Pertengahan tahun 2006 adalah titik balik paruh kedua kehidupanku. Perpindahan kuadran Kiyosaki hidupku telah dimulai dari transisi kuadran E (employee) yang bekerja untuk orang lain (perusahaan perkebunan) memasuki kuadran I (investment) dimana uang bekerja untukku melalui passive income dari royalty buku. Memang nilai uangnya belum seberapa, dan kata Prof. Gumbira-Sa’id, kita nggak pernah bisa kaya dari menulis buku. Memang perkataan beliau benar untuk konteks buku yang seret penjualan, tetapi untuk konteks buku laris seperti Harry Potter, jelas kebalikannyalah yang terjadi. J.K. Rowling telah menjadi selebritis dan salah satu orang terkaya di Inggris hanya karena mengarang buku dan mendapat royalty dari film yang diadaptasi dari bukunya.
Aku belum pantas menyandingkan diriku dengan J.K. Rowling, tetapi boleh kan aku membuat visi setinggi langit untuk menggantungkan keinginan pribadiku. Dan ternyata dari hasil investasi di kuadran I (investment), akhirnya berbuah ke kuadran B (business) berupa aktivitas bisnis melalui pembuatan sistem, sehingga orang bekerja untuk diriku; dan juga merambah ke kuadran SE (self employee) sebagai pekerja mandiri. Hasil investasi dari menulis buku hanyalah royalty 10% dari nilai jual buku dikalikan dengan eksemplar buku pada saat print run. Menginjak cetakan kedua, berarti sudah 10.000 buku yang beredar dan siap menghasilkan royalty. Menurut informasi penerbitnya, buku tulisanku menjadi salah satu best seller di Gramedia Mal Taman Anggrek. Toko buku dan pembaca senang dengan buku itu, dan harapanku itu bisa sampai cetakan ke sekian.
Setiap keberhasilan akan menghasilkan efek keberhasilan berantai, dan malangnya kesialan juga begitu. Keberhasilan kuadran I ternyata memicu kuadran lain dengan indeks leverage 10 kali ke kuadran SE. Dan kuyakini kuadran SE akan akan memberikan indeks leverage 10 kali ke kuadran B. Mutasi antar kuadran ini sungguh memberikan kemantapan hati untuk menjadi manusia bebas di paruh kedua kehidupan, sehingga tidak diperbudak oleh sistem dan menjual kebebasan diri demi gaji. Dan memang urutan pengembangannya adalah Kuadran E -> kuadran I (1) -> Kuadran SE -> Kuadran B -> Kuadran I (2) dst.
Bekerjalah dengan baik sebagai pekerja ilmu pengetahuan, sedot sebanyak mungkin income dan pengatahuan (kalau tidak bisa keduanya, ambilah pengetahuannya). Investasikan income dalam tabungan. Investasikan pengetahuan tacit yang didapat dengan mekanisme eksternalisasi menjadi pengetahuan eksplisit. Gunakan sebagian tabungan untuk menguji pengetahuan eksplisit pada tataran yang lebih tinggi (kuliah lagi S2, S3), sehingga akhirnya menjadi pengetahuan eksplisit yang terkodifikasi pada suatu kondisi spesifik. Jual hasil kodifikasi pengetahuan tadi sehingga menghasilkan passive income berupa royalty. Investasikan kembali royalty yang diterima dalam bisnis baru yang akan menciptakan kuadran B. Reputasi yang tercipta akan menciptakan kesempatan-kesempatan baru, sehingga bisa menciptakan kuadran SE yang dilakoni secara paralel dengan kuadran E. Karena kualitas pengetahuan yang prima, maka kuadran SE akan mengungkit income 10x kuadran I pertama {I (1)}. Hasil dari kuadran E digunakan untuk membiayai kehidupan rutin, hasil kuadran I (1x) dan SE (10x) digunakan untuk menciptakan kuadran B yang akan mengungkit nilai investasi 10x SE dan I sehingga menjadi 110x I (1). Hasil 110x I (1) ini diinvestasikan ke I (2), sehingga akan menghasilkan passive income 1100x I (1). Pada kondisi inilah tercipta kebebasan finansial. Uang bekerja untuk kita, sementara aku ingin menyepi di pantai Karibia, melancong ke taman safari di Afrika dan minum kopi hangat sambil menatap puncak gunung es di Alaska. Seperti senandung Vina Panduwinta: Dunia yang kudamba.
Friday, June 29, 2007
Monday, June 25, 2007
Memoar Kehidupan Kebun 17 Tahun yang Lalu
Normark, 20 Mei 1990
Kepada Yth. Technical Advisor [TA] Agronomy
Padang Halaban Estate,
Labuhan Batu, Sumatra Utara
Dengan hormat,
Perjalanan waktu kadang sangat kencang, kadang sangat lambat. Kita ini adalah kerelatifan, maka dalam kerelatifan itu kita coba bandingkan sesuatu yang relatif dengan yang relatif. Dari pijakan ini kita coba menempuh hidup dan kehidupan. Ada makna yang bisa diraih. Kehidupan ini kadang kejam bak tentara Nazi, tetapi juga bisa lembut dan mewah seperti elusan kelas eksekutif di club internasional a’la Mercantile, Hilton atau dinner di Four Season. Kehidupan (di) kebun berarti merelakan diri menghadapi tiga rupa, tiga tantangan: kesepian, kebodohan dan kemiskinan.
