Assalamu'alaikum wr. wb.
12 menit yang lalu (27 Desember 2007) Benazir Bhutto terbunuh oleh ledakan bom bersama dengan 20 orang korban lainnya. Inilah resiko memperjuangkan suatu ideologi. Ideologi kita adalah lulus, dan syukur bisa tepat waktu, walaupun kadang-kadang injury time memberikan kenangan tersendiri (kalau berhasil). Semoga E-24 tidak ada yang gagal.
Saat ini saya sedang menerapkan metode kerja 4 jam sebulan untuk mendapatkan 3 kali penghasilan reguler bulanan, sehingga insya Allah ada banyak waktu untuk menghadiri seminar, hanya saja tolong pemberitahuannya minimal seminggu sebelumnya, karena biasanya saya sedang sibuk memikirkan dan memilih jadwal liburan yang umumnya di luar Bogor. Beberapa impian yang liar dan belum terwujud di masa lalu akan saya upayakan, seperti:
* menjadi pemain sinetron di Hongkong dan bermain opera Peking dengan Jacky Chan
* makan bistik jerapah di padang safari Afrika Selatan
* memancing ikan di Anchorage, belajar bahasa eskimo dan nginap di dalam igloo
* latihan sepakbola bersama Christian Ronaldo di Old Trafford
* memanjat pokok kelapa sawit di Johor Baru
* menulis buku fiksi bersama J.K. Rowling
* menanam Jatropha curcas di gurun Gobi
* etc. etc.
Wassalamu'alaikum,
Iyung Pahan
a.k.a.
Seniman Kelapa Sawit
Thursday, January 31, 2008
Selamat Tahun Baru 2008: New Hope E24
Bekerja 4 Jam Sebulan setara dengan Penghasilan 3 Bulan bekerja penuh
Selamat datang di klub kerja 4 jam sebulan yang setara dengan penghasilan 3 bulan bekerja penuh. Inilah klub OKB (orang kaya baru) dimana saya telah bergabung sejak 3 bulan yang lalu. Mulanya saya ragu apakah saya bisa hidup dengan bekerja ala kadarnya 4 jam sebulan untuk mendapatkan kebebasan finansial dengan penghasilan setara dengan waktu saya bekerja reguler selama 3 bulan. Ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti, dan saya mulai menikmati hidup dan berkantor di rumah selama 24 jam sehari, bebas kemacetan lalu lintas, bebas berbulan madu kembali dengan istri, bebas membaca apa saja, menonton berita, memonitor NAB reksadana, dan berwisata ke alam mimpi. Waktu yang tersedia memberikan kesempatan untuk belajar lebih banyak, sejalan dengan program mengambil pendidikan S3. Kunci keberhasilannya adalah hukum gaya tarik (the law of attraction), bahwa kesukesesan akan menarik kesuksesan lain sepanjang kontinum hidup kita. Bila kita berpikir bahwa kita akan sukses, maka diri kita menjadi magnet yang menarik kesuksesan selanjutnya berlabuh di dalam diri kita. Kekuatan ini demikian dahsyat, sehingga menjadi modal utama tokoh-tokoh sukses masa lalu. Perjalanan karirku dimulai dari pekerja manajemen yang tergagap-gagap meniti karir di suatu perusahaan perkebunan 19 tahun yang lalu. Atasan langsungku seorang ekspatriat yang merupakan produk neo-kolonialis feodalistis lagi gingivitis. Semua karya dan asaku dalam perspektif atasanku adalah salah dan inkompeten, dan inilah kawah candradimuka yang menggemblengku menjadi seorang Robocop yang berotot kawat bertulang besi dengan otak Centrino Core-4-quad (2x core-2-duo). Dua tahun penderitaan yang nyaris membuatkan berhenti kerja akhirnya berbuntut promosi manis ke lain departemen. Kemudian perjalanan berlangsung cepat, dalam 4 tahun kerja kuraih jabatan Manajer, 2 tahun kemudian sebagai Manajer Senior, 3 tahun berikutnya menjadi General Manajer, 2 tahun berikutnya menjadi kepala departemen, yang akhirnya berujung macet dan terdampar di posisi satu langkah di belakang Direktur Pengelola selama 7 tahun. Pada tahun ke-19 masa kerjaku, aku memutuskan bergabung dengan klub OKB untuk menjajal kerja sebagai free lance (artinya tanpa pegangan). Personal branding kulakukan sejak pertengah tahun 2004 sampai tahun 2006 dengan menerbitkan buku kiat keberhasilan bisnis sepanjang masa (KBSM) dan panduan lengkap kelapa sawit (PLKS) untuk mengesahkan kepakaranku dalam bidang pekerjaan. Sejalan dengan laris-manisnya buku PLKS