Friday, June 22, 2007

Renungan Perjalanan

Kampus IPB Baranang Siang 1984

Di antara derap langkah mengawali tahun ini, kurasakan semburatnya bayang-bayang untuk meniti masa depan. Kadang manusia bingung mencari identitasnya, dan Barat telah belajar banyak untuk menekuni eksistensialisme. Kierkegaard seorang eksistensialist Denmark akhirnya sampai pada suatu kesadaran religi, bertitik tolak dari sesuatu yang antitheisme, untuk menemukan dirinya pada suatu hakekat ketuhanan.
Dari segi eksistensi manusia, suasana Idhul Fitri telah mengantar pada suatu kebulatan manusia seutuhnya. Di sana disadari arti dan makna hidup, hidup sekarang dan hidup setelah mati. Falsafah jiwa, Pancaran Nur, seperti sebuah lubang yang tak tembus (1), yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu ada di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) (2), yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walau tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu (3). Kita lebur dosa kita dengan Nur illahi ….
Sejarah membuat manusia arif; puisi (membuat manusia) berdaya khayal kuat (4); matematika (membuat manusia) dalam; logika dan retorika (membuat manusia) dapat berdebat. Maka jika pikiran orang mengembara, biarlah ia studi matematika; sebab dalam pembuktian-pembuktian, jika pikirannya melayang-layang tidak sekedar sedikit saja, maka ia harus mulai lagi. Jika pikirannya tidak mampu untuk membedakan atau menemukan perbedaan-perbedaan, biarlah ia mempelajari Orang Terpelajar sebab mereka adalah cymini sectores (5). Jika ia tidak mampu untuk menangani perkara-perkara dan menggunakan satu hal untuk membuktikan dan menerangkan hal lain, biarlah ia mempelajari perkara-perkara para hakim. Dengan demikian tiap kekurangan dalam budi pikiran manusia mempunyai suatu resep yang khusus (6).
Kemudian aku teringat akan satu puisi yang pernah kubaca dan teringat selalu:

bulan putih menyembul di antara kubus-kubus kota
seorang santeri kecil berdiri di beranda Mushola
: tundukkan hatiku bermahkota nafsu maya
: sucikan nurani dari debu-debu perilaku
pada saat itu pula
Ramadhan Putih menguak pintu-pintu sukma terkunci
memasang dian-dian di bahagian paling kelam
Ia mengaungkan gema pesan putih
tapi kehadiran-Nya menyusup nuranimu
manakala suara tarawihmu menembus dinding Mushola
sujudkan keangkuhan yang lama bermuka
bersamaan suara panjang pelantun azan
Ramadhan Putih menyatulah dalam hari-hari sederhana
seorang santeri kecil tak bernama

Jakarta, Julai 1981 (7)

Diah Hadaning, sastrawati asal Indonesia yang berkelana ke Malaysia, menusuk kalbuku. Kuinginkan, aku santeri kecil itu, tapi rasanya belum tercpai juga maksud itu. Entahlah, mungkin bagiku Ramadhan Putih terasa kelabu. Detak-detak Al ’Ashr telah ternoda dengan keterlambatan-keterlambatan, sengaja atau pun tidak. Shalat fardlu yang terlambat, ceramah dan diskusi tarawih yang terlewat, dan banyak lagi. Demi Al ‘Ashr, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran (8).
Baru saja kulewati masa-masa berbulan gula, dengan berpulang ke rumah di kampung halaman. Mungkin kalau terlalu banyak, rasa gula itu pun pahit, maka aku pulang lagi ke Bogor lebih dini. Tak banyak cerita, mungkin tak sebanyak cerita tentang kota lain yang sudah bersejarah dan membuat manusianya arif. Kotaku itu, atau kusebutkan kampung saja (apa bedanya?) di tepi sungai Mentaya yang apalah artinya (?) Tapi aku bangga, itu saja. Seperti Guillaume Apollinaire yang liris, menuliskan le Voyageur kepada Fernand Fleuret tentang pasang surut sungai Euripus, maka saya terkesan akan Mentaya walaupun tetap le voyageur (9) di tanah Priangan ini. Bagaimanapun juga, Je suis tu regardais un banc de nuages descendre, avec la paquebot orphelin vers les fievres futures (10), tetapi selalu waswas dan cemas dan juga duka, kesal dalam menuntut ilmu ini … tapi akhirnya hanyalah kenangan yang sudah berlalu: te souvienstu(11) Alhamdulillah.
Ada baiknya kututup kata-kataku ini dengan ceritaku, kotaku yang kampung itu, dan diriku yang dusun itu, tetaplah aku Iyung Pahan yang tidak kampungan.

______

1) Misykat – lubang yang tak tembus: lubang di dinding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang yang lain. Lihat QS 24:35.

2) Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit, ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik (sesuai dengan konsep total heat unit). Ibid QS 24:35.

3) QS 24:35.

4) Witty: full of fancy, imaginative = penuh khayal.

5) Cymini sectores (Latin) = hair-splitters = orang yang membuat pembedaan-pembedaan yang halus-halus dan tak perlu = suka ‘njlimet.

