Tuesday, April 17, 2007

Cangkir yang Cantik

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.


Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum!" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop! Teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas! Panas! Teriakku dengan keras. Stop! Cukup! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum!"


Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak.


Wanita itu berkata "belum!" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong! Hentikan penyiksaan ini! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.


Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.


***


Teman, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Allah membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah.


"Teman, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."


Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Allah sedang membentuk Anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai. Anda akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk Anda.


Guys, thanks for reading. Hope you are well and please do take care.

Monday, April 16, 2007

Menyelamatkan Kejayaan Industri CPO Indonesia dari 'Ujung Tanduk'

Mulai 1 Januari 2007, Organisasi Maritim Internasional (IMO) memberlakukan Marine Pollution (Marpol) 73/78 Annex II yang mewajibkan ekspor minyak sawit mentah (CPO) memakai kapal lambung ganda (double hull). Tujuannya adalah untuk mengurangi kemungkinan pencemaran laut oleh minyak dan bahan kimia. Aturan ini sudah lama diwacanakan, “tapi tak tedeteksi” seperti pernyataan Dirjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian Deptan pada Bisnis Indonesia 28 Desember 2006. Deptan dan pengusaha sawit baru mengetahui peraturan itu pada rapat kerja sama bilateral Malaysia-Indonesia, 1-4 Desember 2006 di Kuching, Serawak, Malaysia.
Situasi ini menyebabkan stake holder industri minyak sawit Indonesia seperti kebakaran jenggot, karena ketersediaan kapal tanker double hull hanya 40% dari jumlah armada pengangkut CPO. Selain itu biaya transportasi CPO akan naik 66,67% dari USD 27/ton (single hull) menjadi USD 45/ton (double hull). Dan akhirnya, kenaikan biaya ini harus diserap (baca: dibebankan kepada) para pengusaha dan petani sawit di sektor hulu berupa pengurangan marjin.

Terpecah-pecahnya pembinaan dan regulasi pada sistem agribisnis kelapa sawit Indonesia (SAKSI) di Deptan, Deperind, Depdag dan aspek lahan di BPN, Dephut, dan Pemda Tingkat II, dapat menyebabkan timbulnya masalah koordinasi yang berdampak pada menurunnya kejayaan industri CPO secara makro seperti kasus ekspor CPO dengan kapal lambung ganda.
Untuk menyelamatkan kejayaan industri CPO dari ‘ujung tanduk,’ dibutuhkan Dewan Komoditas seperti yang diamanahkan UU Perkebunan No. 18/2004 pasal 19 ayat 2, untuk membangun sinergi antarpelaku (subsistem) usaha agribisnis perkebunan kelapa sawit dan berfungsi sebagai wadah untuk pengembangan komoditas strategis kelapa sawit bagi seluruh stake holder-nya. Dewan Komoditas akan berkembang dalam menghadapi dinamika perubahan lingkungan bisnis nasional, regional dan global secara sustainable, sehingga mampu menjadi penghela ekonomi nasional yang dapat mensejahterakan para pelakunya.

Sistem Agribisnis Kelapa Sawit Indonesia (SAKSI)
Sistem agribisnis terdiri atas sub sistem kegiatan pengadaan sarana produksi (agroindustri hulu), kegiatan produksi primer (budidaya perkebunan), pengolahan (agroindustri hilir), dan pemasaran. Dengan kata lain, agribisnis adalah agroindustri + budidaya perkebunan + pemasaran.
Perkembangan SAKSI ditandai dengan semakin menyempitnya spesialisasi fungsional dan semakin jelasnya pembagian kerja berdasarkan fungsi-fungsi sistem agribisnis. Sebagian usaha agribisnis kelapa sawit Indonesia telah dikembangkan dengan orientasi bisnis untuk mencari keuntungan dengan konsep sistem agribisnis terpadu. Sayangnya, secara totalitas SAKSI saat ini belum merupakan organisasi yang berpengetahuan, karena beragamnya kualitas modal insani (human capital) yang menjadi pelaku dan penunjang keberadaan SAKSI dalam tiap subsistemnya, serta adanya fragmentasi dan disharmoni pada tataran proses antar subsistem SAKSI, perbedaan orientasi kepentingan pada tataran struktur, serta perbedaan orientasi rentang waktu pada tataran perilaku.

