Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.Tuesday, April 17, 2007
Cangkir yang Cantik
Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.Monday, April 16, 2007
Menyelamatkan Kejayaan Industri CPO Indonesia dari 'Ujung Tanduk'
Mulai 1 Januari 2007, Organisasi Maritim Internasional (IMO) memberlakukan Marine Pollution (Marpol) 73/78 Annex II yang mewajibkan ekspor minyak sawit mentah (CPO) memakai kapal lambung ganda (double hull). Tujuannya adalah untuk mengurangi kemungkinan pencemaran laut oleh minyak dan bahan kimia. Aturan ini sudah lama diwacanakan, “tapi tak tedeteksi” seperti pernyataan Dirjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian Deptan pada Bisnis Indonesia 28 Desember 2006. Deptan dan pengusaha sawit baru mengetahui peraturan itu pada rapat kerja sama bilateral Malaysia-Indonesia, 1-4 Desember 2006 di Kuching, Serawak, Malaysia.Untuk menyelamatkan kejayaan industri CPO dari ‘ujung tanduk,’ dibutuhkan Dewan Komoditas seperti yang diamanahkan UU Perkebunan No. 18/2004 pasal 19 ayat 2, untuk membangun sinergi antarpelaku (subsistem) usaha agribisnis perkebunan kelapa sawit dan berfungsi sebagai wadah untuk pengembangan komoditas strategis kelapa sawit bagi seluruh stake holder-nya. Dewan Komoditas akan berkembang dalam menghadapi dinamika perubahan lingkungan bisnis nasional, regional dan global secara sustainable, sehingga mampu menjadi penghela ekonomi nasional yang dapat mensejahterakan para pelakunya.
Sistem Agribisnis Kelapa Sawit Indonesia (SAKSI)
Sistem agribisnis terdiri atas sub sistem kegiatan pengadaan sarana produksi (agroindustri hulu), kegiatan produksi primer (budidaya perkebunan), pengolahan (agroindustri hilir), dan pemasaran. Dengan kata lain, agribisnis adalah agroindustri + budidaya perkebunan + pemasaran.
Belajar dari Pengalaman MPOB
Patok duga (benchmarking, yang juga dinamakan ”patok duga praktik terbaik” atau ”patok duga proses”) adalah suatu proses yang digunakan dalam manajemen (terutama manajemen strategis), dimana organisasi mengevaluasi berbagai aspek proses bisnis untuk menghasilkan praktik terbaik di dalam industri, dengan membuat perbandingan sistematik kinerja dan proses organisasi untuk menghasilkan standar baru atau penyempurnaan proses. Model patok duga bermanfaat untuk menentukan bagaimana struktur dan kinerja Dewan Komoditas akan dibandingkan dengan organisasi yang serupa di dalam industri minyak sawit internasional seperti Malaysia Palm Oil Board (MPOB). Suatu patok duga adalah titik referensi suatu pengukuran. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan rencana pengembangan untuk mengadopsi praktik-praktik terbaik tersebut. Patok duga mungkin merupakan proses sekali-jadi, tetapi biasanya diperlakukan sebagai proses berkesinambungan dimana organisasi secara terus menerus menyempurnakan praktik-praktiknya.
- Meningkatkan kuantitas dan kualitas modal insani dengan melakukan transformasi organisasi pendidikan umum, dengan penekanan pada aspek penalaran, penciptaan pengetahuan dan pengambilan keputusan yang akan berdampak pada ketersediaan modal insani organisasi SAKSI yang berkualitas dan lebih fleksibel
- Melakukan transformasi organisasi SAKSI dengan membentuk Dewan Komoditas sebagai regulator dan fasilitator yang profesional dan adil antar pemangku kepentingan pada seluruh subsistem SAKSI tanpa mengorbankan salah satu subsistem, sehingga SAKSI menjadi lebih terintegrasi. Dewan Komoditas sebaiknya terdiri dari seluruh stake holders baik dari pemerintah (Deptan, Deperind, Depdag, Dephut, Depkeu), asosiasi industri (GAPKI, APKASINDO, AIMMI, APOLIN, dll.), lembaga penelitian (PPKS, BPPT, MAKSI, Peguruan Tinggi, Litbang Perusahaan Besar). Para Menteri duduk dalam Dewan secara ex-officio mewakili masing-masing Departemen Terkait, dan bersidang secara periodik (6 bulan) untuk menentukan Visi, Misi, dan Strategi. Pelaksanaan kerja harian dipimpin oleh Direktur Eksekutif yang bekerja secara profesional dan purnawaktu dengan dibantu kelengkapan pengurus harian sesuai struktur organisasi yang telah disetujui.