6) Francis Bacon. Essays: Of Studies. Lihat Kemajuan Studi 2:26-30. Histories make men wise; poets witty4); the mathematics subtile; natural philosophy deep; logic and rhetoric able to contend. So is a man’s wit be wandering, let him study mathematics; for in demonstrations, if his wit be not apt to distinguish or find differences, let him study schoolmen; for they are cymini sectores5). If he be not apt to beat over matters, and to call up one thing to prove and illustrate another, let him study the lawyer’s cases. So every defect of the mind may have a special receipt.

7) Diah Hadaning. Ramadhan Putih. Dewan Sastera 803(12): Juni 1982. Kuala Lumpur.

8) QS 103:1-3.

9) Artinya: petualang. Lihat Guillaume Apollinaire. Le Voyageur. Anthologie Bilingue de la poeise Moderne Francaise. Pustaka Jaya. Jakarta. Hal. 90-91. (Choix et presentation de Wing Kardjo).

10) Terjemahan bebas: Aku memandang gumpalan awan yang turun bergegas, bersama kapal yatim piatu demam hari depan dituju.

11) Terjemahan bebas: kau kenang semua itu …



Toko Lampu

Oleh: Syeh-Per Syatari *)

Pada suatu malam gelap, dua orang bertemu di sebuah jalan yang sunyi.
“Saya mencari sebuah toko dekat-dekat sini, namanya Toko Lampu,” kata yang pertama.
"Saya kebetulan orang sini, dan bisa menunjukkannya pada saudara,” kata orang kedua.
“Saya harus bisa menemukannya sendiri. Saya sudah diberi petunjuk, dan saya sudah catat pula,” kata yang pertama.
“Jadi kenapa saudara mengatakan hal itu kepada saya?”
“Iseng saja.”
“Jadi saudara ingin ditemani, tidak ditunjukkan arahnya?”
“Ya, itulah maksud saya.”
“Tetapi lebih mudah bagi saudara kalau ditunjukkan arahnya oleh penduduk sini, sudah sejauh ini: apalagi mulai dari sini jalannya sulit.”
“Saya percaya pada apa yang sudah dikatakan kepada saya, yang telah membawaku sejauh ini. Saya tidak yakin bisa mempercayai sesuatu atau seseorang lain lagi.”
“Jadi, meskipun saudara mempercayai pemberi keterangan yang pertama, saudara tidak diajar cara memilih orang yang bisa saudara percayai?”
“Begitulah.”
“Saudara punya tujuan lain?”
“Tidak, hanya mencari Toko Lampu itu.”
“Boleh saya bertanya: kenapa saudara mencari toko lampu itu?”
“Sebab saya diberi tahu para ahli bahwa di tempat itulah saya bisa mendapatkan alat-alat yang memungkinkan orang membaca dalam gelap.”
“Saudara benar, tapi ada syarat, dan juga sedikit keterangan. Saya ragu apakah mereka sudah memberitahukan hal itu kepada saudara.”
“Apa itu?”
“Syarat untuk bisa membaca dengan lampu adalah bahwa saudara harus sudah bisa membaca.”
“Saudara tidak bisa membuktikannya!”
“Tentu saja dalam malam gelap semacam ini saya tidak bisa membuktikannya.”
“Lalu, 'sedikit keterangan' itu apa?”
“Sedikit keterangan itu adalah bahwa Toko Lampu itu masih di sana, tetapi lampu-lampunya sudah dipindah ke tempat lain.”
“Saya tidak tahu 'lampu' itu apa, tetapi tampaknya Toko Lampu adalah tempat menyimpan alat tersebut. Oleh karena itulah ia disebut Toko Lampu.”
“Tetapi 'Toko Lampu' bisa mempunyai dua makna yang berbeda. Yang pertama, 'Tempat di mana lampu-lampu bisa didapatkan'; yang kedua,”Tempat di mana lampu-lampu pernah bisa didapatkan, tetapi kini tidak ada lagi.”
“Saudara bisa membuktikannya!”
“Saudara akan dianggap tolol oleh kebanyakan orang.”
“Tetapi ada banyak orang yang akan menganggap saudara tolol. Mungkin saudara bukan si Tolol. Saudara mungkin mempunyai maksud tersembunyi, menyuruh saya pergi ke tempat teman saudara yang berjualan lampu. Atau mungkin saudara tidak menginginkan saya mempunyai lampu sama sekali.”
“Saya ini lebih buruk dari yang saudara bayangkan. Saya tidak menjanjikan saudara 'Toko Lampu' dan membiarkan saudara menganggap bahwa masalah saudara akan terpecahkan di sana, tetapi saya pertama-tama ingin mengetahui apakah saudara ini bisa membaca. Saya tentu bisa mengetahuinya seandainya saudara berada dekat sebuah toko semacam itu. Atau apakah lampu bisa didapatkan bagi saudara dengan cara lain.”
Kedua orang itu saling memandang, dengan sedih, sejenak. Lalu masing-masing melanjutkan perjalanan.

__________

*) Syeh-Per Syatari, penulis kisah ini, meninggal di India pada tahun 1632. Makamnya di Meerut. Ia dipercaya bisa melakukan hubungan telepati dengan guru-guru “masa lampau, kini dan masa depan”, dan memberi mereka kemudahan untuk menjelaskan pesan mereka lewat kepandaiannya menyusun kisah-kisah berdasarkan kehidupan sehari-hari.

Thursday, June 21, 2007

Tragedi Nol Buku, Tragedi Kita Bersama

Oleh: Taufiq Ismail

APA KATA MEREKA TENTANG BUKU?