Untuk menyelamatkan kejayaan industri CPO Indonesia dari ’ujung tanduk,’ SAKSI harus dibangun menjadi organisasi yang berpengetahuan melalui mekanisme pembentukkan Dewan Komoditas. Dewan Komoditas adalah suatu unit sistem terkoordinasi pada empat subsistem agribisnis untuk mencapai sasaran atau serangkaian sasaran yang ditentukan. Dewan Komoditas adalah wadah yang memungkinkan masyarakat kelapa sawit Indonesia dapat meraih hasil yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh tiap subsistem secara sendiri-sendiri.

Belajar dari Pengalaman MPOB
Patok duga (benchmarking, yang juga dinamakan ”patok duga praktik terbaik” atau ”patok duga proses”) adalah suatu proses yang digunakan dalam manajemen (terutama manajemen strategis), dimana organisasi mengevaluasi berbagai aspek proses bisnis untuk menghasilkan praktik terbaik di dalam industri, dengan membuat perbandingan sistematik kinerja dan proses organisasi untuk menghasilkan standar baru atau penyempurnaan proses. Model patok duga bermanfaat untuk menentukan bagaimana struktur dan kinerja Dewan Komoditas akan dibandingkan dengan organisasi yang serupa di dalam industri minyak sawit internasional seperti Malaysia Palm Oil Board (MPOB). Suatu patok duga adalah titik referensi suatu pengukuran. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan rencana pengembangan untuk mengadopsi praktik-praktik terbaik tersebut. Patok duga mungkin merupakan proses sekali-jadi, tetapi biasanya diperlakukan sebagai proses berkesinambungan dimana organisasi secara terus menerus menyempurnakan praktik-praktiknya.
Patok duga bisnis berhubungan dengan konsep continous improvement dan keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif adalah kemampuan atau kondisi organisasi yang lebih baik dari pesaingnya. Dalam konteks Dewan Komoditas, keunggulan kompetitif Indonesia adalah ketersediaan lahan yang sesuai dalam jumlah besar dan iklim yang sangat menunjang pertumbuhan kelapa sawit serta tenaga kerja yang berlimpah sehingga menyebabkan harga pokok penjualan CPO Indonesia menjadi yang termurah di dunia.
Patok duga yang dilakukan dalam upaya pengembangan Dewan Komoditas adalah patok duga fungsional dengan membandingkan proses-proses yang serupa di MPOB. Dalam konteks ini pemerintah secara sistematis sebaiknya:
  • Meningkatkan kuantitas dan kualitas modal insani dengan melakukan transformasi organisasi pendidikan umum, dengan penekanan pada aspek penalaran, penciptaan pengetahuan dan pengambilan keputusan yang akan berdampak pada ketersediaan modal insani organisasi SAKSI yang berkualitas dan lebih fleksibel

  • Melakukan transformasi organisasi SAKSI dengan membentuk Dewan Komoditas sebagai regulator dan fasilitator yang profesional dan adil antar pemangku kepentingan pada seluruh subsistem SAKSI tanpa mengorbankan salah satu subsistem, sehingga SAKSI menjadi lebih terintegrasi. Dewan Komoditas sebaiknya terdiri dari seluruh stake holders baik dari pemerintah (Deptan, Deperind, Depdag, Dephut, Depkeu), asosiasi industri (GAPKI, APKASINDO, AIMMI, APOLIN, dll.), lembaga penelitian (PPKS, BPPT, MAKSI, Peguruan Tinggi, Litbang Perusahaan Besar). Para Menteri duduk dalam Dewan secara ex-officio mewakili masing-masing Departemen Terkait, dan bersidang secara periodik (6 bulan) untuk menentukan Visi, Misi, dan Strategi. Pelaksanaan kerja harian dipimpin oleh Direktur Eksekutif yang bekerja secara profesional dan purnawaktu dengan dibantu kelengkapan pengurus harian sesuai struktur organisasi yang telah disetujui.

  • Mengkondisikan Dewan Komoditas untuk merubah budaya organisasi SAKSI melalui mekanisme organisasi pembelajaran sehingga mampu menambah luas areal tanaman dan meningkatkan produktivitas lahan kelapa sawit yang bertujuan untuk mengentaskan sebagian kemiskinan di Indonesia. Dewan Komoditas secara sistematis menggalang dana untuk pembinaan petani pekebun (rakyat) sehingga menjadi lebih produktif, sekaligus memfasilitasi ketersediaan benih unggul bersertifikat, dana peremajaan dan dana stabilisasi harga minyak sawit (lebih memuaskan anggotanya).

