Siang terik matahari di atas kepala menyisakan sedikit keteduhan ketika angin laut menghembuskan sedikit kelembaban uap air atas nama belas kasihan. Pendataran dunia yang berbelas kasihan menemukan esensi mendalam pada hakekat kehidupan manusia sebagai makhluk pekerja: mencari kompensasi bagi waktu yang diinvestasikannya dalam pekerjaan, dan menyikapi bagaimana pekerjaan itu sendiri memberikannya kesempatan untuk belajar tumbuh dan berkembang menghadapi perubahan dunia dan tuntutan pekerjaan dunia baru yang semakin datar dan semakin menuntut kolaborasi horisontal.
Dunia baru adalah dunia yang semakin datar, karena lapangan permainan telah didatarkan. Fokusnya telah bergeser dari negara menjadi perusahaan trans-nasional dan sekarang menjadi individual. Globalisasi telah menemukan wujudnya dan menulis takdirnya sendiri dan menyisakan pilihan-pilihan berganda, yang pada akhirnya akan bermuara pada semua premis terdahulu adalah salah atau seluruh jawaban adalah betul. Disinilah kebetulan akan mencapai derajat pemahaman yang sama dengan kebenaran. Kebetulan pada saat itu saya ada di sana, dan kebenaran pada saat itu berpihak pada saya.
Globalisasi 1.0 (1492-1800): Dunia susut dari besar menjadi sedang, prosesnya terkait pada negara dan otot. Seberapa gigih, seberapa kuat otot dan seberapa besar tenaga kuda, tenaga angin, dan tenaga uap yang dimiliki negara serta seberapa besar kreativitas pemanfaatannya akan mendorong globalisasi.
Globalisasi 2.0 (1800-2000): Dunia susut dari sedang menjadi kecil, prosesnya terkait pada perusahaan-perusahaan multinasional. Dimotori jatuhnya biaya transportasi karena mesin uap dan kereta api, dilanjutkan dengan jatuhnya biaya telekomunikasi karena telegraf, telepon, PC, satelit, serat optik dan www versi awal. Terjadi pergerakan barang dan informasi antar benua membentuk pasar global berupa perdagangan barang dan tenaga kerja antarpasar.
Sembilan fenomena pendataran dunia berkolaborasi menciptakan situasi yang merangsang terciptanya Globalisasi 3.0 (2000-sekarang). Fenomena tersebut adalah meluapnya kreativitas masyarakat dunia yang dicirikan dengan runtuhnya tembok Berlin sebagai ikon pengekang kebebasan peninggalan masa lalu. Dan kemudian semua orang menjadi semakin mudah terhubung satu sama lain, konektivitas antar individu meledak karena berkembangnya web dan internet. Perangkat lunak workflow memicu kolaborasi yang sebelumnya tak pernah terbayangkan: membuat proyek bersama dari berbagai pelosok dunia tanpa perlu bertatap muka, sepanjang format datanya bisa didigitasi, semuanya bisa dikolaborasikan lewat internet. Uploading berkembang menjadi kekuatan baru masyarakat, dimana individu-individu semakin mudah mengekspresikan opini, penemuan, pengaruh dan segalanya melalui blog dan kolaborasi model wikipedia. Masyarakat bebas mengekspresikan dirinya, tak perduli apapun yang menjadi dasar ideologinya. Sistemnya hanya mengatur pencatatan dan metode penelusuran apa dan siapa yang melakukan uploading. Mengenai isi, silahkan masing-masing individu bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.
Outsourcing berkembang dari melakukan pekerjaan masal dan murahan menjadi semakin terspesialisasi dan tidak lagi murahan. Tuntutan sebagai produsen berbiaya murah mewajibkan setiap entitas bisnis mencari terobosan yang mampu menembus tembok tujuh lapis, dan outsourcing muncul sebagai alternatif yang tak terelakkan. Sebagai contoh, India mendapat manfaat dari boomingnya pekerjaan kasta sudra dalam pemrograman komputer berupa pemeriksaan ketaatan masing-masing baris perintah dalam bahasa program terhadap milenium bug (Y2K). Mereka mendapatkan pekerjaan murahan yang ternyata memberikan kesempatan kepada para insinyurnya di Bangalore untuk belajar mekanisme pembuatan program yang memungkinkan mereka menjadi pembuat perangkat lunak saat ini. Meledaknya bom broad band memberikan akses jalan raya informasi dari AS ke India dengan biaya murah. Investor yang membangun kapasitas broad band secara jor-joran dengan biaya mahal akhirnya bangkrut karena excess supply, mereka mengembalikan proyeknya ke bank. Pihak bank kemudian melelangnya dengan harga hanya 10% dari nilai bukunya sehingga sewa saluran broad band menjadi sangat murah dan dapat dimanfaatkan oleh negara seperti India untuk menghubungkan dirinya dengan AS. Sialnya, saluran broad band ini hanya dibangun seperti jaringan jalan raya bebas hambatan antar negara, tetapi di dalam negaranya sendiri tetap memakai jalan biasa yang sempit dan macet. Alhasil yang menikmati investasi broad band yang dikembangkan AS adalah negara-negara seperti India dan China. Semua pekerjaan yang secara fisik bisa didigitalisasi, berarti bisa dipecah-pecah menjadi pekerjaan-pekerjaan yang lebih sederhana, dan pekerjaan tersebut bisa dikirim ke tempat lain melalui jalan raya informasi dengan cepa, adalah kategori pekerjaan yang bisa di outsource: baik berupa barang ataupun jasa. Memang jasa tertentu seperti memasak tidak dapat di outsource, tetapi reservasi restoran terbaik dengan menu favorit tertentu tetap dapat di outsource.