Buku adalah pengusung peradaban
Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam,
sains lumpuh, pemikiran macet.
Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia,
"mercu suar" seperti kata seorang penyair,
"yang dipancangkan di samudera waktu".
[Barbara Tuchman, 1989]

Buku adalah jendela
Sukma kita melihat dunia luar lewat jendela ini
Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tak berjendela
[Henry Ward Beecher, 1870]

Buku itu seperti taman
Yang bisa dimasukkan ke dalam kantong
[Pepatah Tiongkok]

Buku adalah benda luar biasa
Buku itu seperti taman indah penuh dengan bunga aneka-warna,
Seperti permadani terbang
Yang sanggup melayangkan kita
Ke negeri-negeri tak dikenal sebelumnya
[Frank Gruber, 1944]

Buku menghirup udara dan menghembuskan minyak wangi
[Eugene Field, 1896]

Buku harus menjadi kampak
Untuk menghancurkan lautan beku di dalam diri kita.
[Franz Kafka, 1883-1924, cerpenis dan novelis Austria]

Tanpa buku Tuhan diam,
Keadilan terbenam
Sains alam macet,
Sastra bisu,
Dan seluruhnya dirundung kegelapan
[Thomas V. Bartholin, 1672]

Buku adalah teman paling pendiam dan selalu siap di tempat.
Penasehat yang paling mudah ditemui dan paling bijaksana,
Serta guru yang luar biasa sabar
[Charles W. Eliot, 1896]


Saya tidak membaca buku:
Saya berbicara dengan pengarangnya
[Elbert Hubbard, 1927]

Buku berfikir untuk saya
[Charles Lamb]

Buku itu cermin
Kalau keledai bercermin disitu,
Tak akan muncul wajah ulama
[G.C. Lichtenberg]

Buku sebenarnya bukanlah yang kita baca,
Tapi buku yang membaca kita
[W.H. Auden, 1973]

Wanita piaraan saya
Buku
[S.J. Adair Fitzgerald]

Kalau ada uang sedikit, saya beli buku,
Kalau masih ada sisanya,
Saya beli makanan dan pakaian
[Desiderius Erasmus]

Biarlah saya jadi orang miskin,
Tinggal di gubuk tapi punya buku banyak
Daripada jadi raja tapi tak suka membaca
[Thomas B. Macaulay, 1876]

Banyak orang seperti saya
Orang yang perlu buku, seperti mereka perlu udara
[Richard Marek, 1987]

Saya tak bisa hidup tanpa buku
[Thomas Jefferson, 1815]

Duduk sendirian dibawah sinar lampu,
Buku terkembang di depan,
Bercakap-cakap secara akrab dengan manusia dari generasi yang tak tampak.
Sungguh suatu kenikmatan yang tak bertara
[Yoshida Kenko, 1688]

Kebiasaan membaca itu satu-satunya kenikmatan yang murni
Ketika kenikmatan lain pudar, kenikmatan membaca tetap bertahan
[Anthony Trollope]

Orang mana bisa tahu tentang waktu yang dihabiskan
Dan susah payahnya belajar membaca (buku)
Saya sudah 80 tahun berusaha,
Belum juga mencapai tujuan
[Goethe]

Seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan
Bila tidak dikelilingi buku-bukunya
[Francois Mitterand, Presiden Perancis, 1982]

Seperti daging untuk jasmani, begitulah bacaan untuk jiwa
[Seneca]

Membaca buku bagus
Seperti bercakap-cakap dengan orang hebat
Dari abad-abad terdahulu
[Rene Descartes, 1617]

Orang dapat memperoleh pendidikan kelas atas
Dari rak buku sepanjang lima kaki
[Charles William Eliot, Rektor Universitas Harvard]

Universitas sejati hari ini
Adalah sebuah kumpulan buku
[Thomas Carlyle]

Saya akan menyudahi pendahuluan ini dengan mengutip ucapan Jorge Luis Borge, penyair, cerpenis dan esais Argentina (1899 - 1986), Direktur Perpustakaan Nasional Argentina (1955 - 1973) tentang perpustakaan yang mengatakan,

Saya selalu membayangkan Sorga itu
Seperti semacam perpustakaan.

KENAPA ORANG INDONESIA (SEDIKIT, SANGAT SEDIKIT, LUAR BIASA SEDIKIT) MEMBACA BUKU?

Kenapa di gerbong kereta api Jakarta-Surabaya pasasir Indonesia tidak membaca novel, tapi menguap dan tertidur miring? Kenapa di bus Pekanbaru - Bukittinggi penumpang tidak membaca kumpulan cerpen, tapi mengisap rokok? Kenapa di halaman kampus yang berpohon rindang mahasiswa tidak membaca buku teks kuliahnya tapi main gaple? Kenapa di kapal Makassar - Banda Naira penumpang tidak membaca buku kumpulan puisi, tapi main domino? Kenapa di ruang tunggu dokter spesialis penyakit jantung di Manado pengantar pasien tidak membaca buku drama tapi asyik main sms? Ada 4 - 5 teori kuno yang mencoba menjelaskan sebab defisiensi budaya yang sudah luar biasa parah ini, dan sudah berlangsung 55 tahun lamanya, tapi saya jemu dan tidak akan mengulanginya.