sebagai best seller di Indonesia, orang-orang mulai mencari diriku sebagai referensi dan konsultan. Passive income dari royalty buku memang lumayan, tetapi pendapatan dari jasa konsultasi sungguh tidak terduga dan membuatku memutuskan untuk melakukan PHK terhadap perusahaan tempatku bekerja. Hal itu menabalkan keyakinanku bahwa aku telah siap bergabung dengan klub OKB dan tidak memerlukan perusahaan lain untuk menjadi perantara yang menjadi calo ide-ideku. Aku telah siap menjadikan diriku perusahaanku, dan membebaskan diriku dari penjajahan atas nama pekerjaan. Kini aku duduk di dalam perpustakaan pribadiku, mengetikkan kata-kata provokasi di dalam catatan harian ini sambil memikirkan persiapan untuk kerja 4 jam bulan depan. Januari 2008, seorang calon klien kembali dari Texas dengan membawa fund untuk proyek masa depannya (yang juga merupakan sebagian masa depanku). Aku cukup duduk manis memikirkan bagaimana mendayagunakan jejaring kerja yang ada untuk meningkatkan efektivitas kinerjaku, sekaligus peningkatan NAB galeri investasi reksadana dan isi rekeningku di bank. Dahulu aku tidak perlu berpikir setiap akhir bulan karena gajiku sudah masuk ke rekening bank secara otomatis. Kini aku perlu berpikir untuk mengisikan uang ke rekening bank para karyawanku setiap akhir bulan. Itulah fragmen 5 menit dalam 4 jam pekerjaanku setiap bulan, yang kulakukan dengan perasaan meluap-luap dan janji bahwa aku tidak akan memperkosa karyawanku dengan jam kerja yang tegang. Bagiku lebih bermakna bila karyawan tidak perlu masuk kantor, asalkan pekerjaan selesai dengan kualitas yang baik. Pertemuan dengan karyawan cukup 15 menit saja dalam sebulan, karena waktu kerjaku hanya 4 jam dalam sebulan. Pelatihan untuk karyawan baru (sesuatu yang tak bisa kuelakkan), membutuhkan waktu lebih banyak, dan itu adalah hiburan dalam hidupku, sehingga kuanggap sebagai hobby yang kulakukan diluar dari 4 jam kerjaku. Pelatihan ini setara dengan menonton infotainment di televisi, dan perbedaanya hanya pada perbedaan pengaruhnya. Menonton infotainment memberikan relaksasi tetapi membuat otakku idiot, sedangkan memberikan pelatihan memberikan relaksasi yang membuat otakku semakin tajam. Jadi kuputuskan, memberi pelatihan adalah bukan bagian dari 4 jam kerjaku dalam sebulan. Itu hobby. Titik.
Wednesday, December 26, 2007
Indonesia from Foreigner Perspective

The last sugar cane trains on Java. You can pick the foreigner perspective about our country. One of the cited as follow: Please be prepared that in a country like Indonesia not everything will work as planned and/or paid for. The Indonesian (better to say the Asian) way to repair things with the help of primitive tools is amazing and will help us to fix some of the technical problems which may occur. Nggak tahu mau nangis atau bangga, akhirnya saya posting saja di blog ini!
Indonesia has changed rapidly over the last decade. Quite a lot of the sugar mills - in former times well protected from the international market – had to give up or try to produce more cost efficient. This is the reason why some of the sugar mills were closed and others converted from railway to road transport or – at least – to diesel hauled trains instead of steam. Although the recent government introduced new taxes to protect the domestic sugar industry and save labour for the workers in the mills, many mills have changed their system to bring in the cane. Given that the farmers around the mills are free in their decision which kind of crop they decide to growth, the system of field lines to the sugar cane fields had to be abandoned. At many places it’s more profitable to plant other crops than cane. So it was necessary for the factories to switch to road transport anyway, to reach sugar cane fields far away from the mill. Because new lines to other fields will not be constructed anymore, the truck was and is the only solution for a mill to survive.
