Oleh: Anonymous di Internet*)
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas." Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil: "Anakku, mari ke sini, dan duduklah di pangkuan ibu."
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet
Kemudian ibu berkata: "Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.”
Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah: "Allah, apa yang Engkau lakukan?" Ia menjawab: "Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah, "Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"
Kemudian Allah menjawab, "Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Suatu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."
Saturday, November 17, 2007
Kehidupan: Nafsu untuk Mengejarnya Akan Membuatnya Merana
Oleh: Iyung Pahan*)
"Kehidupan adalah diibaratkan sebatang lilin yang terbakar. Setiap saat lilin itu terbakar, harus dimanfaatkan dengan sebaiknya, kerana apabila lilin itu padam, maka tamatlah kehidupan. Api lilin juga perlu dijaga dengan baik, agar takkan mudah padam. Tidak harus terlalu marak, atau terlalu kecil hingga hampir padam. Api yang terlalu marak akan membakar diri. Api yang terlalu kecil, akan terpadam apabila dihembus angin, biar pun hanya selembut angin lalu.... "
Roselina Sallehuddin
http://ppi.fsksm.utm.my/staf/roselina/data/penyeliaan.htm
Puan Rosselina mengajarkanku akan pentingnya keseimbangan untuk mencari harmoni dalam kehidupan. Mengkonsumsi sesuatu terlalu banyak akan menyebabkan tingkat kepuasan yang semakin berkurang, demikian kata the law of diminishing return. Suatu substansi yang berlebihan akan menjadi racun, tetapi dalam jumlah yang tepat akan menjadi obat. Racun yang berbisa akan beralihrupa menjadi obat dalam situasi yang berbeda, sehingga melahirkan konsep racun melawan racun.
Demikian juga dengan hidup dan kehidupan. Keseimbangan positif (yang) dan negatif (yin) dalam metafisika Tiongkok Kuno tetap relevan denga kondisi kini dan segala kekiniannya. Tulisan berikut ini adalah halaman persembahan Tesis yang kutuliskan ketika menyelesaikan pendidikan S2 di Program Manajemen dan Bisnis, Sekolah Pascasarjana IPB pada bulan Pebruari 2007:
A perfect self-existing analytic dagger:
desire to sharpen it will make it dull
Panah kecerdasan dapat menguasai dunia.
Busur keahlian akan menghaluskan budi dan memberikan pencerahan wawasan.
Dengan menggabungkan panah kecerdasan dan busur keahlian,
Godaan duniawi yang merangsang ego akan dientaskan.
Sehingga ogah dengan kepalsuan, ketidakpedulian, kekasaran, dan inkompetensi.
Lumpuh oleh analisis adalah si peragu yang selalu menanti keputusan sempurna.
Tembak dulu – urusan lain belakangan, adalah si sembrono yang membuat kesimpulan tanpa dukungan fakta yang memadai.
Pisau analisis yang sempurna adalah keseimbangan antara nafsu mengasahnya dan kekhawatiran membuatnya susut.
Aliansi industri minyak kelapa sawit Indonesia dan Malaysia adalah transformasi aliansi transaksional menjadi aliansi strategis yang harus seimbang antara keinginan melakukannya dengan cita-cita keuntungan ekonomi bersama yang ingin digapai.
Untuk mewujudkannya diperlukan kadar kepercayaan dan tata kelola tertentu yang dikaji secara akademis dengan analisis persepsi stakeholders yang berimbang.
Dalam aras penelitian selalu ada ruang untuk pembenaran-baru karena tidak ada kebenaran yang absolut.
Tanyakan itu kepada Galileo Galilei, Isaac Newton dan Albert Enstein!
Jangan pernah menyerah kepada apapun dan siapapun.
Dalam perumusan visi yang kita namakan visi kehidupan, tidak ada manusia yang selalu kalah.
Kalaupun kita kalah, kita diberikan kesempatan untuk mencari kemenangan selanjutnya.
Untuk mengatasi ketakutan, diperlukan pengalaman rasa takut.
Esensi dari kepengecutan adalah tidak mengakui adanya rasa takut.
Rasa takut bisa muncul dalam berbagai wujud.
Kita takut mati, takut tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup, takut tidak lulus ujian dan panik ketika situasi berubah.
Kita harus menyadari ketakutan kita dan berdamai dengan rasa takut itu.
Karena dengan mengakui keberadaannya, kita akan mampu mengatasinya.
Dengan segala rasa takut dan kerendahan hati, kupersembahkan hasil penelitian ini kepada bangsa dan negara Indonesia.
– Iyung Pahan
Lahir di Sampit – Indonesia.