Outsourcing berarti memindahkan pekerjaan ke luar perusahaan, dan secara fisik perusahaannya masih ada di tempat dia berada. Offshoring adalah memindahkan basis perusahaan ke luar negeri dengan pertimbangan efektivitas dan efisiensi ekonomi. Sekali lagi kekuatan uang atas nama efektivitas dan efisiensi menjadi ideologi kaum pemuja offshoring. Karena susah mencari tenaga kerja yang cekatan, pandai dan mau menerima gaji murah di negara ini, maka pemilik memindahkan perusahaannya ke negara yang kondisinya paling favorable. Selesai! Seekor singa Afrika harus lari untuk mengejar seekor kijang yang akan dimangsanya. Sementara itu si kijang harus lari untuk menyelamatkan dirinya dari terkaman singa. Ketika si kijang berhasil menyelamatkan diri, manusia mengejek singa karena tidak becus menangkap kijang. Singa hanya mengaum enteng: walaupun kami sama-sama berlari, bagiku lari itu hanyalah soal makan siang, sedangkan bagi kijang itu lari adalah masalah hidup matinya. Tidak perduli kami menjadi pemangsa atau calon mangsa, kami tetap harus berlari, bebeh. AS adalah singa, sedangkan China adalah kijangnya. Dalam kasus ini, larinya kijang lebih kencang dari singa karena kijang tahu kalau dia tidak bisa lari maka tamatlah riwayatnya.
Terlalu banyak lemak menyebabkan daging tidak sehat dan mengandung kolesterol jahat yang tinggi sehingga orang yang memakannya bisa cepat mati. Dalam bisnis, terlalu banyak biaya yang tinggi menyebabkan cost overrun juga bisa menyebabkan perusahaan mati. Sebagai konsumen yang berbelanja di toko seperti Walmart, kita sangat senang karena menikmati efisiensi rantai pasokannya (supply chaining) sehingga mendapat barang dengan harga yang lebih murah. Dalam konteks ini, kita mendukung rantai pasokan yang efisien, dan memang ini membuat dunia menjadi lebih datar sehingga organisasi dapat bergerak lebih luwes di dunia yang semakin mengecil. Walmart membeli dalam jumlah besar (skala ekonomi) dari pemasok di China dan logistiknya disentralisasi di Arkansas. Dengan melakukan distribusi inbound logistic sendiri, Walmart mampu memotong marjin biaya sampai 5%. Sementara dalam konteks lainnya, sebagian karyawan Walmart harus menerima tunjangan kesehatan yang lebih kecil dari rata-rata industri, dan perusahaan meminta asuransi kesehatan karyawannya dibayar oleh negara. Karyawan Walmart menggerutu, dan satu-satunya institusi (kalau bisa disebut institusi) yang mendukung manajemen Walmart dalam kasus ini hanyalah Wallstreet (bukan kebetulan karena sama nama awalnya). Disinilah kita menghadapi paradoks, kita ingin efisiensi tetapi tetap ingin gaji dan tunjangan yang mahal. Ini seperti sekelompok bule di mal mangga dua yang membeli DVD bajakan seharga Rp 5.000,- per keping, tetapi di negaranya menggugat praktik pembajakan tersebut. Saya pribadipun mengaku dosa dengan memfotokopi buku teks dari perpustakaan, tetapi mengutuk keras praktik fotokopi yang dilakukan orang lain terhadap buku yang saya terbitkan. Akhirnya saya katakan kepada penerbit, untuk lebih mempertimbangkan harga jual buku dengan marjin yang lebih kecil sehingga biaya fotokopi dan jilid hampir sama dengan membeli buku aslinya. Kalau sudah begini, bukan hipokrit lagi kalau saya menyumpah-serapahi orang-orang yang tetap tega memfotokopi buku saya.
Untuk perusahaan kecil yang memiliki sumberdaya terbatas sehingga tidak mampu melakukan penghematan melalui pembuatan rantai pasokan sendiri, maka ada perusahaan seperti UPS yang bidang utamanya bergerak dibidang logistik dan memiliki kapasitas sangat besar tidak hanya dalam jasa logistik tetapi juga jasa lain-lainya. Jika orang yang membeli notebook Toshiba dengan term garansi tertentu mengalami kerusakan, maka mereka mengirimkan notebooknya ke pusat pelayanan Toshiba dengan menggunakan jasa kurir seperti UPS. UPS kemudian menawarkan jasa kepada Toshiba: Daripada anda melakukan sendiri perbaikannya, mengapa tidak kami saja yang menerima kiriman notebook bermasalah itu, kemudian kami perbaiki, dan kami kirimkan kembali kepada pelanggan anda, atas nama Toshiba. Kami hanya akan membebankan biaya pelayanan tertentu di atas biaya suku cadang yang rusak. Inilah praktik insourcing. Dan jika ada cukup banyak perusahaan seperti Toshiba, Dell dan HP memberikan bisnis ini kepada UPS, maka bisnis inipun akan berkembang menjadi salah satu pendapatan tambahan bagi UPS. Di luar sana, banyak perusahaan yang memiliki hal-hal istimewa dan hanya soal waktu untuk mempertemukan mereka dengan perusahaan sejenis UPS yang memiliki kemampun insourcing hebat untuk saling berkolaborasi bagi kepentingan bersama.
Dunia menjadi semakin datar dengan terciptanya in-forming. Google, Yahoo, dan MSN telah menyediakan sarana dan prasarana sehingga individu-individu semakin mudah terhubung secara masif dan produktif.