Itinerary
The itinerary can only be a rough tour plan. You can never be sure that there‘ll be no derailment on the main junction of the factory, a change of traction (diesel instead of steam) or something else unpredictable.
06.07.2005: Departure Europe to Indonesia (Sunday)
07.07.2005: In the late afternoon meeting in Jakarta, continue to Cirebon
08.07.2005: In the morning we'll visit Tersana Baru. Shunting duties with steam and diesel, in the afternoon we'll continue to Sindanglaut, where all steam operation was ceased in 2003. We will try to steam up one of the two spare locomotives for a journey into the sugar cane fields and try to take over a part of the load of a diesel. Hotel in Tegal
09.07.2005: In the morning we'll start the day in Jatibarang, where a nice roundhouse with a turn table predominates the loco shed. Unfortunately nearly all field works went over to diesels while steam is still in use in the beautiful and large yard. Several interesting locomotives are dumped. We'll make a visit to the ancient machinery in the sugar mill as well. There are stationary boilers which are some 100 years old. The stationary steam engine powering nearly the whole mill. In the afternoon we'll continue to Pangkah. They're using steam for shunting and diesel into the fields. We will hire a train into the fields. However, the journey maybe short due to the bad overall condition of the small bridges on the line. Hotel in Tegal
10.07.2005: In the morning we'll visit the sugar mill Sumberharjo. Beside the diesels, several different types of steam locos are in use for shunting in the mill. Line work is nearly 100 % in the hand of diesels. Sometimes, the steam locos are used for field works too, but normally all loaded trains will be operated nocturnal. The afternoon is planned for the sugar mill Sragi. About half a dozen steam locomotives from various manufacturers are in use for shunting duties. There are also a dozen active diesels in Sragi. Hotel Nirwana Pekalongan
11.07.2005: In the morning we'll visit Sragi again. The morning light offers best conditions for photography in the depot.In the afternoon we'll enjoy the rack railway of Ambarawa, where we hired a train with the small B25 02 rack loco. After dawn we'll continue to Solo to our hotel.
12.07.2005: Today's plan is a visit to the sugar mill with the largest Luttermöller engine of Java: Tasik Madu. The impressive, 150 horse power engine has a six axle tender! In the evening we'll continue to Cepu. Mega Bintang Sweet Hotel in Cepu.
13.07.2005: The Cepu forestry railway sees only less than a dozen trains a year. These rare occasions are normally done in the rainy season when the ground is to soft for the trucks to carry the teak wood out of the plantations. So we will hire a train with one of the serviceable locomotives. We organised a real train, i. e. an empty train into the forest, a loading process there and a loaded train back to the timber yard. The trip will take the whole day. Hotel Kartika Abadi in Madiun.
14.07.2005: Around Madiun are several sugar mills. In the morning we'll visit Purwodadi. In the afternoon we will see the gear loco no. 10 of Rejosari, which will carry out some shunting in the yard. Hotel Kartika Abadi in Madiun.
15.07.2005: Today we have a full program. The early morning is planned for Pagottan (Luttermöller locomotives). At about 7.30 we'll continue to Kanigoro, where only one steam loco is still in use. It shares the work in the yard with two diesels. The late afternoon and the early evening are reserved for Merican. This is Java's last mill with 0-4-2s in regular service. Marican is also known for the sparks the locomotives producing while fired with bagasse. So we'll extend our stay until about 18.30 hrs for some night shots. Hotel in Mojokerto.
16.07.2005: On our way to the east we'll pass by Gempolkrep with its Luttermöller locos. They have an interesting shunting operation in a huge yard. Around noon we'll continue to Gunung (Mt.)Bromo, one of the active volcanoes of the island. Hotel Mount Bromo Permai, situated directly at the crater
17.07.2005: If you're going to Java you should not miss the spectacular view of the mount Bromo at sunrise. To experience this we have to get up very early. We will climb to the platform above the volcano to have the best view. You can also hire a 4WD Jeep for some 15 Euro to avoid he walk some 500 metres upwards. At noon we'll continue to Olean. Here we'll have the best chances for getting a loaded trains from the fields in front of our lenses. If there is no traffic on the day of our arrival (doe to the lack of fuel, an overhaul of the mill, a derailment in the yard or something else unpredictable) we'll continue to Asembagus, another mill with a chance for steam operated trains during daylight. Although they have only two serviceable steam locos (beside several diesels, they used both for line service in 2004. So the chances are not too bad for free line action.