Kesepian adalah suatu kepastian, hak segala bangsa, ujud insani, hampir dapat dikatakan fitrah, sebuah rasa untuk menyeimbangkan manusia dari keramaian. Sepi yang relatif, bukanlah manifestasi lingkungan yang sunyi saja, tetapi cermin keberadaan jiwa yang kurang dapat menyelaraskan diri dengan lingkungan. Seperti jiwa seorang eksekutif puncak di rimba belantara properti wall streetnya Indonesia, dari puncak sebuah gedung pintar di mana jalan Sudirman dan Thamrin terlihat berkabut, dalam pesona irama salsa dan usapan penyejuk ruangan yang serasa alami, kesepian akan datang. Kepura-puraan, wajah tanpa dosa dan hati yang luka tiba-tiba saja membuat jiwa menjadi tidak tenang. Stress dan insomania adalah penyakit yang kerap menghuni raga orang-orang penting yang ekstra sibuk. Dari sebuah music player terdengar sayup-sayup Live Version [Bento] celoteh Iwan ‘Swami’ Fals soal gaya hidup “Bos Eksekutif” yang berinisial Bento.
Banyak orang, terutama dari latar sosial budaya urban sensation, yang terlanjur besar dan terbiasa dengan nikmatnya suasana crowded a’la bis kota jam tujuh pagi, hiburan Studio 21 [termasuk dengar pengamen bis kota], bertukar pikiran dalam seminar, commodity auction dan symposia; akan menderita kesepian bila tiba-tiba saja berada dalam masyarakat yang tidak bisa memuaskan keinginan lahir dan keinginan batinnya. Keterasingan kan datang menjelang, orang bila cultural shock, tetapi saya rasa lebih tepat mind-brain s[h]ock [pintar … kan! Kaos kakinya nomor berapa … ya?] Kita boleh merasakan, seseorang dengan latar pendidikan sarjana, yang cenderung ingin menggali tuntas semua hal, tiba-tiba saja mentok dengan sikap masyarakat yang terbiasa dan terlanjur berorientasi pada practical use saja.
Kesepian di kebun sangat erat hubungannya dengan kebodohan. Kondisi kebun yang terisolir, kadang dan hampir pasti, menyulitkan akses terhadap informasi. Hakekat hidup jaman sekarang, keterlambatan dalam mengadopsi informasi [baca: pengetahuan] berarti mengurangi kapabilitas pemahaman suatu hal [teknologi] bila dibandingkan masyarakat yang tidak menghadapi lingkungan serupa [baca: kota]. Bagi praktisi murni tanpa tendensi ambisi menjadi yang terbaik [baca: pimpinan masa depan], hal ini bukan masalah. Bagi saya ini merupakan masya Allah yang besar, betapa tidak? Keterlanjuran memposisikan keunggulan kompetitif diri sebagai yang lebih tahu sedikit banyak hal-hal dari pada masyarakat sekitarnya akan kehilangan dominansi, perlahan dan pasti karena faktor lingkungan.
Pola pikiran [juga pola betindak], selalu dan selalu dibebani hal-hal yang praktis, yang rutin. Ketajaman pisau analisis dibatasi ruang lingkup yang disebut tembok ‘Berlin’ etika: Itu kapling orang lain, itu bukan urusan kamu, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Akhirnya kita pasrah, inilah yang terlanjur dihadapi di kebun. Dua tahun menggumuli kebun, sedikit banyak menimbulkan concern akan masalah kebun, untuk improvement alias kemajuan, tetapi bila kita buat saran atau rekomendasi – mereka bilang: you are not qualified guys! Apa artinya pengalaman kerja kebun Bung? Semuanya siklikal, pengalaman 30 tahun adalah pengalaman 1 tahun yang diulang 30 kali, saya yakin, dan bila kamu cukup pintar, setengah tahun cukup untuk mengerti semuanya, dan selanjutnya yang membedakan kamu dengan mereka hanyalah usia dan kemampuan dalam aksi tipu-tipu, termasuk menipu pekerja untuk lebih efisien, menghadapi orang minta sumbangan, utusan Kodim, Camat dan Lurah, ganti rugi tanah, penduduk yang kalap dan tetek bengek lainnya.
Lalu apakah saya harus quit alias berhenti kerja, atau pasrah saja? Hakekat peningkatan kemampuan teknis [dalam rangka mengisi diri] sudah dilaksanakan dengan motivasi kuat untuk sukses sebagai calon pemimpin suatu masa pada suatu tempat, tetapi tidak imbang dengan pengembangan kemampuan manajerial – alias mentok. Energi yang terakumulasi dalam rangka mengisi diri, akhirnya bisa meledak karena outlet lebih kecil dari inlet. Semuanya rugi, terlepas apakah perusahaan menganggap karyawan sebagai asset ataukan masih sebagai hutang melulu saja [menurut persamaan akuntansi, Asset = Modal + Hutang].
Kadang kita merasa lebih pintar tentang “sesuatu” dari pada orang yang digaji [baca: dianggap] oleh perusahaan “lebih tahu.” Lalu apakah kita harus paksa perusahaan: “ente pakai gue dong, gue kan sudah lebih tahu.” Atau bahasa halusnya: “kapan saya dipromosikan pada level yang lebih tinggi?” Itu kan juga kurang etis, tentu saja bila perusahaan juga tahu diri [sebelum karyawan menganggap tidak ada lagi prospek dalam karir]. Impian akan adanya employee stock ownership program [ESOP] bagi kesejahteraan karyawanpun menjadi buram dan lenyap ketika saya bangun dari tidur-tidur ayam. Janganlah bermimpi seperti serikat karyawan United Airlines yang mampu membeli perusahaannya sejumlah US$ 4.36 milyar.
Kebodohan struktural itu menghinggapi orang dengan kadar yang berbeda. Semakin tinggi kesadarannya akan indahnya belantika dan belantara hakekat ilmu di peradaban manusia [modern], semakin tinggi derajat stressnya menghadapi teror pembodohan di kebun. Secara jelas [fungsi waktu], seorang berpendidikan, katakanlah lulus dengan yudisium dipujikan dari sebuah universitas yang merupakan center of excellence akan menjadi lebih bodoh, seiring [berbanding lurus] dengan lamanya tinggal di kebun, bila dibandingkan dengan sarjana yang tinggal di kota di mana arus informasi sangat lancar, dan dia punya akses ke arah itu.
