Monday, May 7, 2007

Retrospeksi Perusahaan Besar dan Perusahaan Kecil

Oleh: Matraman D'Eladelia *)
(Bisnis Indonesia, Kamis 30 Januari 1997).


Perusahaan besar adalah kapal besar, tempat dimana para kelasi berhenti dan masuk, tanpa kapal itu terganggu sampai ke tujuannya. Setidaknya itulah paradigma yang sampai saat ini masih melekat di otak para pemilik kapal, sehingga bila seorang nahkoda mengajukan permohonan mengundurkan diri, dia tetap tak begitu peduli dan tak merasa terganggu. Dan dia akan terhenyak hanya ketika kapalnya tenggelam disapu gelombang dan badai di samudra raya yang semakin tidak dapat diramalkan.

Akhirnya tanpa disadari sepenuhnya oleh para pemilik, perusahaan yang terlanjur menjadi besar telah menjadi tempat berlabuh, tempat pelatihan, karena jaminan karir dan kesejahteraan seumur hidup adalah “impian masa lampau” yang hilang sejalan dengan membesarnya skala organisasi, sebagaimana proyeksi Naisbitt dalam Megatrend 2000 dan William H. Whyte dalam Organization Man. Dalam lokakarya Lifetime employability: New thinking in changing environment di World Trade Centre Jakarta awal Desember yang lalu, Carole Hyatt mengemukakan suatu sinyalemen bahwa pada saat ini dan saat-saat yang akan datang, perusahaan kecil dan menengahlah yang akan mampu menghadapi persaingan. Sementara perusahaan besar tampak seperti raksasa kekenyangan yang lamban karena birokrasi dan tidak efisien.

Mengomentari apa yang dikatakan Carol, saya tercenung dalam perspektif global. Fenomena yang dipaparkan Carol memang didukung oleh fakta empiris di Amerika, tetapi bila kita mau melakukan retrospeksi maka dengan telak fenomena itu akan menohok ulu hati sanubari kita.

Perekonomian Indonesia yang hangat dibahas oleh “orang-orang pintar” dalam beberapa hari ini di media massa, adalah kendali mono-oligopoli yang nyata maupun tidak nyata, suka ataupun tidak suka, telah memberikan andil dan warna bagi Republik ini. Fasilitas khusus yang diterima oleh sekelompok masyarakat yang dengan beberapa ketrampilan khusus (kita boleh angkat topi untuk hal ini), dengan cepat menggelembungkannya menjadi kekuatan ekonomi dalam eskalasi yang mencengangkan. Tumbuhnya konglomerasi perdagangan hasil bumi (bahan mentah) dengan subur yang mengakumulasi modal dalam jumlah besar dan merambah ke berbagai bidang industri dari hulu sampai ke hilir akhirnya mengantarkan banyak perusahaan-perusahaan Indonesia menembus batas asset diatas trilyunan Rupiah. Konsekuensinya, budaya “kapitalisme pedagang” dalam konteks kapitalisme semu (ersatz capitalism) masih kental dalam parktek kerja perusahaan konglomerat, bahkan yang telah mengklaim dirinya dikelola secara profesional sekalipun (baca: go public).

Kendali yang terpusat, dengan metode top-down yang sangat nyata, serta terpusatnya kekuasaan dan otoritas pada pemilik saham atau segelintir orang dalam “jajaran management” akhirnya menciptakan kerajaan-kerajaan baru dengan raja-raja kecil pada setiap bagian.

Budaya kompetisi yang menuntut kepuasan pelanggan adalah kenisbian dalam kendali mono-oligopolis yang nyaris merambah hampir setiap sektor kehidupan, dan tampaknya akan menjadi status quo, setidaknya sampai periode suksesi yang akan datang. Perusahaan-perusahaan besar yang menggurita akan menjadi kerajaan seperti legitimasi sejarah dunia. Siklus bangkit-jaya-dan-runtuhnya suatu kerajaan telah menjadi pengetahuan umum di seluruh dunia: Dinasti-dinasti di Cina, Jawa dengan imperium Majapahitnya, Kekaisaran Romawi dan banyak lagi lainnya. Hanya sedikit kerajaan yang “selamat” dari perubahan dunia karena mereka cukup luwes dan mau berbagi kekuasaan dengan rakyat yang semakin kritis, semakin pandai, dan semakin banyak.

Konglomerasi Indonesia masih jauh dari impian Indonesia Incorporated seperti konsep keiretsu-nya Jepang atau chaebol-nya Korea, apabila mereka-mereka yang besar itu tidak arif untuk berbagi kekuasaan dengan rakyat (baca: sebagian besar karyawannya dan mitra usahanya). Perusahaan yang hanya peduli akan bottom line, mungkin akan terlambat menyadari bahwa bottom line itu merupakan rata-rata kinerja semua pihak yang terkait.

