Wednesday, May 21, 2008

Berselancar Dalam Lautan Kehidupan

Mencari keseimbangan adalah opsi dasar dari suatu pendekatan ekonomi atas nama penawaran dan permintaan. Berselancar dalam lautan kehidupan adalah opsi lain yang tidak sekedar meletakkan seorang pribadi sebagai obyek, tetapi menciptakan takdirnya sendiri melalui mekanisme subyektivitas. Jika meluncur adalah memanfaatkan dorongan lingkungan untuk mencari jalan yang nyaman dan seimbang, maka berselancar adalah fungsi dari suatu proses peluncuran. Banyak filsafat dan kejadian yang becerita dan bertualang di antara seputar issue keseimbangan, mulai dari konsep yin dan yang (positif dan negatif) pada bangsa Tiongkok Kuno sampai pendekatan penyanyi dangdut Vetty Vera yang ingin ”sedang-sedang saja.”
Keseimbangan menjadi dasar dari pondasi ilmu ekonomi, dimana keuntungan optimal tercipta pada situasi biaya marginal sama dengan pendapatan marginal. Situasi ini dapat didetekesi pada uji turunan pertama dan uji turunan kedua. Secara berseloroh, saya katakan bahwa fungsi kebalikan (inverse) dari logarithmic natural (ln) t adalah nilai dari turunan ln t (baca: turunan lon te) = 1/t (baca: seperte). Seperte siapa, seperte kau! Itupun sah-sah saja bagi seorang sastrawan untuk mengaktuliasasikan opininya secara matematis: 2 x d/cos a (baca: dua kali de per kos a) = en.ak. Bagi seorang sastrawan, pemerkosaan adalah peristiwa yang mengoyak nurani, tetapi bila dua kali diperkosa dan logika subyektivitas memunculkan pembiasaan mekanis sehingga muncul bilangan e pangkat n dikombinasikan dengan kejadian a (perkosaan) yang kesekian kali (pangkat k), maka ini adalah subyektivitas ala voucher isi ulang.
Konon Bapak Mendiknas Prof. Bambang Soedibyo adalah figur yang angker dan kurang suka berinteraksi dengan pendekatan humor. Padahal menurut suatu studi yang sempat saya baca sambil lalu di koran beberapa hari yang lalu (ini toh bukan disertasi, sehingga tidak perlu tinjauan pustaka yang rigid), semakin tinggi respon seseorang terhadap humor, semakin tinggi tingkat kinerjanya di dunia nyata (pantas saja UN menebarkan teror di kalangan pelajar, sampai-sampai anak saya ketakutan tidak lulus UN karena merasa kurang tebal menghitamkan lembar jawaban). Ceritanya adalah seorang wanita yang lapor ke polisi karena diperkosa oleh seorang lelaki. Pada waktu proses verbal dalam pembuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP), bapak polisi bertanya: ”Apakah betul kamu diperkosa?” Spontan si wanita menjawab: ”Ya, Pak!” Bapak polisi bertanya kembali sambil mengetik: ”Menurut pengakuan pihak laki-laki, anda berhubungan intim 2 kali. Apakah itu berarti anda diperkosa?” Sambil tersipu wanita itu berkata: ”Saya diperkosa pak, tapi kalau yang kedua itu kan isi ulang, pak.” Logika subyektivitas inipun tetap tidak bisa membuat Bapak Mendiknas tersenyum, sehingga sang pelaku yang berusaha mencairkan suasana tetap tidak bisa mencair. Kesimpulan 2 x d/cos a = en.ak ternyata valid secara kontekstual sesaat (untuk premis ini, saya siap diserang para pembela kesetaraan gender).