Keseluruhan fenomena ini dipercepat dengan stimulan perangsang berupa teknologi digital yang semakin maju, teknologi bergerak (mobilitas), personalisasi para individu, realitas virtual yang berderap terpadu dengan tema konvergensi. Hidup menjadi semakin mudah terhubung dalam skala yang tidak terbayangkan sebelumnya, dan inilah Globalisasi 3.0 (2000-sekarang): Dunia susut dari kecil menjadi sangat kecil sehingga mendatarkan dunia, prosesnya terkait pada pemberdayaan individu-individu, kelompok-kelompok dan segala keragamannya. Dimotori oleh 10 pendatar yang dipaparkan sebelumnya, fenomena ini menciptakan trio konvergensi yang mampu mendatarkan dunia melalui proses integrasi, horisontalisasi, dan koloborasi horisontal.
Konvergensi pertama menciptakan lapangan permainan yang baru melalui proses integrasi. Konvergensi kedua menciptakan proses baru melalui proses horisontalisasi. Konvergensi ketiga mencipatkan kolaborasi horisontal melalui proses pembentukan kebiasaan baru. Keseluruhan konvergensi inilah yang menciptakan pendataran dunia sehingga dunia menjadi datar. Inilah fenomena dunia datar di suatu siang di daerah tropis.
Bacaan Lebih Lanjut:
Friedman, T.L. 2005. The World is Flat: A Brief History of the Twentieth-First Century. Farrar, Straus and Giroux. New York.
Monday, April 30, 2007
Tuesday, April 24, 2007
My Heart
Kehidupan adalah seperti pentas sinetron dimana glamor dan ekstravaganza terkondensasi dalam fomat audio-video. Frame demi frame terekam dalam jejak kehidupan, meciptakan plot demi plot yang mereka kehidupan dalam bingkai keceriaan sampai tragedi yang ngenes abiis. Lalu akankah keceriaan dan kesedihan itu mampu menciptakan sensasi dan meluluh-lantakkan perasaan mereka yang mengalaminya. Maka mereka itu akan mereka-reka potongan-potongan gambar kehidupan menjadi cerita yang diinginkannya hatinya.
Terbersitlah suara dengan panjang gelombang lamda1 yang menimbulkan perasaan cinta dan lamda2 yang menimbulkan perasaan murka. Interaksi nada dan irama masing-masing lamda dilakukan dengan pitch control yang sangat prima oleh seorang aktor berbakat alam sehingga menghasilkan warna bunyi yang sexy abiis dan penuh ornamen watak. Keindahan tafsir aktor yang sangat melek-nada ini benar-benar menghasilkan nada yang sebenar-benarnya nada (gracias!). Hidup serasa hampa tanpa kehadirannya, dan kehidupan serasa tak bermakna tanpa dirinya, my heart yang sweet hart membuat sweat my heart.
Inilah sebenar-benarnya hidup dimana kebetulan telah sama dengan kebenaran yang dimanipulasi secara gramatikal. Jika kita memilih secara benar, maka itulah sesuatu yang betul. Padanan kata betul dengan benar adalah tafsir leksikal antara true, truth dan right. Untuk seluruh dimensi yang telah menjadi my heart, maka tidak penting lagi perbedaan di antaranya. My heart telah menyamakan semuanya sebagai sesuatu yang pas dengan suasana hati saat ini. Tak peduli apakah my heart telah menjadi sweet heart ataupun sweat my heart. Inilah konteks budaya populer Indonesia hari ini: seorang murid SD yang telah mengenal dan menduakan cinta sehingga bingung harus memilih satu di antara dua wanita. Di antara latar belakang lagu aku ini pencinta wanita, seorang murid SD menyatakan keinginannya untuk menjadikan si dia sebagai pacarnya. Ancuur, bagaimana nih, koq KPI diam saja melihat sinetron seperti ini di ruang publik. Sementara sebagai orang tua yang membimbing anak-anak pada saat nonton televisi, sungguh perasaanku terharu biru ketika kulihat anakku yang belum berumur 8 tahun tersenyum malu-malu melihat percintaan anak monyet versi my heart yang membuat sweat my heart.
Koq tega bener sih stasiun SCTV menayangkan acara yang berdampak moral sangat besar terhadap tunas bangsa. Kalau korbanya acara smack down adalah mati dengan kepala bengkak, maka calon korbannya my heart memang tidak akan mati tapi hanya perutnya yang bengkak seperti padi membunting.
Terbersitlah suara dengan panjang gelombang lamda1 yang menimbulkan perasaan cinta dan lamda2 yang menimbulkan perasaan murka. Interaksi nada dan irama masing-masing lamda dilakukan dengan pitch control yang sangat prima oleh seorang aktor berbakat alam sehingga menghasilkan warna bunyi yang sexy abiis dan penuh ornamen watak. Keindahan tafsir aktor yang sangat melek-nada ini benar-benar menghasilkan nada yang sebenar-benarnya nada (gracias!). Hidup serasa hampa tanpa kehadirannya, dan kehidupan serasa tak bermakna tanpa dirinya, my heart yang sweet hart membuat sweat my heart.
Inilah sebenar-benarnya hidup dimana kebetulan telah sama dengan kebenaran yang dimanipulasi secara gramatikal. Jika kita memilih secara benar, maka itulah sesuatu yang betul. Padanan kata betul dengan benar adalah tafsir leksikal antara true, truth dan right. Untuk seluruh dimensi yang telah menjadi my heart, maka tidak penting lagi perbedaan di antaranya. My heart telah menyamakan semuanya sebagai sesuatu yang pas dengan suasana hati saat ini. Tak peduli apakah my heart telah menjadi sweet heart ataupun sweat my heart. Inilah konteks budaya populer Indonesia hari ini: seorang murid SD yang telah mengenal dan menduakan cinta sehingga bingung harus memilih satu di antara dua wanita. Di antara latar belakang lagu aku ini pencinta wanita, seorang murid SD menyatakan keinginannya untuk menjadikan si dia sebagai pacarnya. Ancuur, bagaimana nih, koq KPI diam saja melihat sinetron seperti ini di ruang publik. Sementara sebagai orang tua yang membimbing anak-anak pada saat nonton televisi, sungguh perasaanku terharu biru ketika kulihat anakku yang belum berumur 8 tahun tersenyum malu-malu melihat percintaan anak monyet versi my heart yang membuat sweat my heart.