  • Penggalangan dana oleh Dewan Komoditas dapat dilakukan berupa penghapusan pajak ekspor CPO dan merubahnya menjadi menjadi potongan keuntungan eksportir hasil perkebunan (CESS) yang dikelola oleh Dewan Komoditas. Sebagai pembanding, CESS di Malaysia besarnya RM 15/ton atau sekitar USD 3.95/ton. Alokasi hasil pungutan CESS ini RM 7.25/ton untuk riset dan pengembangan melalui Palm Oil Research Institute of Malaysia – PORIM, RM 2/ton untuk promosi melalui Malaysian Palm Oil Promotion Council – MPOC, RM 1.75/ton untuk Palm Oil Registration and Licensing Authority – PORLA, dan RM 4/ton untuk Safety Net Fund (dana cadangan stabilisasi harga sawit). Artinya, seluruh hasil pungutan kembali ke industri unggulan Malaysia. Sementara akumulasi pajak ekspor CPO Indonesia sampai saat ini tidak pernah dinikmati industri minyak sawit Indonesia. Wacana penerapan CESS oleh Deptan bersamaan dengan pajak ekspor CPO jelas akan membuat industri minyak sawit Indonesia semakin meradang dan sulit bersaing dengan Malaysia.

Kebutuhan akan Dewan Komoditas
Metafora organisasi sebagai makhluk hidup adalah organisasi memiliki badan, pemikiran dan roh. Organisasi bisa lahir, tumbuh, sakit, sembuh, tua dan mati. Organisasi dapat dibuat lebih cepat, lebih pintar, lebih sehat dan lebih bermoral. Hal-hal inilah yang mendasari proses transformasi organisasi SAKSI menjadi organisasi yang berkembang.

Transformasi organisasi adalah seperti perancangan ulang bangunan secara harmonis terhadap arsitektur/kerangka organisasi secara genetik (bekerja secara simultan walaupun dengan kecepatan yang berbeda). Transformasi organisasi dapat dilakukan dengan reframe, restrukturisasi, revitalisasi, dan pembaharuan (renewal). Dalam konsep transformasi organisasi, hanya bagian yang bermasalah saja yang dirubah, sedangkan bagian yang masih baik tidak perlu dirubah. Dalam metafora kehidupan, reframe adalah otak, restrukturisasi adalah badan, revitalisasi adalah penyesuaian badan dengan lingkungan, dan pembaharuan adalah roh. Bila yang sakit adalah pikiran, maka hanya bagian otak yang diperbaiki (reframe). Bagian lain seperti tubuh dan roh tidak perlu diutak-atik.

Besarnya magnitude industri CPO menyebabkan terlalu banyak kepentingan terselubung (vested interest) dalam penentuan struktur dan proses organisasi Dewan Komoditas. Seluruh upaya yang dicurahkan untuk membentuk dan menjalankan Dewan Komoditas harus dilandasi oleh keinginan untuk membesarkan SAKSI yang secara positif memotivasi para pemangku kepentingannya untuk belajar, mencipta, beradaptasi dan berkontribusi untuk menjadikan SAKSI sebagai organisasi yang berpengetahuan dan menjadi organisasi yang berkembang.

Untuk meningkatkan efektivitas organisasi SAKSI saat ini, diperlukan intervensi pada tingkat organisasi dengan melibatkan tiga pilar utama yang dinamakan ABG (Academician, Businessmen, dan Government) untuk melaksanakan 8P (program, politik, people, planet, profit, pengelolaan, pemasaran dan penelitian). Peran utama government adalah membuat program yang tepat dengan memperhatikan keseimbangan aspek politik, people (masyarakat), planet (lingkungan hidup) dan profit dalam SAKSI, guna membuat bisnis CPO sustainable, mampu mengentaskan sebagian masalah kemiskinan dan menjadi penghela ekonomi nasional. Hal ini secara integral dilakukan oleh pemerintah dengan memfasilitasi pembentukan Dewan Komoditas. Peran businessman adalah melakukan pengelolaan dan pemasaran dengan baik sehingga program pemerintah dapat berjalan dan memberikan efek sinergi kepada SAKSI. Sedangkan peran academician adalah melakukan penelitian yang tepat guna sehingga dapat dimanfaatkan oleh para businessman untuk memperbesar skala penelitian menjadi skala industri sehingga mendapat nilai tambah yang lebih besar bagi SAKSI secara keseluruhan.