18.07.2005: The full day is reserved for Olean and Asembagus with its interesting field work, which is the only mill with frequent free-line daylight steam. Hotel Situbondo
19.07.2005: Another day where we will visit Olean and Asembagus, according to the best operation. If you like you can also visit the sugar mill in Situbondo (Panji, 600 mm) which uses some tiny diesels for field workings. In the evening we're going to Jember. Hotel Bandung Permai
20.07.2005: For the morning we hired a steam hauled train in Semboro. As a special we'll see the last known fireless locos of Java, at least one of them in use in a part of the yard. In 2004 Semboro had two serviceable steam locos for spare, one Mallet and one Jung 0-6-0, built in 1961. As far as both of them are still serviceable, we'll hire them both, on for a morning train, the other for an afternoon journey. We won't use the tourist coaches, we'll haul real trains which we'll take over from the diesel locos. Semboro has still a large active network and uses tiny German diesels for pulling cane wagons out of the filed, while bulky, ugly Japanese diesels haul the trains on the partly double tracked main lines. On one of these lines we can use a steam loco. Hotel Bandung Permai, Jember
21.07.2005: In the morning we'll leave to the airport of Surabaya. Here we'll give back our hired cars and fly to Jakarta. There we'll take our international flight back to Europe.
22.07.2005: Arrival in Frankfurt/Main
Miscellaneous
This particular tour follows other rules than our tours to China, India or Burma for example. Our route may differ from the above itinerary in order to get as many good pictures of steam trains as possible. On the way, side trips to historical or other places of interest are always possible. If agreed, the group may separate and meet together later. We will travel by up to four hired jeeps which will give us a maximum of flexibility for special requests of some group members. It is possible to have a local driver for those who won’t drive by themselves. This service will cost extra (140 Euro each).
Price
Sweet Steam - The last sugar cane trains on Java
8 to 14 participants
2.640 Euro
6. - 22.7.2005
6 to 7 participants
2.790 Euro
Single room supplement
190 Euro
Minimum number of participants: 6
Please let us know whether you would agree to travel with a small group as well.
The price includes:
Flight from Frankfurt/Main probably with Gulf Air in a booking class with a limited number of available seats (your early booking is hence appreciated!)
All transfers in Indonesia by hired jeeps (with AC), self driving
All hotels (all with AC except Mount Bromo Permai, where you may need a heating instead)
Visitor’s permits and entrance fees to the sugar mills
Special trains as described (Ambarawa, Semboro, Cepu, Pangka)
European tour guide (flights without tour guide)
European airport taxes
Not included are:
Visa (payable at the arrival in Jakarta, in 2004: 25 US-$)
Meals and Beverages
Personal expenses as telephone, mini bar in the hotel, laundry service etc.
Tips for loco staff etc. (we expect between 30 and 50 Euro for this)
Local driver (available for 140 Euro)
Airport taxes in Indonesia (international 100.000 Rupiah = 9 Euro in 2004)
Above prices are based on specific bookings with the respective airlines, which have to be confirmed well in advance. Your early booking is hence appreciated.
Peraturan Perusahaan
Dari : Pimpinan
Hal : Efektifitas & Efisiensi
CC : Seluruh Kepala Departemen
NO : 001/00-00/P
Surat Edaran Tata Cara Penggunaan Kamar Kecil.
Segera diberlakukan, tata cara penggunaan kamar kecil yang dibuat untuk menyelenggarakan metoda perhitungan waktu yang konsisten bagi karyawan dalam jam kerja, dengan demikian menjamin efektifitas pemanfaatan waktu dan perlakuan yang adil bagi semua karyawan.
Kelak, pintu-pintu kamar kecil akan dikendalikan komputer melalui alat pengenal suara, yang hanya dapat diaktifkan untuk membuka melalui perintah lisan seseorang.
Dengan demikian, setiap karyawan harus segera memberikan dua contoh suara ke bagian personalia, satu dalam nada normal, satu lagi dalam keadaan merana/kebelet. Peraturan berikut juga akan diberlakukan:
1. Setiap awal bulan, setiap karyawan akan mendapat 22 kesempatan untuk menggunakan kamar kecil, yang dapat diakumulasikan pada bulan berikutnya.
2. Bila semua kesempatan yang diberikan telah habis terpakai, pintu kamar kecil tidak akan lagi dapat dibuka sampai akhir bulan berjalan.