Koq tega bener sih stasiun SCTV menayangkan acara yang berdampak moral sangat besar terhadap tunas bangsa. Kalau korbanya acara smack down adalah mati dengan kepala bengkak, maka calon korbannya my heart memang tidak akan mati tapi hanya perutnya yang bengkak seperti padi membunting.
Monday, April 23, 2007
Thread Ligthly
Thread lightly begitu ringan melompat-lompat dalam irama jazz, yang begitu kentara memberikan ruang untuk improvisasi dan kesempatan untuk merefleksikan kepiawaian ancamannya. Begitulah ancaman dalam kehidupan terwujud dengan nyata dan terkadang lembut seperti air Bengawan Solo menggenangi desa dan bantaran sepanjang bengawan menuju muara. Semakin dekat dengan muara, semakin besar ancaman genangan itu karena berkolaborasi dengan pasang air laut yang bersifat siklus bulanan. Lalu kita terhenyak dan terbenam dalam lumpur, dimana analogi bernafas dalam lumpur adalah sarkasme bercampur personifikasi yang meniskalakan hidup normal sebagai suatu kemewahan.
Demikianlah perjalanan hidup suatu ketika. Suatu ketika kita menyadari thread lightly adalah sifat alamiah kehidupan manusia. Kita hidup di negeri bencana dimana satu bencana akan memicu bencana berikutnya. Demikian pula jika kita salah memasuki babak sandiwara kehidupan, dimana ketika babak pertama harus berganti dengan babak belur. Kesalahan (kalau memang bisa disebut kesalahan), akan membawa pada jalur kesalahan berikutnya. Demikianlah masalah berteman dengan masalah dalam peternakan masalah kita.
Lalu ketika kita memutuskan sesuatu yang akan kita jalani, dan ternyata rencana strategis itu hanyalah rencana yang dibangun seperti piramida kertas, dimana kesalahan dalam salah satu pasal di dalam lembar kertas itu bisa menyebabkan bisa dalam arti yang mematikan, dan perlahan-lahan kita menyadari dan melihat lembar demi lembar kertas dalam piramida kehidupan kita bertebaran jatuh berserakan. Ketika musim gugur tiba, autumn leaves adalah sumber inspirasi yang mencerahkan, dan terbukti banyak seniman yang tercerahkan dengan penasbihan karya-karya monumental tentang hikayat daun-daun berguguran.
Tetapi ketika sebagian jiwamu terikat erat dalam lembaran di atas piramida kertas, tatkala salah satu susunan kertasmu keliru kau tuliskan, maka kertas-kertas yang berguguran adalah nyeri dada bak serangan jantung koroner menanti lembar-lembar terakhirmu rontok ke lantai, seiring dengan nyeri yang semakin tajam menarik tali jiwamu dari raga yang penuh penyesalan. Tak ada keindahan dan pencerahan di sana. Yang bisa didapatkan hanyalah kesakitan dan pembelajaran. No pain no gain. Terlalu banyak kesakitan yang diderita memerlukan counterpain untuk meringankan penderitaan, meluruskan dan menata kembali otot-otot yang kusut menjadikan hidup normal kembali.
Counterpain bukanlah melulu salep yang dioles kebagian yang sakit. Counterpain ini adalah keberanian jiwa dan akal pikiran untuk melakukan langkah pengorbanan demi menggapai kemenangan akhir. Mengorbankan kenikmatan hidup demi pencapaian sesuatu yang lebih hidup adalah philosofi hidup yang sebenar-benarnya: ”Memang hidup ini susah, tetapi lebih susah lagi kalau tidak bisa hidup!” kataku sambil bersiul di dalam kabut misteri kehidupan.
Lihatlah dalam sinar bulan di malam dingin yang mencekam, kita akan menemukan jalan di balik kelap-kelip cahaya aurora di ujung sana. Waktunya tidak akan lama, sebentar lagi tibalah saatnya memanggul pelangi di atas pundak, dan membawakan semburat warna-warni keceriaan di dunia yang semakin muram. Hai, lagi-lagi hukum thermodinamika mewujudkan kebenarannya dalam teori panah waktu, entropi semakin meningkat secara spontan dengan bertambahnya waktu. Setidaknya, inilah sebagian retorika dibalik logika. Di balik entropi tersimpan wacana Tuhan akan kehidupan setelah kehidupan.
Demikianlah perjalanan hidup suatu ketika. Suatu ketika kita menyadari thread lightly adalah sifat alamiah kehidupan manusia. Kita hidup di negeri bencana dimana satu bencana akan memicu bencana berikutnya. Demikian pula jika kita salah memasuki babak sandiwara kehidupan, dimana ketika babak pertama harus berganti dengan babak belur. Kesalahan (kalau memang bisa disebut kesalahan), akan membawa pada jalur kesalahan berikutnya. Demikianlah masalah berteman dengan masalah dalam peternakan masalah kita.
Lalu ketika kita memutuskan sesuatu yang akan kita jalani, dan ternyata rencana strategis itu hanyalah rencana yang dibangun seperti piramida kertas, dimana kesalahan dalam salah satu pasal di dalam lembar kertas itu bisa menyebabkan bisa dalam arti yang mematikan, dan perlahan-lahan kita menyadari dan melihat lembar demi lembar kertas dalam piramida kehidupan kita bertebaran jatuh berserakan. Ketika musim gugur tiba, autumn leaves adalah sumber inspirasi yang mencerahkan, dan terbukti banyak seniman yang tercerahkan dengan penasbihan karya-karya monumental tentang hikayat daun-daun berguguran.
