan mengharubiru perilaku manusia dari anasir tanah dengan perilaku kaum &lt;em&gt;lelembut&lt;/em&gt; yang dibuat dari anasir api. &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;Dan ketika tanah bercampur dengan api, maka terjadilah proses pengerasan hati yang membuat suara hati bungkam, sehingga terefleksi dalam perilaku doyan kekerasan yang merupakan manifestasi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;homo homini lupus.&lt;/p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;font-family:'Palatino Linotype';font-size:12;"  &gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 5pt 0in; TEXT-ALIGN: justify; mso-layout-grid-align: none"&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;font-family:'Palatino Linotype';font-size:12;"  &gt;Memang belum ada penelitian ilmiah yang dilakukan terhadap para pelajar dan mahasiswa Indonesia tentang perilaku kekerasan dan penganiayaan di sekolah. &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;Memang belum ada alat yang teruji secara ilmiah untuk mengukur penganiayaan dan kekerasan di antara murid sekolah. Tarshis dan Huffman (2007) yang melakukan penelitian perilaku kekerasan dan penganiayaan di Amerika Serikat, mengakui bahwa alat yang mereka gunakan lebih merupakan analisis pengurutan secara statistik terhadap respon kuesioner (&lt;a href="http://www.bayareachild.org"&gt;http://www.bayareachild.org&lt;/a&gt; klik pada &lt;em&gt;PIPS Questionnaire&lt;/em&gt;) &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;yang mereka kirim ke sekolah-sekolah untuk melihat apakah pendekatan itu merupakan alat pengukuran yang baik.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;font-family:'Palatino Linotype';font-size:12;"  &gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 5pt 0in; TEXT-ALIGN: justify; mso-layout-grid-align: none"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;font-family:'Palatino Linotype';font-size:12;"  &gt;Hasil penelitian Dr. Thomas P. Tarshis dari &lt;em&gt;Bay Area Children’s Association&lt;/em&gt; di Cupertino, California dan Dr. Lynne C. Huffman dari &lt;em&gt;Stanford University School of Medicine&lt;/em&gt; seperti dilaporkan oleh &lt;a href="http://www.reuters.com/article/healthNews/idUSARM37877320070503"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;strong&gt;Anne Harding dari Reuters Health (2007)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;strong&gt;:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Kekerasan dan penganiayaan telah menyebar secara subur di sekolah-sekolah AS. &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;Peneliti yang mengirim kuesioner ke sekolah-sekolah menemukan fakta bahwa para pelajar mengalami berbagai tindak kekerasan dan penganiayaan, seperti:&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;”mereka membuatku menangis, memaksaku, memalakku, menolakku.”&lt;/em&gt; &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;Setelah menganalisis seluruh respon, para peneliti menemukan bahwa &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;89.5%&lt;/strong&gt; anak-anak menjadi korban kekerasan&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;59.0%&lt;/strong&gt; para pelajar melakukan tindak kekerasan&lt;/span&gt; dalam berbagai purwa rupa. &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;font-family:'Palatino Linotype';font-size:12;"  &gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 5pt 0in; TEXT-ALIGN: justify; mso-layout-grid-align: none"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;font-family:'Palatino Linotype';font-size:12;"  &gt;Untuk melakukan tindak pencegahan kekerasan di sekolah kelihatannya harus dilakukan secara terpadu, dengan melibatkan tidak hanya para pelajar tetapi juga para guru, pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat. &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;Tindakan secara ad hoc seperti mengawasi para pelajar secara ketat tidak akan menyelesaikan masalah. &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;Kunci keberhasilannya adalah membuat perubahan paradigma bahwa perilaku kekerasan dan penganiayaan adalah sesuatu yang tidak benar, dengan menekankan kepada para pelajar bahwa mereka harus melakukan perlawanan terhadap praktik kekerasan sehingga mereka tidak akan menjadi korban.&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;Dengan demikian akan tercipta suatu keseimbangan dinamis, dimana praktik kekerasan mencapai status quo karena semua pihak saling menahan diri untuk melakukan kekerasan. &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;Pada saat itulah tercipta perdamaian di sekolah-sekolah secara permanen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 5pt 0in; TEXT-ALIGN: justify; mso-layout-grid-align: none"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;font-family:'Palatino Linotype';font-size:12;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 5pt 0in; TEXT-ALIGN: justify; mso-layout-grid-align: none"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;font-family:'Palatino Linotype';font-size:12;"  &gt;Sumber: &lt;em&gt;Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics, April 2007.&lt;?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-4070780612552340410?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/4070780612552340410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=4070780612552340410&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4070780612552340410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4070780612552340410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/kekerasan-telah-menjadi-wabah-di.html' title='Kekerasan Telah Menjadi Wabah di Sekolah'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-9160894883651604524</id><published>2007-05-16T12:34:00.000+07:00</published><updated>2007-05-16T12:41:40.602+07:00</updated><title type='text'>Tersangka dan Tanggung Jawab Moral Perusahaan</title><content type='html'>Secara leksikal, terminologi tersangka adalah seseorang yang dengan tidak sengaja disangka melakukan sesuatu.  Tidak disangka-sangka adalah sesuatu yang terjadi diluar perkiraan atau sangkaan.  Tetapi menjadi tersangka dalam suatu kasus hukum adalah salah satu tahapan menjelang status terdakwa di pengadilan.  Bila kelak dakwaan terbukti secara sah dan meyakinkan, maka status terdakwa menjadi terpidana.  Walaupun semuanya menggunakan awalan ter yang berkonotasi sesuatu yang tidak sengaja, upaya para pihak yang terlibat adalah sesuatu yang sangat direncanakan, sangat disengaja dan jauh dari upaya yang kebetulan.  Walaupun bisa jadi kebetulan itu sangat jauh dari kebenaran. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Tersebutlah seorang mantan pimpinan yang karena keluguannya dan bisa jadi kenaifan (atau ketololan?), ditunjuk menjadi direktur labi-labi sebuah perusahaan yang tidak menjalankan etika bisnis dan praktik &lt;em&gt;good corporate governance&lt;/em&gt;, akhirnya diputuskan menjadi tersangka dalam suatu kasus pidana korporasi.  Karena menandatangani dokumen-dokumen perusahaan tanpa menyadari implikasi hukumnya, beliau harus berhadapan dengan penyidik sebagai seorang tersangka.  Lalu tindakan apa yang harus dilakukan agar terlepas dari status korban, entah itu terkorbankan atau dikorbankan.   &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kejahatan korporasi mewajibkan subyek korporasi sebagai pelaku utama dan pejabat pelaksana sebagai bagian dari subyek korporasi secara hukum.  Perusahaan bukan hanya sekedar badan hukum, tetapi juga pribadi moral yang memiliki tanggung jawab sosial-moral.  Perusahaan tidak  semata-mata memiliki tanggung jawab legal saja.  Sebabnya, &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, sebagaimana dikatakan Milton Friedman perusahaan dalam arti tertentu adalah &lt;em&gt;pribadi artifisial&lt;/em&gt;.  Hal ini terutama karena perusahaan terdiri dari lembaga atau organisasi manusia yang kegiatannya diputuskan, direncanakan, dan dijalankan oleh manusia.  Atas dasar ini, kendati perusahaan bukanlah pribadi moral dalam arti sesungguh-sungguhnya, perusahaan tetap merupakan pribadi moral artifisial.  Kegiatan bisnis perusahaan adalah kegiatan yang didasarkan pada perencanaan, keputusan rasional, bebas, dan atas dasar kemauan yang diambil oleh staf manajemen.  Karena itu, sesungguhnya sampai tingkat tertentu (secara analogis) perusahaan itu memiliki suara hati. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Artinya, ada kelompok orang yang dianggap sebagai tokoh-tokoh kunci yang akan mempertimbangkan dan memutuskan segala kegiatan bisnis suatu perusahaan  berdasarkan apa yang dianggap paling tepat dan benar dari segala aspek:  bisnis, keuntungan (jangka pendek dan jangka panjang), hukum, dst.  Mereka adalah suara batin (&lt;em&gt;inner-self&lt;/em&gt;) perusahaan.  Karena itu, sebenarnya perusahaan tetap mempunyai tanggung jawab moral dan sosial.  Anggapan bahwa perusahaan tidak punya tanggung jawab moral sama saja dengan mengatakan bahwa kegiatan perusahaan bukanlah kegiatan yang dijalankan oleh manusia. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, adanya anggapan bahwa tanggung jawab moral dan sosial pada dasarnya bersifat pribadi, dan hanya orang yang bersangkutan yang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.   Dalam konteks ini, ada benarnya apa yang dikatakan Friedman bahwa para pimpinan perusahaan tidak bisa mewakili dan mengambil alih tanggung jawab sosial dan moral perusahaan. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kondisi yang dipostulatkan oleh Friedman di atas hanya berlaku  bagi mereka yang masih bisa bertanggung jawab atas tindakannya, yaitu mereka yang bertindak secara sadar, bebas, dan atas kemauannya sendiri.  Namun dalam banyak kasus, misalnya seorang anak &lt;em&gt;innocent&lt;/em&gt; melakukan sesuatu tindakan yang berakibat merugikan orang lain, tindakan tersebut tidak bisa diterima begitu saja.  Dalam kasus dimana kerugian ini sangat besar dan fatal, harus ada pihak tertentu yang bertanggung jawab – tidak hanya secara legal tetapi juga secara moral (kesediaan bertanggung jawab secara legal sudah dengan sendirinya mengisyaratkan kesediaan moral untuk bertanggung jawab).  Terlepas dari kenyataan bahwa tindakan tersebut terjadi tanpa disengaja atau tanpa disadari, harus ada yang bertanggung jawab atas tindakan itu.  Dalam kasus ini, orang tua atau pihak yang punya otoritas atas anak tersebut mewakili anak itu untuk bertanggung jawab atas tindakannya. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Hal yang sama terjadi pada binatang piaraan.  Ketika anjing dobberman lepas dari kandangnya dan menggigit anak tetangga, binatang itu memang tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Namun, tetap saja pemiliknya harus bertanggung jawab, tidak saja secara legal melainkan juga secara moral dan sosial atas tindakan anjing piaraannya itu. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dengan kedua contoh di atas, hal yang sama juga berlaku bagi perusahaan sebagai pribadi artifisial.  Ketika perusahaan melakukan tindakan bisnis tertentu yang merugikan pihak lain (sesungguhnya merupakan tindakan ”oknum” yang ada di dalam perusahaan tsb.), mau tidak mau harus ada orang yang bertanggung jawab atas tindakan itu. Kalau tidak, manusia-manusia yang bekerja dalam perusahaan itu akan seenaknya melakukan tindakan bisnis apa saja, termasuk merugikan pihak lain tanpa mau peduli, lalu tidak mau bertanggung jawab dengan dalih perusahaan tidak memiliki tanggung jawab moral.  Hal ini akan membawa pada kondisi &lt;em&gt;chaos&lt;/em&gt; dimana semua perusahaan (baca: manusia yang bekerja di dalam perusahaan) akan saling memakan satu sama lain tanpa ada perasaan tanggung jawab atas tindakannya.   &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Argumen ini dapat diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa dalam segala aspek kegiatannya perusahaan diwakili oleh staf manajemen.  Oleh karena itu, sah saja dalam hal tanggung jawab moral dan sosial perusahaan dapat diwakili oleh staf manajemen.  Seluruh kegiatan perusahaan mulai dari perencanaan sampai implementasi (yang berarti di dalamnya sudah melibatkan aspek-aspek moral) dijalankan oleh staf manajemen.  Hanya saja konsep staf manajemen ini harus membedakan direktur pengelola dengan direktur labi-labi. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;em&gt;Ketiga,&lt;/em&gt; dalam arti tertentu tanggung jawab legal tidak bisa dipindahkan dari tanggung jawab moral.  Oleh karena itu, kenyataan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab legal sudah menyiratkan bahwa perusahaanpun memiliki tanggung jawab moral, karena tanggung jawab legal hanya mungkin dijalankan secara serius kalau ada sikap moral untuk bertanggung jawab.  Tanpa sikap moral untuk menerima tanggung jawab itu, tanggung jawab legal tidak memiliki makna apapun. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Berdasarkan argumen-argumen yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;perusahaan tetap memiliki tanggung jawab moral dan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;  Karena seluruh keputusan dan kegiatan bisnis perusahaan ada di tangan para manajer, maka tanggung jawab moral dan sosial dipikul oleh para staf manajemen sebagai konsekuensi logis dari pelimpahan seluruh keputusan dan kegiatan bisnis perusahaan kepada para manajer.  Dalam kasus pimpinan yang merupakan direktur labi-labi, tanggung jawab staf manajemen secara tidak adil dipindahkan ke direktur labi-labi yang menjadi subyek dalam konteks pelengkap penderita. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Bahkan sesungguhnya, pada tingkat operasional bukan hanya staf manajemen yang memikul tanggung jawab sosial dan moral perusahaan.  Seluruh karyawan  memikul tanggung jawab sosial dan moral perusahaan dimana mereka bekerja.  Ketika mereka menjalankan pekerjaan dan kegiatan bisnis apapun sebagai karyawan perusahaan, mereka dituntut untuk mempunyai tanggung jawab sosial dan moral atas nama perusahaan mereka.  Melalui karyawan inilah tanggung jawab sosial dan moral perusahaan menemukan bentuk dan manifestasinya yang paling nyata dan transparan. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Tanggung jawab sosial perusahaan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;adalah kepedulian perusahaan terhadap kepentingan-kepentingan pihak lain secara lebih luas daripada sekedar kepentingan perusahaan belaka.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;  Artinya dalam mengejar keuntungan, perusahaan tidak dibenarkan mencapai keuntungan tersebut dengan mengorbankan pihak-pihak lain, termasuk kepentingan masyarakat luas dan &lt;em&gt;tax avoidance&lt;/em&gt; yang &lt;em&gt;ilegal.&lt;/em&gt;  Kendati secara moral perusahaan dibenarkan  mengejar keuntungan sebagai kepentingan utama, keuntungan itu harus dicapai dengan tetap mengindahkan kepentingan orang banyak. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Konsep tanggung jawab sosial perusahaan menuntut perusahaan dijalankan dengan tetap bersikap tanggap, peduli, dan bertanggung jawab atas hak dan kepentingan banyak pihak lainnya.  Perusahaan sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, harus ikut memikirkan dan menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi kepentingan hidup bersama dalam masyarakat, dimana manusia saling membutuhkan orang lain dan ikut menyumbangkan sesuatu sesuai dengan kapasitasnya masing-masing demi kepentingan hidup bersama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-9160894883651604524?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/9160894883651604524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=9160894883651604524&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/9160894883651604524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/9160894883651604524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/tersangka-dan-tanggung-jawab-moral.html' title='Tersangka dan Tanggung Jawab Moral Perusahaan'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-6082078387035906205</id><published>2007-05-15T10:52:00.000+07:00</published><updated>2007-05-15T11:10:20.076+07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Cara Kita Belajar</title><content type='html'>Berdasarkan &lt;a href="http://members.shaw.ca/priscillatheroux/Glasser.htm"&gt;kutipan&lt;/a&gt; (di bawah ini) dari &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/William_Glasser"&gt;William Glasser &lt;/a&gt;(American psychiatrist, pengembang Reality Therapy and Choice Theory), cara kita belajar tentang sesuatu adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;10% dari apa yang kita BACA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;20% dari apa yang kita DENGAR&lt;/li&gt;&lt;li&gt;30% dari apa yang kita LIHAT&lt;/li&gt;&lt;li&gt;50% dari apa yang kita LIHAT dan DENGAR&lt;/li&gt;&lt;li&gt;70% dari apa yang kita DISKUSIKAN dengan ORANG LAIN&lt;/li&gt;&lt;li&gt;80% dari apa yang kita ALAMI SECARA PRIBADI&lt;/li&gt;&lt;li&gt;95% dari apa yang kita AJARKAN KEPADA ORANG LAIN&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Angka-angka ini belum tentu benar, tetapi kelihatannya cukup masuk akal.  Karena standar kuliah klasik dengan datang dan dengar dosen saja minimal dapat 50%, dan kalau diskusi kasus dalam kelompok dapat 70%, lalu kalau ditekuni secara pribadi pasti 80%, dan bila masih sempat nerangin ke teman-teman yang nggak mudeng, pasti 95% dan woow itu sudah pasti A.  Sayangnya nggak ada yang A+ sih.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-6082078387035906205?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/6082078387035906205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=6082078387035906205&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/6082078387035906205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/6082078387035906205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/bagaimana-cara-kita-belajar.html' title='Bagaimana Cara Kita Belajar'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-2509990678146082984</id><published>2007-05-15T10:06:00.000+07:00</published><updated>2007-05-15T10:14:15.675+07:00</updated><title type='text'>The Turtle Director</title><content type='html'>Kata Direktur yang berwibawa itu sering kali diplesetkan oleh masyarakat menjadi &lt;em&gt;“direken batur.”&lt;/em&gt;  Dianggap sebagai &lt;em&gt;batur.&lt;/em&gt;  &lt;em&gt;Batur&lt;/em&gt; yang dalam bahasa Jawa artinya adalah teman, tetapi telah mengalami penurunan makna secara peyoratif dan berasosiasi dengan profesi pembantu laki-laki, sama halnya dengan kata &lt;em&gt;mbok&lt;/em&gt; yang artinya ibu telah diposisikan sebagai profesi babu.    Demikianlah makna Direktur telah terdepresiasi sedemikian parahnya karena banyaknya praktik perusahaan ali baba dalam era orde baru atau baba ali dalam era reformasi sekarang ini.  Fenomena ini menciptakan kelas direktur baru yang secara populer dinamakan direktur labi-labi (&lt;em&gt;turtle director&lt;/em&gt;).  Labi-labi adalah sejenis kura-kura air tawar yang tongkrongannya cukup besar dan garang, tetapi tidak memiliki daya apapun ketika batoknya disenggol dan terbalik.  Tinggallah dia pasrah saja menunggu takdirnya, dan bila bertemu dengan manusia yang karnivora, maka sudah dapat dipastikan takdirnya akan berujung ke restoran eksklusif yang menyajikan menu sop labi-labi obat.  Takdir berujung kematian bagi labi-labi ternyata menjadi obat (entah untuk penyakit apapun) yang menyembuhkan bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dari fabel labi-labi inilah analogi seorang direktor proforma yang di mata hukum dianggap mampu dan bertanggung jawab atas jalannya suatu perusahaan, tetapi dalam praktiknya tidak memiliki wewenang eksekusi, kerap disebut direktur labi-labi (selanjutnya disebut DIRLL).  DIRLL ini adalah orang yang biasanya buta hukum (walaupun kadang-kadang pendidikannya tinggi), dan merasa sangat bangga ketika diangkat menjadi direktur, yang seolah-olah memberikannya kewenangan mengelola perusahaan.  Mohon maaf, DIRLL bukanlah &lt;em&gt;managing director&lt;/em&gt;, tetapi hanyalah sekedar direktur proforma yang tercantum di akte perusahaan, tidak memiliki wewenang eksekutif, dan diposisikan sebagai &lt;em&gt;bumper &lt;/em&gt;bagi pemilik perusahaan. &lt;em&gt;Bumper &lt;/em&gt;yang melindungi pemilik dari tanggung jawab hukum, ketika terjadi komplikasi dalam praktik perusahaan yang menyalahi etika bisnis dan menyimpang dari &lt;em&gt;good corporate governance.&lt;/em&gt;  Biasanya DIRLL tidak menyadari dampak dari tanggung jawabnya sebagai DIRLL, dan merasa cukup bangga dengan atribut sebagai DIRLL dalam kartu nama, dan sudah puas dengan sedikit permen dan remah-remah roti yang diberikan pemilik dalam bentuk bonus atau tambahan gaji yang nilainya tak seberapa dengan besarnya tanggung jawab yang harus diembannya.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kemudian ketika turbulensi datang baik itu berupa goncangan tektonik di bawah permukaan organisasi, maupun prahara yang menggesek kerucut dan pucuk-pucuk struktur organisasi, maka terjadilah perubahan cepat yang luar biasa.  Dalam hitungan hari, praktik perusahaan yang menyalahi etika bisnis terungkap ke permukaan dan mendapat ekspose panas matahari yang terus menerus.  Maka terciptalah pemanasan global dalam organisasi, dimana-mana es yang selama ini membeku akhirnya mencair dan menggenangi bibir-bibir pantai dalam labirin struktur organisasi yang selama ini aman tentram dan damai.  Perlahan-lahan struktur organisasi mengalami deformasi, dimana bagian pucuk yang selama ini biasanya &lt;em&gt;powerfull &lt;/em&gt;dan berkibar di atas, secara sengaja menyamarkan dirinya menjadi bagian yang rendah hati dan turun ke dasar piramida untuk berbagi kebersamaan.  Jadilah bagian tengah piramida diposisikan sebagai pucuk piramida yang menghadapi terpaan prahara, dan mereka selulup dan sembunyi dibalik kelambu &lt;em&gt;kevlar&lt;/em&gt; yang tahan peluru atas dasar &lt;em&gt;meeting&lt;/em&gt; penting di luar, sehingga tidak terkena panas matahari yang semakin membakar.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kasihan DIRLL yang hanya menerima permen dan remah-remah roti, harus terlentang dan dibakar sinar matahari yang semakin ganas di pinggir pantai yang airnya semakin tinggi. Kalaupun dia sanggup membalikkan dirinya, maka habitatnya telah berubah dari air tawar menjadi air asin.  Labi-labi bukanlah ikan salmon yang sanggup hidup di dua habitat berbeda. Maka demikianlah nasib si labi-labi telah ditakdirkan.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Peringatan kepada teman-teman yang menjadi DIRLL, tolong kaji kembali posisi DIRLL kalian menggunakan teknik SWOT.  Apa yang menjadi kekuatan (&lt;em&gt;Strengths&lt;/em&gt;), kelemahan (&lt;em&gt;Weaknesses&lt;/em&gt;), peluang (&lt;em&gt;Opportunities&lt;/em&gt;) dan ancaman (&lt;em&gt;Threats&lt;/em&gt;).  Kalau yang dominan adalah kelemahan dan ancaman, maka buatlah strategi yang meminimumkan kelemahan dan ancaman tersebut.  Jangan sampai nasib harus berujung penjara karena kebodohan semata-mata, yang dicurangi oleh pemilik yang semena-mena.  Jangan ditipu dan merasa senang dengan tipuan itu.  Ini bukan sulap, ini adalah palsu.  Kepalsuan dunia yang penuh dengan aksi tipu-tipu, woow jagonya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-2509990678146082984?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/2509990678146082984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=2509990678146082984&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2509990678146082984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2509990678146082984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/turtle-director.html' title='The Turtle Director'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5876828512455364064</id><published>2007-05-11T10:15:00.000+07:00</published><updated>2007-05-11T10:20:46.891+07:00</updated><title type='text'>SMART PEOPLE and WISE PEOPLE</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;SMART&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;PEOPLE&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;LEARN&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FROM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;EXPERIENCE&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;WISE&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PEOPLE&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;LEARN&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;FROM THE&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;EXPERIENCES OF OTHERS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Source: Ichak Adizes, World Executive’s Digest Frameable No. 115&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5876828512455364064?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5876828512455364064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5876828512455364064&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5876828512455364064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5876828512455364064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/smart-people-and-wise-people.html' title='SMART PEOPLE and WISE PEOPLE'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-4074031742679476058</id><published>2007-05-11T10:00:00.000+07:00</published><updated>2007-05-11T10:06:41.075+07:00</updated><title type='text'>Mencari Kebahagian</title><content type='html'>Puisi ini kutulis 24 tahun yang lalu&lt;br /&gt;Ketika itu aku masih seorang mahasiswa yang lugu&lt;br /&gt;Berusaha mencari kebahagiaan dalam impian&lt;br /&gt;Yang luruh ditiup angin .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ada perasaan yang nyaman saat aku melamun&lt;br /&gt;Kenyamanan itu hanya datang bila aku menghayal&lt;br /&gt;Hayalanku hanya timbul dari penderitaan&lt;br /&gt;Kini aku bahagia&lt;br /&gt;Tapi aku tak bisa menghayal lagi&lt;br /&gt;Aku tak boleh merasa bahagia&lt;br /&gt;Harus!&lt;br /&gt;Hatiku harus ku kecewakan&lt;br /&gt;Supaya aku menderita&lt;br /&gt;Dan aku bisa menghayal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucari seorang gadis rupawan&lt;br /&gt;Yang harus kucintai&lt;br /&gt;Dan dengan segalanya kuketuk pintu rumahnya&lt;br /&gt;Ku mengharap bukan ayahnya yang keluar&lt;br /&gt;Cukuplah dia atau siapa saja asal jangan herdernya saja&lt;br /&gt;Memang dia putri seorang punggawa&lt;br /&gt;Dan kutatap wajahnya&lt;br /&gt;Dengan perasaan cinta&lt;br /&gt;Kuyakinkan hatiku supaya ia menolak cintaku&lt;br /&gt;Dan kuucapkan padanya:&lt;br /&gt;Wahai putri punggawa ijinkan aku mengutarakan isi hati&lt;br /&gt;Memuntahkan segala uneg-uneg di dada&lt;br /&gt;Dengarkan:&lt;br /&gt;Aku cinta padamu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutunggu&lt;br /&gt;Dan yang kuinginkan tercapailah:&lt;br /&gt;Maaf bung, aku tak kenal kamu&lt;br /&gt;Dan maaf aku tak berani menerima cinta bung&lt;br /&gt;Pulanglah!  Mungkin di jalan kau dapatkan cinta&lt;br /&gt;Kucing-kucingku belum kusisir bulunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari&lt;br /&gt;Hatiku kecewa&lt;br /&gt;Dan aku mulai menghayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahagia kini&lt;br /&gt;Tapi aku tak boleh merasa terlalu bahagia&lt;br /&gt;Karena kebahagiaanku akan hilang bila aku tak mampu menghayal lagi&lt;br /&gt;Akhirnya aku jenuh&lt;br /&gt;Dan aku tak dapat melamun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku hanya menghayal bila menderita&lt;br /&gt;Akan kucoba merasa bahagia dan aku akan bahagia selamanya&lt;br /&gt;Kudekati gadis yang seperti Sophia Boleditjuba umur 17&lt;br /&gt;Tentu saja tidak seperti caraku dahulu&lt;br /&gt;Dengan lembut kutemui dia&lt;br /&gt;Kurayu&lt;br /&gt;Dan kini dia jadi milikku&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya aku merasa bahagia&lt;br /&gt;Dan aku mulai menghayal&lt;br /&gt;Sungguh!&lt;br /&gt;Kini aku bahagia&lt;br /&gt;Tapi apa daya&lt;br /&gt;Sang ayah tidak setuju:&lt;br /&gt;Apa yang kau harap dari seorang penghayal&lt;br /&gt;Dan aku tak ingin anakku hidup dalam mimpi&lt;br /&gt;Katanya kepadaku dan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayalanku berantakan&lt;br /&gt;Dan aku merasa tak bahagia&lt;br /&gt;Aku ingin menghajar sang ayah&lt;br /&gt;Supaya aku bisa masuk penjara&lt;br /&gt;Dan aku dapat menghayal di sana&lt;br /&gt;Kubulatkan tekad&lt;br /&gt;Kudatang kepadanya&lt;br /&gt;Kuketuk pintu dan kutanya:&lt;br /&gt;Sigmund Freud menjadi terkenal karena mimpi&lt;br /&gt;Mengapa bapak tidak setuju saya berhubungan dengan anak bapak karena kami hidup dalam mimpi?