Etiologi dari epidemi ini, sebab utama penyakit kronis ini terletak sejak dari hulu sampai hilir aliran sungai lembaga pendidikan kita, yaitu TERLANTARNYA KEWAJIBAN MEMBACA BUKU SASTRA DI SEKOLAH-SEKOLAH KITA. Mari kita teropong masalah ini, dengan mempertajam fokus lensa pengamatan ke SMA. Agar diperoleh perbandingan yang menguntungkan, kita luaskan pandangan ke SMA 13 negara, sebagai berikut ini.

Antara Juli-Oktober 1997 saya melakukan serangkaian wawancara dengan tamatan SMA 13 negara. Saya bertanya tentang:

1) kewajiban membaca buku,
2)tersedianya buku wajib di perpustakaan sekolah,
3) bimbingan menulis dan
4) pengajaran sastra di tempat mereka.

Berikut ini tabel jumlah buku sastra yang wajib dibaca selama di SMA bersangkutan (3 atau 4 tahun), yang tercantum di kurikulum, disediakan di perpustakaan sekolah, dibaca tamat lalu siswa menulis mengenainya, dan diuji:

Buku Sastra Wajib di SMA 13 Negara:

NO /ASAL SEKOLAH / BUKU / NAMA SMA / TAHUN WAJIB
1 SMA Thailand Selatan / 5 judul / Narathiwat /1986-1991
2 SMA Malaysia / 6 judul / Kuala Kangsar / 1976-1980
3 SMA Singapura / 6 judul / Stamford College / 1982-1983
4 SMA Brunei Darussalam / 7 judul / SM Melayu I / 1966-1969
5 SMA Rusia Sovyet / 12 judul / Uva / 1980-an
6 SMA Kanada /13 judul / Canterbury / 1992-1994
7 SMA Jepang /15 judul / Urawa / 1969-1972
8 SMA Internasional Swiss / 15 judul / Jenewa / 1991-1994
9 SMA Jerman Barat / 22 judul / Wanne-Eickel / 1966-1975
10 SMA Perancis / 30 judul / Pontoise / 1967-1970
11 SMA Belanda / 30 judul / Middleburg / 1970-1973
12 SMA Amerika Serikat / 32 judul / Forest Hills / 1987-1989
13 AMS Hindia Belanda-A / 25 judul / Yogyakarta / 1939-1942
14. AMS Hindia Belanda-B / 15 judul / Malang / 1929-1932
15. SMA Indonesia / 0 judul / Di Mana Saja / 1943-2005


Catatan: Angka di atas hanya berlaku untuk SMA responden (bukan nasional), dan pada tahun-tahun dia bersekolah di situ (bukan permanen). Tapi sebagai pemotretan sesaat, angka perbandingan di atas cukup layak untuk direnungkan bersama. Apabila buku sastra 1) tak disebut di kurikulum, 2) dibaca Cuma ringkasannya, 3) siswa tak menulis mengenainya, 4) tidak ada di perpustakaan sekolah, dan 5} tidak diujikan, dianggap nol. Angka nol buku untuk SMA Indonesia sudah berlaku 62 tahun lamanya, dengan kekecualian luarbiasa sedikit pada beberapa SMA saja.

Sebagai tamatan SMA Indonesia, mari kita ingat-ingat berapa buku sastra yang wajib baca selama 3 tahun di sekolah kita dulu (yang disediakan di perpustakaan, dibaca tamat, kita menulis mengenainya dan lalu diujikan?) Nol buku. Tapi kita tahu 3 puisi Chairil Anwar (" Aku", "Krawang-Bekasi", "Senja di Pelabuhan Kecil"), kenal jalan cerita novel Layar Terkembang, dan pernah dengar-dengar Rendra lahir di kota mana gerangan. Dengan kriteria di atas, kita seharusnya tamat 72 puisi dan 7 prosa Chairil (bukunya Derai-derai Cemara setebal 132 halaman), baca tamat Layar Terkembang (bukan tahu plotnya karena baca sinopsisnya), dan baca tamat kumpulan puisi Balada Orang Tercinta.

Di SD kita diberi tahu tentang awalan, sisipan dan akhiran. Di SMP kita dilatih menggunakan awalan, sisipan dan akhiran. Di SMA kita diperiksa menggunakan awalan, sisipan dan akhiran. Sastra diajarkan dalam definisi -definisi, seperti ilmu fisika, dalam rumus-rumus, mirip ilmu kimia. Latihan mengarang mendekati Nol Karangan. Rejim Linguistik menguasai pelajaran bahasa dan sastra lebih dari setengah abad lamanya. Siswa tidak diberi kesempatan berenang di danau kesusastraan dengan nikmatnya.

Siswa AMS wajib menulis karangan, 1 karangan seminggu. Karangan disetor, diperiksa guru, diberi angka. Panjang karangan satu halaman. Jumlahnya 36 karangan setahun, 108 karangan 3 tahun. Ketika mereka masuk universitas, tugas menulis makalah dan skripsi dilaksanakan dengan merdu dan lancar. Kewajiban menulis karangan di SMA kini antara 1 kali setahun (mirip shalat Idulfitri) sampai 5 kali setahun (pastilah di SMA favorit yang mahal itu). Dibanding dengan AMS, yah, sekitar 5,2 persen. Ratusan ribu siswa pasti pernah menulis karangan dengan judul "Cita-citaku" dan "Berlibur di Rumah Nenek."