Berapa social cost yang harus dibayar oleh seorang sarjana yang ditempatkan di kebun? Jawabannya: tidak ada! Ternyata, hampir rata, penghasilannya di bawah kawan-kawanya yang di kota. Bukankah dia sudah mengorbankan kesempatannya untuk menjadi lebih pintar demi hal-hal praktis bagi kepentingan perusahaan? Inikah sistem imbal jasa perusahaan besar [konglomerat]? Penghargaan masih didasarkan pada ketrampilan lobbying, kemampuan untuk bermental ABS alias Asal Bapak Senang, atau adanya akses pribadi terhadap atasan melalui kesamaan hobby [yang umumnya dijadikan modus operandi]. Pokoknya kalau Boss hobby tennis, dan bila bermain double harus menang terhadap pasangan lain, tetapi bila main single, cukuplah skor 6 untuk Boss, dan angka kita harus lebih kecil dari itu [baca: <]. Kebodohan atau proses pembodohan secara perlahan tapi pasti itu akan terakumulasi menjadi kemiskinan intelektual yang tercermin dengan semakin sukarnya mencerna angka-angka pada indeks Dow Jones atau Nikkei yang ada pada Asian Wall Street Journal, bahkan membaca ulasan sederhana pada The Economist atau majalah Eksekutif pun kadang-kadang terasa berat di kepala.
Keadaan ini harus diatasi. Kesepian akan saya bakar dengan hasrat dan kesibukan menulis. Ya, menulis sebuah pengalaman hidup, menulis tentang teknologi, mengembangkan ide-ide yang tidak mau diterima perusahaan itu menjadi sesuatu yang diinginkan oleh perusahaan mana saja pada tahun-tahun mendatang. Demikian cara menggugah kebodohan, untuk belajar, untuk mencapai informasi, sekaligus memerangi kemiskian intelektual.
[CATATAN: IYUNG PAHAN MENERBITKAN 2 BUKU, YAITU KIAT KEBERHASILAN BISNIS SEPANJANG MASA (2004) BERSAMA PENERBIT INDEKS DARI KELOMPOK GRAMEDIA, DAN PANDUAN LENGKAP KELAPA SAWIT (2006) BERSAMA PENERBIT PENEBAR SWADAYA].
Kita coba, kita berusaha. Semua sudah ditakdirkan, dan dengan bekal kemampuan teknis, manajerial, kepemimpinan dan business sense yang diberikan Tuhan, juga dengan common sense, kita jelang tahun-tahun mendatang, awal kebangkitan profesional muda, sesuai dengan roh dua kosong lima alias Kebangkitan Nasional 20 Mei yang telah berumur 82 tahun. Kita jelang milenium kedua Naisbitt dan Aburdene sebagai abad pencapaian tujuan kita: Profesional muda, middle class yang bukan Yuppies apalagi Snobist.
Sekian dahulu, wassalam.
Iyung Pahan
CATATAN: DALAM BEBERAPA TAHUN MENDATANG, MEMOAR YANG DITULIS 17 TAHUN YANG LALU INI MENJADI SUMBER INSPIRASI LAHIR DAN BESARNYA KONGLOMERASI KELOMPOK DHC YANG BERPUSAT DI BOGOR.
Kepada Yth. Technical Advisor [TA] Agronomy
Padang Halaban Estate,
Labuhan Batu, Sumatra Utara
Dengan hormat,
Perjalanan waktu kadang sangat kencang, kadang sangat lambat. Kita ini adalah kerelatifan, maka dalam kerelatifan itu kita coba bandingkan sesuatu yang relatif dengan yang relatif. Dari pijakan ini kita coba menempuh hidup dan kehidupan. Ada makna yang bisa diraih. Kehidupan ini kadang kejam bak tentara Nazi, tetapi juga bisa lembut dan mewah seperti elusan kelas eksekutif di club internasional a’la Mercantile, Hilton atau dinner di Four Season. Kehidupan (di) kebun berarti merelakan diri menghadapi tiga rupa, tiga tantangan: kesepian, kebodohan dan kemiskinan.
Kesepian adalah suatu kepastian, hak segala bangsa, ujud insani, hampir dapat dikatakan fitrah, sebuah rasa untuk menyeimbangkan manusia dari keramaian. Sepi yang relatif, bukanlah manifestasi lingkungan yang sunyi saja, tetapi cermin keberadaan jiwa yang kurang dapat menyelaraskan diri dengan lingkungan. Seperti jiwa seorang eksekutif puncak di rimba belantara properti wall streetnya Indonesia, dari puncak sebuah gedung pintar di mana jalan Sudirman dan Thamrin terlihat berkabut, dalam pesona irama salsa dan usapan penyejuk ruangan yang serasa alami, kesepian akan datang. Kepura-puraan, wajah tanpa dosa dan hati yang luka tiba-tiba saja membuat jiwa menjadi tidak tenang. Stress dan insomania adalah penyakit yang kerap menghuni raga orang-orang penting yang ekstra sibuk. Dari sebuah music player terdengar sayup-sayup Live Version [Bento] celoteh Iwan ‘Swami’ Fals soal gaya hidup “Bos Eksekutif” yang berinisial Bento.
Banyak orang, terutama dari latar sosial budaya urban sensation, yang terlanjur besar dan terbiasa dengan nikmatnya suasana crowded a’la bis kota jam tujuh pagi, hiburan Studio 21 [termasuk dengar pengamen bis kota], bertukar pikiran dalam seminar, commodity auction dan symposia; akan menderita kesepian bila tiba-tiba saja berada dalam masyarakat yang tidak bisa memuaskan keinginan lahir dan keinginan batinnya. Keterasingan kan datang menjelang, orang bila cultural shock, tetapi saya rasa lebih tepat mind-brain s[h]ock [pintar … kan! Kaos kakinya nomor berapa … ya?] Kita boleh merasakan, seseorang dengan latar pendidikan sarjana, yang cenderung ingin menggali tuntas semua hal, tiba-tiba saja mentok dengan sikap masyarakat yang terbiasa dan terlanjur berorientasi pada practical use saja.