Jika transformasi Komisi Minyak Sawit Indonesia (KMSI) menjadi Dewan Komoditas berjalan secara mulus, dan bersamaan dengan periode tersebut pangsa pasar CPO Indonesia telah melebihi Malaysia, maka kejayaan industri CPO Indonesia akan sustainable, dan tak akan ada lagi situasi-situasi di ujung tanduk yang tercipta karena lemahnya sistem agribisnis kelapa sawit kita.

Penciutan BUMN Perkebunan: Tanggapan untuk Faisal Basri

Dalam analisis ekonomi tanggal 26 Februari 2007, Faisal Basri melontarkan ide penciutan badan usaha milik negara (BUMN) perkebunan dengan membagikan perkebunan milik negara kepada rakyat sekitar dan para karyawan.

Jalan pintas likuidasi BUMN perkebunan dan membagikannya kepada rakyat adalah suatu pemikiran radikal yang perlu ditelaah kembali, baik secara akademis maupun secara kepala dingin. Bangsa kita memang hebat berargumen dalam ranah konseptual, tetapi tahapan implementasinya menyisakan banyak koridor penyimpangan, dan kita menganggapnya wajar sebagai stigma negara berkembang.

Dahulu Ayam atau Telur?
Isu penciutan BUMN perkebunan dipicu dari masalah produktivitas tanaman yang rendah. Hal ini harus menjadi pangkal kajian untuk menentukan langkah selanjutnya, sehingga tidak melebar menjadi bola salju liar yang bisa menyebabkan pembakaran seluruh lumbung padi gara-gara ingin membasmi sekelompok “tikus”.

Perkebunan pada awal perkembangannya merupakan sistem perekonomian pertanian komersial yang bercorak kolonial. Sistem perkebunan ini dibawa oleh perusahaan kapitalis asing dan sebenarnya merupakan sistem perkebunan Eropa (European plantation) yang sangat berbeda dengan sistem perkebunan rakyat setempat (garden system) yang bersifat tradisional dan diusahakan dalam skala kecil dengan penyertaan modal yang seadanya.
Mengelola perkebunan memerlukan kompetensi dalam pengelolaan faktor innate (genetik), enforce (lingkungan), dan induce (teknik budidaya). Resultante pengelolaan ketiga faktor di atas tercermin dari produktivitas tanaman per satuan luas tertentu. Produksi CPO/ha perkebunan kelapa sawit rakyat adalah yang paling rendah bila dibandingkan dengan perkebunan swasta maupun perkebunan negara. Bila rakyat diberikan akses untuk memiliki perkebunan negara, apakah dengan serta merta produktivitasnya dapat dipertahankan atau meningkat? Perubahan BUMN menjadi badan usaha milik rakyat (BUMR) seperti yang diusulkan Faisal Basri adalah solusi teoritis yang belum teruji pada ranah praktik. Kalau isu yang dipermasalahkan adalah produktivitas, mengapa solusinya adalah redistribusi asset? Kalau Malaysia sebagai produsen CPO dunia terbesar telah melakukan merger tiga perusahaan perkebunan Golden Hope, Kumpulan Guthrie dan Sime Darby dengan kapitalisasi USD 8.96 miliar sebagai kendaraan strategis mengatur pola pasokan CPO dunia, mengapa pembenahan BUMN perkebunan berujung dengan likuidasi. BUMN perkebunan yang harus unggul secara global (orientasi laba), dihadapkan kepada paradoks pada sisi lainnya sebagai parsel untuk rakyat (orientasi sosial).
Paradoks adalah sesuatu yang berlawanan azas, seperti menentukan dahulu ayam atau telur. Kalau sudut pandangnya adalah dahulu-ayam, maka BUMN perkebunan harus ditingkatkan produktivitasnya untuk memberikan kemaslahatan yang lebih besar melalui peningkatan laba yang meningkatkan setoran pajak. Kalau sudut pandangnya adalah dahulu-telur, maka likuidasi BUMN perkebunan dan transformasinya menjadi BUMR adalah solusi yang masuk akal. Permasalahannya adalah bagaimana kalau telur itu tidak bisa menetas menjadi ayam. Dalam konteks itu, Indonesia akan kehilangan lebih banyak produktivitas tanaman ketimbang membiarkan BUMN perkebunan seperti apa adanya sekarang ini.