Tetapi ketika sebagian jiwamu terikat erat dalam lembaran di atas piramida kertas, tatkala salah satu susunan kertasmu keliru kau tuliskan, maka kertas-kertas yang berguguran adalah nyeri dada bak serangan jantung koroner menanti lembar-lembar terakhirmu rontok ke lantai, seiring dengan nyeri yang semakin tajam menarik tali jiwamu dari raga yang penuh penyesalan. Tak ada keindahan dan pencerahan di sana. Yang bisa didapatkan hanyalah kesakitan dan pembelajaran. No pain no gain. Terlalu banyak kesakitan yang diderita memerlukan counterpain untuk meringankan penderitaan, meluruskan dan menata kembali otot-otot yang kusut menjadikan hidup normal kembali.
Counterpain bukanlah melulu salep yang dioles kebagian yang sakit. Counterpain ini adalah keberanian jiwa dan akal pikiran untuk melakukan langkah pengorbanan demi menggapai kemenangan akhir. Mengorbankan kenikmatan hidup demi pencapaian sesuatu yang lebih hidup adalah philosofi hidup yang sebenar-benarnya: ”Memang hidup ini susah, tetapi lebih susah lagi kalau tidak bisa hidup!” kataku sambil bersiul di dalam kabut misteri kehidupan.
Lihatlah dalam sinar bulan di malam dingin yang mencekam, kita akan menemukan jalan di balik kelap-kelip cahaya aurora di ujung sana. Waktunya tidak akan lama, sebentar lagi tibalah saatnya memanggul pelangi di atas pundak, dan membawakan semburat warna-warni keceriaan di dunia yang semakin muram. Hai, lagi-lagi hukum thermodinamika mewujudkan kebenarannya dalam teori panah waktu, entropi semakin meningkat secara spontan dengan bertambahnya waktu. Setidaknya, inilah sebagian retorika dibalik logika. Di balik entropi tersimpan wacana Tuhan akan kehidupan setelah kehidupan.
Teori Domino dalam Organisasi
Dalam setiap permainan, selalu ada yang menang dan yang kalah. Dalam realitas, hanya ada satu tempat yang terbaik bagi si pemenang dan si kalah harus rela duduk di bangku permainan, tanpa menjadi siapa-siapa.
Hidup ini adalah sebuah permainan, dan melalui permainan kita dapat meningkatkan pemahaman kita tentang hidup dan kehidupan, termasuk berorganisasi. Manusia adalah Homo ludens, makhluk yang bermain, dan sudah banyak teori tentang permainan yang berkembang di dalam masyarakat, tetapi yang paling universal dan tua mungkin adalah sebuah permainan yang disebut domino.
Teori domino yang saya kemukakan disini bukanlah teori domino neo-klasik tentang kekhawatiran Amerika akan bahaya merah seiiring dengan rontoknya Vietnam Selatan yang seakan-akan mengecat Asia Tenggara menjadi area merah dalam peta dunia di gedung putih.
Teori domino yang saya kemukakan adalah teori domino klasik yang merupakan suatu analogi proses pembinaan modal insani (human capital) dalam konteks organisasi mencapai visi dan misinya sesuai dengan yang diamanatkan dalam anggaran dasar setiap organisasi.
Siapa orang yang tidak kenal permainan domino? Rasanya boleh dikatakan hampir setiap orang mengenal permainan dengan kartu yang bertotol-totol merah itu. Aturan permainannya pun sangat sederhana, yaitu jika suatu kelompok 4 orang memainkan 7 kartu, maka siapa yang paling dahulu menurunkan atau menghabiskan kartunya maka dia menjadi juara.
Dalam setiap permainan, selalu ada yang menang dan yang kalah. Dalam realitas, hanya ada satu tempat yang terbaik bagi si pemenang dan si kalah harus rela duduk di bangku permainan, tanpa menjadi siapa-siapa. Wajar bila pecundang mendapat hukuman, dan jaman ketika saya masih kecil dahulu biasanya yang kalah akan diberi gantungan ‘batu betere’ di telinganya. Dalam versi yang sedikit berbeda, mungkin hukuman itu diberikan dengan hiasan berupa ‘jepitan jemuran’ di telinga. Semakin sering anda kalah dalam permainan ini, semakin banyak batu batere atau jepitan jemuran yang menghiasi telinga anda.
Bila anda berada dalam situasi yang kalah, maka permainan anda akan tertekan karena adanya suatu keinginan untuk segera memenangkan permainan supaya beban jepitan segera dilepaskan. Semakin tertekan permainan anda, semakin rusak penampilan anda, dan akhirnya sebuah jepitan baru bertambah lagi di telinga anda.
Jika jepitan itu sudah sedemikian indahnya sehingga membentuk bunga di kedua telinga anda, maka anda harus siap ditertawakan oleh para pemain lainnya. Mereka akan semakin keras tertawa untuk merusak permainan anda, sehingga anda semakin kalah dan mereka tetap rileks sebagai pemenang. Karena jepitan yang semakin menekan, anda mungkin mulai menginginkan keajaiban untuk memenangkan pertandingan dengan membuat angka ganda (double strike), sehingga angka awal permainan sama dengan angka terakhir yang anda turunkan, dan semua jepitan akan lepas dari telinga anda.
Godaan untuk memenangkan pertandingan dengan double strike semakin menjadi obsesi, dan kadang kala anda mulai menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Jalan pintas berupa berbagai bentuk kecurangan mungkin mulai dipraktekkan, entah dengan menukar kartu secara diam-diam atau melakukan tindakan ilegal lainnya.