&lt;br /&gt;Kamu mau apa?&lt;br /&gt;Apakah bapak tidak setuju anak bapak saya nikahi?&lt;br /&gt;Kurang ajar …!&lt;br /&gt;Kutinju hidungnya … dan berdarah&lt;br /&gt;Dia roboh&lt;br /&gt;Kepalanya berlumuran darah membentur pintu&lt;br /&gt;Istrinya berteriak&lt;br /&gt;Tetangga-tetangga berdatangan&lt;br /&gt;Kau akan kuadukan kepada polisi …!&lt;br /&gt;Adukanlah!&lt;br /&gt;Kutunggu kalian di kantor polisi&lt;br /&gt;Aku akan memindahkan barang-barangku dahulu ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tak akan mengerti diriku&lt;br /&gt;Termasuk Sophia yang masih menungguku di alun-alun kota&lt;br /&gt;Berjanji nonton wayang kemarin sore.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-4074031742679476058?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/4074031742679476058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=4074031742679476058&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4074031742679476058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/4074031742679476058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/mencari-kebahagian.html' title='Mencari Kebahagian'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5006901232959047893</id><published>2007-05-11T09:38:00.000+07:00</published><updated>2007-05-11T09:48:28.670+07:00</updated><title type='text'>Feng Shui:  The Spirit of Change</title><content type='html'>Realitas tentang perubahan ialah bahwa, karena kita tidak pernah yakin bahwa perubahan hidup kita adalah untuk sesuatu yang lebih baik, tidak seorang pun menyukai perubahan. Kestabilan dan kebiasaan adalah wilayah-wilayah yang aman bagi kita. Namun, perubahan untuk sesuatu yang lebih baik kadang-kadang kelihatan samar atau malah tidak terlihat sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah kisah tentang sebuah sungai kecil yang sumbernya dari puncak gunung nun jauh di atas sana. Sungai kecil itu mengalir menuruni gunung tersebut dan melintasi berbagai jenis wilayah dataran. Akhirnya, sungai itu mencapai dataran rendah gurun pasir. Ketika sungai itu mecoba melintasi gurun tersebut, pasir gurun itu segera menelannya. Tak perduli seberapa hebat usaha sungai itu melintasi padang pasir itu, ia tetap tidak sanggup. Setiap usaha yang telah dilakukan dengan begitu hebat tetap harus berakhir dengan kekalahan total. Semakin sungai itu bersikeras melintas, begitu juga pasir tersebut bersikeras menelannya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sungai itu mendengar suara ghaib dari padang pasir itu, “Yang anda lakukan hanyalah mengulang-ulangi cara lama yang sama, berusaha melintas. Supaya berhasil, anda perlu berubah. Kalau anda ingin melintasi gurun tersebut, perhatikanlah angin. Angin menyeberang tanpa kerja keras. Kalau angin bisa melakukannya, anda juga demikian. Ayoooo, kamu bisa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai itu keberatan, “Angin bisa terbang, tetapi saya tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu menjawab, “Biarkanlah angin itu membawa anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bagaimana hal itu bisa terjadi?” Tanya sungai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara dari dalam pasir itu menjawab, “Dengan membiarkan diri anda terserap angin tersebut, anda mungkin bisa dibawa menyeberang. Kemudian angin itu akan membiarkan anda turun lagi sebagai hujan dan anda dapat membentuk sungai lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si sungai tidak terkesan dengan strategi penyeberangan ini. Namun, bagaimana pun juga, ia harus berubah dengan meninggalkan cara-cara lama dan semua yang sudah terbiasa dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara dari dalam pasir itu terus berkata, “Kalau anda tetap di sini. Anda akan lenyap dan terserap seluruhnya oleh padang pasir tersebut tanpa sempat menjadi diri anda sendiri. Kalau anda menerima perubahan dengan tangan terbuka dan membiarkan angin tersebut membawa anda menyeberangi padang pasir ini dan kemudian menjadi sungai yang baru, anda akan menikmati suasana segar dunia baru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat perubahan, orang berkembang. Sama seperti sungai tersebut. Manusia juga menolak perubahan: Apa yang tidak diketahui selalu kelihatan menakutkan. Oleh sebab itu, pelajaran paling penting yang harus diambil adalah MENGHORMATI PERUBAHAN. Lewat perubahan, kemungkinan-kemungkinan-baru akan terbuka. Kita menghormati perubahan dengan menerimanya. Kerelaan mencari jalan perubahan akan membawa hasil yang bermanfaat. Kalau kita tetap bertahan, sama seperti sungai itu, kita akan ditelan oleh butir-butir pasir kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun bertahan, sungai itu akhirnya melompat ke pangkuan sang angin dan, ketika angin itu membawanya melintasi gurun, ia mengingat pengalaman besar ini sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.  Angin tersebut melintasi padang gurun dan menurunkan aliran air kecil sebagai hujan gerimis. Hujan itu akan berkumpul dalam sungai besar. Aliran kecil tersebut telah berubah menjadi anak sungai besar yang akan melayani banyak kota dan kampung sebelum bergabung dengan lautan. Inilah yang dinamakan oleh dunia ilmiah sebagai siklus air atau hidro-orologi. Konsep metafisika air dan angin ini dalam budaya Tiongkok dikenal sebagai &lt;em&gt;feng-shui (hong sui).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam tak berangin, nyala lilin berkelap-kelip, ia membesar dan mengecil dengan selalu berubah-ubah. Inilah hakekat benda-benda dunia ini. Di dunia ini tidak ada yang abadi, satu-satunya yang abadi adalah perubahan, yaitu adanya ketidak-abadian. Dalam kesunyian aktivitas &lt;em&gt;composting &lt;/em&gt;terdapat aktivitas yang rumit berupa regenerasi dan degenerasi. Dalam ketenangan wajah seorang pemuda terdapat aktivitas tersembunyi berupa pertumbuhan dan penuaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan seirama dengan perubahan. Dalam waktu, segala sesuatu harus berubah. Kita harus belajar mengubah kehendak bebas kita sendiri sebagaimana yang terjadi dengan sungai itu. Jangan takut kehilangan pribadi kita yang lama; Ikutilah dunia baru yang belum anda kenal itu. Perubahan itu adalah ibunya pertumbuhan dan perkembangan serta keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, perubahan sebesar apa pun lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Kita sering lebih suka bermain di wilayah penderitaan yang sudah kita kenal ketimbang di wilayah metamorfosis yang belum kita kenal. Setiap hari, cara berpikir, cara bertindak, dan cara kita merasakan, akan membentuk kontur hidup kita. Kita harus mempunyai komitmen untuk menghormati perubahan; dan transformasi secara alamiah akan terjadi dengan sendirinya. Manusia berharap mereka dan hidupnya akan benar-benar tetap sama. Mereka tidak ingin Tuhan mengguncang perahu rutinitas harian mereka, namun dengan ajaib mengharapkan rahmat dan kemakmuran jatuh begitu saja ke dalam kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hakekat untuk berubah dan keengganan untuk berubah, coba kita simak dari balik email yang saya terima dari teman saya Ami Shaka [&lt;em&gt;on deadly lunch&lt;/em&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Menara Kembar Petronas Lantai 40, Suatu Ketika:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;There are 3 men (an Indian, a Chinese and a Malay) went to work as usual and when it came to their lunch break they each opened their respective lunch baskets:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Indian: Roti Prata!!...every day get roti prrrata, I tell you if I get roti prata again tomorrow I shall jump off this building!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chinese: Hor Fun! Wah lau, if tomorrow kana Hor Fun again I'll jump off this building!&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Malay: Nasi Lemak again! Ala, if I get anymore Nasi Lemak tomorrow I shall jump off this building!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[and so they solemnly ate their lunches]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Jelas bahwa ketiga orang ini selalu mendapat menu yang sama dari hari ke hari dan mereka tidak senang dengan keadaan ini. Mereka saling lihat makanan yang lain dan semua setuju bahwa makan siang besok harus berbeda. Kalau masih sama, mereka akan bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The next day:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indian: Wonderersami!! I don't believe it! It's Roti again! [and so he jumped off the building]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chinese: "Kanina *X?%&amp;amp;?" Hor Fun again! [he too jumped off the building]&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Malay: Alamak!!! Nasi Lemak again! [off he went to jump]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During their funerals, wives all crying:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indian's wife: I never knew that my husband hated my Roti Prata so much...if I knew I wouldn't have made for him!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chinese' wife: Yah lor! I go thru so much effort and time each day to make his favorites Hor Fun and yet he died b'cos of it!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malay's wife: At least the both of you know why they committed suicide... I don't understand why my husband should have jumped off the building when he makes his own lunch everyday...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Kalau memang orang harus memilih apakah mau bunuh diri atau mau berubah, mungkin ada yang lebih senang bunuh diri saja.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Inspired from:&lt;br /&gt;Chu, Chin-Ning. 1999. Journey to the City of Prosperity – The Single Supreme Secret of Money. Elex Media Komputindo. Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5006901232959047893?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5006901232959047893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5006901232959047893&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5006901232959047893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5006901232959047893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/feng-shui-spirit-of-change.html' title='Feng Shui:  The Spirit of Change'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-2419913338623880994</id><published>2007-05-11T09:21:00.000+07:00</published><updated>2007-05-11T09:24:48.369+07:00</updated><title type='text'>The Carpenter and His Home (not so) Sweet Home</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dari sumber Anonim di Internet&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;        &lt;br /&gt;Seorang  tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan  konstruksi &lt;em&gt;real estate&lt;/em&gt;. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik  perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan  bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa lelah.  Ia ingin  beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama  istri dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti.  Hatinya tidak  sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu.  Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang  diminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu”, katanya, "hadiah dari kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya si tukang kayu.  Betapa malu dan menyesalnya.  Seandainya saja ia  mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita  akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkan  bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam Seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup kita  esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan  masuk dalam barisan kemenangan.   "Hidup adalah proyek yang kau kerjakan  sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagikanlah renungan ini kepada sahabat dan teman-teman  Anda, niscaya kebajikan dan hikmat akan kembali jua kepada kebaikan yang Anda bagikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-2419913338623880994?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/2419913338623880994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=2419913338623880994&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2419913338623880994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/2419913338623880994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/carpenter-and-his-home-not-so-sweet.html' title='The Carpenter and His Home (not so) Sweet Home'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-7812329659115263483</id><published>2007-05-10T12:21:00.000+07:00</published><updated>2007-05-10T12:45:39.366+07:00</updated><title type='text'>Hati ini &gt; Unplugged</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;Kita menaruh kepercayaan terhadap setiap usaha individu mengembangkan potensi mereka serta terhadap tanggung jawab organisasi memperlakukan setiap orang secara adil demi kepentingan bersama. Kita menekankan kejujuran, serta mendorong keterbukaan dalam mendiskusikan baik kemajuan maupun masalah&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;-&lt;em&gt;&lt;strong&gt; Jargon Nilai-Nilai Suatu Organisasi&lt;br /&gt;(KEPERCAYAAN DAN SALING MENGHARGAI)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;Tulisan ini adalah refleksi dan kontemplasi pribadi ketika menghadapi turbulensi organisasi pada suatu masa, pada suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asesoris Kehidupan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku, katakanlah itu hanya dalam persepsiku, tiba-tiba saja merasa berat dengan asesoris yang menempel dalam karakteristik kehidupan yang mengharuskan aku menyesuaikan diri dengan hakikat perubahan karakteristik itu sendiri. Aku seperti penderita &lt;em&gt;Aleksitimia&lt;/em&gt;, merasakannya dengan lengkap tetapi tidak mampu mengungkapkannya secara verbal. Alhasil, aku menulis dan melukis, sehingga abstraksi keadaan ini mudah-mudahan menjadi kado kecil perjalanan hidupku, mencoba memanjakan diri dengan apa yang dinamakan kenangan. Walapun kadang kala kenangan itu bukanlah sesuatu yang kuinginkan. Ya ... iapun bisa saja menjadi anak haram dari sistem yang tidak diinginkan kehadirannya, ditolak keberadaannya, tetapi dia nyata, dan akupun harus merelakan hati ini &gt; &lt;em&gt;unplugged.