Kembali ke konsep berselancar dengan optimalisasi melalui suatu keseimbangan, sesuatu yang secara teori dan konsep benar-benar bagus, ternyata pada saat diimplementasikan menjadi tidak bagus. Bahasa ilmiahnya adalah flaw execution, sesuatu yang jelas-jelas harus dijauhi dan dibuang dari sebuah kisah sukses sebagaimana yang ditulis Prof. Nitin Nohria dalam salah satu artikel di Harvard Business Review tahun 2003. Eksekusi yang menyimpang, seperti konsep pemerintah memindahkan sebagian dana subsidi BBM kepada masyarakat miskin melalui BLT (bantuan langsung tunai), adalah sesuatu yang cantik di atas kertas, tetapi sangat buruk rupa di atas tanah (dunia nyata).
Berselancar dengan lancar adalah kinerja yang sesuai antara strategi dan implementasi. Menterjemahkan strategi menjadi kinerja di lapangan telah dibahas oleh Norton dan Kaplan dengan pendekatan Balanced Scorecard dan Strategy Map. Lengah sedikit saja dalam menyesuaikan dua fungsi yang berlawanan, peristiwa berselancar akan menjadi peristiwa terjengkang atau terjerembab dan mendarat secara kasar dan menyakitkan dalam suatu panggung kehidupan. Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah pendekatan konseptual untuk mempelajari mekanisme berselancar dalam kaitannya dengan pembentukan suatu teori sebagaimana dikemukakan oleh R. Dubin (1978) dalam buku berjudul Theory Building (Rev. Ed), The Free Press, MacMillan, New York. Teori Dubin mengatakan bahwa efektivitas suatu strategi dipengaruhi oleh proses pembelajaran, model mental, pembuatan keputusan, dan kinerja. Dalam konteks cita-cita menjadi seorang Doktor, strategi generik yang diterapkan adalah mencari irisan antara waktu penyelesaian studi dengan indeks prestasi, sehingga menjadi visi pribadi: lulus sebelum waktu studi berakhir (dua tahun) dengan indeks prestasi sempurna (4,00). Dalam kenyataannya, berapa orangkah yang bisa mengimplementasikan visinya menjadi kinerja (kenyataan). Dubin mengatakan bahwa strategi yang baik sekalipun tetap membutuhkan proses pembelajaran untuk bisa dilaksanakan dengan baik.
Karena adanya hambatan dalam suatu proses transmisi, V = I.R (hukum Ohm), maka semakin rumit suatu strategi akan menyebabkan energi pembelajaran untuk memahaminya semakin banyak diperlukan, akibat keterbatasan manusia maka terjadi proses reduksi I. Orang yang telah berhasil mepelajari suatu strategi dengan pemahaman di atas rata-rata, ternyata tidak bebas nilai, sehingga model mentalnya baik secara sengaja atau tidak sengaja, mensortir informasi yang akan disaring ke dalam otaknya, dan hanya menyimpan apa yang dia inginkan (suka). Tidak ada orang yang dapat merubah kenyataan ini. Terjadi lagi proses reduksi II. Dengan segala prasangka dan nilai-nilai yang dianut sejak kecil, orang membuat keputusan. Karena keterbatasan data dan fakta, bisa saja suatu keputusan kehilangan elemen sentral dan menghasilkan bias ala BLT yang akan menjadi proses reduksi III. Kemalangan terus berlanjut (bahkan Universitas Negeri Malang diterjemahkan menjadi Unfortunate State University), dimana keputusan yang terlanjur bias dijalankan tanpa persiapan dan antisipasi masalah potensial yang baik, sehingga menimbulkan komplikasi yang berbuntut maksud tak sampai dan