- Mengkondisikan Dewan Komoditas untuk merubah budaya organisasi SAKSI melalui mekanisme organisasi pembelajaran sehingga mampu menambah luas areal tanaman dan meningkatkan produktivitas lahan kelapa sawit yang bertujuan untuk mengentaskan sebagian kemiskinan di Indonesia. Dewan Komoditas secara sistematis menggalang dana untuk pembinaan petani pekebun (rakyat) sehingga menjadi lebih produktif, sekaligus memfasilitasi ketersediaan benih unggul bersertifikat, dana peremajaan dan dana stabilisasi harga minyak sawit (lebih memuaskan anggotanya).
- Penggalangan dana oleh Dewan Komoditas dapat dilakukan berupa penghapusan pajak ekspor CPO dan merubahnya menjadi menjadi potongan keuntungan eksportir hasil perkebunan (CESS) yang dikelola oleh Dewan Komoditas. Sebagai pembanding, CESS di Malaysia besarnya RM 15/ton atau sekitar USD 3.95/ton. Alokasi hasil pungutan CESS ini RM 7.25/ton untuk riset dan pengembangan melalui Palm Oil Research Institute of Malaysia – PORIM, RM 2/ton untuk promosi melalui Malaysian Palm Oil Promotion Council – MPOC, RM 1.75/ton untuk Palm Oil Registration and Licensing Authority – PORLA, dan RM 4/ton untuk Safety Net Fund (dana cadangan stabilisasi harga sawit). Artinya, seluruh hasil pungutan kembali ke industri unggulan Malaysia. Sementara akumulasi pajak ekspor CPO Indonesia sampai saat ini tidak pernah dinikmati industri minyak sawit Indonesia. Wacana penerapan CESS oleh Deptan bersamaan dengan pajak ekspor CPO jelas akan membuat industri minyak sawit Indonesia semakin meradang dan sulit bersaing dengan Malaysia.
Kebutuhan akan Dewan Komoditas
Metafora organisasi sebagai makhluk hidup adalah organisasi memiliki badan, pemikiran dan roh. Organisasi bisa lahir, tumbuh, sakit, sembuh, tua dan mati. Organisasi dapat dibuat lebih cepat, lebih pintar, lebih sehat dan lebih bermoral. Hal-hal inilah yang mendasari proses transformasi organisasi SAKSI menjadi organisasi yang berkembang.
Transformasi organisasi adalah seperti perancangan ulang bangunan secara harmonis terhadap arsitektur/kerangka organisasi secara genetik (bekerja secara simultan walaupun dengan kecepatan yang berbeda). Transformasi organisasi dapat dilakukan dengan reframe, restrukturisasi, revitalisasi, dan pembaharuan (renewal). Dalam konsep transformasi organisasi, hanya bagian yang bermasalah saja yang dirubah, sedangkan bagian yang masih baik tidak perlu dirubah. Dalam metafora kehidupan, reframe adalah otak, restrukturisasi adalah badan, revitalisasi adalah penyesuaian badan dengan lingkungan, dan pembaharuan adalah roh. Bila yang sakit adalah pikiran, maka hanya bagian otak yang diperbaiki (reframe). Bagian lain seperti tubuh dan roh tidak perlu diutak-atik.