Tragedi Nol Buku ini hampir tidak masuk akal bila kita mendapatkan fakta bahwa siswa Algemene Middelbare School (SMA zaman Belanda dulu) Yogya wajib baca 25 buku sastra dalam waktu 3 tahun, tak jauh di bawah SMA Forest Hills (New York), di atas SMA Wanne-Eickel (Jerman Barat) hari ini. Superioritas AMS Hindia Belanda itu jadi luar biasa karena 25 buku itu dalam 4 bahasa, yaitu Belanda, Inggeris, Jerman dan Perancis (responden Rosihan Anwar, 1997).

Tragedi Nol Buku ini berlangsung pada awal 1950. Ketika seluruh aparat pemerintahan sudah sepenuhnya di tangan sendiri, demi mengejar ketertinggalan sebagai bekas negara jajahan, yang mesti membangun jalan raya, bangunan, rumah sakit, jembatan, pertanian, perkebunan, kesehatan, perekonomian, maka yang diunggulkan dan disanjung adalah jurusan eksakta (teknik, kedokteran, pertanian, farmasi), ekonomi dan hukum. Wajib baca 25 buku sastra digunting habis, karena dipandang tidak perlu. Ini kesalahan peradaban luar biasa besar. Ketika saya perlihatkan hasil observasi (dalam tabel) itu kepada Menteri Wardiman Djojonegoro (1997), beliau terkejut. "Sudah demikian burukkah keadaannya?" tanyanya. "Ya," jawab saya. Mari kita kilas batik ke tahun 1942-1945, dan kita dengar apa kata Asrul Sani (1999):

Kelompok sastrawan masa itu (pendudukan Jepang) gila membaca. Buku-buku orang Belanda, yang diinternir Jepang, banyak diloakkan di Pasar Senen, sehingga asal rajin ke sana, banyak bisa memperoleh karya sastra dunia, di samping buku-buku sastra Belanda. Rivai Apin, Idrus juga tukang baca. Idrus fanatik pada IIya Ehrenburg ... Di jalan Juanda dulu ada dua toko buku. Toko buku van Dorp, yang sekarang jadi kantor Astra, dan toko buku Kolff. Koleksinya luar biasa. Saya dan Chairil Anwar suka juga mencuri buku di sana.

Tapi kewajiban baca 25 buku itu tidak bertujuan agar siswa jadi sastrawan. Tidak. Sastra cuma medium tempat lewat. Sastra mengasah dan menumbuhkan budaya baea buku secara umum. Seorang Anak Baru Gede di tahun 1919 masuk sekolah SMA dagang menengah Prins Hendrik School di Batavia. Wajib baca buku sastra menyebabkannya ketagihan membaca, tapi dia lebih suka ekonomi. Dia melangkah ke samping, lalu jadi ekonom dan ahli koperasi. Namanya Hatta. Seorang siswa yang sepantaran dia, di AMS Surabaya, juga adiksi buku. Kasur, kursi dan lantai kamarnya ditebari buku. Tapi dia lebih suka iImu politik, sosial dan nasionalisme. Dia melangkah ke samping dan jadi politikus. Namanya Soekarno.

Sastra menanamkan rasa ketagihan membaca buku, yang berlangsung sampai siswa jadi dewasa. Rosihan Anwar (kini 83) tetap membaca 2 buku seminggu. Buku apa saja. "Jiwa saya merasa haus kalau saya tak baca buku," kata beliau. Demikianlah rasa adiksi yang positif itu bertahan lebih dari setengah abad, bahkan seumur hidup. Tragedi Nol Buku ini, yang sudah berlangsung 55 tahun lamanya, dengan mudah dapat dijelaskan kini akibatnya. Tamatan SMA Nol Buku sejak 1950 (saya tak sempat menghitung dengan teliti tapi pastilah meliputi beberapa juta orang); mereka inilah yang kini jadi warga Indonesia terpelajar serta memegang posisi menentukan arah negara dan bangsa hari ini, dengan rentang umur antara 35 - 70 tahun.

MEREKA INI, DENGAN SEDIKIT KEKECUALIAN, HAMPIR SEMUA BERBEKAL NOL BUKU KETIKA BERSEKOLAH, TIDAK MENDAPAT KESEMPATAN UNTUK DITANAMKAN RASA KETAGIHAN MEMBACA BUKU, KECINTAAN PADA BUKU, KEINGINAN BERTANYA KEPADA BUKU DALAM SEMUA ASPEK KEHIDUPAN DAN KEBIASAAN MENGUNJUNGI PERPUSTAKAAN SEBAGAI TEMPAT MERUJUK SUMBER ILMU PENGETAHUAN.

Tentulah etiologi penyakit budaya ini mesti disembuhkan. Kita perbaiki bersama pengajaran membaca dan menulis di sekolah-sekolah kita, sejak SD, sampai SMP dan SMA. Komponen luar biasa penting dalam ikhtiar perbaikan ini adalah perpustakaan.