Sebagai tambahan, setiap jamban diperlengkapi dengan timer. Bila pemakaian jamban melampaui tiga menit, alarm akan berbunyi. Tiga puluh detik kemudian, tissue toilet akan tergulung masuk, jamban akan diguyur dan pintu akan terbuka secara otomatis. Bila setelah itu jamban tetap diduduki, maka anda akan dipotret dan foto anda akan muncul di papan petugas pemantau kamar kecil. Karyawan yang fotonya terrekam tiga kali, tidak akan lagi mendapat kesempatan menggunakan kamar kecil selama 3 bulan ke depan. Bila didapati ada foto yang tersenyum, ybs akan dibawa ke balai perawatan jiwa. Harap diketahui bahwa santunan asuransi tidak akan berlaku atas segala bentuk luka yang diakibatkan oleh usaha menghentikan tissue toilet yang ditarik masuk, atau mencoba mencegah terbukanya pintu.
Kami harap karyawan mau bekerja sama sepenuhnya. Apabila aturan ini menimbulkan masalah, kami sarankan anda menggunakan pispot dr rumah.
Tertanda,
Direktur Personalia
PT. Derita Tiada Akhir Tbk.
Aku Ingin Membangun, Tetapi Tetap Sayang Lingkungan

Di penghujung hari yang melelahkan, aku duduk di kesunyian sebuah gedung di mana bentang jalan Sudirman dan Thamrin di kota Jakarta kelihatan agak berkabut. Samar-samar dari domain sebuah radio internet di depanku terdengar reportase penyiar yang melaporkan hiruk-pikuk sirkus politik Pilkada Sulawesi Selatan karena silang sengkarut penghitungan suara berbuntut pemilu ulangan di empat kabupaten.
Baru saja aku menerima surat elektronis dari beberapa pelanggan di manca negara. Mereka khawatir bahwa produk minyak kelapa sawit yang dijual kepadanya, dihasilkan dengan kaidah yang merusak keseimbangan alam dan merupakan salah satu penyebab kehancuran hutan tropis. Aku minum segelas air berkadar oksigen tinggi untuk menurunkan ketidakseimbangan metabolisme tubuh dan mendinginkan kepalaku: walaupun aku sadar oksigen diserap melalui paru-paru, bukan melalui usus kecil. Aku benci dengan kebancian mereka, karena sudah lama menggunakan minyak sawit dalam sejumlah besar produk yang mereka hasilkan, tetapi tidak berani mencantumkan kata “mengandung minyak sawit” dalam label produk dan fakta kandungan gizinya. Mereka menekanku untuk membuktikan kepada dunia bahwa industri minyak sawit di negara ini tetap sayang lingkungan.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional telah meningkatkan tekanan kepada para pengguna minyak sawit pelanggan perusahaanku dengan kampanye yang sistematik. Mereka mendiskreditkan industri minyak sawit Indonesia sebagai industri yang ”merusak lingkungan,” dengan mengaitkannya pada kerusakan hutan, kebakaran hutan, banjir, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) penduduk lokal, pemiskinan penduduk lokal, pembuangan limbah dan penggunaan pestisida yang berlebihan.
Mereka persis seperti masyarakat yang mengecam eksistensi seorang Spider Man tetapi tetap membutuhkan kehadirannya untuk memberantas kejahatan. Minyak sawit adalah minyak nabati yang dikecam sebagai “anak haram” dari praktek pertanian dunia, tetapi mereka tetap mencarinya karena manfaat dan harganya yang relatif murah dibandingkan dengan minyak dan lemak nabati lainnya. Karena sifat industri hilir berbahan baku minyak nabati yang memiliki kemampuan sifat saling tukar-menukar (interchangeable) tinggi dalam penggunaan berbagai jenis bahan baku, status “anak haram” akhirnya digadaikan demi marjin komersial yang lebih tinggi.