Akhirnya setelah semua usaha gagal dilakukan, permainan terpaksa dihentikan karena sudah tidak ada lagi tempat yang tersisa di kedua telinga untuk menerima jepitan jemuran itu lagi. Telinga sudah merah, dan anda kalah. Anda harus keluar dari permainan. Karir anda sebagai seorang pemain telah tamat.
Dalam dunia bisnis, permainan yang serupa terjadi di dalam setiap organisasi. Setiap orang, baik pimpinan maupun bawahannya akan memainkan permainannya, dan setiap orang ingin memenangkannya. Namun malangnya, tidak setiap orang dapat menjadi pemenang, dan orang yang paling baik komposisi kartunya (biasanya berkorelasi positif dengan wewenang struktural) cenderung akan memenangkan pertandingan, dengan mendikte permainan sesuai yang diinginkannya.
Komposisi kartu yang baik tidak mutlak akan memenangkan permainan. Kartu yang jelek juga tidak mutlak akan selalu kalah. Bagaimana mengetahui kelemahan diri dan kekuatan diri sendiri, akan menjadi modal untuk mengadu kartu yang dimiliki. Bila sudah jelas kuat dilawan dengan kuat, dan kita tahu bahwa kita tidak cukup kuat untuk mengatasinya, bermain pintar mungkin merupakan alternatif solusinya. Kalah diawal, seimbang ditengah, dan menang diakhir bisa dilakukan jika anda cukup pandai bermain dan membaca situasi.
Bila seorang bawahan anda terpaksa kalah dalam permainan yang anda ciptakan, ia akan tertekan dan berusaha segera membayar kekalahannya. Dalam situasi depresi, kemampuan bawahan akan semakin menurun dan hasilnya semakin mengecewakan.
Dalam permainan domino, si kalah akan ditertawakan. Dalam organisasi, si kalah akan dilecehkan. Dunia bisnis adalah pulau-pulau dengan samudera raya yang luas dan ganas, dan di lautan itu semua orang adalah hiu yang berenang dengan sekelompok hiu lain. Jika anda normal, semua hiu adalah teman, tetapi jika anda kalah dan mulai berdarah, semua yang mengatakan dirinya teman anda justru akan berusaha mencabik-cabik dan memangsa anda. Inilah kenyataan hidup hiu di samudra raya dunia bisnis.
Terkaman dari sesama hiu adalah metafora dari bentuk pelecehan dan penghinaan yang tercipta di dalam organisasi. Hiu yang luka akan berjuang supaya jangan mati dengan semangat yang sangat mengagumkan. Karyawan yang terluka dan merasa dikalahkan akan mengambil jalan pintas untuk mengatasi masalahnya. Ia akan berusaha menyelesaikan permainannya dengan double strike, dan dalam kehidupan nyata sangat jelas terlihat seperti pada jaman SDSB masih diperbolehkan dahulu: gali lubang tutup lubang. Semakin banyak lubang digali dan ditutup, akhirnya terperosok dalam lubang yang digalinya sendiri. Dalam metafora hiu, maka hiu itu akan mati tercabik-cabik secara mengerikan oleh sesama hiu dalam tatanan organisasi hiu tersebut. Sejumlah bakat yang mungkin sangat mengagumkan telah lenyap karena sistemnya tidak dapat menerimanya.
Perusahaan sebagai organisasi yang sarat dengan permainan tidak akan lepas dari ‘politik kantoran’ (office politic) dan intrik. Setiap orang yang masuk ke dalam pusat kekuasaan, cenderung tergoda untuk memuaskan dirinya untuk selalu menjadi pemenang dan mendiktekan keinginannya dalam setiap permainan. Dalam realita di lautan organisasi, politik kantoran adalah tingkatan lebih tinggi dari metafora hiu, karena politik kantoran telah menciptakan suatu mekanisme sistem yang mengatur hiu mana yang harus dilukai, dan hiu mana yang harus dipelihara keberadaannya karena memang termasuk hiu jinak yang tidak akan membahayakan sistemnya, demi melanggengkan suatu cara untuk tetap berkuasa.
Management by conflict yang sering dijumpai dalam organisasi yang terlanjur besar, adalah proses penciptaan makhluk meta-virtual yang mungkin lebih ganas dari pada hiu dan suatu saat akan berubah ujud menjadi suatu kekuatan yang akan menerkam sang kreator bila mereka melihat pusat kekuasaannya sudah mulai melemah karena proses penuaan organisasi ataupun di intervensi oleh kekuatan lain yang lebih besar dari luar perusahaan. Melalui permainan domino, permainan dapat dinikmati oleh semua orang, apabila seorang pimpinan tidak selalu harus menang dalam setiap sesi, walaupun secara struktural ia mampu mendikte permainan.
Pemimpin yang baik, secara arif dan bijak, akan membuat permainan berjalan secara adil. Ia tidak akan mencemooh si kalah tetapi membesarkan hatinya, sehingga beban yang ditanggung akan berkurang dan masih mengharapkannya memenangkan sesi selanjutnya. Dengan permainan yang adil dan seimbang, tidak akan ada karyawan yang berusaha mengambil jalan pintas untuk melakukan penghalalan segala cara demi memenangkan permainan. Pemimpin yang baik akan bersedia menerima hukuman apabila ia terbukti salah dan kalah dalam permainan yang aturannya telah ia gariskan sendiri.