Ketika masih siswa SMA di Pekalongan, pada tahun 1955 dan 1956, saya pernah menjadi penjaga perpustakaan pelajar, yang diamanatkan Djawatan Pendidikan Masjarakat kepada organisasi Peladjar Islam Indonesia. Perpustakaan kami dibuka sekali sepekan, pada hari Minggu saja, di beranda rumah orangtua saya, Jalan Bandung 60. Jumlah buku sekitar 300 judul. Saya dan sahabat saya S.N. Ratmana menjadi administraturnya: mencatat lalu-lintas buku, menagih yang terlambat mengembalikan, menjaga kebersihan, mengatur keuangan.

Anggota kami siswa SMP, SMA dan PGA. Sebagai pemegang kunci perpustakan, sebagai "bos" saya bebas membaca tanpa biaya. Demikianlah saya kenyang membaca semua novel Karl May tentang Winnetou, Pudjangga Baru, Angkatan 45, sampai juga buku tuntunan bertanam anggrek karangan Sutan Sanif dan buku cara mengecor beton bertulang Prof. Ir. Rooseno. Kecil-kecilan di kalangan siswa SMA Pekalongan dulu saya adalah seorang ”pustakawan”.

Sebagai penutup saya menyampaikan harapan, marilah kita jadikan perpustakaan bukan saja rujukan utama ilmu pengetahuan, tapi tempat yang sejuk dan teduh bagi manusia Indonesia (sedikit di bawah sorga yang diimpikan Jorge Luis Borge), berumur 5 sampai 85 tahun, yang memberikan pencerahan pada akal dan sukma kita, menuju peradaban Indonesia yang mendapat naungan Tuhan Yang Maha Rahim dan Rahman.


KUPU-KUPU DI DALAM BUKU

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya, kemudian katanya,
"tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,"
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.

Taufiq Ismail, 1996.


BIODATA

Taufiq Ismail lahir di Bukit Tinggi, 25 Juni 1935, dibesarkan di Pekalongan, Semarang dan Yogyakarta.

Salah seorang pendiri majalah sastra Horison (1966), redaktur senior sampai kini. Alumnus IPB (Fakultas Kedokteran Hewan & Peternakan), 1963. Penyair tamu di University of Iowa, Iowa City (1971-1972 dan 1991-1992). Kuliah di American University in Cairo, 1990, terhenti karena Perang Teluk. Penulis tamu di Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur, 1994. Menulis dan menghimpun antologi 15 judul buku, a.1. kumpulan puisi Tirani dan Benteng, dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

Tergugah oleh merosotnya budaya baca buku dan menulis karangan, Taufiq Ismail bersama-sama sastrawan di majalah Horison menggerakkan enam butir kegiatan gerakan sastra, dengan sasaran dunia pendidikan, yang bertujuan meningkatkan: budaya membaca buku, kemampuan mengarang, dan apresiasi sastra.

NO / KEGIATAN / SASARAN / PENDANAAN
1 Sisipan Kakilangit / Siswa dan Guru / Majalah Sastra Horison
2 Pelatihan MMAS / Guru / Depdiknas
3 Kegiatan SBSB / Siswa dan Guru / The Ford Foundation
4 Kegiatan SBMM / Mahasiswa / The Ford Foundation
5 LMKS dan LMCP / Guru / Depdiknas
6 SSSI / Siswa / The Ford Foundation

  • Sisipan Kakilangit ditujukan untuk siswa SMA dan sederajat, dilaksanakan sejak 1996.
  • Pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) selama 7 hari untuk guru bahasa dan sastra SMA se-Indonesia, 1999-2004, diikuti 1.700guru di 11 kota.
  • Kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) mendatangkatl sastrawan ke SMA dan Pondok Pesantren, membacakan karya dan berdiskusi dengan siswa serta guru. Dalam rentang masa 2000-2004 telah dikunjungi 205 sekolah di 133 kota, 26 provinsi, 97.180 siswa danguru, oleh 70 sastrawan.
  • Mahasiswa Fakultas Sastra dan Fakultas Bahasa & Seni menjadi sasaran kegiatan SBMM (Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca), 2000-2002 di 9 universitas, dengan mendatangkan 18 sastrawan yang berbicara tentang bukunya.
  • Guru distimulasi mengarang dengan Lomba Mengulas Karya Sastra dan Lomba Menulis Cerita Pendek, 2000-2004, diikuti oleh sekitar 300 guru setiap tahunnya.
  • Untuk menampung energi kegiatan sastra siswa dibentuk 12 Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) di 12 kota (2002), dan tahun 2005 akan dibentuk 10 lagi sanggar di kota-kota lain.

Sebagai penghargaan atas kegiatan yang digerakkannya ini, Taufiq Ismail dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dalam pendidikan sastra oleh Universitas Negeri Yogyakarta, 8 Februari 2003. * * *