Pengungkit Produktivitas
Dalam ilmu fisika terdapat kaidah pengungkit (leverage) yang menggunakan masukan minimal untuk mendapatkan keluaran maksimal. Pengungkit produktivitas bekerja dengan cara yang sama. Produktivitas BUMN perkebunan masih dapat ditingkatkan dengan biaya yang relatif kecil untuk menghasilkan unit usaha yang berdayasaing global. Solusi yang diusulkan adalah melakukan perubahan pada tingkat unit usaha dan pembentukan cluster industri.

Perubahan pada tingkat unit usaha adalah melakukan transformasi budaya BUMN perkebunan saat ini menjadi budaya BUMN perkebunan berbasis kinerja. Produktivitas kelapa sawit PTPN3 yang meraih the best CEO BUMN 2004 adalah 4.74 ton CPO/ha (2005). Angka produktivitas ini masih dibawah angka patok-duga-terbaik industri kelapa sawit Indonesia (Socfindo) yang mencapai 5.95 ton CPO/ha (2005).
Transformasi budaya BUMN perkebunan saat ini menjadi budaya berbasis kinerja memerlukan inisiatif perubahan wawasan dan struktural. Perubahan struktural dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama operasional (KSO) dengan perusahaan swasta yang memiliki kemampuan finansial dan teknis manajerial yang telah teruji. Masing-masing BUMN perkebunan dikelompokkan berdasarkan komoditas sebagai dasar melakukan KSO. Setiap kelompok komoditas dicarikan mitra KSO yang juga memiliki pengalaman di industri hilir. KSO dijalankan oleh perusahaan patungan (joint venture) yang pemegang sahamnya terdiri dari BUMN perkebunan dan perusahaan swasta pemenang tender. BUMN perkebunan tidak menjual lahan perkebunan negara, tetapi menjual opsi pengelolaan melalui KSO. Penyertaan modal BUMN perkebunan dalam perusahaan patungan diperhitungkan dari nilai lahan dan tanaman, sedangkan penyertaan modal swasta diberikan dalam bentuk modal kerja, investasi peremajaan, dan kewajiban membangun industri hilir di lokasi cluster industri yang telah disepakati. Manajemen KSO dilaksanakan oleh pihak swasta dengan memanfaatkankan seluruh sumberdaya yang tersedia. Tujuannya adalah mentransformasi budaya yang berorientasi pada kinerja ke dalam perusahaan patungan yang menjalankan KSO. Dengan cara ini produktivitas BUMN perkebunan yang di-KSO-kan akan meningkat karena perusahaan swasta akan mencari keuntungan dari peningkatan produktivitas tanaman dan nilai tambah produk industri hilir.

Penciutan BUMN dapat dilakukan dengan konsep cluster industri melalui penciptaan sinergi dalam kegiatan ekonomi dengan pengurangan biaya transportasi dan berbagai biaya overhead yang menyangkut pungutan-pungutan. Penciutan BUMN perkebunan masih valid dilakukan dengan basis komoditas dan geografis, bila dilakukan bersamaan dengan perubahan budaya perusahaan yang berorientasi pada kinerja.

Tuesday, April 10, 2007

Cari Nikmat Menghindari Sengsara?


Petani menangkap monyet di Afrika dengan berbagai macam cara. Ada yang dipanah, ditombak, dan juga dengan kendi yang berleher kecil. Caranya dengan mengikatkan kendi di pohon atau menambatkannya dengan jangkar di tanah. Di dalamnya ditaruh kacang, dan diluarnya ditebar sebagian kacang. Monyet yang melihat kacang akan turun dari pohon dan mengambil kacang itu. Pada saat melihat kacang di dalam kendi, si monyet memasukkan tangannya ke dalam kendi, dan karena menggegam kacang itu, si monyet tidak bisa melepaskan tangannya dari kendi tersebut. Sampai si petani datang menangkapnya, si monyet tetap tidak mau melepaskan tangannya. Lebih baik dia mati, daripada melepaskan kacang yang ada di genggamannya. Dia mati karena dia monyet. Makhluk degil yang nekat mengekepin kacang yang ada di tangan, tidak mampu melepaskan diri dari kemapanan yang ada.


Demikian juga halnya, manusia bekerja (Homo faber) mengikuti kata-kata hati (bukan kata hati-hati!). Bagaimana wujud seorang Madonna kalau dia tidak suka menyanyi dan menari. Coba bayangkan seekor angsa terompet bisu yang berupaya keras mencari jati dirinya dengan mencuri terompet yang sebenarnya dan belajar meniupnya demi menjaga eksistensi dirinya. Untuk membuat monyet-monyet tak berdedikasi supaya mau menjalankan ritual hidup dan bertahan hidup, cukup dengan metode monkeylogy dari keluarga Macaca fascicularis: Cari Nikmat Menghindari Sengsara.