Kesepian di kebun sangat erat hubungannya dengan kebodohan. Kondisi kebun yang terisolir, kadang dan hampir pasti, menyulitkan akses terhadap informasi. Hakekat hidup jaman sekarang, keterlambatan dalam mengadopsi informasi [baca: pengetahuan] berarti mengurangi kapabilitas pemahaman suatu hal [teknologi] bila dibandingkan masyarakat yang tidak menghadapi lingkungan serupa [baca: kota]. Bagi praktisi murni tanpa tendensi ambisi menjadi yang terbaik [baca: pimpinan masa depan], hal ini bukan masalah. Bagi saya ini merupakan masya Allah yang besar, betapa tidak? Keterlanjuran memposisikan keunggulan kompetitif diri sebagai yang lebih tahu sedikit banyak hal-hal dari pada masyarakat sekitarnya akan kehilangan dominansi, perlahan dan pasti karena faktor lingkungan.
Pola pikiran [juga pola betindak], selalu dan selalu dibebani hal-hal yang praktis, yang rutin. Ketajaman pisau analisis dibatasi ruang lingkup yang disebut tembok ‘Berlin’ etika: Itu kapling orang lain, itu bukan urusan kamu, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Akhirnya kita pasrah, inilah yang terlanjur dihadapi di kebun. Dua tahun menggumuli kebun, sedikit banyak menimbulkan concern akan masalah kebun, untuk improvement alias kemajuan, tetapi bila kita buat saran atau rekomendasi – mereka bilang: you are not qualified guys! Apa artinya pengalaman kerja kebun Bung? Semuanya siklikal, pengalaman 30 tahun adalah pengalaman 1 tahun yang diulang 30 kali, saya yakin, dan bila kamu cukup pintar, setengah tahun cukup untuk mengerti semuanya, dan selanjutnya yang membedakan kamu dengan mereka hanyalah usia dan kemampuan dalam aksi tipu-tipu, termasuk menipu pekerja untuk lebih efisien, menghadapi orang minta sumbangan, utusan Kodim, Camat dan Lurah, ganti rugi tanah, penduduk yang kalap dan tetek bengek lainnya.
Lalu apakah saya harus quit alias berhenti kerja, atau pasrah saja? Hakekat peningkatan kemampuan teknis [dalam rangka mengisi diri] sudah dilaksanakan dengan motivasi kuat untuk sukses sebagai calon pemimpin suatu masa pada suatu tempat, tetapi tidak imbang dengan pengembangan kemampuan manajerial – alias mentok. Energi yang terakumulasi dalam rangka mengisi diri, akhirnya bisa meledak karena outlet lebih kecil dari inlet. Semuanya rugi, terlepas apakah perusahaan menganggap karyawan sebagai asset ataukan masih sebagai hutang melulu saja [menurut persamaan akuntansi, Asset = Modal + Hutang].
Kadang kita merasa lebih pintar tentang “sesuatu” dari pada orang yang digaji [baca: dianggap] oleh perusahaan “lebih tahu.” Lalu apakah kita harus paksa perusahaan: “ente pakai gue dong, gue kan sudah lebih tahu.” Atau bahasa halusnya: “kapan saya dipromosikan pada level yang lebih tinggi?” Itu kan juga kurang etis, tentu saja bila perusahaan juga tahu diri [sebelum karyawan menganggap tidak ada lagi prospek dalam karir]. Impian akan adanya employee stock ownership program [ESOP] bagi kesejahteraan karyawanpun menjadi buram dan lenyap ketika saya bangun dari tidur-tidur ayam. Janganlah bermimpi seperti serikat karyawan United Airlines yang mampu membeli perusahaannya sejumlah US$ 4.36 milyar.
Kebodohan struktural itu menghinggapi orang dengan kadar yang berbeda. Semakin tinggi kesadarannya akan indahnya belantika dan belantara hakekat ilmu di peradaban manusia [modern], semakin tinggi derajat stressnya menghadapi teror pembodohan di kebun. Secara jelas [fungsi waktu], seorang berpendidikan, katakanlah lulus dengan yudisium dipujikan dari sebuah universitas yang merupakan center of excellence akan menjadi lebih bodoh, seiring [berbanding lurus] dengan lamanya tinggal di kebun, bila dibandingkan dengan sarjana yang tinggal di kota di mana arus informasi sangat lancar, dan dia punya akses ke arah itu.
Berapa social cost yang harus dibayar oleh seorang sarjana yang ditempatkan di kebun? Jawabannya: tidak ada! Ternyata, hampir rata, penghasilannya di bawah kawan-kawanya yang di kota. Bukankah dia sudah mengorbankan kesempatannya untuk menjadi lebih pintar demi hal-hal praktis bagi kepentingan perusahaan? Inikah sistem imbal jasa perusahaan besar [konglomerat]? Penghargaan masih didasarkan pada ketrampilan lobbying, kemampuan untuk bermental ABS alias Asal Bapak Senang, atau adanya akses pribadi terhadap atasan melalui kesamaan hobby [yang umumnya dijadikan modus operandi]. Pokoknya kalau Boss hobby tennis, dan bila bermain double harus menang terhadap pasangan lain, tetapi bila main single, cukuplah skor 6 untuk Boss, dan angka kita harus lebih kecil dari itu [baca: <]. Kebodohan atau proses pembodohan secara perlahan tapi pasti itu akan terakumulasi menjadi kemiskinan intelektual yang tercermin dengan semakin sukarnya mencerna angka-angka pada indeks Dow Jones atau Nikkei yang ada pada Asian Wall Street Journal, bahkan membaca ulasan sederhana pada The Economist atau majalah Eksekutif pun kadang-kadang terasa berat di kepala.