Apakah seorang pemimpin yang baik, dalam suatu permainan di lautan organisasi, akan membiarkan sesama awak perahunya saling mencabik demi kemenangan departemennya masing-masing, sementara haluan kapal itu entah mengarah kemana? Dan apakah seorang pemimpin akan mendapat respek dari bawahannya apabila ia terbukti berbuat salah dalam keputusannya, tetapi ia tetap ngotot untuk menjalankannya? Atau adilkah seorang pemimpin yang menggantung suatu keputusan sehingga permainan tertunda dan membiarkan para pemain lain menunggu dengan telinga penuh jepitan? Bermain domino dalam waktu senggang tidak memperdulikan harus menang atau kalah, tetapi bermain domino dalam organisasi adalah suatu kearifan dan seni yang membutuhkan jiwa besar, baik bagi yang sedang menang maupun yang sedang kalah.
Hidup ini adalah sebuah permainan, dan melalui permainan kita dapat meningkatkan pemahaman kita tentang hidup dan kehidupan, termasuk berorganisasi. Manusia adalah Homo ludens, makhluk yang bermain, dan sudah banyak teori tentang permainan yang berkembang di dalam masyarakat, tetapi yang paling universal dan tua mungkin adalah sebuah permainan yang disebut domino.
Teori domino yang saya kemukakan disini bukanlah teori domino neo-klasik tentang kekhawatiran Amerika akan bahaya merah seiiring dengan rontoknya Vietnam Selatan yang seakan-akan mengecat Asia Tenggara menjadi area merah dalam peta dunia di gedung putih.
Teori domino yang saya kemukakan adalah teori domino klasik yang merupakan suatu analogi proses pembinaan modal insani (human capital) dalam konteks organisasi mencapai visi dan misinya sesuai dengan yang diamanatkan dalam anggaran dasar setiap organisasi.
Siapa orang yang tidak kenal permainan domino? Rasanya boleh dikatakan hampir setiap orang mengenal permainan dengan kartu yang bertotol-totol merah itu. Aturan permainannya pun sangat sederhana, yaitu jika suatu kelompok 4 orang memainkan 7 kartu, maka siapa yang paling dahulu menurunkan atau menghabiskan kartunya maka dia menjadi juara.
Dalam setiap permainan, selalu ada yang menang dan yang kalah. Dalam realitas, hanya ada satu tempat yang terbaik bagi si pemenang dan si kalah harus rela duduk di bangku permainan, tanpa menjadi siapa-siapa. Wajar bila pecundang mendapat hukuman, dan jaman ketika saya masih kecil dahulu biasanya yang kalah akan diberi gantungan ‘batu betere’ di telinganya. Dalam versi yang sedikit berbeda, mungkin hukuman itu diberikan dengan hiasan berupa ‘jepitan jemuran’ di telinga. Semakin sering anda kalah dalam permainan ini, semakin banyak batu batere atau jepitan jemuran yang menghiasi telinga anda.
Bila anda berada dalam situasi yang kalah, maka permainan anda akan tertekan karena adanya suatu keinginan untuk segera memenangkan permainan supaya beban jepitan segera dilepaskan. Semakin tertekan permainan anda, semakin rusak penampilan anda, dan akhirnya sebuah jepitan baru bertambah lagi di telinga anda.
Jika jepitan itu sudah sedemikian indahnya sehingga membentuk bunga di kedua telinga anda, maka anda harus siap ditertawakan oleh para pemain lainnya. Mereka akan semakin keras tertawa untuk merusak permainan anda, sehingga anda semakin kalah dan mereka tetap rileks sebagai pemenang. Karena jepitan yang semakin menekan, anda mungkin mulai menginginkan keajaiban untuk memenangkan pertandingan dengan membuat angka ganda (double strike), sehingga angka awal permainan sama dengan angka terakhir yang anda turunkan, dan semua jepitan akan lepas dari telinga anda.
Godaan untuk memenangkan pertandingan dengan double strike semakin menjadi obsesi, dan kadang kala anda mulai menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Jalan pintas berupa berbagai bentuk kecurangan mungkin mulai dipraktekkan, entah dengan menukar kartu secara diam-diam atau melakukan tindakan ilegal lainnya.
Akhirnya setelah semua usaha gagal dilakukan, permainan terpaksa dihentikan karena sudah tidak ada lagi tempat yang tersisa di kedua telinga untuk menerima jepitan jemuran itu lagi. Telinga sudah merah, dan anda kalah. Anda harus keluar dari permainan. Karir anda sebagai seorang pemain telah tamat.
Dalam dunia bisnis, permainan yang serupa terjadi di dalam setiap organisasi. Setiap orang, baik pimpinan maupun bawahannya akan memainkan permainannya, dan setiap orang ingin memenangkannya. Namun malangnya, tidak setiap orang dapat menjadi pemenang, dan orang yang paling baik komposisi kartunya (biasanya berkorelasi positif dengan wewenang struktural) cenderung akan memenangkan pertandingan, dengan mendikte permainan sesuai yang diinginkannya.
Komposisi kartu yang baik tidak mutlak akan memenangkan permainan. Kartu yang jelek juga tidak mutlak akan selalu kalah. Bagaimana mengetahui kelemahan diri dan kekuatan diri sendiri, akan menjadi modal untuk mengadu kartu yang dimiliki. Bila sudah jelas kuat dilawan dengan kuat, dan kita tahu bahwa kita tidak cukup kuat untuk mengatasinya, bermain pintar mungkin merupakan alternatif solusinya. Kalah diawal, seimbang ditengah, dan menang diakhir bisa dilakukan jika anda cukup pandai bermain dan membaca situasi.
Bila seorang bawahan anda terpaksa kalah dalam permainan yang anda ciptakan, ia akan tertekan dan berusaha segera membayar kekalahannya. Dalam situasi depresi, kemampuan bawahan akan semakin menurun dan hasilnya semakin mengecewakan.