Kalau kamu memang benar-benar kunyuk, maka kalau kamu ikut aturan main dan menghasilkan outcome tertentu, maka kamu akan mendapat kenikmatan sebagai ganjaran kinerja yang dihasilkan. Tetapi kalau kunyuk ternyata memang nggak bisa belajar ilmu manusia, maka si kunyuk akan mengalami sengsara. Dari kumpulan sengsara-sengsara inilah, si kunyuk belajar peribahasa manusia bahwa sengsara membawa nikmat. Akhirnya si kunyuk mengembangkan mashab monkeylogy, bahwa kalau menuruti peraturan akan mendapat nikmat, sedangkan kalau melawan kemapanan akan mendapat sengsara. Teori evolusi Mbah Darwin ternyata diaplikasikan oleh spesies kunyuk dengan ketepatan angka dua digit di belakang koma. Dan sebagai manusia yang mengamati dan menuliskan perilaku kunyuk ini, saya berhasil memeras intisarinya dan menerapkannya dalam ilmu manajemen kinerja (performance management) berbasis pendekatan balanced scorecard. Ternyata master piece Kaplan dan Norton diinspirasikan dari monkeylogy yang sederhana: Spesies monyet susah untuk berubah (sampai mati juga nggak berubah bebeh), tetapi sekali dia berhasil mengalami kesengsaraan yang diikuti dengan kesengsaraan lajutannya, maka sampailah mereka pada pemahaman philosophy manusia bahwa sengsara membawa nikmat, dan transformasi monkeylogy inilah merupakan inti dari performance management berbasis balanced scorecard. Puas .... puass .... puasss!

Memoar 2003: Kriteria Bangsa dan Bangsa-T


Apalah artinya sebuah nama, demikian imbuh seorang Shakespeare. Suatu perkataan yang seakan menisbikan makna suatu nama, terlepas dari rumusan klenik di suatu suku yang menganggap keberatan arti nama bisa menyebabkan rezeki berkurang dan kesialan demi kesialan datang mendera. Konon, hanya orang-orang yang dibekali wahyu dan garis keturunan penguasa saja yang tahan menyandang nama besar seperti kemampuan menjaga bumi (mangkubumi), menghujamkan keteraturan di alam (pakubuwono), dll. Bila mereka yang tidak mempunyai persinggungan garis kebesaran dengan trah yang berkuasa, keberatan nama ini diniskalakan dapat membuat yang bersangkutan mengalami hari-hari penuh keputusasaan.

Apakah nama Negara Indonesia ini juga telah mengalami proses peningkatan gravitasi sehingga menjadi keberatan nama. Apakah medan elektromagnetis bumi di Indonesia sudah semakin melemah dan menyebabkan kemampuan inti bumi untuk berotasi semakin berkurang, dan tanpa adanya medan elektromagnetis yang cukup kuat, atmosfer Indonesia semakin telanjang dan akan terpanggang sinar matahari dan manuver pesawat tempur negara asing.

Dan apabila melihat anatomi keinginan, motivasi, nilai-nilai, dan kelakuan orang-orang yang berada di aras trias politica bangsa ini, maka ada rancangan usulan sarkastis untuk menabalkan nama Republik Indonesia menjadi Republik T-Indonesia. Marilah kita coba melihat kenyataan dan memahami apa yang merupakan akar permasalahan bangsa ini.


Adanya keinginan untuk mandiri sebagai bangsa yang bebas, tidak dicekam oleh keinginan imperialis yang mengeksploitasi kekayaan alam bangsa ini untuk mencapai kemakmuran bangsa imperialis penjajah yang tidak berusaha meningkatkan kesejahteraan umum dan taraf kecerdasan bangsa telah menghantarkan bangsa ini ke depan pintu gerbang kemerdekaan sebagaimana yang telah dimaktubkan dalam visi bangsa ini pada tahun 1945.