menjadi proses reduksi IV. Rektor IPB melalui running text Metro TV telah membuat statemen sebaiknya BLT diganti dengan proyek padat karya, yang tujuannya sama-sama bagi uang tetapi dilaksanakan atas dasar pekerjaan. Masalah jalan yang dibangun tiga bulan kemudian hancur, itu urusan lain. Dasar keyakinannya adalah: Apakah bangsa ini sudah sedemikan hancur sehingga tidak bisa berbuat apa-apa lagi yang bermanfaat bagi manusia dan alam sekitarnya. Rasa-rasanya tidak, kan?
Sebagai pembanding, Australia memberikan BLT kepada rakyatnya yang termasuk kelas masyarakat miskin. Dengan uang ala kadarnya tersebut jelas BLT dimaksudkan untuk memberikan fasilitas penghangat di musim dingin supaya mereka jangan mati di jalanan. Tuhan maha adil, syukurlah dia ciptakan iklim yang favorabel di negara miskin seperti Indonesia. Tak terbayangkan berapa banyak orang miskin yang mati kalau Indonesia beriklim empat musim. Dan karena Tuhan Indonesia yang juga Tuhan Australia Maha Adil, DIA memberikan inspirasi kepada rakyat miskin Australia untuk menggunakan BLT ala kadarnya (standar cost of living Australia) menjadi uang pesiar ke Bali sebagai turis backpacker yang dihormati masyarakat setempat karena membawa devisa masuk. Si Miskin Australia ini bisa berjemur di pantai Kuta, memanfaatkan penginapan home stay yang murah meriah, dan mencari kehangatan gratis tanpa menyalakan mesin pemanas. Alhasil, si bule bisa pulang ke negaranya dengan kulit merah tropis yang seksi dan dianggap sebagai manusia sukses di kultur dua negara. Sukses di Australia karena dianggap mampu menikmati hidup mewah di negara eksotis dengan biaya minimum (kaidah minimalisasi), dan dihormati di Bali karena dianggap tuan pembawa devisa ke Indonesia (pelanggan adalah raja).
Berselancar dalam lautan kehidupan adalah sebuah metafora untuk menunjukkan betapa luasnya rentang variasi dalam kehidupan. Berselancar adalah belajar menyikapi perubahan dan turut memanfaatkan perubahan untuk membawa kita meniti buih dan menciumi kebahagiaan. Situasi tak terbayangkan seperti bermain di Dunia Fantasi Ancol di hari kerja dimana anak-anak sekolah dan karyawan bekerja, serasa Ancol saya yang punya: adalah suatu realitas yang kuhadapi dengan remote working (bekerja dari rumah). Kantor hanyalah suatu hardware yang dibatasi ruang dan waktu dimana saya mempostulatkan diri harus berada disana. Segampang postulat itu dirubah asumsi dan proposisinya, maka kantor yang sebenarnya adalah didalam otak saya. Dimana saya bisa berpikir tenang dan produktif, disitulah kantor saya. Lokasinya bisa dimana saja, di workstation konvensional ala penjajahan atas nama kerja, di bawah pohon rindang di depan taman koleksi, di dalam kamar tidur beraroma mimpi, di dalam mobil, di kedai kopi starbuck, di tempat pelelangan ikan di pinggir sungai Paguyaman dan Teluk Tomini, dimana saja ..........
Kuncinya adalah berselancar, kuatkan iman di atas selembar papan, yang akan memberikan kegembiraan dan kehidupan kepadamu. Inilah renunganku pada suatu malam setelah aku berhasil mentranformasi matriks kehidupan menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Sunday, April 6, 2008