Tuhan menciptakan “anak haram” dari suatu konteks peradaban, tentunya sarat dengan maksud-maksud tertentu. Industri minyak sawit adalah tulang punggung ekspor non migas Indonesia, yang nyata-nyata merupakan asset nasional yang harus dijaga. Status “anak haram” adalah label yang ditempelkan oleh kepincangan sistem label dunia yang diskriminatif. Mereka menuntut kita untuk menjaga keanekaragaman lingkungan hidup supaya menciptakan kemaslahatan bagi dunia, tetapi tidak mau menanggung sebagian biayanya. Kita memiliki harta yang berfungsi juga untuk menjaga mutu lingkungan global, dan apakah kita tidak boleh memanfaatkannya untuk kepentingan kita. Apakah konsep menjaga eksistensi hutan-hujan-tropis bagi masyarakat miskin yang kelaparan dan tidak memiliki alternatif lain selain memanfaatkan asset hutan yang dimilikinya, merupakan konsep yang kasat mata dan bisa diikuti dengan hati yang besar? Impian akan perdagangan karbon dari kesepakatan jalan Bali di penghujung tahun 2007 menyiratkan rona harapan di balik kabut ketidakpastian. Kemiskinan adalah akar dari kejahatan. Pembangunan kebun kelapa sawit adalah salah satu alternatif untuk mengentaskan kemiskinan, walaupun belum pernah dilakukan penelitian secara ilmiah untuk membutikannya. Beberapa teman LSM berupaya meyakinkan bahwa membiarkan hutan apa adanya dalam konteks perdagangan karbon akan memberikan manfaat yang lebih besar ketimbang membukanya menjadi kebun sawit. Pertanyaannya adalah bagaimana konsep perdagangan karbon yang adil, dan benarkah praktik membayar kompensasi untuk mengesahkan pencemaran lingkungan yang dilakukan industri di negara maju? Hasil penelitian yang dilakukan Bank Dunia di Afrika jelas-jelas menyimpulkan bahwa pembangunan kebun tanaman tahunan berhasil mengentaskan kemiskinan masyarakat di sana. Menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan harkat kemanusiaan dengan memberikan kebanggaan melalui kerja. Seperti Khalil Gibran yang subtil menabuhkan mantra tentang kerja: ... dan benarlah hidup ini hampa bila tiada dorongan, dan setiap dorongan adalah tiada berarti tanpa kerja. Dengan kerja hidup berejawantah ... Bagaimana nasib komunitas penduduk lokal bila ditaburi uang mudah dari perdagangan karbon, dimana karbon menjadi komoditas yang menelantarkan ethos kerja dan memarginalkan keseimbangan antara kerja dengan kemalasan menjadi kemalasan tanpa bekerja. Jika bekerja dibayar seribu, dan tidak bekerja dibayar lima ratus, maka secara tidak logis, masyarakat akan memlih kerja tak kerja dibayar seribu lima ratus.
Lalu tiba-tiba, tuan-tuan konsumen dari negara-negara yang menyatakan dirinya negara maju dan beradab, melakukan boikot dan memproklamirkan dirinya tidak mau membeli produk minyak sawit dan turunannya karena alasan yang absurd, yaitu dihasilkan melalui pembukaan lahan dari hutan.
Apakah adil jika kita tidak menyukai salah seorang pemain sepakbola di liga Inggris, lalu kita memutuskan untuk memboikot seluruh team sepakbola yang ada di planet ini? Lalu kita menghimbau semua orang agar tidak menonton pertandingan sepakbola di seluruh dunia, karena salah satu pemain sepakbola di liga Inggris dianggap bermain kasar dan mengingkari peraturan yang berlaku. Apakah ini adil bagi persepakbolaan dunia?
Aku terhenyak dalam keniscayaan menghadapi paradoks pemikiran ini. Dan untuk melakukan pertukaran pemahaman dan konsep, tidak ada cara lain selain berbicara dengan kerangka dan bahasa yang sama. Untuk memahami dinamika suatu bangsa, kita harus memahami konteks budaya dan berbicara dengan bahasa bangsa tersebut. Lalu aku mengosongkan pikiran dalam hening dan mulai berpikir dengan paradigma LSM untuk memahami apa yang ada dalam perspektif industri kelapa sawit dengan melihat totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia di sekitar perkebunan yang mencirikan suatu masyarakat atau penduduk, yang ditansmisikan secara bersama.