Keadaan ini harus diatasi. Kesepian akan saya bakar dengan hasrat dan kesibukan menulis. Ya, menulis sebuah pengalaman hidup, menulis tentang teknologi, mengembangkan ide-ide yang tidak mau diterima perusahaan itu menjadi sesuatu yang diinginkan oleh perusahaan mana saja pada tahun-tahun mendatang. Demikian cara menggugah kebodohan, untuk belajar, untuk mencapai informasi, sekaligus memerangi kemiskian intelektual.
[CATATAN: IYUNG PAHAN MENERBITKAN 2 BUKU, YAITU KIAT KEBERHASILAN BISNIS SEPANJANG MASA (2004) BERSAMA PENERBIT INDEKS DARI KELOMPOK GRAMEDIA, DAN PANDUAN LENGKAP KELAPA SAWIT (2006) BERSAMA PENERBIT PENEBAR SWADAYA].
Kita coba, kita berusaha. Semua sudah ditakdirkan, dan dengan bekal kemampuan teknis, manajerial, kepemimpinan dan business sense yang diberikan Tuhan, juga dengan common sense, kita jelang tahun-tahun mendatang, awal kebangkitan profesional muda, sesuai dengan roh dua kosong lima alias Kebangkitan Nasional 20 Mei yang telah berumur 82 tahun. Kita jelang milenium kedua Naisbitt dan Aburdene sebagai abad pencapaian tujuan kita: Profesional muda, middle class yang bukan Yuppies apalagi Snobist.
Sekian dahulu, wassalam.
Iyung Pahan
CATATAN: DALAM BEBERAPA TAHUN MENDATANG, MEMOAR YANG DITULIS 17 TAHUN YANG LALU INI MENJADI SUMBER INSPIRASI LAHIR DAN BESARNYA KONGLOMERASI KELOMPOK DHC YANG BERPUSAT DI BOGOR.
Instansi Kehidupan
Dentingan piano melantunkan Heart of Summer pada musim kemarau basah di bulan Juni 2007, ketika aku menulis memoar ini. La Nina telah menyampiri kehidupan, dan entah mengapa anak perempuan selalu diasosiasikan dengan hujan dan basah. Seperti seloka yang selalu terwujud dalam rima 4 bait yang tediri dari 2 bait sampiran dan 2 bait isi, kearifan sastra melayu itu akhirnya diterima dalam konteks budaya Jawa yang mlayu abiis alias berlalu entah kemana.
Sebuah memoar adalah refleksi kejadian masa lalu, dan sayangnya logika waktu sering kali terbolak-balik, sehingga pengalaman masa lalu kerap di manipulasi dengan konteks kekinian (recent). Jadilah resensi kehidupan diri sendiri tidak jujur terhadap asas orisinalitas. Penulisan sejarah akhirnya menjadi legitimasi bagi si menang: pahlawan bagi yang menang, dan si kalah adalah penjahat laknat. Lihatlah Sukarno ketika Orde Baru masih berkuasa, dan renungkanlah caci maki kepada Suharto ketika dia digulingkan pada tahun 1998. Sejarah menjadi usaha legitimasi versi penguasa, dan konteks sejarah itulah yang terulang seperti seorang komentator sepak bola di televisi yang berkomentar dengan ringan: “Sejarah kembali terulang.”
Bagaimana kita harus menyiasati hidup, biasanya kita tak ingin membicarakannya. Kehidupan yang mudah adalah yang mengalir apa adanya, cenderung datar dengan tempo lamban, sehingga minim gesekan dan harmonis dengan lingkungan sekitar. Ketika sebuah atau beberapa buah keinginan tumbuh di hati, sesuatu itu menyebabkan perubahan orientasi sehingga perspektif terhadap lingkungan menjadi berubah. Bagi yang ingin hidup mengalir apa adanya, mengejar target yang bergerak adalah suatu keniskalaan. Bagi yang hidup dengan ideologi perjuangan, mengejar target yang bergerak adalah suatu keniscayaan, keharusan, dan jika tak dapat terpuaskan, maka hidup menjadi seakan tak bermakna.
Ketika kekuatan konteks berhasil dibangun dalam suatu keadaan, maka seperti sebuah rencana pernikahan yang telah dipersiapkan dengan matang, dimana sang calon pengantin telah menjalankan ritual-ritual untuk membersihkan diri dan jiwanya menuju momentum puncak penyatuan jiwa secara simbolis dalam ikatan pernikahan. Sekonyong-konyong dan tiba-tiba diterima kabar bahwa sang pengantin wanita meninggal dunia karena kecelakaan pesawat terbang. Katastrofa dan perubahan drastis telah mengubah akumulasi momen kebahagian yang terbentuk sepanjang proses menjelang pernikahan menjadi kehampaan yang menghancur-leburkan makna suatu konteks.
Menjadi seorang calon Doktor (promovendus) mungkin tak lebih dari seekor wedus dalam konteks kontemporer kehidupan masa kini dengan kekiniannya. Gelar kebangsawanan ataupun gelar akademis adalah legitimasi kelas masyarakat, dimana orang mencoba bermigrasi demi mendapatkan status yang lebih tinggi sehingga kelak dapat ditransformasi menjadi materi yang lebih berkualitas dan berkuantitas. Menjadi seorang Doktor berarti boleh berbeda pendapat, tetapi pasti tak mau berbeda pendapatan. Inilah legitimasi kelas.
Pergolakan suasana batin hari ini sebenarnya tak perlu terjadi kalau kapasitas keluasan dan kedalaman hati, serta waktu cukup tersedia untuk melarutkan semua permasalahan. Semua masalah dunia akan terurai dengan sendirinya (mengalami swa-penguraian) bila diberi waktu yang cukup. Permasalahannya adalah kita tidak memiliki cukup waktu untuk membiarkan masalah itu mengalami swa-penguraian, karena hati kita telah membuat keinginan-keinginan yang ingin didapatkan secara seketika dan instan. Ketika budaya instan merasuki seluruh dimensi kehidupan, maka kita menjadi instansi (ingin selalu cepat), yang justru paradoks dengan intansi pemerintah yang menempatkan birokrasi sebagai pusat perlambatan atas nama kehati-hatian atau sekedar melepas rodi (menghabiskan jam kerja).
Sebuah memoar adalah refleksi kejadian masa lalu, dan sayangnya logika waktu sering kali terbolak-balik, sehingga pengalaman masa lalu kerap di manipulasi dengan konteks kekinian (recent). Jadilah resensi kehidupan diri sendiri tidak jujur terhadap asas orisinalitas. Penulisan sejarah akhirnya menjadi legitimasi bagi si menang: pahlawan bagi yang menang, dan si kalah adalah penjahat laknat. Lihatlah Sukarno ketika Orde Baru masih berkuasa, dan renungkanlah caci maki kepada Suharto ketika dia digulingkan pada tahun 1998. Sejarah menjadi usaha legitimasi versi penguasa, dan konteks sejarah itulah yang terulang seperti seorang komentator sepak bola di televisi yang berkomentar dengan ringan: “Sejarah kembali terulang.”
Bagaimana kita harus menyiasati hidup, biasanya kita tak ingin membicarakannya. Kehidupan yang mudah adalah yang mengalir apa adanya, cenderung datar dengan tempo lamban, sehingga minim gesekan dan harmonis dengan lingkungan sekitar. Ketika sebuah atau beberapa buah keinginan tumbuh di hati, sesuatu itu menyebabkan perubahan orientasi sehingga perspektif terhadap lingkungan menjadi berubah. Bagi yang ingin hidup mengalir apa adanya, mengejar target yang bergerak adalah suatu keniskalaan. Bagi yang hidup dengan ideologi perjuangan, mengejar target yang bergerak adalah suatu keniscayaan, keharusan, dan jika tak dapat terpuaskan, maka hidup menjadi seakan tak bermakna.
Ketika kekuatan konteks berhasil dibangun dalam suatu keadaan, maka seperti sebuah rencana pernikahan yang telah dipersiapkan dengan matang, dimana sang calon pengantin telah menjalankan ritual-ritual untuk membersihkan diri dan jiwanya menuju momentum puncak penyatuan jiwa secara simbolis dalam ikatan pernikahan. Sekonyong-konyong dan tiba-tiba diterima kabar bahwa sang pengantin wanita meninggal dunia karena kecelakaan pesawat terbang. Katastrofa dan perubahan drastis telah mengubah akumulasi momen kebahagian yang terbentuk sepanjang proses menjelang pernikahan menjadi kehampaan yang menghancur-leburkan makna suatu konteks.
Menjadi seorang calon Doktor (promovendus) mungkin tak lebih dari seekor wedus dalam konteks kontemporer kehidupan masa kini dengan kekiniannya. Gelar kebangsawanan ataupun gelar akademis adalah legitimasi kelas masyarakat, dimana orang mencoba bermigrasi demi mendapatkan status yang lebih tinggi sehingga kelak dapat ditransformasi menjadi materi yang lebih berkualitas dan berkuantitas. Menjadi seorang Doktor berarti boleh berbeda pendapat, tetapi pasti tak mau berbeda pendapatan. Inilah legitimasi kelas.
Pergolakan suasana batin hari ini sebenarnya tak perlu terjadi kalau kapasitas keluasan dan kedalaman hati, serta waktu cukup tersedia untuk melarutkan semua permasalahan. Semua masalah dunia akan terurai dengan sendirinya (mengalami swa-penguraian) bila diberi waktu yang cukup. Permasalahannya adalah kita tidak memiliki cukup waktu untuk membiarkan masalah itu mengalami swa-penguraian, karena hati kita telah membuat keinginan-keinginan yang ingin didapatkan secara seketika dan instan. Ketika budaya instan merasuki seluruh dimensi kehidupan, maka kita menjadi instansi (ingin selalu cepat), yang justru paradoks dengan intansi pemerintah yang menempatkan birokrasi sebagai pusat perlambatan atas nama kehati-hatian atau sekedar melepas rodi (menghabiskan jam kerja).
Friday, June 22, 2007
Efek Merah Biru
Efek sampingan adalah pengaruh liar substansi suatu ramuan
Efek sampingan Viagra adalah ke depan
Efek jera hukuman cocok untuk setan lautan pelahap anggaran
Efek suara akan buat kaget jantungan
Efektivitas memang tepat ke sasaran
(OBAT KUAT UNTUK EREKSI BANGSAKU)
Merahnya darah tanda keberanian
Merahnya muka tanda dipermalukan
Setengah tiang merah putih tanda negara dalam keprihatinan
Merahnya si moncong putih karena penindasan
Merahnya merah Pramudya dilarang jaman orde baru bukan?
(MALU AKU JADI ORANG INDONESIA)
Birunya laut lambang kedalaman
Birunya langit lambang keluasan
Birunya darah lambang kebangsawanan
Birunya film lambang perselingkuhan
Birunya perasaan lambang kesenduan
Birunya muka bekas tanda gamparan
(CARUT MARUT KETERANIAYAAN)
Kesimpulan:
Karena penuh luka akibat carut marut keteraniayaan, aku malu menjadi orang Indonesia, dan perlu obat kuat untuk membangkitkan (ereksi) bangsaku.
Saran:
Kalau nggak bisa ereksi lagi, perlu dana non budgeter untuk operasi alat vital bangsa.
Efek sampingan Viagra adalah ke depan
Efek jera hukuman cocok untuk setan lautan pelahap anggaran
Efek suara akan buat kaget jantungan
Efektivitas memang tepat ke sasaran
(OBAT KUAT UNTUK EREKSI BANGSAKU)
Merahnya darah tanda keberanian
Merahnya muka tanda dipermalukan
Setengah tiang merah putih tanda negara dalam keprihatinan
Merahnya si moncong putih karena penindasan
Merahnya merah Pramudya dilarang jaman orde baru bukan?