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hakekat ketidaksamaan hari ini dengan hari kemarin adalah suatu konsep dilatasi (pemuaian) waktu yang dipostulatkan oleh seorang Einstein. Jika segalanya bisa dituangkan dalam model dan dibuat sebuah teori, maka the &lt;em&gt;sum of all fears&lt;/em&gt; a’la Tom Clancy bisa menjadi teori &lt;em&gt;the sum of all everything &lt;/em&gt;nya Einstein. Kemarin aku melekat dengan kondisi yang mengatas-namakan diriku sebagai pejabat struktural dalam suatu organisasi. Dan karena fungsi waktu dalam reaksi spontan, Tuhan menciptakan turbulensi untuk meningkatan entropi sistem. Sama seperti kita mengaduk gula dalam secangkir kopi. Arsitektur organisasi tetap sama, tingkatan energinya saja yang berubah. Beberapa elektron tereksitasi ketingkat energi yang lebih tinggi, dan beberapa terpental ke orbital yang lebih rendah. Secara unsur, organisasi ini tetaplah stabil. Ia tetaplah suatu unsur. Yang membedakannya hanyalah jumlah ion yang merepresentasikan valensi, yang menentukan apakah ia akan berikatan dengan unsur lain yang bermuatan kebalikannya (sesuai dengan jumlah valensinya). Kalau dulu, unsur itu bervalensi 1, sekarang ia mungkin bervalensi 2. H2O dan H2O2 adalah analogi yang paling simpel. Sebagai H2O ia adalah air yang memberikan kehidupan, memberikan kenyamanan dan kehidupan bagi sel-sel organisme. Dan karena perubahan valensi, H2O2 adalah &lt;em&gt;hydrogen peroxide&lt;/em&gt; yang mematikan aktivitas sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Model Kehidupan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, neraca perasaanku berada dalam kondisi tidak seimbang. Ketidakseimbangan antara kebanggaan dan kekecewaan. Dan ini memberikan beban bagi diriku. Kesalahanku yang utama adalah memposisikan diriku sebagai neraca analitik Sartorius dalam satuan miligram dengan tingkat ketelitian 4 angka dibelakang koma. Perubahan sepersepuluh ribu miligram, sudah cukup untuk menggoyangkan perasaanku dengan sigfnifikan. Aku tidak perlu merasakan ini, seandainya diriku adalah timbangan pasaran yang mengukur berat ringan kadar sesuatu dengan satuan ons. Neraca yang masih bisa mengangguk-angguk walaupun keadaannya belum tentu setimbang. Malangnya, pemborosan 4 angka dibelakang koma itu harus dihadapkan dengan kenyataan toleransi dua angka di depan koma. Aku merasa seperti koma, terjepit di antara dua angka. Dan aku akan betul-betul koma. Selamat tinggal bilangan 4, 5, 3, 2, x, 1, x. Dan aku mengakhirnya dengan titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku membutuhkan analisis kompleksitas dan komputasi &lt;em&gt;cellular automata&lt;/em&gt; Stephen Wolfram untuk melihat kedalaman hati dan perasaan. Darimana munculnya rasa iri hati, dengki, cemburu, cinta dan bahagia dalam model kehidupan yang kompleks. Darimana dan mengapa muncul perasaan itu? Berapakah panjang gelombang suara yang bisa menimbulkan rasa cinta atau benci? Apakah merupakan suatu kehendak bebas (&lt;em&gt;free will&lt;/em&gt;) ataukah suatu determinasi? Dia berseru seperti anakku di antara rak toko buku (aku membiasakan anak-anakku berkunjung dan bermain di toko buku), mencariku: Papi … dimanakah kau? Aku terperangah dalam keniscayaanku: &lt;em&gt;kacian deh lu!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Entropi adalah derajat kekacauan di dalam suatu sistem. Nilainya selalu negatif, dan akan semakin negatif dengan fungsi waktu. Entropi itu akan terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Itu yang dikatakan hukum termodinamika. Perasaan itu adalah energi. Energi itu akan meningkat dan semakin negatif. Dunia akan kiamat ketika nilai entropi tidak bisa ditolerir oleh batas-batas materi. Materi akan berubah menjadi energi, E = mc2. Bang! Massa berubah menjadi energi. Alam fisik berubah menjadi metafisik. Kehidupan ditransformasi menjadi energi, menjadi roh. Untuk dikumpulkan dan dibangkitkan dalam padang mashyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hukum termodinamika pertama (kekekalan energi), energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Dia hanya berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya. Oleh karena itu Tuhan melarang manusia berbohong. Karena pada saat berbohong itu, energi kinetik yang dipancarkan tidak akan hilang. Dia akan terus merambat di alam semesta, berubah dari energi kinetik menjadi energi potensial. Disimpan di dalam &lt;em&gt;super hard disk&lt;/em&gt; yang di &lt;em&gt;scanning &lt;/em&gt;secara &lt;em&gt;real time&lt;/em&gt; oleh operator Mungkar dan Nakir. Pada saat E = mc2 terjadi, semua kebohongan dan kebaikan akan di &lt;em&gt;preview&lt;/em&gt; secara cepat. Pada saat itulah kaki, tangan dan seluruh organ tubuhmu menjadi saksi perbuatanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hati ini &gt; &lt;em&gt;unplugged&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Dalam musik ada aliran &lt;em&gt;unplugged &lt;/em&gt;yang menempatkan akustik sebagai ornamen utama di atas segala manipulasi nada dan irama secara elektronis. Kepolosan akustik adalah menempatkan nada dan timbre seperti apa adanya, menciptakan harmoni dan keselarasan dengan pendengarnya. &lt;em&gt;Unplugged&lt;/em&gt; tersenyum tanpa gincu, tetapi tetap sensual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ini &gt; &lt;em&gt;unplugged&lt;/em&gt;. Seperti kelompok penyanyi &lt;em&gt;the Corrs &lt;/em&gt;asal Skotlandia menembangkan &lt;em&gt;Forgiven not Forgotten&lt;/em&gt;, hati ini seperti diaduk-aduk ketika menghadapi realita aristektur organisasi. Kepolosan akustik menghadapi realita &lt;em&gt;heavy metal&lt;/em&gt; dan MIDI. Organisasi ini seperti pelikan Monterey yang terancam punah karena tidak memiliki naluri berburu akibat sekian lama dimanjakan lingkungannya. Bahkan pelikan ini pun heran melihat ikan bisa berenang, karena biasanya mereka mendapat makanan dari sortiran sisa-sisa ikan di pelabuhan bongkar muat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya Dr Winarso mengirimkan email tentang Tukang Ember dan Saluran Air, cerita tentang tokoh fiktif Dr Kuswata yang polos dan kumuh serta upaya penyelamatan pelikan. Dia terinspirasi oleh tulisan seorang penulis lingkungan terkenal, Marvin Williams, yang menceritakan upaya penyelamatan Populasi Pelikan di pantai Monterey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai Monterey adalah pantai berpanorama indah di California. Dahulu penduduknya .. amat bangga dengan banyaknya burung pelikan. Burung-burung pemakan ikan itu menjadi betah, karena kondisinya yang tenteram jauh dari gangguan dan yang jelas pantai itu amat kaya ikan. Karena kaya akan ikan, para nelayan menangkapnya secara berlebihan dan ikan-ikan yang tidak memenuhi standar mutu, menjadi makanan &lt;em&gt;'gratis' &lt;/em&gt;bagi pelikan-pelikan itu. Para pelikan kehilangan naluri berburu. Sama seperti Dr Kuswata, yang terbiasa hidup dan berkarya serba mudah – &lt;em&gt;full facilitated&lt;/em&gt; – dan murah ketika studi di LN, sesampai di tanah air, menjadi kehilangan naluri mencari kesempatan sampingan. Masih mending, karena lembaga Kuswata masih berstatus PTN. Bayangkan teman-temannya yang di PTS atau Perusahaan-perusahaan swasta lainnya, yang &lt;em&gt;the owner is the big boss&lt;/em&gt; (dengan segala atributnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tiba-tiba keluar undang-undang pelarangan penangkapan ikan di pantai Monterey. Para pelikan kehilangan ikan&lt;em&gt; 'gratis'&lt;/em&gt;. Sayang, naluri berburu sudah hilang, karena sudah tidak ada lagi tempat belajar. Sejak pecah dari telur, tahunya para tetua mereka tinggal ambil saja ikan-ikan sortiran yang melimpah di area bongkar muat kapal nelayan. Jangan-jangan pelikan-pelikan itu malah heran bila melihat bahwa ikan dapat berenang. Pelikan terancam kepunahan karena kebiasaan yang terbentuk sejak lahir. Mirip dengan kebiasaan pendidikan formal seseorang dan 'cekokan' nasihat para orang tua. Sama seperti Dr Kuswata, ketika menyadari bahwa lembaga tempat bekerjanya akan berubah menjadi PT-BHMN, jangan-jangan dia akan masuk ke dalam 30% staf pengajar yang harus menyingkir (atau tersingkir),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli lingkungan kelabakan dan mencari segala daya upaya untuk menyelamatkan populasi ribuan pelikan dari pantai Monterey itu dari kepunahan. Bisa-bisa hilang kebanggaan masyarakat setempat. Seperti keterancaman Dr Kuswata yang akan memasuki era BHMN. Sayang, Kuswata bukan Pelikan, jadi harus berusaha sendiri menghindar dari kepunahan, bukan? Dan usaha itu selalu gagal. Untung, yang gagal adalah penyelamatan pelikan bukan upaya Dr Kuswata, karena Kuswata baru mulai! Akhirnya muncul ide, mendatangkan pelikan-pelikan dari pantai lain. Pelikan-pelikan yang masih memiliki naluri berburu. Pelikan-pelikan yang masih sadar bahwa ikan itu berenang dalam air laut dan harus ditangkapnya untuk dapat dimakan atau disuapkan kepada anak-anaknya. Pelikan-pelikan yang sejak kecil selalu melihat induknya membawakan ikan suapan dari arah laut, bukan dari Tempat Pelelangan Ikan. Pelikan-pelikan yang selalu mendapat pelajaran perjuangan hidup dalam kebebasan, bukan sekedar keamanan dari jaminan pihak yang lebih dominan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelikan-pelikan sejati itu berasal dari pantai Florida, yang berjarak 2000 mil dari Monterey. Tidak tanggung-tanggung, ratusan pelikan digiring terbang dari Florida ke Monterey. Jumlah yang cukup signifikan untuk berbaur dan berinteraksi. Kejutan! Beberapa ekor pelikan Monterey sepertinya mau belajar (&lt;em&gt;teachable&lt;/em&gt;) kepada pelikan-pelikan tamu dari Florida itu. Sementara pelikan Florida tentunya senang menemukan area sumber pakan yang sangat melimpah. Ladang perburuan yang ikannya masih bebas alami. Jumlah pelikan Monterey yang belajar berburu pun ternyata berduplikasi, bertambah banyak. Belum lagi, adanya perbauran atau perkawinan antara pelikan Florida dan Monterey. Menetaskan keturunan pelikan yang memiliki visi dan misi baru. Pelikan yang pandai dan bernaluri berburu ikan. Populasi pelikan Monterey terselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan populasi organisasi ini? Akankah pemahaman proses bisnis masih seperti pelikan Monterey? Sarah Needleman dari &lt;a href="http://careerjournal.com/"&gt;CareerJournal.com&lt;/a&gt; The Wall Street Journal berbagi pemahaman dalam tulisannya &lt;em&gt;Wanted: HR Executives With Business Know-How&lt;/em&gt;. Seorang eksekutif SDM layak dianalogikan menjadi pelikan Florida jika dia:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Memiliki ketrampilan yang seimbang antara strategi dan implementasi.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Mempunyai pemahaman terhadap proses bisnis yang lengkap, dan memiliki kemampuan aplikasi &lt;em&gt;software HR&lt;/em&gt; dengan &lt;em&gt;track record&lt;/em&gt; yang baik.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Mampu berkomunikasi dengan orang-orang di dalam perusahaan, mengenai apa yang dia lakukan dan apa yang mereka lakukan untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian target perusahaan.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Mempuyai kemampuan mengukur dampak program dan praktek HR terhadap kinerja &lt;em&gt;bottom-line&lt;/em&gt; perusahaan.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;Perasaanku &gt; &lt;em&gt;plug and play&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bill Gates menyederhanakan semua peripheral &lt;em&gt;Windows XP&lt;/em&gt; dengan interkoneksi tak terbatas. Dalam konsep jendela kinerja yang ekstrim (&lt;em&gt;e&lt;strong&gt;X&lt;/strong&gt;treme &lt;strong&gt;P&lt;/strong&gt;erformance&lt;/em&gt;), semua &lt;em&gt;peripheral &lt;/em&gt;mempunyai &lt;em&gt;platform plug and pl&lt;/em&gt;ay dengan kecocokan 100% terhadap jendela yang terbuka. Jadi, selama kita mau masuk dan berjejalan di dalam, silahkan saja lakukan inter koneksi sebanyak yang disukai. Hanya saja, semuanya tergantung kinerja &lt;em&gt;main prosesor&lt;/em&gt; dan kapasitas memori yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diasumsikan prosesor yang dimiliki adalah &lt;em&gt;Intel® Centrino® Core 2 Duo&lt;/em&gt; dengan &lt;em&gt;memory &lt;/em&gt;SDRAM 2048 MB dan &lt;em&gt;video memory&lt;/em&gt; 512 MB DDR, maka secara teoritis bisa menjelajahi ruang maya dari mana saja karena sistem ini mendukung &lt;em&gt;wireless fidelity (wi-fi)&lt;/em&gt; ataupun &lt;em&gt;wimax&lt;/em&gt; untuk &lt;em&gt;on line&lt;/em&gt; tanpa kabel secara &lt;em&gt;mobil.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kinerja sistem sangat tergantung kepada status memori. Berapa persen yang merupakan &lt;em&gt;resident memory&lt;/em&gt;, dan tinggal berapa yang masih tersedia untuk menjalankan sistem. Aku ingin kenangan tentang angka-angka dan titik koma itu menghilang dalam arkade perjalananku. Aku ingin meyakinkan diriku, bahwa aku tak memerlukan lagi kenangan-kenangan itu. Kenangan itu adalah sebuah kemewahan yang membuat risi dan lihatlah betapa bangga aku akan diriku dengan atau tanpa kenangan sekalipun. Ini hanya kujadikan rahasia kecil hidupku, bahwa walaupun kita tidak mengkhawatirkan diri kita, tetap ada orang-orang yang khawatir dengan diri kita, baik karena ketulusan hatinya maupun ketakutan karena merasa terancam keberadaannya. Inilah hidup. Kepercayaan dan saling menghargai. Semoga ….&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-7812329659115263483?