"Kehidupan adalah diibaratkan sebatang lilin yang terbakar. Setiap saat lilin itu terbakar, harus dimanfaatkan dengan sebaiknya, kerana apabila lilin itu padam, maka tamatlah kehidupan. Api lilin juga perlu dijaga dengan baik, agar takkan mudah padam. Tidak harus terlalu marak, atau terlalu kecil hingga hampir padam. Api yang terlalu marak akan membakar diri. Api yang terlalu kecil, akan terpadam apabila dihembus angin, biar pun hanya selembut angin lalu.... "
Roselina Sallehuddin
http://ppi.fsksm.utm.my/staf/roselina/data/penyeliaan.htm
Puan Rosselina mengajarkanku akan pentingnya keseimbangan untuk mencari harmoni dalam kehidupan. Mengkonsumsi sesuatu terlalu banyak akan menyebabkan tingkat kepuasan yang semakin berkurang, demikian kata the law of diminishing return. Suatu substansi yang berlebihan akan menjadi racun, tetapi dalam jumlah yang tepat akan menjadi obat. Racun yang berbisa akan beralihrupa menjadi obat dalam situasi yang berbeda, sehingga melahirkan konsep racun melawan racun.
Demikian juga dengan hidup dan kehidupan. Keseimbangan positif (yang) dan negatif (yin) dalam metafisika Tiongkok Kuno tetap relevan denga kondisi kini dan segala kekiniannya. Tulisan berikut ini adalah halaman persembahan Tesis yang kutuliskan ketika menyelesaikan pendidikan S2 di Program Manajemen dan Bisnis, Sekolah Pascasarjana IPB pada bulan Pebruari 2007:
A perfect self-existing analytic dagger:
desire to sharpen it will make it dull
Panah kecerdasan dapat menguasai dunia.
Busur keahlian akan menghaluskan budi dan memberikan pencerahan wawasan.
Dengan menggabungkan panah kecerdasan dan busur keahlian,
Godaan duniawi yang merangsang ego akan dientaskan.
Sehingga ogah dengan kepalsuan, ketidakpedulian, kekasaran, dan inkompetensi.
Lumpuh oleh analisis adalah si peragu yang selalu menanti keputusan sempurna.
Tembak dulu – urusan lain belakangan, adalah si sembrono yang membuat kesimpulan tanpa dukungan fakta yang memadai.
Pisau analisis yang sempurna adalah keseimbangan antara nafsu mengasahnya dan kekhawatiran membuatnya susut.
Aliansi industri minyak kelapa sawit Indonesia dan Malaysia adalah transformasi aliansi transaksional menjadi aliansi strategis yang harus seimbang antara keinginan melakukannya dengan cita-cita keuntungan ekonomi bersama yang ingin digapai.
Untuk mewujudkannya diperlukan kadar kepercayaan dan tata kelola tertentu yang dikaji secara akademis dengan analisis persepsi stakeholders yang berimbang.
Dalam aras penelitian selalu ada ruang untuk pembenaran-baru karena tidak ada kebenaran yang absolut.
Tanyakan itu kepada Galileo Galilei, Isaac Newton dan Albert Enstein!
Jangan pernah menyerah kepada apapun dan siapapun.
Dalam perumusan visi yang kita namakan visi kehidupan, tidak ada manusia yang selalu kalah.
Kalaupun kita kalah, kita diberikan kesempatan untuk mencari kemenangan selanjutnya.
Untuk mengatasi ketakutan, diperlukan pengalaman rasa takut.
Esensi dari kepengecutan adalah tidak mengakui adanya rasa takut.
Rasa takut bisa muncul dalam berbagai wujud.
Kita takut mati, takut tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup, takut tidak lulus ujian dan panik ketika situasi berubah.
Kita harus menyadari ketakutan kita dan berdamai dengan rasa takut itu.
Karena dengan mengakui keberadaannya, kita akan mampu mengatasinya.
Dengan segala rasa takut dan kerendahan hati, kupersembahkan hasil penelitian ini kepada bangsa dan negara Indonesia.
– Iyung Pahan
Lahir di Sampit – Indonesia.
Semenit Saja
Oleh: Reina R. Natamihardja.*)
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan! Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar/teman tanpa harus berpikir panjang-panjang. Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa. Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid.
Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Ketika masih kurasa kurang harta benda yang ada disekelilingku, hari ini kuputuskan untuk mendermakan uangku Rp 150.000,-/bulan untuk Yayasan Jantung Indonesia selama dua tahun. Dan baru kali inilah MasterCard membantuku untuk ikhlas beramal, dibalik segala hedonisme yang diusungnya selama ini.
*) Seorang teman di Dekopin Pusat.
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan! Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar/teman tanpa harus berpikir panjang-panjang. Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa. Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid.
Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Ketika masih kurasa kurang harta benda yang ada disekelilingku, hari ini kuputuskan untuk mendermakan uangku Rp 150.000,-/bulan untuk Yayasan Jantung Indonesia selama dua tahun. Dan baru kali inilah MasterCard membantuku untuk ikhlas beramal, dibalik segala hedonisme yang diusungnya selama ini.
*) Seorang teman di Dekopin Pusat.
Perkawinan
Oleh: Sari L.P.*)
Suatu Hari Plato bertanya pada gurunya: Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab: Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu ranting saja. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu sudah menemukan cinta.
Platopun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, Mengapa kamu tidak membawa satu rantingpun?
Plato menjawab, Aku hanya boleh membawa satu saja, dan pada saat berjalan tidak boleh mundur (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tidak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tidak kuambil ranting tersebut. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tidak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya. Gurunya kemudian menjawab: Jadi ya itulah Cinta.
Dihari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya: Apa itu perkawinan, bagaimana aku bisa menemukannya?
Gurunyapun menjawab: Ada sebuah hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menolah), dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan.
Platopun menjawab, sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajahi setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini dan kurasa tidak buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.
Gurunyapun menjawab, Dan ya itulah perkawinan. Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak dapat ditemukan. Cinta adanya didalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan Tiada sesuatu apapun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah Cinta apa adanya. Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya. Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.
*) Dari email seorang teman
Suatu Hari Plato bertanya pada gurunya: Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab: Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu ranting saja. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu sudah menemukan cinta.
Platopun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, Mengapa kamu tidak membawa satu rantingpun?
Plato menjawab, Aku hanya boleh membawa satu saja, dan pada saat berjalan tidak boleh mundur (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tidak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tidak kuambil ranting tersebut. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tidak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya. Gurunya kemudian menjawab: Jadi ya itulah Cinta.
Dihari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya: Apa itu perkawinan, bagaimana aku bisa menemukannya?
Gurunyapun menjawab: Ada sebuah hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menolah), dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan.
Platopun menjawab, sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajahi setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini dan kurasa tidak buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.
Gurunyapun menjawab, Dan ya itulah perkawinan. Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak dapat ditemukan. Cinta adanya didalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan Tiada sesuatu apapun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah Cinta apa adanya. Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya. Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.
*) Dari email seorang teman
Thursday, November 1, 2007
Ada Apa Denganmu?
Ada apa denganmu? Ada apa dengan prana? Kalau hawa kehidupan telah terguncang, maka kehidupan itu pun pasti terguncang. Demikianlah kalam yang terjadi dalam suatu pengantar jalan hening. Karena tak ada keramaian di jalan hening, maka terciptalah nyanyi sunyi seorang diri. Diri, hai... diri siapakah ini? Ada apa denganmu? Mengapa kamu demikian kelu ketika melihat seorang presiden yang bertemu dua kali dengan menterinya yang sakit dan dalam masa pemulihan, seakan belum cukup basa-basi politik itu untuk mengharu biru perasaanmu berkali-kali. Laksana gempa Bengkulu yang melepaskan energi perusak berkali-kali, demikianlah keguncangan prana dalam gua garba. Penerjemahan kondisi pelepasan energi yang terjadi karena cekaman lempeng-lempeng bumi yang saling bersitegang, tiba-tiba menemukan jalan untuk menjadi lurus kembali dengan keadaan semula, ternyata harus menimbulkan kerusakan-kerusakan yang cukup marah di muka bumi. Kemudian setelah hari demi hari berlalu dan menguap laksana uap air dalam siklus hidro-orologis, demikianlah uap air terperangkap di puncak gunung dan turun menjadi hujan yang membasahi bumi manusia. Aku tidak terlalu sunyi tetapi menjadi sendu, dan akhirnya bukannya perpisahan yang kusesali, tetapi perjumpaan yang kusesali. Tak perlu kalkulator untuk menentukan kadar kerelaan hati, cukup katakan ya atau tidak. Jangan mengatakan ya kalau ingin mengatakan tidak. Cukuplah tidak bila tidak. Dan sekali ini adalah tidak untuk selamanya. Hari ini Julia Perez (Jupe, jangan dibalik) berumur 35 tahun tetapi masih bergoyang pakai sutra bang. Realita ini membuat aku terjengkang dari perspektif gaya ngebor atau patah-patah, dan akhirnya jadi patah beneran. Sayangnya Jupe nggak sadar kalau lagi hamil muda, akibat digoyang dengan sutra akhirnya jatuh seperti flamboyan. Senja itu, sang dara keguguran, berjatuhan, berserakan. Sama seperi psikologisku dengan prana. Cukup sampai disini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