Aku mendapat pemahaman bahwa pada tingkatan yang lebih dalam dan kurang terlihat, budaya ini merujuk pada nilai-nilai yang dianut bersama oleh orang dalam kelompok dan cenderung bertahan sepanjang waktu bahkan meskipun anggota kelompok sudah berubah. Pengertian-pengertian ini mencakup tentang apa yang penting dalam kehidupan, dan sangat bervariasi dalam berbagai organisasi yang berbeda. Dalam kasus perusahaan perkebunan dan LSM, ternyata mereka mempunyai pemahaman yang sama yaitu mencari keuntungan (profit), mensejahterakan masyarakat (people) dan menjaga lingkungan (planet). Yang berbeda adalah urutan prioritasnya saja, dimana perkebunan mempunyai sudut pandang 3-P dengan urutan profit, people dan planet, sedangkan LSM adalah 3-P dengan urutan planet, people dan profit. Para aktivis LSM tidak terlalu berorientasi pada keuntungan materi tetapi sangat peduli pada kelestarian lingkungan dan kepentingan serta kesejahteraan masyarakat yang mereka anggap tak berdaya.
Sebaliknya, aku mempunyai konsep dasar bahwa perkebunan harus mendapatkan keuntungan dahulu, sebelum dia bisa mensejahterakan lingkungan di sekitarnya. Seseorang harus kaya dan memiliki harta dahulu, sebelum dia bisa menyumbangkan hartanya kepada orang lain yang memerlukannya. Bisa saja orang miskin menyumbangkan hartanya kepada orang lain yang lebih miskin lagi, tetapi seberapa besarkah dampak yang bisa dihasilkan dari sumbangan ala kadarnya itu? Oleh karena itu, aku tetap berkeyakinan bahwa untuk mensejahterakan orang lain secara efektif, kita harus sejahtera dahulu. Selama kita belum sejahtera, kemampuan kita untuk membantu orang lain akan sangat terbatas dan cenderung tidak efektif.
Hanya saja, upaya mencari keuntungan ini tetap akan dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan matang guna menghilangkan masalah potensial yang dapat merugikan masyarakat dan lingkungannnya. Oleh karena itu, keinginan untuk membangun perkebunan harus dilakukan dengan kaidah sayang lingkungan berdasarkan konsep 3-P: Profit (Keuntungan), People (Manusia), dan Planet (Lingkungan).
Kita harus bisa menisbikan issue bahwa pembukaan kebun kelapa sawit merupakan sumber utama perusakan hutan, dengan melakukan bantahan dengan menggunakan kerangka penilaian yang sama. Salah satu konsep yang telah diterima secara internasional dalam menilai lingkungan (hutan) adalah konsep HCVF yang diformulasikan oleh FSC (Forest Stewardship Council).
Pembukaan lahan perkebunan umumnya berasal dari pembukaan hutan, padang alang-alang, dan peremajaan. Berdasarkan laju pembukaan lahan saat ini, sumber utama pembukaan lahan adalah dari hutan. Hutan mempunyai nilai-nilai ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan yang penting. Membuka hutan tidak boleh dilakukan secara ”hantam kromo” tanpa kaidah dan norma, yang akibatnya dapat mengganggu keseimbangan perkebunan dengan manusia dan lingkungan di sekitarnya.
Nilai penting hutan antara lain kekayaan keanekaragaman hayati, daerah tangkapan air, dan nilai budaya suku-suku yang dominan di daerah hutan. Hutan yang mengandung nilai penting ini dalam situasi yang kritis disebut hutan dengan nilai konservasi tinggi atau High Conservation Value Forest (HCVF).
Bagian kawasan yang mengandung nilai konservasi tinggi (HCV) ini harus dikelola secara khusus sehingga nilai tersebut dapat dipertahankan, dan kalau bisa ditingkatkan. Konversi lahan menjadi perkebunan harus menghindari pembukaan hutan yang mengandung HCV. Untuk itu dalam teknik pembukaan lahan dan interaksi kebun dengan lingkungan, perlu dipahami mekanisme penentuan suatu kawasan sebagai HCV.
Pembukaan lahan hutan untuk perkebunan tidak akan dilakukan pada kawasan hutan yang mengandung konsentrasi nilai-nilai keragaman hayati yang penting secara global, regional maupun nasional: seperti hutan lindung, adanya spesies genting dan terancam punah, adanya spesies endemik, tempat perlindungan satwa, serta adanya konsentrasi spesies sesaat sehubungan dengan siklus hidupnya.
Kita tidak akan membukan kawasan hutan berupa hamparan hutan luas yang penting secara nasional, regional, atau global, dimana populasi spesies yang ada, hidup dalam pola alamiah atau dalam distribusi alamiah yang berlimpah.