Besarnya magnitude industri CPO menyebabkan terlalu banyak kepentingan terselubung (vested interest) dalam penentuan struktur dan proses organisasi Dewan Komoditas. Seluruh upaya yang dicurahkan untuk membentuk dan menjalankan Dewan Komoditas harus dilandasi oleh keinginan untuk membesarkan SAKSI yang secara positif memotivasi para pemangku kepentingannya untuk belajar, mencipta, beradaptasi dan berkontribusi untuk menjadikan SAKSI sebagai organisasi yang berpengetahuan dan menjadi organisasi yang berkembang.
Untuk meningkatkan efektivitas organisasi SAKSI saat ini, diperlukan intervensi pada tingkat organisasi dengan melibatkan tiga pilar utama yang dinamakan ABG (Academician, Businessmen, dan Government) untuk melaksanakan 8P (program, politik, people, planet, profit, pengelolaan, pemasaran dan penelitian). Peran utama government adalah membuat program yang tepat dengan memperhatikan keseimbangan aspek politik, people (masyarakat), planet (lingkungan hidup) dan profit dalam SAKSI, guna membuat bisnis CPO sustainable, mampu mengentaskan sebagian masalah kemiskinan dan menjadi penghela ekonomi nasional. Hal ini secara integral dilakukan oleh pemerintah dengan memfasilitasi pembentukan Dewan Komoditas. Peran businessman adalah melakukan pengelolaan dan pemasaran dengan baik sehingga program pemerintah dapat berjalan dan memberikan efek sinergi kepada SAKSI. Sedangkan peran academician adalah melakukan penelitian yang tepat guna sehingga dapat dimanfaatkan oleh para businessman untuk memperbesar skala penelitian menjadi skala industri sehingga mendapat nilai tambah yang lebih besar bagi SAKSI secara keseluruhan.
Jika transformasi Komisi Minyak Sawit Indonesia (KMSI) menjadi Dewan Komoditas berjalan secara mulus, dan bersamaan dengan periode tersebut pangsa pasar CPO Indonesia telah melebihi Malaysia, maka kejayaan industri CPO Indonesia akan sustainable, dan tak akan ada lagi situasi-situasi di ujung tanduk yang tercipta karena lemahnya sistem agribisnis kelapa sawit kita.
Penciutan BUMN Perkebunan: Tanggapan untuk Faisal Basri
Dalam analisis ekonomi tanggal 26 Februari 2007, Faisal Basri melontarkan ide penciutan badan usaha milik negara (BUMN) perkebunan dengan membagikan perkebunan milik negara kepada rakyat sekitar dan para karyawan. Dahulu Ayam atau Telur?
Isu penciutan BUMN perkebunan dipicu dari masalah produktivitas tanaman yang rendah. Hal ini harus menjadi pangkal kajian untuk menentukan langkah selanjutnya, sehingga tidak melebar menjadi bola salju liar yang bisa menyebabkan pembakaran seluruh lumbung padi gara-gara ingin membasmi sekelompok “tikus”.
Dalam ilmu fisika terdapat kaidah pengungkit (leverage) yang menggunakan masukan minimal untuk mendapatkan keluaran maksimal. Pengungkit produktivitas bekerja dengan cara yang sama. Produktivitas BUMN perkebunan masih dapat ditingkatkan dengan biaya yang relatif kecil untuk menghasilkan unit usaha yang berdayasaing global. Solusi yang diusulkan adalah melakukan perubahan pada tingkat unit usaha dan pembentukan cluster industri.
Tuesday, April 10, 2007
Cari Nikmat Menghindari Sengsara?

Demikian juga halnya, manusia bekerja (Homo faber) mengikuti kata-kata hati (bukan kata hati-hati!). Bagaimana wujud seorang Madonna kalau dia tidak suka menyanyi dan menari. Coba bayangkan seekor angsa terompet bisu yang berupaya keras mencari jati dirinya dengan mencuri terompet yang sebenarnya dan belajar meniupnya demi menjaga eksistensi dirinya. Untuk membuat monyet-monyet tak berdedikasi supaya mau menjalankan ritual hidup dan bertahan hidup, cukup dengan metode monkeylogy dari keluarga Macaca fascicularis: Cari Nikmat Menghindari Sengsara.