Adanya keinginan untuk merdeka ini menciptakan motivasi untuk menjunjung tinggi kemerdekaan, sekaligus kesediaan untuk berkorban nyawa sekalipun demi mempertahankan kemerdekaan itu dari rongrongan siapapun. Motivasi ini membawa nilai-nilai yang menjunjung tinggi kemerdekaan, dan menjelma menjadi tingkah laku yang supportif terhadap apa saja yang bisa mengamankan kemerdekaan itu dari rongrongan siapapun. Itulah visi Indonesia, visi bangsa Indonesia.


Dengan berjalannya waktu, ketika situasi kondisi toleransi pandangan dan jangkauan telah berubah dan menegang, maka bangsa ini menghadapi situasi yang mencekam dan memerlukan pencerahan. Dari nilai gotong royong menjadi nilai gotong-gotongan, dari ringan sama dijinjing berat sama dipikul menjadi ringan gua yang jinjing kalau berat elu yang pikul. Kita diantarkan pada suatu kenyataan bahwa keinginan zaman kemerdekaan dengan keinginan zaman sekarang telah berubah. Rasanya tidak butuh kemerdekaan lagi setelah merdeka 58 tahun, karena generasi sekarang tidak pernah merasakan dijajah dan terus terang sudah tidak tahu lagi apa yang namanya penjajahan fisik. Kalau dijajah secara ekonomis seperti penyerbuan film, budaya dan franchise asing, rasanya mungkin lebih dinikmati daripada diprihatinkan dan harus tersiksa batin. Keinginan yang semu ini akhirnya menyebabkan perubahan motivasi, untuk menjadi lebih kaya, lebih hedonistis dan ber dunia gemerlap (dugem) ria. Motivasi kaum dugemist jelas membawa pada perubahan nilai dan perubahan tingkah laku. Jam hidup dugemist bergeser menjadi nokturnal, makhluk yang aktif di malam hari seperti batman dan raveman. Dan jangan bermimpi atau mengharapkan dugemist aktif atau hyperaktif di siang hari seperti sidang komisi, forum konsultasi dan rapat koordinasi terbatas.


Seluruh perubahan ini secara perlahan dan pasti mendeformasi angin reformasi menjadi cyclone yang menghancurkan bangsa ini dengan kekuatan skala F5. Fenomena korupsi, kolusi dan nepotisme telah mencapai tipping point, dan hai seperti sulap tiba-tiba saja telah ada dimana-mana. Seperti semua orang yang tiba-tiba saja menggunakan hand phone. KKN telah merebak dan menjadi atmosfer di atas khatulistiwa. Bicara, ngomong, dan kentut pun semuanya sudah beraroma KKN. Bohong sudah menjadi kebiasaan, baik itu kebohongan pribadi maupun kebohongan publik. Yang membuat undang-undang, yang menjalankan undang-undang, dan yang mengoreksi penyimpangan dari undang-undang, kini semuanya telah terpapar radiasi alam karena inti bumi yang menghasilkan tirai pelindung medan elektromagnetis negara ini sudah mulai berhenti berputar. Mereka semua sekarang beralih profesi menjadi pembuat undangan. Dan mereka menternakkan udangan itu dalam tambak-tambak undangan disepanjang estuarine. Mereka siap menjual undangan-undangan untuk mendapat devisa, penanaman modal asing, sekaligus mengompas para pengusaha. Bangsa Indonesia telah mengalami transformasi genetis menjadi T-indonesia, sehingga sekarang mereka telah menabalkan dirinya menjadi Bangsa T-indonesia (secara leksikal jangan digabung pembacaannya sehingga menjadi BangsaT-Indonesia). Inisial T ini adalah Terminator yang dikirim dari masa depan dengan misi memusnahkan para pimpinan pejuang yang akan memimpin pembrontakan terhadap penguasa (mesin) di masa yang akan datang.


Menjadi bangsa Indonesia atau bangsa-T Indonesia sungguh merupakan pilihan yang paling sulit untuk dipilih. Hanya saja, menjadi bangsa T-Indonesia nampaknya merupakan reaksi spontan yang akan berlangsung secara otomatis dan tidak membutuhkan energi dari luar sistem yang ada. Kecuali ada yang rela mengorbankan dirinya dengan memberi energi untuk menghidupkan kembali “the core” yang sudah mulai soak seperti batere yang sudah lama dipakai.