Salah Urus Industri CPO Indonesia

Oleh: Iyung Pahan

Industri CPO Indonesia sedang booming karena meningkatnya pendapatan yang dipicu oleh kenaikan harga CPO internasional. Harga CPO Februari 2008 telah menyentuh level psikologis USD 1,150/ton, yang membawa dampak pada semakin mahalnya harga produk turunan CPO seperti minyak goreng dan biodiesel.


Mahalnya Harga Minyak Goreng di Negara Produsen CPO

Sistem agribisnis CPO tersusun dari subsistem pemasok (agroindustri hulu), subsistem perkebunan (pertanian), subsistem pengolahan (agroindustri hilir), dan subsistem pemasaran. Kekuatan rantai industri CPO ditentukan oleh agregat kekuatan mata rantai penyusunnya. Rantai yang paling lemah dan mengkhawatirkan adalah mata rantai pada subsistem pemasaran.
Kenaikan harga minyak goreng telah menambah beban rakyat. Pemerintah telah melakukan serangkaian tindakan reaktif seperti “menghimbau” produsen menjual minyak goreng dengan harga murah sampai penerapan instrumen fiskal berupa kenaikan pungutan ekspor CPO secara progresif.
Industri CPO adalah industri yang dipengaruhi mekanisme pasar bebas. Keseimbangan permintaan dan penawaran adalah dasar penciptaan harga. Permintaan yang meningkat dipicu oleh pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan domestik bruto, adanya masalah trans-fat yang menyebabkan sebagian industri makanan di AS beralih ke CPO, faktor konsumsi CPO Chindia (China dan India) yang terus tumbuh dengan pesat, dan perluasan pasar karena adanya tambahan permintaan biodiesel.
Struktur pasar CPO Indonesia didominasi oleh pasar internasional (75%) ketimbang diserap pasar domestik (25%). Harga domestik dipengaruhi oleh harga internasional. Konsep subsidi langsung kepada konsumen adalah konsep yang absurd dalam sistem ekonomi pasar bebas.
Upaya pemerintah mengatasi masalah fisikal dengan pendekatan fiskal belum mampu menurunkan harga minyak goreng ke level yang dianggap wajar. Kebijakan pungutan ekspor secara progresif menciptakan sentimen negatif ke pasar internasional. Pasar membaca sinyal tersebut sebagai faktor yang mengurangi volume pasokan dari Indonesia, sehingga harga internasional justru naik. Masalah fisikal CPO hanya dapat diatasi dengan mekanisme fisik model perberasan BULOG. Sejatinya, pemerintah mengembalikan sebagian pungutan ekspor untuk kemaslahatan industri CPO dalam bentuk subsidi.
Ancaman dari Pasar Uni Eropa
Parlemen Eropa membuat proposal untuk promosi penggunaan energi dari sumber yang dapat terbaharui pada tanggal 23 Januari 2008. Dalam proposal tersebut (http://www.erec.org/fileadmin/erec_docs/Documents/2008_res_directive_en.pdf) di­wajibkan kriteria biofuel dan bioliquid yang ramah lingkungan (pasal 15), verifikasi terhadap ketaatan kriteria biofuel dan bioliquid yang ramah lingkungan (pasal 16), serta kalkulasi dampak gas rumah kaca dari produksi biofuel dan bioliquid (pasal 17). Jika proposal ini disetujui Parlemen Eropa, industri CPO Indonesia akan sulit membuktikan secara ilmiah bahwa biofuel yang dihasilkan adalah ramah lingkungan, sehingga terancam larangan masuk ke Uni Eropa. Ramah lingkungan berarti penghematan emisi gas rumah kaca yang didapat dari penggunaan biofuel lebih besar dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan selama proses produksi CPO sampai menjadi biofuel.
Meningkatnya kekuatan konsumen yang digalang oleh lembaga swadaya masyarakat internasional bidang sosial maupun lingkungan, membawa seluruh pemangku kepentingan industri CPO untuk duduk bersama dalam wadah Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) guna membicarakan prinsip dan kriteria industri CPO yang ramah lingkungan. Keanggotaan RSPO tumbuh dengan pesat, dan meliputi seluruh pemangku kepentingan industri CPO internasional dari hulu ke hilir, termasuk perkebunan rakyat. Inisiatif yang digagas RSPO dapat menjadi bumerang bagi perkembangan industri CPO Indonesia jika keinginan para pemangku kepentingan yang diwakili suara konsumen industri (prosesor) dan konsumen akhir (end user) berkembang lebih cepat dari kemampuan perkebunan kelapa sawit untuk memenuhinya.
Derasnya inisiatif “swasta” internasional dalam masalah sustainability belum seimbang dengan inisiatif pemerintah. Kondisi industri CPO Indonesia saat ini belum merupakan organisasi yang berpengetahuan, karena beragamnya kualitas modal insani yang menjadi pelaku dan penunjang keberadaan sistem agribisnis CPO dalam tiap subsistemnya, serta adanya fragmentasi dan disharmoni pada tataran proses antarsubsistem, perbedaan orientasi kepentingan pada tataran struktur organisasi, serta perbedaan orientasi rentang waktu pada tataran perilaku organisasi.
Peranan pemerintah dalam industri CPO terfragmentasi pada Departemen Pertanian (subsistem perkebunan), Departemen Perindustrian (subsistem pemasok dan subsistem pengolahan), serta Departemen Perdagangan (subsistem pemasaran). Ancaman dari parlemen Eropa sejatinya merupakan domain Departemen Perdagangan, tetapi jika para pemangku kepentingan ala RSPO menyetujui kriteria yang diusulkan, pemerintah akan menghadapi dilema.
Salah urus adalah cerminan penyimpangan dari kondisi ideal. Salah urus pada level teknis dapat diperbaiki dengan pendekatan teknis. Salah urus pada level strategi akan berdampak lebih intensif pada keseluruhan organisasi dan dapat diperbaiki dengan perencanaan strategik. Salah urus pada level kebijakan akan berdampak ekstensif dan intensif pada seluruh sistem agribisnis CPO, dan ketika lingkungan eksternal tidak lagi berpihak kepada industrinya (misalnya harga CPO turun ke titik nadir), maka seluruh sistem akan terancam eksistensinya.