(MALU AKU JADI ORANG INDONESIA)
Birunya laut lambang kedalaman
Birunya langit lambang keluasan
Birunya darah lambang kebangsawanan
Birunya film lambang perselingkuhan
Birunya perasaan lambang kesenduan
Birunya muka bekas tanda gamparan
(CARUT MARUT KETERANIAYAAN)
Kesimpulan:
Karena penuh luka akibat carut marut keteraniayaan, aku malu menjadi orang Indonesia, dan perlu obat kuat untuk membangkitkan (ereksi) bangsaku.
Saran:
Kalau nggak bisa ereksi lagi, perlu dana non budgeter untuk operasi alat vital bangsa.
Anna Quindlen's Villanova University Commencement Address
Internet's Anonymous Source I got form "Chris Lusher" cmlush@hotmail.com Aug 9, 2000 (11:09 GMT)
It's a great honor for me to be the third member of my family to receive an honorary doctorate from this great-uncle Jim, who was a gifted physician, and my Uncle Jack, who is a remarkable businessman. Both of them could have told you something important about their professions, about medicine or commerce. I have no specialized field of interest or expertise, which puts me at a disadvantage, talking to you today. I'm a novelist. My work is human nature. Real life is all I know. Don't ever confuse the two, your life and your work. The second is only part of the first. Don't ever forget the words my father sent me on a postcard last year: "If you win the rat race, you're still a rat." Or what John Lennon wrote before he was gunned down in the driveway of the Dakota: "Life is what happens while you are busy making other plans." You walk out of here this afternoon with only one thing that no one else has. There will be hundreds of people out there with your same degree; there will be thousands of people doing what you want to do for a living. But you will be the only person alive who has sole custody of your life. Your particular life. Your entire life. Not just your life at a desk, or your life on a bus, or in a car, or at the computer. Not just the life of your mind, but the life of your heart. Not just your bank account, but your soul.
People don't talk about the soul very much anymore. It's so much easier to write a resume than to craft a spirit. But a resume is a cold comfort on a winter night, or when you're sad, or broke, or lonely, or when you've gotten back the test results and they're not so good.
Here is my resume.
I am a good mother to three children. I have tried never to let my profession stand in the way of being a good parent. I no longer consider myself the center of the universe. I show up. I listen. I try to laugh.
I am a good friend to my husband. I have tried to make marriage vows mean what they say. I show up. I listen. I try to laugh.
I am a good friend to my friends, and they to me. Without them, there would be nothing to say to you today, because I would be a cardboard cutout. But I call them on the phone, and I meet them for lunch. I show up. I listen. I try to laugh. I would be rotten, or at best mediocre at my job, if those other things were not true. You cannot be really first rate at your work if your work is all you are. So here's what I wanted to tell you today: get a life.
A real life, not a manic pursuit of the next promotion, the bigger paycheck, the larger house. Do you think you'd care so very much about those things if you blew an aneurysm one afternoon, or found a lump in your breast?
Get a life in which you notice the smell of salt water pushing itself on a breeze over Seaside Heights, a life in which you stop and watch how a red-tailed hawk circles over the water gap, or the way a baby scowls with concentration when she tries to pick up a Cheerio with her thumb and first finger.
Get a life in which you are not alone. Find people you love, and who love you. And remember that love is not leisure; it is work.
Each time you look at your diploma, remember that you are still a student, still learning how to best treasure your connection to others.
Pick up the phone. Send an e-mail. Write a letter. Kiss your Mom. Hug your Dad. Get a life in which you are generous. Look around at the azaleas in the suburban neighborhood where you grew up; look at a full moon hanging silver in a black, black sky on a cold night. And realize that life is the best thing ever, and that you have no business taking it for granted.
Care so deeply about its goodness that you want to spread it around. Take money you would have spent on beers and give it to charity. Work in a soup kitchen. Be a big brother or sister. All of you want to do well. But if you do not do good, too, then doing well will never be enough.
It is so easy to waste our lives: our days, our hours, our minutes. It is so easy to take for granted the color of the azaleas, the sheen of the limestone on Fifth Avenue, the color of our kids' eyes, the way the melody in a symphony rises and falls and disappears and rises again. It is so easy to exist instead of live.
I learned to live many years ago. Something really, really bad happened to me, something that changed my life in ways that, if I had my druthers, it would never have been changed at all. And what I learned from it is what, today, seems to be the hardest lesson of all.
I learned to love the journey, not the destination. I learned that it is not a dress rehearsal, and that today is the only guarantee you get. I learned to look at all the good in the world and to try to give some of it back because I believed in it completely and utterly. And I tried to do that, in part, by telling others what I had learned. By telling them this:
Consider the lilies of the field. Look at the fuzz on a baby's ear. Read in the backyard with the sun on your face. Learn to be happy. And think of life as a terminal illness because if you do you will live it with joy and passion as it ought to be lived.
Well, you can learn all those things, out there, if you get a real life, a full life, a professional life, yes, but another life, too, a life of love and laughs and a connection to other human beings.
Just keep you eyes and ears open. Here you could learn in the classroom. There the classroom is everywhere. The exam comes at the very end. No man ever said on his deathbed I wish I had spent more time at the office.
I found one of my best teachers on the boardwalk at Coney Island maybe 15 years ago. It was December, and I was doing a story about how the homeless survive in the winter months. He and I sat on the edge of the wooden supports, dangling our feet over the side, and he told me about his schedule, panhandling the boulevard when the summer crowds were gone, sleeping in a church when the temperature went below freezing, hiding from the police amidst the Tilt-a-Whirl and the Cyclone and some of the other seasonal rides. But he told me that most of the time he stayed on the boardwalk, facing the water, just the way we were sitting now, even when it got cold and he had to wear his newspapers after he read them. And I asked him why. Why didn't he go to one of the shelters? Why didn't he check himself into the hospital for detox?