Kalau kamu memang benar-benar kunyuk, maka kalau kamu ikut aturan main dan menghasilkan outcome tertentu, maka kamu akan mendapat kenikmatan sebagai ganjaran kinerja yang dihasilkan. Tetapi kalau kunyuk ternyata memang nggak bisa belajar ilmu manusia, maka si kunyuk akan mengalami sengsara. Dari kumpulan sengsara-sengsara inilah, si kunyuk belajar peribahasa manusia bahwa sengsara membawa nikmat. Akhirnya si kunyuk mengembangkan mashab monkeylogy, bahwa kalau menuruti peraturan akan mendapat nikmat, sedangkan kalau melawan kemapanan akan mendapat sengsara. Teori evolusi Mbah Darwin ternyata diaplikasikan oleh spesies kunyuk dengan ketepatan angka dua digit di belakang koma. Dan sebagai manusia yang mengamati dan menuliskan perilaku kunyuk ini, saya berhasil memeras intisarinya dan menerapkannya dalam ilmu manajemen kinerja (performance management) berbasis pendekatan balanced scorecard. Ternyata master piece Kaplan dan Norton diinspirasikan dari monkeylogy yang sederhana: Spesies monyet susah untuk berubah (sampai mati juga nggak berubah bebeh), tetapi sekali dia berhasil mengalami kesengsaraan yang diikuti dengan kesengsaraan lajutannya, maka sampailah mereka pada pemahaman philosophy manusia bahwa sengsara membawa nikmat, dan transformasi monkeylogy inilah merupakan inti dari performance management berbasis balanced scorecard. Puas .... puass .... puasss!
Memoar 2003: Kriteria Bangsa dan Bangsa-T

Apakah nama Negara Indonesia ini juga telah mengalami proses peningkatan gravitasi sehingga menjadi keberatan nama. Apakah medan elektromagnetis bumi di Indonesia sudah semakin melemah dan menyebabkan kemampuan inti bumi untuk berotasi semakin berkurang, dan tanpa adanya medan elektromagnetis yang cukup kuat, atmosfer Indonesia semakin telanjang dan akan terpanggang sinar matahari dan manuver pesawat tempur negara asing.
Dan apabila melihat anatomi keinginan, motivasi, nilai-nilai, dan kelakuan orang-orang yang berada di aras trias politica bangsa ini, maka ada rancangan usulan sarkastis untuk menabalkan nama Republik Indonesia menjadi Republik T-Indonesia. Marilah kita coba melihat kenyataan dan memahami apa yang merupakan akar permasalahan bangsa ini.
Selain itu, sekelompok pengguna sistem terbuka Linu-linu(X) telah membuat website antivirus KKN versi 1.0 dan 2.0 yang dapat di down load secara gratis ala tayangan sinetron Kampung Nusa Getir di TPI. Permasalahannya, sekarang sudah ada kasak-kusuk yang ditujukan untuk membungkam website tersebut dan membuat iklan pop up virus KKN versi 3.0 dengan iklan extravaganza ala pemilihan Putri Indonesia 2003 dengan bintang tamu Miss Universe Amelia Vega yang sedikit kedodoran tali bajunya.
Untuk bangsa ini, dari referensi dan preferensi nonton film asing dan Pemilihan Putri Indonesia 2003 kusampaikan pesan rindu untuk ibu dan bapak bangsa:
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dan dibesarkan bunda
Untuk berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Dan akan banyak orang-orang yang tidak bisa dan tidak rela menutup mata karena bangsa ini tidak bisa memberikan perlindungan di hari tua.
Aik Nabara Selatan, 28 Juli 2003.
17:46:50
*) KKN = Kuliah Kerja Nyata, sekarang diplesetkan dan lebih terkenal sebagai Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Ada ungkapan yang menarik tentang versi KKN itu, dan beberapa yang terkenal adalah: Kanan-Kiri Nona, Kanan-Kiri Nyikut, Kecil-Kecil Nekat, Kanan-Kiri Nuntun dan Kayak Kuda Nil.