Thursday, January 31, 2008

Selamat Jalan Pak Harto ...

Semenit saja waktu berlalu, ketika kegagalan multiorgan terjadi dan penurunan vitalitas tak dapat dielakkan lagi, seorang negarawan akhirnya harus pergi. Tak ada pesta yang tak bubar, demikianlah tamsil dalam kehidupan, ketika Pak Harto dipanggil pulang oleh Sang Khalik. Selamat jalan Pak Harto ...!
Manusia tak ada yang sempurna, setiap kelebihan pasti selalu ada kurangnya, karena memang demikianlah hidup kita berayun bak pendulum. Setelah lelah ke kiri dan ke kanan, akhirnya keseimbangan jalan tengah menyergap dalam kebisuan. Fakta bahwa inflasi ratusan bahkan rubuan persen seperti di Zimbabwe dahulu pernah terjadi di tahun 1965. Fakta jumlah penduduk miskin yang dulu sempat mencapai 50% kini melorot tinggal 10%, dan pendapatan per kapita USD 100 menjadi USD 1.400, adalah jejak langkah yang ditinggalkan dan menjadi warisan Pak Harto untuk bangsa ini.

Mengapakah semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin susah untuk memaafkan (jajak pendapat Kompas). Ketika masyarakat perkotaan menjadi lebih susah berlapang dada, maka fenomena M150 susu yang menampilkan kedutan dada getar menyeruak di balik riuh rendahnya infotainment televisi bangsa yang menambilkan dewa dewi konyol tetapi sensual seperti pasangan Dewi Persik dan Eko Patrio. Untuk menonton seorang Dewi Persik atau banyolan seorang Tukul, orang bisa tertawa lepas dan kemudian lemas, mengapa begitu susah untuk memaafkan. Terserah para tikus (politikus) menghujat bahwa negara ini bukan negara halal bihalal, apakah yang bisa dipermasalahkan dari seseorang yang telah pergi ke alam lain, dan kalau memang belum bisa memaafkan, dipersilahkan untuk menuntut ke alam kubur. Hujatlah sesuka hati, marahlah sesuka nafsu, amuklah seperti sapi gila, tapi ingat, semuanya harus dilakukan tepat sasaran, yaitu di alam kubur. Sana pergilah berdemo menghujat Pak Harto, tapi harus ke tempat kediaman beliau. Jangan ngomong lantang di dunia, percuma! Kagak ada yang dengar, mencari pembenaran, mempolitisasi stigma dan kebencian.
Seandainya aku memiliki kemampuan telekinesis ke alam gaib, ingin kuberikan kesempatan pertama kepada si penghujat untuk menjalani ketersambungan ala ghost whisper. Betapa sengsaranya kehidupan seseorang sebelum diberikan vonis oleh sang Boss, untuk masuk ke blok surga atau neraka. Bahkan saking kentalnya kearifan kandungan lokal, kitab suci suatu agama memberikan tafsir kontemporer tentang neraka bagi orang eskimo. Katanya neraka itu dingin, karena kalau dibilang neraka itu panas karena ada api nerakanya, orang Eskimo yang hidup kedinginan di kutub utara sangat bercita-cita untuk tinggal di tempat yang lebih panas. Jadilah kerelatifan tafsir bahwa neraka Eskimo adalah tempat yang paling dingin sedingin-dinginnya dingin. Senandung Rinto Harahap dalam lagu dingin mengatakan dingin hati ini tambah dingin entah mengapa. Kalau cinta aku sudah tak punya, air matakupun keringlah sudah, oh dingin. Dingin membenci kepada siapa, bukan salah Pak Harto yang dicintai sebagian masyarakat menjadi pengesahan bagi sebagian yang lain untuk menghujat dan menyalahkan. Bagiku hanyalah selamat jalan Pak Harto, Anda telah berbuat untuk negeri ini jauh lebih banyak dari orang-orang lain yang ngomong doang. Berisitirahatlah dengan tenang, masih ada kami yang akan meneruskan kemajuan bangsa dan negara ini. Selamat jalan Pak Harto, namamu akan dikenang. Engkau patriot pahlawan bangsa, walaupun sebagian bangsamu tidak terima, engkau tak perlu embel-embel gelar kepahlawan karena bagiku sudah banyak kepahlawanan dalam praktik yang dijalankan ketimbang teori-teori semu.