And he just stared out at the ocean and said, "Look at the view, young lady. Look at the view."
And every day, in some little way, I try to do what he said. I try to look at the view. And that's the last thing I have to tell you today, words of wisdom from a man with not a dime in his pocket, no place to go, nowhere to be. Look at the view. You'll never be disappointed.
It's a great honor for me to be the third member of my family to receive an honorary doctorate from this great-uncle Jim, who was a gifted physician, and my Uncle Jack, who is a remarkable businessman. Both of them could have told you something important about their professions, about medicine or commerce. I have no specialized field of interest or expertise, which puts me at a disadvantage, talking to you today. I'm a novelist. My work is human nature. Real life is all I know. Don't ever confuse the two, your life and your work. The second is only part of the first. Don't ever forget the words my father sent me on a postcard last year: "If you win the rat race, you're still a rat." Or what John Lennon wrote before he was gunned down in the driveway of the Dakota: "Life is what happens while you are busy making other plans." You walk out of here this afternoon with only one thing that no one else has. There will be hundreds of people out there with your same degree; there will be thousands of people doing what you want to do for a living. But you will be the only person alive who has sole custody of your life. Your particular life. Your entire life. Not just your life at a desk, or your life on a bus, or in a car, or at the computer. Not just the life of your mind, but the life of your heart. Not just your bank account, but your soul.
People don't talk about the soul very much anymore. It's so much easier to write a resume than to craft a spirit. But a resume is a cold comfort on a winter night, or when you're sad, or broke, or lonely, or when you've gotten back the test results and they're not so good.
Here is my resume.
I am a good mother to three children. I have tried never to let my profession stand in the way of being a good parent. I no longer consider myself the center of the universe. I show up. I listen. I try to laugh.
I am a good friend to my husband. I have tried to make marriage vows mean what they say. I show up. I listen. I try to laugh.
I am a good friend to my friends, and they to me. Without them, there would be nothing to say to you today, because I would be a cardboard cutout. But I call them on the phone, and I meet them for lunch. I show up. I listen. I try to laugh. I would be rotten, or at best mediocre at my job, if those other things were not true. You cannot be really first rate at your work if your work is all you are. So here's what I wanted to tell you today: get a life.
A real life, not a manic pursuit of the next promotion, the bigger paycheck, the larger house. Do you think you'd care so very much about those things if you blew an aneurysm one afternoon, or found a lump in your breast?
Get a life in which you notice the smell of salt water pushing itself on a breeze over Seaside Heights, a life in which you stop and watch how a red-tailed hawk circles over the water gap, or the way a baby scowls with concentration when she tries to pick up a Cheerio with her thumb and first finger.
Get a life in which you are not alone. Find people you love, and who love you. And remember that love is not leisure; it is work.
Each time you look at your diploma, remember that you are still a student, still learning how to best treasure your connection to others.
Pick up the phone. Send an e-mail. Write a letter. Kiss your Mom. Hug your Dad. Get a life in which you are generous. Look around at the azaleas in the suburban neighborhood where you grew up; look at a full moon hanging silver in a black, black sky on a cold night. And realize that life is the best thing ever, and that you have no business taking it for granted.
Care so deeply about its goodness that you want to spread it around. Take money you would have spent on beers and give it to charity. Work in a soup kitchen. Be a big brother or sister. All of you want to do well. But if you do not do good, too, then doing well will never be enough.
It is so easy to waste our lives: our days, our hours, our minutes. It is so easy to take for granted the color of the azaleas, the sheen of the limestone on Fifth Avenue, the color of our kids' eyes, the way the melody in a symphony rises and falls and disappears and rises again. It is so easy to exist instead of live.
I learned to live many years ago. Something really, really bad happened to me, something that changed my life in ways that, if I had my druthers, it would never have been changed at all. And what I learned from it is what, today, seems to be the hardest lesson of all.
I learned to love the journey, not the destination. I learned that it is not a dress rehearsal, and that today is the only guarantee you get. I learned to look at all the good in the world and to try to give some of it back because I believed in it completely and utterly. And I tried to do that, in part, by telling others what I had learned. By telling them this:
Consider the lilies of the field. Look at the fuzz on a baby's ear. Read in the backyard with the sun on your face. Learn to be happy. And think of life as a terminal illness because if you do you will live it with joy and passion as it ought to be lived.
Well, you can learn all those things, out there, if you get a real life, a full life, a professional life, yes, but another life, too, a life of love and laughs and a connection to other human beings.
Just keep you eyes and ears open. Here you could learn in the classroom. There the classroom is everywhere. The exam comes at the very end. No man ever said on his deathbed I wish I had spent more time at the office.
I found one of my best teachers on the boardwalk at Coney Island maybe 15 years ago. It was December, and I was doing a story about how the homeless survive in the winter months. He and I sat on the edge of the wooden supports, dangling our feet over the side, and he told me about his schedule, panhandling the boulevard when the summer crowds were gone, sleeping in a church when the temperature went below freezing, hiding from the police amidst the Tilt-a-Whirl and the Cyclone and some of the other seasonal rides. But he told me that most of the time he stayed on the boardwalk, facing the water, just the way we were sitting now, even when it got cold and he had to wear his newspapers after he read them. And I asked him why. Why didn't he go to one of the shelters? Why didn't he check himself into the hospital for detox?
And he just stared out at the ocean and said, "Look at the view, young lady. Look at the view."
And every day, in some little way, I try to do what he said. I try to look at the view. And that's the last thing I have to tell you today, words of wisdom from a man with not a dime in his pocket, no place to go, nowhere to be. Look at the view. You'll never be disappointed.
Subscribe to:
Posts (Atom)