Pembukaan lahan hutan untuk perkebunan tidak akan dilakukan pada kawasan hutan yang berada di dalam atau mengandung ekosistem yang terancam, seperti hutan dataran rendah, hutan rawa gambut (peat swamp forest) dan hutan rawa air tawar (freshwater swamp forest), hutan mangrove, hutan di bagian atas dan bawah gunung (upper and lower montane forest), serta padang rumput
Kita akan menghindari pembukaan kawasan hutan yang memberikan jasa atau kegunaan mendasar secara alamiah dalam keadaan kritis seperti: sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, hutan untuk penyerapan air dan pencegahan erosi, hutan untuk penghambat meluasnya kebakaran, serta hutan yang mempunyai pengaruh kritis terhadap pertanian dan budidaya perairan.
Pembukaan lahan hutan untuk perkebunan tidak akan dilakukan pada kawasan hutan yang sangat diperlukan sebagai sumber kebutuhan dasar penduduk lokal seperti hutan yang merupakan sumber penghidupan atau pendapatan bagi penduduk setempat termasuk forest-dependent communities yang sangat penting dan tidak tergantikan.
Kita tidak akan membuka kawasan hutan berupa kawasan hutan yang sangat diperlukan oleh komunitas lokal untuk mempertahankan indentitas budaya mereka, yaitu kawasan hutan yang memberikan nilai atau benda tertentu, dimana bila nilai atau benda tersebut hilang maka komunitas tersebut akan mengalami perubahan budaya yang drastis.
Sebagai ikrar keinginanku untuk membuka lahan dan membangun perkebunan yang tetap sayang lingkungan, aku akan :
1. Mengutamakan pemanfaatan lahan-lahan kritis dan terlantar, ketimbang membuka hamparan hutan primer.
2. Menghindari pembukaan hutan rawa gambut dan rawa air tawar yang mempunyai water retention level yang tinggi.
3. Tidak membuka hutan yang memiliki spesies terancam dan hampir punah seperti gajah, harimau, orang hutan dll.
4. Tidak membuka hutan yang merupakan sumber nafkah penduduk lokal, seperti hutan yang mengandung tanaman rotan, pokok sialang, dll.
5. Mempertahankan koridor hutan sepanjang pinggir sungai.
6. Mempertahankan areal hutan keramat yang berhubungan dengan ritual atau budaya penduduk lokal.
7. Melakukan pembukaan lahan tanpa proses bakar.
8. Mempersiapkan dokumen AMDAL dan melaksanakannya dengan konsisten dalam operasional pembangunan kebun.
9. Menanam kacangan penutup tanah (LCC) untuk memperbaiki struktur tanah dengan penambahan bahan organik dan mengurangi penggunaan herbisida.
10. Pada areal yang bergelombang dan agak curam membuat teras bersambung untuk meningkatkan ketersedian air di lapangan dan mencegah erosi.
11. Menggunakan teknik pengendalian hama terpadu dengan musuh alami untuk mengurangi penggunaan pestisida yang berlebihan.
12. Melaksanakan daur ulang tandan buah kosong, limbah cair, dan teknik pengomposan untuk substitusi pupuk anorganik, guna mengurangi tekanan pada instalasi pengolahan limbah.
13. Melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar kebun dengan melakukan pembinaan lembaga ekonomi dan kesempatan kerja bagi masyarakat.
14. Memfasilitasi kegiatan sosial seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, dan olahraga.
Waktu terus berlalu, dan banyak kearifan yang kita dapati dari alam seiring dengan berlalunya waktu. Mudah-mudahan konsep hasil renungan ini akan berhasil membangun perkebunan kelapa sawit yang berkesinambungan dan bisa menjadi sumber inspirasi bagi teman-teman lain untuk membangun negara ini dengan lebih baik lagi tanpa menekan kelestarian alam.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Manusia yang baik akan meninggalkan lingkungan yang baik untuk anak cucunya dan mereka akan mendoakan kebahagiaannya dunia dan akhirat. Manusia yang tidak baik akan meninggalkan lingkungan yang rusak, dan akan menerima caci maki dan sumpah serapah yang berkepanjangan. Kita meminjam planet ini dari anak cucu kita, jadi jangan kecewakan mereka dengan mati meninggalkan utang yang pedih dan sumpah serapah yang memilukan. Mari kita membangun, tetapi kita tetap sayang lingkungan.