Selamat Tahun Baru 2008: New Hope E24

Assalamu'alaikum wr. wb.

12 menit yang lalu (27 Desember 2007) Benazir Bhutto terbunuh oleh ledakan bom bersama dengan 20 orang korban lainnya. Inilah resiko memperjuangkan suatu ideologi. Ideologi kita adalah lulus, dan syukur bisa tepat waktu, walaupun kadang-kadang injury time memberikan kenangan tersendiri (kalau berhasil). Semoga E-24 tidak ada yang gagal.

Saat ini saya sedang menerapkan metode kerja 4 jam sebulan untuk mendapatkan 3 kali penghasilan reguler bulanan, sehingga insya Allah ada banyak waktu untuk menghadiri seminar, hanya saja tolong pemberitahuannya minimal seminggu sebelumnya, karena biasanya saya sedang sibuk memikirkan dan memilih jadwal liburan yang umumnya di luar Bogor. Beberapa impian yang liar dan belum terwujud di masa lalu akan saya upayakan, seperti:

* menjadi pemain sinetron di Hongkong dan bermain opera Peking dengan Jacky Chan
* makan bistik jerapah di padang safari Afrika Selatan
* memancing ikan di Anchorage, belajar bahasa eskimo dan nginap di dalam igloo
* latihan sepakbola bersama Christian Ronaldo di Old Trafford
* memanjat pokok kelapa sawit di Johor Baru
* menulis buku fiksi bersama J.K. Rowling
* menanam Jatropha curcas di gurun Gobi
* etc. etc.

Wassalamu'alaikum,

Iyung Pahan
a.k.a.
Seniman Kelapa Sawit

Bekerja 4 Jam Sebulan setara dengan Penghasilan 3 Bulan bekerja penuh

Oleh: Iyung Pahan*)