Paruh Kedua Kehidupan

Menurut Drucker, pekerja berbasis ilmu pengetahuan (knowledge worker) adalah pekerja yang tidak bekerja secara mekanis (seperti penyapu jalanan dan pemanen TBS kelapa sawit), menempatkan dirinya sendiri sebagai penanggung jawab utama dalam upaya mencari pengetahuan untuk meningkatkan kompetensi dirinya, memilih jenis pekerjaan dan menginvestasikan waktunya untuk menghasilkan outcome yang ditargetkannya. Konsep ini adalah dasar dari peningkatan harkat manusia dari sekedar pekerja (worker) menjadi sumberdaya manusia (human resource) yang akhirnya layak dikatakan sebagai modal insani (human capital).
Ketiga terminologi tadi merupakan subyek pengkajian dalam revolusi manajemen personalia menjadi manajemen sumber daya manusia, dan kemudian menjadi manajemen strategis sumber daya manusia atau manajemen modal insani. Perubahan lingkungan bisnis yang semakin lama semakin cepat, mau tidak mau, senang tidak senang, akhirnya menempatkan perubahan sebagai unsur utama yang menentukan ketahanan organisasi dalam siklus hidup organisasi yang semakin tinggi temponya dan semakin sedikit waktu tersisa untuk menyikapinya dengan kata kunci: BERUBAH atau MATI!
Sejalan dengan perubahan dunia yang menjadi semakin datar dengan terjadinya fenomena globalisasi yang datang seperti versi perangkat lunak yang semakin lama semakin kompleks, canggih dan tak terbayangkan, globalisasi telah mengambil purwa rupa dengan runtunan globalisasi versi 1.0, 2.0 dan 3.0.
Globalisasi 1.0 (1492-1800): Dunia susut dari besar menjadi sedang, prosesnya terkait pada negara dan otot. Seberapa gigih, seberapa kuat otot dan seberapa besar tenaga kuda, tenaga angin, dan tenaga uap yang dimiliki negara serta seberapa besar kreativitas pemanfaatannya akan mendorong globalisasi.
Globalisasi 2.0 (1800-2000): Dunia susut dari sedang menjadi kecil, prosesnya terkait pada perusahaan-perusahaan multinasional. Dimotori jatuhnya biaya transportasi karena mesin uap dan kereta api, dilanjutkan dengan jatuhnya biaya telekomunikasi karena telegraf, telepon, PC, satelit, serat optik dan www versi awal. Terjadi pergerakan barang dan informasi antar benua membentuk pasar global berupa perdagangan barang dan tenaga kerja antarpasar.
Globalisasi 3.0 (2000-sekarang): Dunia susut dari kecil menjadi sangat kecil sehingga mendatarkan dunia, prosesnya terkait pada pemberdayaan individu-individu, kelompok-kelompok dan segala keragamannya. Dimotori oleh 10 pendatar berupa kreativitas, konektivitas, kolaborasi, up-loading, outsourcing, off-shoring, supply-chaining, insourcing, in-forming, dan steroid seperti digitalisasi, mobilitas, personalisasi, dan virtualisasi. Mereka menciptakan trio konvergensi yang akhirnya mendatarkan dunia melalui integrasi yang menciptakan lapangan baru, horisontalisasi yang menciptakan proses baru, dan koloborasi horisontal yang menciptakan kebiasaan baru.
Sebagai pekerja ilmu pengetahuan, yang menyadari bahwa dunia telah berubah, dan kompetensi yang dimiliki semakin lama semakin cepat usang dan tidak terpakai lagi, maka pengalaman akhirnya berubah menjadi guru yang terburuk. Ungkapan pengalaman adalah guru yang terbaik hanya berlaku dalam dunia yang turbulensinya rendah, sehingga orang dapat belajar dari kesalahan untuk mencari makna dan memperbaiki kesalahan tersebut sehingga tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Dalam bahasa program, situasi ini adalah proses debug. Malangnya, persaingan piranti lunak saat ini bukan pada tataran program dan debug yang dilakukan untuk menambal (patching) kerentanan program itu lagi. Debug untuk menambal program sudah menjadi suatu keharusan, yang dalam bahasa manajemen telah menjadi komoditas, alias tidak memiliki nilai tambah yang signifikan lagi. Semua orang melakukan hal yang serupa, dan keunggulan anda dalam hal debug bukanlah suatu kompetensi utama lagi.
Dalam situasi turbulensi tinggi menurut Ansoff, pengalaman adalah guru yang terburuk, karena apa yang menjadi referensi pada hari ini, tidak berlaku lagi pada kondisi hari esok. Kesepuluh koefisien pendatar dunia telah membuat dunia yang selama ini bulat (seperti dipostulatkan Columbus), susut menjadi bidang datar (seperti yang diceritakan Friedman). Keberadaan pekerjaan-pekerjaan tradisional terancam punah karena perubahan. Pada prinsipnya, setiap pekerjaan yang bisa dipecah-pecah menjadi task yang lebih kecil dan dapat didigitalisasi sehingga dapat dikirim dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat dan murah, adalah pekerjaan yang akan mengalir dari daerah yang upahnya mahal ke daerah yang upahnya murah. Pekerja ilmu pengetahuan yang memiliki akses kepada dunia maya, dengan cepat akan menyeimbangkan kompetensi tradisional yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan generik. Pekerjaan generik adalah pekerjaan seperti mengetik, menterjemah, mengajar, dan dalam kasus tertentu seperti menafsirkan citra digital hasil MRI seorang pasien di Bethesda AS yang dikirim ke dokter India yang tarifnya hanya 1/5 upah AS. Termasuk didalamnya juga pembuatan barang-barang berkualitas dengan harga murah seperti kalkulator, MP4 player dan hands free Bokia dari RRC. Harga hands free Bokia berupa mikropon dan ear phone speaker berikut kemasannya di Jakarta hanyalah Rp 1,500,-; sehingga harga pokok penjualannya dari RRC hanyalah 1/5-nya yaitu Rp 300,- per unit, bayangkan man!
Pekerjaan yang tak tergantikan adalah pekerjaan mekanis yang melelahkan seperti penyapu jalanan, pekerjaan mekanis yang membutuhkan sentuhan pribadi seperti perawat yang ramah dan peduli dengan pasien, pekerjaan mekanis yang membutuhkan sentuhan khusus seperti koki restoran yang memiliki resep rahasia, pekerja seni seperti Picasso, Rembrandt dan Affandi, serta pekerjaan penuh inovasi seperti yang dilakukan Thomas Alva Edison, dan pekerjaan tak terbayangkan yang unik di dunia datar seperti search engine optimizer (SEO). Seorang SEO adalah pekerja ilmu pengetahuan yang mengakali algoritma yang ada di dalam search engine seperti Google, Yahoo, MSN dll., sehingga setiap situs web yang dibuat berdasarkan algoritma khususnya, pasti akan muncul pada urutan pertama hasil pencarian search engine. Kalau seseorang mengetik kata kunci ”ahli kelapa sawit” pada Google, karena saya memiliki kompetensi SEO maka situs web saya merupakan situs pertama yang ditampilkan, maka peluang orang meng-klik situs saya dan melakukan transaksi bisnis menjadi lebih besar. Profesi SEO yang membuat kemampuan itu ada dan bermanfaat adalah pekerjaan unik di dunia yang semakin datar.
Seorang pekerja ilmu pengetahuan akan mengalami kebosanan dalam pekerjaannya setelah 20 tahun bekerja. Pada kondisi ini, pekerjaan menjadi tak bermakna, dan kehidupan seakan daun-daun kering berguguran. Pada saat inilah dimulai paruh kedua kehidupan, dimana orang mencari makna lain dalam kehidupan profesionalnya. Boleh saja seseorang menjadi si gagal atau si sukses dalam karirnya, tetapi tidak mendapat ketenangan batin dan menemukannya dalam aktivitas lain di dunia paralel seperti menjadi tetua adat dalam komunitas hacker, penyanyi paruh waktu di restoran eksklusif, aktivis lembaga swadaya masyarakat, pembina pramuka yang melarikan diri dari krisis paruh baya dengan membina anak-anak remaja tanpa dosa dll. dst. dsb.
Siapkan diri menghadapi paruh kedua kehidupan. Karena kita juga manusia, maka kita pasti akan merasakan esensi kebosanan dalam kehidupan. Sedia payung sebelum hujan apakah berarti harus selalu membawa payung sepanjang hari? Menghadapi situasi ini, janganlah beranalogi seperti bankir idiot yang meminjamkan payung di waktu panas, dan menariknya ketika hujan turun. Saya hanya ingin berbagi, bahwa mempersiapkan paruh kedua kehidupan berarti membuat kehidupan menjadi lebih komplit. Seperti kata Timbul Srimulat, kehidupannya Komplit ... plit.