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/7812329659115263483/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=7812329659115263483&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/7812329659115263483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/7812329659115263483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/hati-ini-unplugged.html' title='Hati ini &gt; Unplugged'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5145828741838820432</id><published>2007-05-08T17:21:00.000+07:00</published><updated>2007-05-08T17:42:58.473+07:00</updated><title type='text'>7 Habits of Highly Me</title><content type='html'>&lt;p&gt;MY MISSION:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc9933;"&gt;“TO BE LEADER IN MY INDIVIDUAL AREA OF EXPERTISE AND TO SATISFY CUSTOMER (ORGANIZATION) NEEDS AND WANTS”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERANAN-PERANAN SAYA:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. PEMIMPIN “Dengan Suatu Akhir di Dalam Pikiran = Perencanaan” &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menciptakan unit kerja yang akan menjadi suatu tim menonjol yang terdiri dari para profesional terlatih, dikenali sebagai yang terbaik di dalam bidang-bidang keahlian individunya, memberikan kontribusi terhadap keberhasilan dan citra dari unit kerja serta perusahaan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berkembang dengan unit yang memiliki arah dan manfaat yang jelas, dan menanamkan keinginan untuk mencapai tujuan, dimana batu-batu petunjuk kilometer di jalan yang telah dilewati merupakan tujuan akhir yang sama di dalam setiap pikiran (rencana). &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. ENTERPRENEUR “Menjadi Proaktif” &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Membangun unit efektif. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyesuaikan kondisi-kondisi yang sedang berubah di sekelilingnya dan menciptakan/mengembangkan proyek-proyek ketika ide-ide yang cemerlang sedang timbul. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengambil resiko dan secara terus-menerus memajukan unit bilamana ada kesempatan yang muncul. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghubungkan keahlian/tugas dimana dibutuhkan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjadi inisiator sukarela untuk perubahan. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. MANAGER “Mendahulukan yang Harus Didahulukan &amp; Mengembangkan Hubungan Menang-Menang” &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pengalokasi Sumber Daya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merancang struktur dan proses di unit, bagaimana pekerjaan dibagi dan dikoordinasikan. Melakukan alokasi dan membuat prioritas waktu (tim) saya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fokus pada keinginan untuk mendengarkan para pelanggan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tukang Mengatasi Gangguan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Secara efektif menanggapi tekanan-tekanan dan bertindak pada krisis yang terjadi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sang Negosiator. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengembangkan kesepakatan menang-menang yang adil dan mengelola harapan-harapan. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. KOMUNIKATOR “Berusahalah Untuk Memahami, Baru Kemudian Minta Dipahami”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sang Pengamat. Rekam lingkungan sekitar dan bertanyalah (lakukan kontak) kepada orang-orang untuk mencari informasi, opini dan ide; untuk memahami. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sang Penabur. Bagi informasi dan ide-ide secara langsung kepada orang-orang di dalam unit; untuk dikatakan dan mengilhami. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sang Jurubicara. Sampaikan informasi dan ide-ide kepada orang-orang kunci (key person) di luar unit; untuk dikatakan dan memuaskan. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;5. HARMONIZER “Sinergi”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menganjurkan kerjasama yang saling menguntungkan, mempertimbangkan partisipasi dan komitmen orang-orang (lain). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membangun pada kekuatan-kekuatan individu-individu di dalam/di luar unit untuk memajukan, secara bersama-sama, menghasilkan yang terbaik dengan kerja tim.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PERANAN &amp; KETRAMPILAN-INTI SAYA “Asahlah Gergaji” &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEMIMPIN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Membuat Visi &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mengembangkan Misi dan Strategi &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mengembangkan SDM - Peranan, Ketrampilan, Ringkasan &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mengembangkan Kekuatan Ketrampilan &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Moral &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Basic Beliefs &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ENTERPRENEUR &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Kebutuhan dan Keinginan Pelanggan (Perusahaan) &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Outlook dan trend (Agribisnis) &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Memahami Sistem dan Proses Agribisnis&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Realignment Perusahaan &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Hubungan Bisnis dan Kesempatan-Kesempatan &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Etika Bisnis dan Praktek-Praktek yang Lazim &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Bisnis dan Pengukuran Tingkat Kepuasan &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Hal-Hal yang Menantang Pada Saat Ini &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;MANAGER &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Kuadran 2, Manajemen Waktu &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Proses untuk Menjadi yang Terbaik &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Managemen Kepuasan Pelanggan &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Pemecahan Masalah &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Negosiasi &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mengembangkan Pesetujuan Menang-Menang &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mengelola Harapan-Harapan &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KOMUNIKATOR &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mendengarkan, Memahami, Mengingat &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Melakukan Fasilitasi &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mengkomunikasikan/Menyajikan &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mengajar &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Berpidato &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Kemampuan Bahasa &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Menulis &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;HARMONIZER &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Membangun Tim - Saling Ketergantungan &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Membangun Hubungan Kepercayaan dan Nilai-NIlai &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Membangun Kekuatan Proses&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5145828741838820432?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5145828741838820432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5145828741838820432&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5145828741838820432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5145828741838820432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/7-habits-of-highly-me.html' title='7 Habits of Highly Me'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-569883321511492207</id><published>2007-05-08T16:59:00.000+07:00</published><updated>2007-05-08T17:05:14.222+07:00</updated><title type='text'>Tawuran dan Narkoba pada Generasi Muda</title><content type='html'>Perspektif gender adalah suatu hal usang yang selalu menarik untuk dipelajari dan diperbaharui dalam perspektif kekinian.  Kali ini saya akan mencoba bicara soal anak, membesarkan anak, fenomena tawuran di kalangan pelajar dan konsumsi narkoba yang semakin menakutkan para orang tua dari perspektif ini.  Inti dari fenomena ini menggejala karena ketidakseimbangan porsi pengasuhan anak antara figur bapak dan figur ibu. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Jakarta tahun 2007 adalah kota persaingan.  Jika kita tidak bisa mengorbankan waktu untuk memberikan pelayanan terhadap pekerjaan kita, maka 90% penduduk bandar raya ini mungkin akan punah dan berganti dengan bentuk masyarakat yang sama sekali baru.  Artinya, orang yang tidak bisa berangkat kerja pagi hari (subuh) dan pulang petang (sampai dirumah pukul 20.00), adalah mereka-mereka yang harus punah sesuai teori &lt;em&gt;survival of the fittest&lt;/em&gt; nya Darwin.  Jelas, karena tidak akan ada orang yang mau memperkerjakan mereka. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Jika kita mengikuti pola ritmik yang dianggap baku oleh masyarakat Jakarta tersebut, maka suatu kebersamaan dalam keluarga adalah suatu kemewahan yang langka.  Kita tidak akan punya waktu untuk berinteraksi secara intens dengan anak.  Anak hanya diposisikan sebagai hasil ikutan (&lt;em&gt;by product&lt;/em&gt;) dari suatu simbol ikatan perkawinan.  Dia tidak mempunyai hak untuk menerima kasih sayang dalam suatu pola sistematis, dan hanya bisa merasakan kelangkaan kasih sayang dalam kejutan-kejutan ala MTV &lt;em&gt;land&lt;/em&gt;, yang didapatkannya dari jendela kotak kaca budaya popular, memperhatikan trend pergaulan yang semakin mudah terpeleset ke pelarian seperti penggunaan narkoba, tawuran dan pergaulan bebas yang&lt;em&gt; audzubillah mindzalik&lt;/em&gt;. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Pergeseran pola hidup karena tekanan lingkungan urban sensation, membuat kita para manusia sebagai pelaku kehidupan membentuk budaya yang sama sekali baru bila dibandingkan era tahun 70-an.  Pada tahun-tahun yang telah berlalu itu, kota tidaklah seramai dan serumit sekarang.  Berjalan kaki dari Slipi ke Cililitan bagi seorang mahasiswa di tengah panasnya Jakarta adalah sesuatu yang biasa.  Kini, jangan mengharap lagi ada orang yang mau melakoni itu secara sadar untuk sebuah perjalanan. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Di Jakarta tahun 2007, pergi kemana-mana harus selalu dengan kendaraan.  Mentalitas jalan kaki sudah usang.  Salah satu pergeseran budaya rumahan pun menjadi semakin mengkristal.  Pola rumah – kantor di lokasi berdekatan hanyalah valid untuk segelintir orang super kaya atau mayoritas karyawan baru yang miskin dan bersedia indekos di rumah-rumah sederhana di belakang jalan Sudirman dan Thamrin.  Setelah para karyawan baru ini merasa mantap dan berumah tangga, sebuah rumah adalah keharusan (atau mungkin mereka belum cukup kuat mental untuk memiliki tangganya saja).  Dan dengan adanya disparitas harga jual properti dan kemampuan daya beli, pasangan-pasangan baru ini harus merelakan diri terhempas ke kawasan rumah saya sendiri (RSS) jauh di luar Jakarta.  Kalau dahulu rumah di Bekasi dianggap murah bila dibandingkan Jakarta, maka sekarang jarak itu semakin bergeser ke Tambun dan Krawang.  Dan jadilah perjalanan ke dan dari tempat kerja menjadi suatu petualangan ala Indiana Jones.  Cuma bedanya, kalau Indiana Jones bisa menembus waktu, maka kita hanya bisa merelakan waktu menelan kita dalam sebuah ritual perjalanan. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dan kehidupan pun terus berlanjut.  Yakinlah apa yang dikatakan orang bijak:  Kehidupan itu akan menemukan jalannya sendiri.  Dari titik inilah saya akan mencermati fenomena tawuran pelajar, narkoba, dan menanti apakah kelak 2 generasi bangsa ini menjadi generasi yang hilang, atau menjadi generasi bangsa(t) Indonesia.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Buah perkawinan itupun akhirnya muncul ditengah kebahagian pasangan suami istri.  Dan karena si ibu harus bekerja untuk menopang kehidupan keluarga juga (di Jakarta kalau suami istri tidak bekerja kedua-duanya maka ibarat mobil bukan 4WD dilintasan &lt;em&gt;off-road&lt;/em&gt;), maka si anak mesti direlakan untuk diasuh orang lain.  Bisa jadi orang lain itu adalah neneknya, &lt;em&gt;baby sitter,&lt;/em&gt; atau pembantu rumah tangga (istilah kerennya: mamahnya anak-anak).   &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Generasi MTV ini adalah generasi yang terutama dibesarkan oleh wanita, apakah wanita itu ibunya, &lt;em&gt;baby sitter&lt;/em&gt;, pembantu rumah tangga, atau malah tetangganya.  Dibesarkan tanpa ada figur bapak yang ikut mewarnai karakternya, karena posisi bapak sudah dipostulatkan sebagai pencari nafkah, dan untuk itu sang ayah bebas untuk berangkat kerja kapan saja dan pulangnya hampir selalu kemalaman.  Karena kalau dia tidak lakukan itu, dia akan punah dari spesies &lt;em&gt;Homo faber&lt;/em&gt; (manusia sebagai makhluk pekerja).  Dia mencari pembenaran dalam ritual kerja dan perjalanan ke tempat kerjanya.  Anak dibesarkan wanita, siapapun dia, dan tidak di poles sentuhan akhir seorang pria untuk menyempurnakannya.  Hal ini akan menjadi lebih parah lagi  kalau wanita yang membesarkannya itu ternyata bukan ibu kandungnya. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Banyak ibu-ibu yang mampu bereproduksi, tetapi tidak memiliki kesadaran untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya secara seimbang.  Pemandangan yang umum di mal dan plaza adalah melihat keluarga kontemporer Indonesia dengan paling tidak seorang &lt;em&gt;baby sitter&lt;/em&gt; menemani mereka berbelanja.  Seorang ibu yang menikmati proses berbelanja di mal dan plaza yang sejuk, tetapi kurang menyikapi pertumbuhan dan perkembangan anaknya.  Dan secara psikologis, anak akan lebih dekat dan tergantung kepada pengasuhnya.  Anak tidak mau makan bila disuapin ibunya, tetapi langsung melahap  semuanya jika baby sitter yang memberikannya.   Anak yang menangis meronta-ronta ketika digendong ibunya, tiba-tiba menjadi senyap dan tersenyum manis ketika digendong pengasuhnya.  Semuanya adalah kejadian-kejadian kecil yang memberikan dampak besar kepada perkembangan pribadi anak ketika mereka berusaha mencari jati dirinya kelak. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Anak laki-laki itupun akan kehilangan kejantanannya dalam arti kiasan dan sebenarnya.  Mereka secara bulat-bulat menelan dan meniru pola manipulatif wanita dalam  kehidupan laki-lakinya.  Mereka telah kehilangan konsep berani dan jantan, dan menterjemahkannya dengan interface mereka sendiri menjadi berani keroyokan, berani karena bawa beceng, karena punya samurai dan seterusnya dan sebagainya.  Dan kondisi ini akan menjadi semakin parah, karena secara substantif akan meningkatkan kecenderungan anak laki-laki menjadi gay alias homo.  Semua ini karena figur bapak telah gagal bersemi di dalam kalbu si anak yang digerus oleh budaya urban sensation.  Maka tawuran pelajar pun terjadi semakin  dini dan meluas, dari anak SMU kini telah merambah ke anak SD, SMP dan juga ke Perguruan Tinggi.  Jika figur bapak ada dalam hatinya, bila dia berkelahi, dia akan jantan dan berani berkelahi satu lawan satu, dan pasti mengharamkan tawuran. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Mereka-mereka yang akan tawuran biasanya terangsang untuk mengkonsumsi minuman keras dan akhirnya bermuara pada narkoba, guna memompa semangat dan keberanian.  Mereka meniru atlet yang ingin berprestasi dengan cara doping, hanya saja cara mereka salah, dan tujuan mereka juga salah. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Lalu anak-anak itu menjadi gamang dalam perjalanan menuju ke kedewasaannya.  Ketidakseimbangan itu akan membuatnya mudah tersandung dan terjerumus dalam sisi negatif budaya popular.  Budaya anak muda dengan atribut dan asesorisnya sendiri, yang cenderung mencari pembenaran dan membenarkan semua apa yang dilakukannya dalam kehidupan ini.  Dan menurut mereka kebenaran itu adalah kebenaran yang dianut oleh norma kolektif kelompok mereka. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Jika merokok telah menjadi suatu kebiasaan, walaupun peringatan pemerintahan merokok itu bisa membahayakan kesehatan dan menyebabkan impotensi, orang-orang yang pernah merokok tentu memahami sulitnya melepaskan diri dari rokok.  Lalu bagaimana dengan putauw, bong dan segala turunannya dalam fenomena sakauw yang berapa kali lipat lebih dahsyat dari rokok? &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Budaya popular dalam masyarakat kota sekarang ini memberikan sensasi dan cenderung kepada hal-hal seperti itu.  Strategi pemasaran kelompok pengedar narkoba adalah memposisikan produknya sebagai sesuatu yang diasosiasikan dengan kemajuan zaman, budaya modern yang akan mengantarkan para pemula ke dunia nikmat yang maya, walau itu tidak disebutkan secara jelas-jelas:  hanya untuk sementara!  Dan setelah itu budaya modern itu akan membuatnya &lt;em&gt;modaren&lt;/em&gt; (mati). &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Mereka-mereka yang terjebak dalam labirin kenikmatan semu ini hampir selalu akan berakhir dengan kematian sebagai ujung siklusnya.  Dan  berakhirlah sebuah kehidupan, yang secara agregat berarti menghilangkan sekian talenta produktif, kuncup bunga bangsa yang layu sebelum berkembang, dan secara nyata akan membuat bangsa ini terpuruk dalam persaingan global.  Mereka-mereka ini lah generasi penerus yang akan menjadi anggota DPR, pejabat, tentara, atau apa saja di masa yang akan datang.  Lalu mau jadi apakah negara kita ini kelak? &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Untuk itu, dengarlah wahai kaum Adam, cobalah luangkan 1-2 kali dalam seminggu untuk menjalin persamaan dan kebersamaan dengan anak-anak kita guna menyemai ketahanan keluarga.  Niscaya, ketahanan keluarga macam inilah yang akan ampuh dan menjadi modal Indonesia untuk meniti masa depan. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Pemasyarakatan hal-hal seperti ini pada pasangan muda yang akan menikah, mudah-mudahan akan  memberikan tuntunan kepada mereka untuk membina keluarganya guna menjadi keluarga yang &lt;em&gt;sakinah mawaddah warrahmah&lt;/em&gt;.  Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-569883321511492207?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/569883321511492207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=569883321511492207&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/569883321511492207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/569883321511492207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/tawuran-dan-narkoba-pada-generasi-muda.html' title='Tawuran dan Narkoba pada Generasi Muda'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-5141561868715285551</id><published>2007-05-07T17:28:00.000+07:00</published><updated>2007-05-07T17:36:38.121+07:00</updated><title type='text'>Retrospeksi Perusahaan Besar dan Perusahaan Kecil</title><content type='html'>Oleh:  Matraman D'Eladelia *)&lt;br /&gt;&lt;div&gt;(Bisnis Indonesia, Kamis 30 Januari 1997).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan besar adalah kapal besar, tempat dimana para kelasi berhenti dan masuk, tanpa kapal itu terganggu sampai ke tujuannya.  Setidaknya itulah paradigma yang sampai saat ini masih melekat di otak para pemilik kapal, sehingga bila seorang nahkoda mengajukan permohonan mengundurkan diri, dia tetap tak begitu peduli dan tak merasa terganggu.  Dan dia akan terhenyak hanya ketika kapalnya tenggelam disapu gelombang dan badai di samudra raya yang semakin tidak dapat diramalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tanpa disadari sepenuhnya oleh para pemilik, perusahaan yang terlanjur menjadi besar telah menjadi tempat berlabuh, tempat pelatihan, karena jaminan karir dan kesejahteraan seumur hidup adalah “impian masa lampau” yang hilang sejalan dengan membesarnya skala organisasi, sebagaimana proyeksi Naisbitt dalam &lt;em&gt;Megatrend 2000&lt;/em&gt; dan William H. Whyte dalam &lt;em&gt;Organization Man&lt;/em&gt;.  Dalam lokakarya &lt;em&gt;Lifetime employability:  New thinking in changing environment&lt;/em&gt; di &lt;em&gt;World Trade Centre&lt;/em&gt; Jakarta awal Desember yang lalu, Carole Hyatt mengemukakan suatu sinyalemen bahwa pada saat ini dan saat-saat yang akan datang, perusahaan kecil dan menengahlah yang akan mampu menghadapi persaingan.  Sementara perusahaan besar tampak seperti raksasa kekenyangan yang lamban karena birokrasi dan tidak efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengomentari apa yang dikatakan Carol, saya tercenung dalam perspektif global.  Fenomena yang dipaparkan Carol memang didukung oleh fakta empiris di Amerika, tetapi bila kita mau melakukan retrospeksi maka dengan telak fenomena itu akan menohok ulu hati sanubari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian Indonesia yang hangat dibahas oleh “orang-orang pintar” dalam beberapa hari ini di media massa, adalah kendali mono-oligopoli yang nyata maupun tidak nyata, suka ataupun tidak suka, telah memberikan andil dan warna bagi Republik ini.  Fasilitas khusus yang diterima oleh sekelompok masyarakat yang dengan beberapa ketrampilan khusus (kita boleh angkat topi untuk hal ini), dengan cepat menggelembungkannya menjadi kekuatan ekonomi dalam eskalasi yang mencengangkan.  Tumbuhnya konglomerasi perdagangan hasil bumi (bahan mentah) dengan subur yang mengakumulasi modal dalam jumlah besar dan merambah ke berbagai bidang industri dari hulu sampai ke hilir akhirnya mengantarkan banyak perusahaan-perusahaan Indonesia menembus batas asset diatas trilyunan Rupiah.  Konsekuensinya, budaya “kapitalisme pedagang” dalam konteks kapitalisme semu (&lt;em&gt;ersatz capitalism&lt;/em&gt;) masih kental dalam parktek kerja perusahaan konglomerat, bahkan yang telah mengklaim dirinya dikelola secara profesional sekalipun (baca:  &lt;em&gt;go public&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendali yang terpusat, dengan metode &lt;em&gt;top-down&lt;/em&gt; yang sangat nyata, serta terpusatnya kekuasaan dan otoritas pada pemilik saham atau segelintir orang dalam “jajaran management” akhirnya menciptakan kerajaan-kerajaan baru dengan raja-raja kecil pada setiap bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya kompetisi yang menuntut kepuasan pelanggan adalah kenisbian dalam kendali mono-oligopolis yang nyaris merambah hampir setiap sektor kehidupan, dan tampaknya akan menjadi status quo, setidaknya sampai periode suksesi yang akan datang.  Perusahaan-perusahaan besar yang menggurita akan menjadi kerajaan seperti legitimasi sejarah dunia.  Siklus bangkit-jaya-dan-runtuhnya suatu kerajaan telah menjadi pengetahuan umum di seluruh dunia:  Dinasti-dinasti di Cina, Jawa dengan imperium Majapahitnya, Kekaisaran Romawi dan banyak lagi lainnya.  Hanya sedikit kerajaan yang “selamat” dari perubahan dunia karena mereka cukup luwes dan mau berbagi kekuasaan dengan rakyat yang semakin kritis, semakin pandai, dan semakin banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konglomerasi Indonesia masih jauh dari impian Indonesia Incorporated seperti konsep &lt;em&gt;keiretsu&lt;/em&gt;-nya Jepang atau &lt;em&gt;chaebol&lt;/em&gt;-nya Korea, apabila mereka-mereka yang besar itu tidak arif untuk berbagi kekuasaan dengan rakyat (baca: sebagian besar karyawannya dan mitra usahanya).  Perusahaan yang hanya peduli akan &lt;em&gt;bottom line&lt;/em&gt;, mungkin akan terlambat menyadari bahwa &lt;em&gt;bottom line&lt;/em&gt; itu merupakan rata-rata kinerja semua pihak yang terkait. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika CEO atau Direktur Utama sudah menjelma menjadi raja karena kekuasaannya, maka lingkungannya akan menjadi steril, sehingga ia terlena dan merasa seluruh situasi dalam kondisi terkendali.  Ketajaman visi yang mewarnai strategi usaha akhirnya menjelma menjadi tele-visi dan sistem manajemen &lt;em&gt;remote control&lt;/em&gt; karena usaha yang menggurita.  Dengan kecenderungan globalisasi dan terbukanya pasar domestik pasca AFTA 2003 dan perdagangan bebas 2020, maka sesuatu yang eksklusif untuk sekelompok orang akan menjadi komoditas umum yang siapapun dapat memanfaatkannya.  Para CEO harus siap turun takhta apabila stake holder tidak puas.  Kekuatan karyawan sebagai mata rantai dan ujung tombak perusahaan suatu saat akan menikam diri perusahaan itu sendiri.  Gelombang pemogokan buruh yang kontra produktif, baik itu yang murni maupun yang ditunggangi, merupakan indikasi bahwa hubungan industrial dalam perusahaan sudah mencapai suatu titik kritis yang harus segera dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya “orang-orang kasim” yang melayani raja dan ratu, yang dikebiri alat vitalnya (demi alasan tertentu) telah terbukti menjadi faktor kunci keberhasilan (&lt;em&gt;key success factor&lt;/em&gt;) penghancuran dinasti-dinasti kerajaan di Cina.  Fenomena kasim ini telah merasuk secara global dalam segala dimensi dan dalam wujud perusahaan besar menjelma menjadi CEO, &lt;em&gt;Executive Vice President, Senior Vice President, VP&lt;/em&gt; atau apapun istilahnya, tidak lebih dari orang-orang yang tidak berani dan tidak mau mengambil resiko, orang yang menjadikan atasannya sebagai keranjang sampah segala persoalan dan tidak lebih menjadi tukang pos bagi setiap problem bawahannya, dan herannya, mereka dibayar mahal serta menikmati kehidupannya, sama seperti sang raja yang bahagia dengan laporan ABS yang diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapuhnya perusahaan-perusahaan besar bukanlah monopoli konglomerat Indonesia saja, bahkan perusahaan global sekaliber IBM sekalipun, pernah limbung dan melakukan konsolidasi yang memberikan tempat bagi kecenderungan baru untuk &lt;em&gt;downsizing&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desentralisasi, pemberian otonomi yang lebih besar, menciptakan iklim &lt;em&gt;empowerment&lt;/em&gt; dalam tim yang mandiri, mau tidak mau harus dilakukan oleh konglomerat Indonesia untuk tetap &lt;em&gt;survive and drive&lt;/em&gt; pasca 2003.  Dan bila usaha-usaha itu terlambat dilakukan, mungkin terlambatlah jalan bagi Indonesia untuk menjadi “Macan Asia” yang baru, dan kalaupun menjadi “macan ompong”, itupun karena peran pengusaha-pengusaha menengah dan kecil yang selalu siap berubah bentuk secara terus menerus (&lt;em&gt;morphing&lt;/em&gt;) karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan situasi, kondisi, dan toleransi sistem ekonomi yang berjalan secara dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari apapun bentuk perusahaan menengah dan perusahaan-perusahaan kecil itu menjadi “suatu bangunan aneh” yang bentuknya sangat tidak beraturan karena pengembangan usahanya harus menyiasati&lt;em&gt; cash flow&lt;/em&gt; (yang tidak mereka nikmati kumudahan permodalannya, sehingga harus ngos-ngosan menggenjot ROA-nya bila ingin tumbuh membesar), itulah konsep rumah tumbuh yang dilirik dengan setengah mata pada awalnya, tetapi secara rata-rata nasional memberikan sumbangan yang berarti dalam angka pertumbuhan ekonomi.  Apapun yang akan dikatakan, setidaknya inilah fenomena yang harus diberikan jatah kue kredit nasional yang lebih besar, karena mereka belum punya nyali untuk mencari dana sendiri melalui alternatif lain seperti modal ventura dan  penawaran saham di Bursa Efek Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo pengusaha menengah dan pengusaha kecil, apapun bentuk kalian, katakanlah usaha itu sebuah karya seni, dan memang itulah suatu&lt;em&gt; state-of-the-art&lt;/em&gt; yang menurut teori manajemen akan terus eksis selama masih ada penawaran dan permintaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi pengusaha besar, sadarilah bahwa bagi kebanyakan orang (termasuk karyawan anda), kebesaran anda dengan segala atributnya telah membuat anda menjadi raksasa yang lamban dan tidak efisien.  Kalau dulu anda melaju diatas rel seperti kereta api yang disediakan &lt;em&gt;fly over&lt;/em&gt; dan pintu lintasan di jalan raya yang dapat ditutup bila kereta anda akan lewat, mulai saat ini dan saat mendatang anda harus berpacu di jalan raya dengan bus dan mobil angkutan umum, bahkan sarana angkutan rakyat seperti ojek dan bajai.  Belajarlah dari kearifan alam, dan jangan menentangnya, karena itu berarti anda menciptakan “perusahaan dinosaurus” yang akan punah karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.  