Selamat datang di klub kerja 4 jam sebulan yang setara dengan penghasilan 3 bulan bekerja penuh. Inilah klub OKB (orang kaya baru) dimana saya telah bergabung sejak 3 bulan yang lalu. Mulanya saya ragu apakah saya bisa hidup dengan bekerja ala kadarnya 4 jam sebulan untuk mendapatkan kebebasan finansial dengan penghasilan setara dengan waktu saya bekerja reguler selama 3 bulan. Ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti, dan saya mulai menikmati hidup dan berkantor di rumah selama 24 jam sehari, bebas kemacetan lalu lintas, bebas berbulan madu kembali dengan istri, bebas membaca apa saja, menonton berita, memonitor NAB reksadana, dan berwisata ke alam mimpi.
Waktu yang tersedia memberikan kesempatan untuk belajar lebih banyak, sejalan dengan program mengambil pendidikan S3. Kunci keberhasilannya adalah hukum gaya tarik (the law of attraction), bahwa kesukesesan akan menarik kesuksesan lain sepanjang kontinum hidup kita. Bila kita berpikir bahwa kita akan sukses, maka diri kita menjadi magnet yang menarik kesuksesan selanjutnya berlabuh di dalam diri kita. Kekuatan ini demikian dahsyat, sehingga menjadi modal utama tokoh-tokoh sukses masa lalu.
Perjalanan karirku dimulai dari pekerja manajemen yang tergagap-gagap meniti karir di suatu perusahaan perkebunan 19 tahun yang lalu. Atasan langsungku seorang ekspatriat yang merupakan produk neo-kolonialis feodalistis lagi gingivitis. Semua karya dan asaku dalam perspektif atasanku adalah salah dan inkompeten, dan inilah kawah candradimuka yang menggemblengku menjadi seorang Robocop yang berotot kawat bertulang besi dengan otak Centrino Core-4-quad (2x core-2-duo). Dua tahun penderitaan yang nyaris membuatkan berhenti kerja akhirnya berbuntut promosi manis ke lain departemen. Kemudian perjalanan berlangsung cepat, dalam 4 tahun kerja kuraih jabatan Manajer, 2 tahun kemudian sebagai Manajer Senior, 3 tahun berikutnya menjadi General Manajer, 2 tahun berikutnya menjadi kepala departemen, yang akhirnya berujung macet dan terdampar di posisi satu langkah di belakang Direktur Pengelola selama 7 tahun. Pada tahun ke-19 masa kerjaku, aku memutuskan bergabung dengan klub OKB untuk menjajal kerja sebagai free lance (artinya tanpa pegangan).
Personal branding kulakukan sejak pertengah tahun 2004 sampai tahun 2006 dengan menerbitkan buku kiat keberhasilan bisnis sepanjang masa (KBSM) dan panduan lengkap kelapa sawit (PLKS) untuk mengesahkan kepakaranku dalam bidang pekerjaan. Sejalan dengan laris-manisnya buku PLKS sebagai best seller di Indonesia, orang-orang mulai mencari diriku sebagai referensi dan konsultan. Passive income dari royalty buku memang lumayan, tetapi pendapatan dari jasa konsultasi sungguh tidak terduga dan membuatku memutuskan untuk melakukan PHK terhadap perusahaan tempatku bekerja. Hal itu menabalkan keyakinanku bahwa aku telah siap bergabung dengan klub OKB dan tidak memerlukan perusahaan lain untuk menjadi perantara yang menjadi calo ide-ideku. Aku telah siap menjadikan diriku perusahaanku, dan membebaskan diriku dari penjajahan atas nama pekerjaan.
Kini aku duduk di dalam perpustakaan pribadiku, mengetikkan kata-kata provokasi di dalam catatan harian ini sambil memikirkan persiapan untuk kerja 4 jam bulan depan. Januari 2008, seorang calon klien kembali dari Texas dengan membawa fund untuk proyek masa depannya (yang juga merupakan sebagian masa depanku). Aku cukup duduk manis memikirkan bagaimana mendayagunakan jejaring kerja yang ada untuk meningkatkan efektivitas kinerjaku, sekaligus peningkatan NAB galeri investasi reksadana dan isi rekeningku di bank.
Dahulu aku tidak perlu berpikir setiap akhir bulan karena gajiku sudah masuk ke rekening bank secara otomatis. Kini aku perlu berpikir untuk mengisikan uang ke rekening bank para karyawanku setiap akhir bulan. Itulah fragmen 5 menit dalam 4 jam pekerjaanku setiap bulan, yang kulakukan dengan perasaan meluap-luap dan janji bahwa aku tidak akan memperkosa karyawanku dengan jam kerja yang tegang. Bagiku lebih bermakna bila karyawan tidak perlu masuk kantor, asalkan pekerjaan selesai dengan kualitas yang baik. Pertemuan dengan karyawan cukup 15 menit saja dalam sebulan, karena waktu kerjaku hanya 4 jam dalam sebulan. Pelatihan untuk karyawan baru (sesuatu yang tak bisa kuelakkan), membutuhkan waktu lebih banyak, dan itu adalah hiburan dalam hidupku, sehingga kuanggap sebagai hobby yang kulakukan diluar dari 4 jam kerjaku. Pelatihan ini setara dengan menonton infotainment di televisi, dan perbedaanya hanya pada perbedaan pengaruhnya. Menonton infotainment memberikan relaksasi tetapi membuat otakku idiot, sedangkan memberikan pelatihan memberikan relaksasi yang membuat otakku semakin tajam. Jadi kuputuskan, memberi pelatihan adalah bukan bagian dari 4 jam kerjaku dalam sebulan. Itu hobby. Titik.