Monday, June 18, 2007

Summa Cum Laude

Ketika lagu Gaudeamus dinyanyikan oleh paduan suara di Grawida IPB tanggal 13 Juni 2007, aku terpekur dalam keheningan kalbu dan terlempar dalam konfigurasi sepi.
Lulus dari kelas eksekutif program Manajemen dan Bisnis Sekolah Pascasarjana IPB dalam waktu 17 bulan dengan indeks prestasi kumulatif 4.00 mengantarkanku sebagai bagian dari legenda almamater ke-8 yang lulus summa cum laude sejak program tersebut dibuka.
Dibutuhkan kebesaran hati untuk diwisuda bukan sebagai lulusan terbaik, karena ada teman dari kelas reguler yang kuliah pagi-sore (full time) yang lulus summa cum laude dengan periode waktu kuliah yang lebih pendek 1 trimester. Kebesaran seorang individu juga harus dinilai dari toleransinya menerima ketidakadilan suatu sistem,walaupun reward yang dipersengketakan hanyalah persoalan remeh-temeh kebanggaan akan penyebutan nama sebagai lulusan terbaik dan maju ke depan rektor untuk menerima plakat.
Ketika wisuda digelar, yang kusesali adalah sergapan keterasingan yang datang menjelang ketika berbaris masuk ke aula. Dari 29 orang teman yang bersama berselancar dalam liku-liku gelombang perkuliahan, hanya aku dan Tri yang diwisuda. Dua puluh lima orang lainnya masih berkekutat dengan sanksi denda dan pengurangan nilai tesis. Aku kehilangan momen-momen kebersamaan karena lulus terlalu cepat, seakan aku menyesap wisuda tak lebih seperti minum high noon tea di Coffe Bean and Tea Leaf. Tanpa sensasi, seakan seks tanpa orgasme yang jauh lebih parah dari edi tansil (ejakulasi dini tanpa hasil).
Tinggallah kilas balik perjuangan mendapatkan nilai 4.00 yang jauh lebih mengisi relung hati. Sehingga benarlah kearifan hidup, terkadang proses lebih penting dari pada hasil akhir. Aku menjadi makhluk yang akhirnya memuja proses sebagai bagian dari hasil akhir. Nikmatilah prosesnya, karena belum tentu hasil akhir yang dicita-citakan itu ternyata lebih nikmat. Seperti itulah kehidupan, ketika kita sampai pada saat-saat final day, ternyata final itu tak seperti final yang kita harapkan (walaupun itu jelas-jelas final dengan kondisi yang kita deskripsikan di awal perjalanan hidup).