Dalam permainan domino, si kalah akan ditertawakan. Dalam organisasi, si kalah akan dilecehkan. Dunia bisnis adalah pulau-pulau dengan samudera raya yang luas dan ganas, dan di lautan itu semua orang adalah hiu yang berenang dengan sekelompok hiu lain. Jika anda normal, semua hiu adalah teman, tetapi jika anda kalah dan mulai berdarah, semua yang mengatakan dirinya teman anda justru akan berusaha mencabik-cabik dan memangsa anda. Inilah kenyataan hidup hiu di samudra raya dunia bisnis.
Terkaman dari sesama hiu adalah metafora dari bentuk pelecehan dan penghinaan yang tercipta di dalam organisasi. Hiu yang luka akan berjuang supaya jangan mati dengan semangat yang sangat mengagumkan. Karyawan yang terluka dan merasa dikalahkan akan mengambil jalan pintas untuk mengatasi masalahnya. Ia akan berusaha menyelesaikan permainannya dengan double strike, dan dalam kehidupan nyata sangat jelas terlihat seperti pada jaman SDSB masih diperbolehkan dahulu: gali lubang tutup lubang. Semakin banyak lubang digali dan ditutup, akhirnya terperosok dalam lubang yang digalinya sendiri. Dalam metafora hiu, maka hiu itu akan mati tercabik-cabik secara mengerikan oleh sesama hiu dalam tatanan organisasi hiu tersebut. Sejumlah bakat yang mungkin sangat mengagumkan telah lenyap karena sistemnya tidak dapat menerimanya.
Perusahaan sebagai organisasi yang sarat dengan permainan tidak akan lepas dari ‘politik kantoran’ (office politic) dan intrik. Setiap orang yang masuk ke dalam pusat kekuasaan, cenderung tergoda untuk memuaskan dirinya untuk selalu menjadi pemenang dan mendiktekan keinginannya dalam setiap permainan. Dalam realita di lautan organisasi, politik kantoran adalah tingkatan lebih tinggi dari metafora hiu, karena politik kantoran telah menciptakan suatu mekanisme sistem yang mengatur hiu mana yang harus dilukai, dan hiu mana yang harus dipelihara keberadaannya karena memang termasuk hiu jinak yang tidak akan membahayakan sistemnya, demi melanggengkan suatu cara untuk tetap berkuasa.
Management by conflict yang sering dijumpai dalam organisasi yang terlanjur besar, adalah proses penciptaan makhluk meta-virtual yang mungkin lebih ganas dari pada hiu dan suatu saat akan berubah ujud menjadi suatu kekuatan yang akan menerkam sang kreator bila mereka melihat pusat kekuasaannya sudah mulai melemah karena proses penuaan organisasi ataupun di intervensi oleh kekuatan lain yang lebih besar dari luar perusahaan. Melalui permainan domino, permainan dapat dinikmati oleh semua orang, apabila seorang pimpinan tidak selalu harus menang dalam setiap sesi, walaupun secara struktural ia mampu mendikte permainan.
Pemimpin yang baik, secara arif dan bijak, akan membuat permainan berjalan secara adil. Ia tidak akan mencemooh si kalah tetapi membesarkan hatinya, sehingga beban yang ditanggung akan berkurang dan masih mengharapkannya memenangkan sesi selanjutnya. Dengan permainan yang adil dan seimbang, tidak akan ada karyawan yang berusaha mengambil jalan pintas untuk melakukan penghalalan segala cara demi memenangkan permainan. Pemimpin yang baik akan bersedia menerima hukuman apabila ia terbukti salah dan kalah dalam permainan yang aturannya telah ia gariskan sendiri.
Apakah seorang pemimpin yang baik, dalam suatu permainan di lautan organisasi, akan membiarkan sesama awak perahunya saling mencabik demi kemenangan departemennya masing-masing, sementara haluan kapal itu entah mengarah kemana? Dan apakah seorang pemimpin akan mendapat respek dari bawahannya apabila ia terbukti berbuat salah dalam keputusannya, tetapi ia tetap ngotot untuk menjalankannya? Atau adilkah seorang pemimpin yang menggantung suatu keputusan sehingga permainan tertunda dan membiarkan para pemain lain menunggu dengan telinga penuh jepitan? Bermain domino dalam waktu senggang tidak memperdulikan harus menang atau kalah, tetapi bermain domino dalam organisasi adalah suatu kearifan dan seni yang membutuhkan jiwa besar, baik bagi yang sedang menang maupun yang sedang kalah.
Friday, April 20, 2007
Adakah yang Akan Mendoakan Kita?
Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Disaat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia Roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.
Malaikat memulai pembicaraan, "kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia! Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang ... " kata si Pengusaha ini dengan yakinnya. Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati. Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali merngunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit." Dengan lembut si Malaikat berkata, "anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu." Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka." Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu." Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, "Tuhan, aku tau kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tau dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tau dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat. Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi Pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya. Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang! Dengan setengah bergumam dia bertanya, "apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku, teman kuliahku tidak ada yang berdoa buatku?" Jawab si Malaikat, "Ada beberapa yang berdoa buatmu tapi merekatidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah." Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam. Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu. Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00." Dengan terheran-heran dan tidak percaya,si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu. Bukankah itu Panti Asuhan? kata si pengusaha pelan. Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tau tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.
Malaikat memulai pembicaraan, "kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia! Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang ... " kata si Pengusaha ini dengan yakinnya. Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati. Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali merngunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit." Dengan lembut si Malaikat berkata, "anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu." Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka." Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu." Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, "Tuhan, aku tau kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tau dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tau dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat. Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi Pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya. Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang! Dengan setengah bergumam dia bertanya, "apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku, teman kuliahku tidak ada yang berdoa buatku?" Jawab si Malaikat, "Ada beberapa yang berdoa buatmu tapi merekatidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah." Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam. Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu. Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00." Dengan terheran-heran dan tidak percaya,si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu. Bukankah itu Panti Asuhan? kata si pengusaha pelan. Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tau tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