T-Indonesia adalah terminator Indonesia yang dikirim dari masa yang akan datang untuk memusnahkan calon pemimpin bangsa ini yang kelak akan mampu mengobarkan peperangan terhadap spesies penguasa (mesin) yang akan mengambil alih pemerintahan. Mesin penguasa masa yang akan datang (T-Indonesia) adalah mesin yang dirancang untuk hidup dalam lingkungan yang telah terpapar virus KKN versi 2, dan mampu menghasilkan outcome dengan efektivitas dan efisiensi tinggi dalam lingkungan KKN. Artinya, mereka sendiri adalah matriks KKN yang mengatur derajat penularan virus KKN versi 2 terhadap seluruh mesin kehidupan bangsa T-Indonesia, dan dalam keadaan tertentu mampu berfungsi sebagai agen anti KKN.


Kini sebuah mesin T-max dikirimkan ke zaman ini untuk mengejar calon pemimpin perjuangan masa yang akan datang. T-max akan dikirim ke konvensi-konvensi penting untuk menyaring calon independen dari partai yang diperkirakan akan mengganggu kekuasaan T-Indonesia kelak. T-max adalah sebuah mesin yang mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan mesin-mesin lain dan memerintahkan mesin itu untuk mengerjakan apa yang diinginkannya. Dengan siulan statis nada mesin faks melalui hand phone, T-max sanggup mengakses dan menyelinap ke dalam data base badan intelijen manapun serta mencari dan mencuri data yang diinginkannya. Suatu kelemahannya adalah, T-max tidak dirancang untuk mendapatkan file mereka yang berstatus tersangka dan tidak memiliki SKKB dari polisi, karena programernya sudah merancang untuk mengeliminir calon dari golongan itu karena diyakini mereka tak bakal sanggup menghadapi T-Indonesia.


Saudara-saudara, akankah kita biarkan T-max membantai calon pemimpin independen kita dan membiarkan T-Indonesia berkuasa di persada ini, sehingga kelak orang-orang akan memanggil bangsa ini sebagai bangsa T-Indonesia. Mari kita eliminir kriteria sebagai bangsa T-Indonesia, dan biarkan kita tetap bangga sebagai bangsa Indonesia, yang walaupun bercermin di air keruh tetapi tidak meludahi muka sendiri.


Mari kita mengirim orang untuk melakukan ekspedisi ke inti bumi untuk meledakkan inti tersebut dengan reaksi thermo nuclear, dan mengaktifkan kembali “the core” yang sudah mulai kehabisan energi. Satu-satunya jalan untuk mengatasi persoalan Indonesia, adalah masuk ke dalam inti bumi dan membuat ledakan yang bisa membangkitkan kembali energi tersebut sehingga bumi tetap berputar. Untuk itu, marilah beramai-ramai kaum professional, bisnisman, guru kecil, guru besar dan siapa saja yang peduli dengan Negara ini untuk berbondong-bondong masuk ke dalam lembaga legislatif dan menghidupkan kembali “the core” dengan idealisme tanpa virus KKN versi 2.0. (Virus KKN versi 1.0 dirancang untuk sistem eksekutif yang tersentralisasi dengan sistem stand alone. Virus KKN versi 2.0 bekerja dengan platform yang lebih luas dengan asas desentralisasi pada sistem jaringan kerja).


Selain itu, sekelompok pengguna sistem terbuka Linu-linu(X) telah membuat website antivirus KKN versi 1.0 dan 2.0 yang dapat di down load secara gratis ala tayangan sinetron Kampung Nusa Getir di TPI. Permasalahannya, sekarang sudah ada kasak-kusuk yang ditujukan untuk membungkam website tersebut dan membuat iklan pop up virus KKN versi 3.0 dengan iklan extravaganza ala pemilihan Putri Indonesia 2003 dengan bintang tamu Miss Universe Amelia Vega yang sedikit kedodoran tali bajunya.

Untuk bangsa ini, dari referensi dan preferensi nonton film asing dan Pemilihan Putri Indonesia 2003 kusampaikan pesan rindu untuk ibu dan bapak bangsa:

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dan dibesarkan bunda
Untuk berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Dan akan banyak orang-orang yang tidak bisa dan tidak rela menutup mata karena bangsa ini tidak bisa memberikan perlindungan di hari tua.

Aik Nabara Selatan, 28 Juli 2003.
17:46:50













*) KKN = Kuliah Kerja Nyata, sekarang diplesetkan dan lebih terkenal sebagai Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Ada ungkapan yang menarik tentang versi KKN itu, dan beberapa yang terkenal adalah: Kanan-Kiri Nona, Kanan-Kiri Nyikut, Kecil-Kecil Nekat, Kanan-Kiri Nuntun dan Kayak Kuda Nil.