Sudah saatnya gerbong-gerbong itu dilepas dan dimodifikasi menjadi kendaraan-kendaraan yang lebih kecil dan lebih lincah di jalan raya, suatu jalan yang akan menjadi realitas sebenarnya pada tahun 2000-an.  Semuanya belum terlambat.  Retrospeksi, kecenderungan, dan takdir akan memberikan hasil bila kita berniat dan mau melakukan suatu perubahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;Matraman D'Eladelia adalah nama pena Iyung Pahan pada saat menulis di Bisnis Indonesia.  Saar tulisan ini dibuat, dia bekerja perkebunan milik Salim Group (1988-1999).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-5141561868715285551?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/5141561868715285551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=5141561868715285551&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5141561868715285551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/5141561868715285551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/retrospeksi-perusahaan-besar-dan.html' title='Retrospeksi Perusahaan Besar dan Perusahaan Kecil'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-177092731222304964</id><published>2007-05-07T16:35:00.000+07:00</published><updated>2007-05-08T17:10:02.783+07:00</updated><title type='text'>Peluang Kerja dan Perubahan di Sekitar Kita</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;div align="left"&gt;Makalah untuk &lt;em&gt;Enterpreneurship Days&lt;/em&gt; di Auditorium Tojib Hadiwijaya, Fakultas Pertanian IPB. 4 September 2002.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Komunikasi yang benar bukanlah hanya sekedar bertukar pembicaraan.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Komunikasi adalah pemindahan makna dengan terciptanya pemahaman tanpa penghakiman.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;- Nancy Stern (2002)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Presiden dan pemilik Communication Plus&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Ketika saya diminta untuk menjadi pembicara dalam &lt;em&gt;entrepreneurship day&lt;/em&gt; Fakultas Pertanian IPB, yang terlintas dalam pikiran saya adalah, para sarjana baru sudah mulai terjangkit keinginan menjadi pencipta kesempatan kerja ketimbang menjadi &lt;em&gt;salary man.&lt;/em&gt; Kemudian saat saya menerima faks konfirmasi dan &lt;em&gt;term of reference&lt;/em&gt; yang diminta panitia, inti makalah yang diminta ternyata tetap mengacu pada konsep &lt;em&gt;salary man&lt;/em&gt;. Jadi, sepertinya memang susah untuk melepaskan diri dari paradigma berpikir saat ini, bahwa dunia boleh berubah, tetapi bukan kita yang harus berubah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;Menurut teman saya Dr. Malkan (saya panggil Malcolm), investasi yang memiliki &lt;em&gt;internal rate return&lt;/em&gt; (IRR) yang tertinggi adalah investasi dalam bidang pendidikan. Ini sudah terbukti secara kuantitatif dan kualitatif. Hanya saja, pendidikan yang bagaimana yang memenuhi kriteria ini? Sejak jaman Cina kuno sudah ada tradisi tahunan mendatangkan para mahasiswa terbaik dari setiap propinsi untuk diuji dan diadu di depan Kaisar di Kotaraja. Lulusan terbaik, langsung diangkat menjadi pejabat negara. Dan banyak mahasiswa miskin yang cemerlang, akhirnya sukses sebagai pejabat dan tercatat dalam sejarah. Dr. Malkan adalah cucu seorang pekebun karet di Kisaran, beliau sempat berkelana dan bekerja di Madagaskar, kuliah di Amerika Serikat sambil bekerja (pernah jadi &lt;em&gt;office boy&lt;/em&gt;) dan setelah memperoleh PhD dari Pensylvania akhirnya kembali ke Jakarta sebagai salah satu partner di biro konsultan khusus &lt;em&gt;anti dumping&lt;/em&gt; yang berafiliasi ke firma besar di Washington D.C.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Lalu bagaimana dengan lulusan perguruan tinggi di Indonesia umumnya dan IPB khususnya? Apakah fenomena ini tetap valid atau telah dan sedang berubah? Marilah kita melihat kasus ini dari beberapa sisi yang adil dan nyata, yaitu:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Keseimbangan antara penawaran dan permintaan (&lt;em&gt;demand and supply&lt;/em&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bauran pemasaran (&lt;em&gt;Marketing Mix&lt;/em&gt;), yaitu konsep 4P : &lt;em&gt;product, pricing, placement&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;promotion.&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Resume yang “Menjual”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menurut &lt;em&gt;Runzheimer International&lt;/em&gt;, sebuah perusahaan konsultansi di Amerika Serikat, rata-rata seorang manager disana menghabiskan 80% waktunya dengan berkomunikasi, yaitu: 10% untuk menulis, 15% untuk membaca, 25% untuk mendengar, dan 30% untuk berbicara. Survey tahun 2000 dalam laporan Pitney Bowes (Chicago Tribune, 22 Oktober), melaporkan rata-rata setiap pekerja di AS menangani 204 pesan per hari, seperti panggilan telepon, faks, &lt;em&gt;voice mails, e-mail,&lt;/em&gt; surat, hingga &lt;em&gt;Post-it® notes&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Ada tiga pertanyaan yang harus dijawab ketika kita ingin mengkomunikasikan hal-hal yang penting (termasuk mengirim resume anda):&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Apakah informasi disampaikan dengan jelas dan akurat? Dalam komunikasi bisnis, dimana banyak hal-hal yang sangat penting, maka wajar kalau banyak “informasi biasa” yang diabaikan, tertumpuk di meja, atau dibuang begitu saja ketika orang-orang yang menangani pekerjaan ini sampai pada tingkat kebosanan yang memprihatinkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana informasi itu menyentuh perasaan orang yang menerimanya? Ini adalah sisi manusiawi dari komunikasi. Apa yang terlihat pada pesan itu, seperti nada bicara, gaya tulisan dan pilihan kata-kata yang dipergunakan, secara keseluruhan dapat menyebabkan proses komunikasi berhasil atau gagal. Jika kita ingin “menjual” sesuatu kepada seseorang, kita perlu menciptakan perhatian dan simpati, suatu hubungan saling percaya guna merangkul mereka ke arah kita. Sebagai contoh, lihatlah iklan kondom “meong” di televisi yang dapat mempengaruhi orang untuk membeli produk itu. Contoh lainnya adalah saat kita melakukan &lt;em&gt;exit interview&lt;/em&gt;. Rubahlah pertanyaan “Kenapa kamu berhenti?” menjadi “Kenapa kamu tidak bertahan disini?” Hanya sedikit perbedaan dalam kata-kata, tetapi dapat membuat fokus jawaban para karyawan menjadi sangat berbeda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah informasi itu mengejutkan penerimanya atau mendapat perhatian dari mereka? Ini adalah hal terpenting dalam komunikasi yang sangat kritis karena hal ini akan menjamin isi pesan diterima dengan baik. Sejujurnya, kita tidak bisa melakukan hal ini dalam setiap komunikasi. Tetapi, sekali kita berhasil melakukannya secara kreatif, orang akan terus mengingat isi pesan itu dalam waktu yang lama. Sebagai contoh, bukankah kita selalu teringat pada beberapa iklan televisi yang sampai sekarang tetap kita ingat karena berhasil “mencuri” perhatian kita. Iklan kacang atom &lt;em&gt;“OK bang-get”,&lt;/em&gt; dan perilaku rekan saya yang ingin mencampur bensin dengan &lt;em&gt;“Irex”&lt;/em&gt; karena bosan mobilnya terus-terusan ngadat, adalah contoh proses komunikasi yang bertahan dalam benak kita karena mendapat persepsi yang sangat kuat.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Resume&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;curriculum vitae&lt;/em&gt; adalah merek (&lt;em&gt;brand&lt;/em&gt;) yang merupakan refleksi diri anda, yang ingin anda jual kepada orang lain. Dalam menulis sebuah &lt;em&gt;resume&lt;/em&gt;, sama seperti sebuah merek komersial, ada hal-hal yang harus dilakukan dan ada yang harus dihindari (&lt;em&gt;do and don’t&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Tidak ada &lt;em&gt;resume &lt;/em&gt;yang “menjual” atau resume yang “tidak menjual”. Yang ada adalah &lt;em&gt;resume&lt;/em&gt; yang sesuai dengan kebutuhan &lt;em&gt;user &lt;/em&gt;atau tidak. Ibaratnya, jika perusahaan itu adalah orang yang memerlukan beras 3000 ton dan anda menyodorkan brosur televisi LCD layar datar 48 inchi, apa kira-kira yang akan terjadi? Ya, &lt;em&gt;resume&lt;/em&gt; anda akan langsung dilempar ke keranjang sampah. Sebaliknya, penawaran 3000 ton beras, yang hanya ditulis tangan di atas selembar kertas stensil, ternyata diproses dengan cukup pantas. Sementara itu &lt;em&gt;resume&lt;/em&gt; anda telah hilang, entah jatuh dimana …&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Buatlah &lt;em&gt;resume&lt;/em&gt; yang khusus. Yang sesuai dengan keinginan &lt;em&gt;user&lt;/em&gt;. Apa keinginan &lt;em&gt;user&lt;/em&gt; itu dapat anda lihat dari persyaratan kerja yang dicantumkan di iklan lowongan kerja. Jika yang dituntut adalah pesyaratan adanya pengalaman kerja sekian tahun, buatlah seakan-akan keterampilan management anda setara dengan itu (walau anda belum memiliki pengalaman kerja). Keterampilan management umumnya dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu technical &lt;em&gt;skill, human skill, &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;conceptual skill&lt;/em&gt; (Robbins, 2001). &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Technical skills&lt;/em&gt; adalah kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang bersifat spesialis atau keahlian. Umumnya para sarjana baru belum memiliki ketrampilan teknikal ini. Ketrampilan ini biasanya didapat dari proses pembelajaran. Pembelajaran adalah perubahan kelakuan yang relatif permanen sebagai akibat dari pengalaman. &lt;em&gt;Human skills&lt;/em&gt; adalah kemampuan untuk bekerja dengan, memahami, dan memotivasi orang lain, baik secara individu maupun dalam kelompok. Ketrampilan yang telah anda miliki saat ini umumnya masuk dalam kelompok human skills. &lt;em&gt;Conceptual skill&lt;/em&gt; adalah kemampuan mental untuk mendiagnosis dan menganalisis situasi yang kompleks. Semakin tinggi posisi anda, semakin dominan porsi &lt;em&gt;conceptual skill&lt;/em&gt; yang dibutuhkan untuk sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk para pemula yang belum memiliki pengalaman kerja, &lt;em&gt;selling point&lt;/em&gt; anda adalah kecerdasan kognitif (direfleksikan dari nilai indeks prestasi) dan pengalaman organisasi. Bila anda tidak memiliki keduanya, anda harus menggali nilai-nilai positif yang perlu ditonjolkan dan kira-kira sesuai dengan kebutuhan &lt;em&gt;user&lt;/em&gt;. Sebagai contoh, lowongan yang ada di institusi seperti biro iklan, tentunya akan lebih memperhatikan &lt;em&gt;resume&lt;/em&gt; orang-orang yang mempunyai bakat menggambar dan kreatif. Melamar posisi wartawan tentu memerlukan kecerdasan kognitif dan kemampuan menulis berita. Jika anda memiliki kegiatan ekstra kurikuler sebagai wartawan kampus, ini merupakan suatu kelebihan yang harus ditonjolkan. Jangan berbohong dalam &lt;em&gt;resume&lt;/em&gt; yang anda buat. Sekali anda berbohong, anda bisa saja dikeluarkan dari pekerjaan itu jika ada bukti kebohongan anda kelak di kemudian hari. Jika anda tidak ingin masalah-masalah pribadi dikorek oleh pewawancara, jangan membuat lubang dalam &lt;em&gt;resume&lt;/em&gt; yang mungkin bisa digali oleh mereka. &lt;em&gt;Resume&lt;/em&gt; yang anda buat harus konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wawancara yang Baik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat yang paling menentukan dalam wawancara adalah pada satu menit pertama. Seperti yang dikatakan sebuah iklan parfum, kesan pertama begitu menggoda… selanjutnya terserah anda. Berpakaianlah secara pantas dan bila perlu pakai dasi. Untuk yang wanita jangan sekali-sekali memakai rok mini atau celana panjang dan menggunakan &lt;em&gt;make up&lt;/em&gt; berlebihan (&lt;em&gt;menor&lt;/em&gt;), kecuali kalau anda melamar ke &lt;em&gt;nite club&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tips membuat resume yang baik:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jangan ada &lt;em&gt;gap&lt;/em&gt; di dalam kronologi &lt;em&gt;resume&lt;/em&gt; anda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika anda mencantumkan nama dan institusi sebagai referensi, selalu ingatkan kepada mereka bahwa anda memasukkan nama mereka sebagai referensi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gaya penulisan &lt;em&gt;resume &lt;/em&gt;merupakan cermin kepribadian anda. Buatlah &lt;em&gt;resume &lt;/em&gt;dengan tertata baik, rapi dan logis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika anda sudah mempunyai pengalaman kerja, tulislah pegerakan karir anda secara logis. Jangan sampai umur anda 30 tahun tetapi pengalaman kerja anda bila dijumlahkan sudah 35 tahun.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Jika anda berikan salam dengan sopan dan respek, maka anda akan menerima hal yang sama dari mereka. Berjabat tangan merupakan suatu simbol niat baik. Pada saat bersalaman, tatap mata pewawancara anda untuk menunjukkan rasa percaya diri dan kejujuran. Genggamlah tangan dengan mantap, dan jangan sekali-sekali memberikan ujung tangan kita. Memberikan ujung tangan pada saat bersalaman merupakan refleksi keengganan, seakan-akan kita jijik memegang tangan mereka. Jangan duduk sebelum dipersilahkan duduk. Itu untuk menunjukkan bahwa anda tahu aturan dan siap mengikuti aturan main di tempat mereka. Duduklah dengan rileks, tetapi jangan sekali-sekali mengangkat atau menyilangkan kaki dan meletakkan lengan di punggung kursi, itu bahasa tubuh untuk kesombongan. Bila anda ditempatkan di dalam ruangan kosong sambil menunggu pewawancara, usahakan untuk duduk di kursi yang menghadap ke pintu masuk. Dengan demikian anda bisa mengantisipasi saat mereka masuk ke ruangan, memberikan jabat tangan dan senyum anda yang menawan. Senyum itu harus, tapi jangan terlalu berlebihan, karena akan membuat anda tampak gugup (&lt;em&gt;nervous&lt;/em&gt;). &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Tangan sebaiknya diletakkan di lengan kursi dan telapak tangan anda di atas paha. Usahakan jangan bersandar terlalu dalam karena akan menimbulkan kesan santai. Nah, sekarang anda sudah siap untuk diwawancara. Ingat, yang paling menentukan anda diterima atau tidak, adalah konsep anda “menjual diri”. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Beberapa perusahaan asing mensyaratkan wawancara dalam bahasa Inggris. Jika anda menjawab pertanyaan mereka, hindari penggunaan kata &lt;em&gt;“Yes Sir”&lt;/em&gt; karena itu menunjukkan rasa rendah diri. Jawablah secara biasa &lt;em&gt;“Yes, I do”.&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Pertanyaan yang umum digali oleh pewawancara adalah latar belakang pendidikan anda seperti mengapa anda masuk fakultas pertanian, dst. Jawablah dengan jujur, jangan mengada-ada. Disitulah kualitas diri anda ditentukan. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Hal yang sama juga akan ditanyakan pada latar belakang keluarga anda. Bila hal itu bersifat sangat pribadi dan anda keberatan, boleh saja anda menolak untuk menjawabnya. Belum tentu mereka akan “menghabisi” anda karena persoalan itu, dan bahkan bisa saja menambah kredibilitas anda sebagai orang yang berkepribadian. Tentu saja, ada juga kemungkinan sebaliknya yang terjadi. Anda harus arif bersikap dan mengambil keputusan. Itulah kualitas yang ingin dilihat pewawancara. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Bila anda berasal dari latar belakang keluarga yang miskin, jangan rendah diri dengan kemiskinan anda. Kemiskinan itu merupakan suatu ujian hidup, dan anda sudah berhasil melewatinya dengan sukses menjadi sarjana. Itu adalah kekuatan anda. Anda adalah sarjana yang “lapar”, dan sekarang anda siap bekerja mati-matian untuk memberikan yang terbaik kepada mereka yang memberikan kesempatan pertama pada anda. Beberapa perusahaan bahkan takut menerima orang-orang pintar yang berasal dari keluarga kaya. Mereka merasa bahwa “anak kaya” ini hanya akan “numpang lewat” dan tidak tahan menderita. Walaupun kenyataannya belum tentu selalu begitu. Teman saya, anak seorang Direktur Utama perusahaan besar, lulusan ekonomi dari San Fransisco, ternyata betah dan mau bekerja di perkebunan kelapa sawit di pedalaman Sulawesi Tengah untuk waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;Jawablah pertanyaan secara ringkas, tegas dan lugas. Jangan &lt;em&gt;“ngeyel”&lt;/em&gt; dan kekanak-kanakan. Jangan menceritakan apa yang tidak ditanyakan, kecuali kalau itu merupakan suatu kekuatan yang ingin anda tonjolkan. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Jangan sekali-sekali menanyakan soal gaji jika tidak ditanya. Bila anda ditanya berapa gaji yang anda inginkan, anda harus berani menyebutkan jumlah yang menurut anda pantas. Semua perusahaan umumnya memiliki skala gaji, dan mereka menanyakan itu untuk melihat seberapa kuat rasa percaya diri anda. Yang penting untuk ditunjukkan adalah logika anda, kenapa anda meminta sejumlah itu? Jika anda bisa menjelaskannya secara rasional dan logis, anda telah melewati ujian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prospek Lulusan Sarjana Meraih Peluang Kerja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori ekonomi dibicarakan perimbangan antara permintaan (&lt;em&gt;Demand&lt;/em&gt;) dan penawaran (&lt;em&gt;Supply&lt;/em&gt;) dengan implikasi sbb.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jika D↑, S↓ maka Harga ↑↑&lt;br /&gt;2. Jika D↑, S→ maka Harga ↑&lt;br /&gt;3. Jika D↓, S↑ maka Harga ↓↓&lt;br /&gt;4. Jika D↓, S→ maka Harga ↓&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D diwakili oleh indeks pengangguran. Semakin tinggi indeks pengangguran maka nilai D semakin turun (↓).  S diwakili oleh pertambahan jumlah angkatan kerja, khususnya pertambahan sarjana baru. Semakin banyak lulusan sarjana baru maka nilai S semakin naik (↑).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka pengangguran di Indonesia diperkirakan sekitar 24 juta jiwa. Lulusan sarjana baru yang memasuki pasar/bursa kerja diperkirakan 1-2 juta jiwa per tahun. Dengan berkurangnya investasi dan kontraksi ekonomi 1997-2000, diasumsikan jumlah sarjana baru yang terserap oleh pasar hanya 50% dari kapasitas. Ini berarti, ada sekitar 1.5-3 juta sarjana penganggur pada periode 1997-2000, ditambah sekitar 4 juta sarjana baru yang telah/sedang mencari pekerjaan pada tahun 2001-2002. Secara kasar, ada sekitar 3.5-5 juta sarjana yang menganggur pada saat ini. Angka ini secara kualitatif bisa dikonfirmasikan karena dari pelamar yang mengikuti seleksi penerimaan kerja di perusahaan saya, ada yang sudah menganggur 5 tahun. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Karena adanya keharusan mendirikan fakultas eksata di setiap universitas negeri dan swasta, serta fakultas eksata yang paling mudah didirikan adalah fakultas pertanian, maka saat ini hampir di seluruh universitas negeri di Indonesia memiliki fakultas pertanian. Dari sisi penawaran hal ini kurang menguntungkan bagi lulusan fakultas pertanian, dan melemahkan posisi tawar mereka. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Untuk kondisi saat ini, teori ekonomi akan merujuk pada kondisi nomor 3 (D↓, S↑, Harga ↓↓). Artinya secara nyata nilai gaji sarjana baru akan semakin menurun dibandingkan periode sebelumnya. Apa yang harus anda lakukan? &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Apabila kecenderungan harga di pasar semakin lama semakin menurun maka harus dilakukan suatu usaha untuk meningkatkan nilai tambah produk. Sarjana baru adalah produk pendidikan di universitas. Jika dulu tahun 1970-an, sarjana pertanian mau bekerja di perkebunan, maka langsung diterima tanpa test. Sekarang (2002), untuk mendapatkan 34 orang kandidat staf saya harus menyeleksi 1762 lamaran (1.92%). &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Anda sebagai sarjana-baru adalah komoditi atau produk generik. Anda adalah produksi massal yang tidak memiliki merek, dan dianggap sama walaupun anda lulusan IPB atau UGM. Yang membedakan komoditi kelas 1 dengan komoditi kelas 2 adalah faktor mutu. Semakin tinggi mutu anda, semakin anda cepat “laku”. Tetapi harganya tetap harga standar yang ditentukan oleh mekanisme pasar. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Untuk meningkatkan nilai jual anda, anda harus berubah dari komoditi menjadi produk yang &lt;em&gt;customize&lt;/em&gt;. Dari sekedar komoditi seperti CPO (&lt;em&gt;crude palm oil&lt;/em&gt;) menjadi minyak goreng yang dijual untuk segmen industri (pabrik mi &lt;em&gt;instant&lt;/em&gt; dll). &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Nilai tambah anda akan semakin tinggi lagi bila dikemas dengan baik, diberi merek, dan disebarkan ke outlet yang mudah dicapai konsumen. Ini berarti anda sudah berubah dari komoditi menjadi customize product dan kemudian masuk ke consumer product.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komoditi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sarjana Baru tanpa pengalaman berorganisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Customize (+)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman berorganisasi (aktif)&lt;br /&gt;Bahasa Inggris (aktif)&lt;br /&gt;Kemampuan Komputer (Office, Internet)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Consumer (++)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Leadership&lt;br /&gt;Communication skill&lt;br /&gt;Learning agile ability&lt;br /&gt;Change capability&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengelola Perubahan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pemikiran sehat mengatakan kepada kita bahwa kita tidak dapat menangani perubahan yang cepat (turbulen, kemenduaan, yang tidak dapat diprediksi) dengan cara yang sama jika kita menangani &lt;em&gt;status quo&lt;/em&gt; (stabilitas, yang dapat diprediksi, dan sebagainya). Akan tetapi, manusia tetap mencari yang stabil, yang teratur, dan metode yang dapat diprediksi untuk mengatasi krisis-krisis dan perubahan-perubahan yang tidak dapat diprediksi (Boast dan Martin, 2001).&lt;br /&gt;Dari konsep awal peradaban manusia, orang-orang telah mengenal bahwa krisis, turbulen, dan perubahan dapat merusak kesempatan-kesempatan atau sebaliknya memberikan kesempatan-kesempatan bagi keberhasilan. Simbol bangsa Tionghoa mengenai krisis adalah kombinasi dari simbol yang secara harafiah berarti bahaya dan peluang (Chu, 1999). &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Dunia telah berubah. Lingkungan kita telah berubah. Perubahan itu seperti mesin ketik manual, mesin ketik elektronik, komputer sederhana dengan DOS, komputer desktop dengan Windows, Notebook, Webcam, PDA Phone. Kecenderungannya menjadi lebih cepat, lebih kecil, lebih baik, lebih murah, dan lebih ... (semuanya menjadi serba lebih). Siapa yang akan membayangkan kalau kita bisa membuat video klip dengan telepon genggam dan mengirimkannya kepada teman kita dalam hitungan detik? &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Sebagai sarjana baru, yang harus anda lakukan untuk menyiasati perubahan adalah anda harus &lt;em&gt;LEARN, RELEARN&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;UNLEARN&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;LEARN&lt;/em&gt;, artinya anda belajar sesuatu yang baru. Anda terbuka terhadap perubahan dengan segala konsekuensinya. &lt;em&gt;RELEARN&lt;/em&gt;, berarti anda belajar banyak hal dan mungkin saja anda melupakannya. Pada suatu ketika, saat anda membutuhkan pengetahuan itu, anda harus belajar kembali. Hal ini harus dilakukan dengan cepat. Anda harus mempartisi memory anda untuk menampung data yang sudah terlanjur anda &lt;em&gt;archieve&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;UNLEARN&lt;/em&gt;, setelah anda menyadari bahwa yang anda pelajari sudah ketinggalan jaman, anda harus berani membuang pengetahuan yang sudah anda miliki untuk mempelajari hal-hal yang lebih baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Lebih Lanjut:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Boast, William M. and Benjamin Martin. 2001. Masters of Change.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Chu, Chin-Ning. 1999. Journey to the City of Prosperity – The Single Supreme Secret of Money.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Glanz, Barbara A. 2002. Handle with CARE: Motivating and Retaining Employees. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Robbins, Stephen P. 2001. Organizational Behavior. 9th ed. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9134584594036643938-177092731222304964?l=iyungpahan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iyungpahan.blogspot.com/feeds/177092731222304964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9134584594036643938&amp;postID=177092731222304964&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/177092731222304964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9134584594036643938/posts/default/177092731222304964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iyungpahan.blogspot.com/2007/05/peluang-kerja-dan-perubahan-di-sekitar.html' title='Peluang Kerja dan Perubahan di Sekitar Kita'/><author><name>IYUNG PAHAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05566972243311648191</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9134584594036643938.post-8463236292527997189</id><published>2007-05-04T18:48:00.000+07:00</published><updated>2007-05-04T18:50:28.353+07:00</updated><title type='text'>Licinnya Harga Minyak Goreng</title><content type='html'>Dalam beberapa minggu ini, pemberitaan kenaikan harga minyak goreng yang menambah beban penderitaan rakyat menghiasi media cetak dan elektronik.  Rakyat sudah kenyang dengan penderitaan yang silih berganti, mulai dari bencana alam, penyakit menular, dan kini kerawanan pangan.  Licinnya harga minyak goreng yang melesat tinggi membuat status gizi masyarakat menurun karena berkurangnya asupan zat gizi yang mampu dibeli dan dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Pemerintah telah melakukan serangkaian tindakan reaktif yang bersifat ad hoc seperti “mengimbau” produsen minyak makan menjual dengan harga Rp 5.000-6.000 per kg.  Untuk itu, anggota asosiasi industri seperti AIMMI (refiner) dan GAPKI (perkebunan kelapa sawit) diminta tanggung jawab sosialnya sebagai perusahaan guna membantu pemerintah menstabilkan harga minyak goreng di pasar.  Himbauan ini dilakukan dengan setengah ancaman, bahwa jika harga minyak goreng tidak kunjung turun, maka pemerintah akan menggunakan instrumen fiskal berupa kenaikan pajak ekspor CPO.   &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Industri CPO adalah industri yang dipengaruhi mekanisme pasar bebas.  Keseimbangan permintaan dan penawaran adalah dasar penciptaan harga.  Permintaan yang meningkat dipicu oleh pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan domestik bruto, tambahan permintaan biodiesel, adanya masalah trans-fat yang menyebabkan sebagian industri  makanan di AS beralih ke CPO, dan faktor konsumsi CPO RRC yang terus tumbuh dengan pesat.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Industri biodiesel berkembang karena harga minyak-bumi mentah yang meningkat dan bertahan pada harga USD 60/barrel, ratifikasi protokol Kyoto untuk mengurangi lima persen tingkat emisi gas rumah kaca, dan insentif pajak bahan bakar Uni Eropa.  Biodiesel dapat dibuat dari seluruh jenis minyak nabati seperti minyak kanola, kedelai, atau kelapa sawit.  Permintaan bahan baku biodiesel akan mengurangi persediaan minyak nabati global, yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan harga seluruh minyak nabati termasuk CPO. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Menghadapi mekanisme pasar bebas dengan pendekatan ad hoc adalah seperti mengatasi datangnya banjir dengan membuka dapur umum.  Memang hal tersebut sangat membantu para korban, tetapi akar permasalahannya tidak disentuh sama sekali.  Usaha stabilisasi secara parsial dan ad hoc adalah tindakan korektif yang hanya menyentuh pinggiran permasalahan.  Masalahnya adalah siklus kerusakan (harga tinggi CPO) yang pasti akan terjadi tidak di antisipasi secara sistematik.  Menyikapi masalah sistemik dengan pendekatan taktik adalah seperti menggantang asap.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;S