Jika CEO atau Direktur Utama sudah menjelma menjadi raja karena kekuasaannya, maka lingkungannya akan menjadi steril, sehingga ia terlena dan merasa seluruh situasi dalam kondisi terkendali. Ketajaman visi yang mewarnai strategi usaha akhirnya menjelma menjadi tele-visi dan sistem manajemen remote control karena usaha yang menggurita. Dengan kecenderungan globalisasi dan terbukanya pasar domestik pasca AFTA 2003 dan perdagangan bebas 2020, maka sesuatu yang eksklusif untuk sekelompok orang akan menjadi komoditas umum yang siapapun dapat memanfaatkannya. Para CEO harus siap turun takhta apabila stake holder tidak puas. Kekuatan karyawan sebagai mata rantai dan ujung tombak perusahaan suatu saat akan menikam diri perusahaan itu sendiri. Gelombang pemogokan buruh yang kontra produktif, baik itu yang murni maupun yang ditunggangi, merupakan indikasi bahwa hubungan industrial dalam perusahaan sudah mencapai suatu titik kritis yang harus segera dibenahi.

Adanya “orang-orang kasim” yang melayani raja dan ratu, yang dikebiri alat vitalnya (demi alasan tertentu) telah terbukti menjadi faktor kunci keberhasilan (key success factor) penghancuran dinasti-dinasti kerajaan di Cina. Fenomena kasim ini telah merasuk secara global dalam segala dimensi dan dalam wujud perusahaan besar menjelma menjadi CEO, Executive Vice President, Senior Vice President, VP atau apapun istilahnya, tidak lebih dari orang-orang yang tidak berani dan tidak mau mengambil resiko, orang yang menjadikan atasannya sebagai keranjang sampah segala persoalan dan tidak lebih menjadi tukang pos bagi setiap problem bawahannya, dan herannya, mereka dibayar mahal serta menikmati kehidupannya, sama seperti sang raja yang bahagia dengan laporan ABS yang diterimanya.

Rapuhnya perusahaan-perusahaan besar bukanlah monopoli konglomerat Indonesia saja, bahkan perusahaan global sekaliber IBM sekalipun, pernah limbung dan melakukan konsolidasi yang memberikan tempat bagi kecenderungan baru untuk downsizing.

Desentralisasi, pemberian otonomi yang lebih besar, menciptakan iklim empowerment dalam tim yang mandiri, mau tidak mau harus dilakukan oleh konglomerat Indonesia untuk tetap survive and drive pasca 2003. Dan bila usaha-usaha itu terlambat dilakukan, mungkin terlambatlah jalan bagi Indonesia untuk menjadi “Macan Asia” yang baru, dan kalaupun menjadi “macan ompong”, itupun karena peran pengusaha-pengusaha menengah dan kecil yang selalu siap berubah bentuk secara terus menerus (morphing) karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan situasi, kondisi, dan toleransi sistem ekonomi yang berjalan secara dinamis.

Terlepas dari apapun bentuk perusahaan menengah dan perusahaan-perusahaan kecil itu menjadi “suatu bangunan aneh” yang bentuknya sangat tidak beraturan karena pengembangan usahanya harus menyiasati cash flow (yang tidak mereka nikmati kumudahan permodalannya, sehingga harus ngos-ngosan menggenjot ROA-nya bila ingin tumbuh membesar), itulah konsep rumah tumbuh yang dilirik dengan setengah mata pada awalnya, tetapi secara rata-rata nasional memberikan sumbangan yang berarti dalam angka pertumbuhan ekonomi. Apapun yang akan dikatakan, setidaknya inilah fenomena yang harus diberikan jatah kue kredit nasional yang lebih besar, karena mereka belum punya nyali untuk mencari dana sendiri melalui alternatif lain seperti modal ventura dan penawaran saham di Bursa Efek Jakarta.

Bravo pengusaha menengah dan pengusaha kecil, apapun bentuk kalian, katakanlah usaha itu sebuah karya seni, dan memang itulah suatu state-of-the-art yang menurut teori manajemen akan terus eksis selama masih ada penawaran dan permintaan.

Dan bagi pengusaha besar, sadarilah bahwa bagi kebanyakan orang (termasuk karyawan anda), kebesaran anda dengan segala atributnya telah membuat anda menjadi raksasa yang lamban dan tidak efisien. Kalau dulu anda melaju diatas rel seperti kereta api yang disediakan fly over dan pintu lintasan di jalan raya yang dapat ditutup bila kereta anda akan lewat, mulai saat ini dan saat mendatang anda harus berpacu di jalan raya dengan bus dan mobil angkutan umum, bahkan sarana angkutan rakyat seperti ojek dan bajai. Belajarlah dari kearifan alam, dan jangan menentangnya, karena itu berarti anda menciptakan “perusahaan dinosaurus” yang akan punah karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Sudah saatnya gerbong-gerbong itu dilepas dan dimodifikasi menjadi kendaraan-kendaraan yang lebih kecil dan lebih lincah di jalan raya, suatu jalan yang akan menjadi realitas sebenarnya pada tahun 2000-an. Semuanya belum terlambat. Retrospeksi, kecenderungan, dan takdir akan memberikan hasil bila kita berniat dan mau melakukan suatu perubahan.

------
Matraman D'Eladelia adalah nama pena Iyung Pahan pada saat menulis di Bisnis Indonesia. Saar tulisan ini dibuat, dia bekerja perkebunan milik Salim Group (1988-1999).

No comments: